Review 700 Days of Battle: Us vs. the Police 2008

700 Days of Battle: Us vs. the Police merupakan film komedi-drama Jepang yang dirilis tahun 2008. Warning! Film ini bukan sekedar film drama-komedi Jepang kacangan. 700 Days of Battle: Us vs. the Police bakal bikin kalian ‘ngakak’ terguling-guling karena menikmati cerita-nya.

Baca juga : Camila Cabello Akan Memerankan sosok Cinderella

Memiliki Cerita yang Kocak dan Fresh

700 Days of Battle: Us vs. the Police ber-setting pada tahun 1979. Bercerita tentang segerombolang ‘geng’ remaja yang masih pada SMA di salah satu kota kecil di Jepang (nama kota-nya tidak disebutkan). Geng ini beranggotakan 6 orang, terdiri dari Mamachari (Hayato Ichihara), Jamie (Satoshi Tomiura), Saijo (Takuya Ishida), Takaaki (Masaki Kaji). Chiba (Tomohiro Maki) dan Inoue (Kento Kaku). Mereka ber-enam awalnya dihukum oleh seorang petugas polisi bernama Chuzaisan (Kuranosuke Sasaki). Karena melanggar batas kecepatan saat tengah melintasi jalan raya dengan menggunakan sepeda.

Merasa hukuman yang diberikan tidak pantas, geng ini pun mempersiapkan skenario-skenario lain untuk membalas perlakuan si petugas polisi tersebut. Skenario-skenario yang oleh Mamachari (si leader geng) disebut dengan ‘Operasi’ lama-lama semakin konyol. Tak hanya itu, si polisi pun tidak mau kalah, beberapa kali dia kedapatan sukses membalas perlakuan konyol dari geng tersebut. Aksi saling balas ‘pranks’ pun terjadi. Hingga suatu hari para anggota geng tersebut bertemu dengan wanita pelayan cafe yang cantik dan membuat mereka melongo dibuatnya. Salah satu dari mereka pun jatuh cinta dibuatnya. Ternyata, wanita tersebut adalah istri dari petugas polisi Chuzaisan!

Lama, Namun tidak Membosankan

Dengan durasi yang hampir dua jam, film ini sama sekali tidak menampilkan adegan yang membosankan untuk di tonton. Hampir selama durasi film, penonton bakal disuguhkan tindakan-tindakan konyol yang absurd dari para pemerannya. Plot dan ide cerita-nya sederhana namun unik, terkonsep dengan baik dan jauh dari yang namanya intrik.

Sinematografi-nya menampilkan keindahan kota kecil di Jepang yang ditampilkan di film ini jadi nilai tambah tersendiri. Di film ini digambarkan betapa peradaban di Jepang sudah sangat maju (pada tahun 1979). Bahkan untuk ukuran kota kecil (jika tidak mau disebut ‘desa’). Renpei Tsukamoto, si sutradara berhasil menggiring penonton secara perlahan, melalui adegan per adegan. Mulai dari anti-klimaks sampai dengan klimaks di akhir film, semua berjalan bertahap, perlahan namun pasti. Jokes yang ditampilkan banyak sekali kemiripannya dengan sebuah film animasi ataupun manga: fresh dan fun.

Namun sayang dibalik banyak kelebihan film ini, masih ada satu yang mengganjal. Yaitu pemilihan peran anggota geng yang keliatan ‘ketuaan’ untuk ukuran anak SMA. Hanya karakter Jamie dan Mamachari yang ‘pantas’ untuk jadi anak SMA. Sisanya lebih cocok jadi pekerja proyek atau tukang gali kuburan. Overall, selain berisi banyak hal lucu yang bikin ngakak, film ini juga sarat dengan pesan tentang solidaritas dan persahabatan. Sangat cocok di tontong bareng keluarga dan teman-teman.

2301 kali dilihat
Ads
cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail