Accidentally in Love by Alboni – Chapter 2

Index cerita :

  1. A Trip to Manchester
  2. The Swiss Army
  3. Heres and Back Again
  4. I Miss You So Bad
  5. Going Mad
  6. Promises
  7. You’ll Be The Only Light I See
  8. The Winter Tears
  9. She’s Gone
  10. That Memories

A Trip To Manchester

Jam weker dikamar gua berbunyi samar, gua terbangun. Leher dan punggung gua berasa sakit gara-gara salah posisi tidur. Gua mencari-cari ponsel dan memastikan kalo sekarang jam 5 pagi. Kemudian gua mengetik sms untuk Heru, mengkonfirmasi tiket pesenan gua, nggak sampe 2 menit, heru membalas sms gua, isinya singkat, Cuma tiga huruf; OK!.

Gua beranjak ke kamar mandi, ambil wudhu dan solat subuh di depan tivi. Kemudian gua mengetuk pintu kamar, mencoba membangunkan Ines.

”Nes.. nes, bangun.. nes..”
Gua mencoba membuka pintu, ternyata nggak dikunci, gua masuk dan kemudian sebuah pemandangan yang menakjubkan bikin lutut gua lemes.

Gua memandang sosok perempuan berbalut mukena berwarna biru muda yang ukurannya sedikit kebesaran, wajah mungilnya yang tersembunyi dibalik mukena tersebut sukses bikin jantung gua berhenti. Ines sedang duduk tahiyat akhir, dia sedang solat.

Gua duduk di tepi kasur menunggu Ines selesai, kemudian mengambil tas dan mengeluarkan bungkusan plastik dari dalamnya. Sesaat kemudian Ines selesai, dia melipat mukena dan sajadahnya.

”Awas gue mau tidur lagi… ”
Ines merebahkan diri diatas kasur.

”Nes… mandi gih sono..”
”Ogah.. dingin!”
”Nih mandi terus ganti pake ini, katanya mau jalan-jalan..”
Ines bangun, memandang gua sebentar kemudian berpaling ke bungkusan yang gua letakkan di dekat kakinya.

”Apaan nih?”
”Baju buat lu, udah sono mandi, ganti baju, katanya mau jalan-jalan?”

Ines memandang gua, matanya berbinar kemudian tangisnya pecah. Dia menerjang dan memeluk gua. Gua terdiam, shock baru kali ini, iya baru satu kali ini ada perempuan yang bukan nyokap atau adek gua yang memeluk gua dengan sukarela. Kaki gua langsung berasa lemes, keringet dingin muncul di dahi dan telapak tangan gua. Ines masih memeluk gua, erat dan menangis sesenggukan.

”Kok malah nangis?”
”Gue nggak tau.. gue nggak tau kenapa gue nangis, bon..”
”Yauda siap-siap sana..”
Ines melepaskan pelukannya, satu tangannya menggenggam tangan gua dan satu tangannya lagi mengusap air mata yang menggenangi pipinya, kemudian berujar;

”Kita ke Greenwich ya.. ya.. ya… ya..”
”What?.. Greenwich is fairly fun but, i’ll give an experience that you’ll never forget.. now get-up and take a bath…”
”Gendooong..”
”Ogah…”

Setengah jam kemudian Ines sudah siap, gua terpana melihat dia menggunakan kaos John Lennon warna magenta dan celana denim biru muda dengan model ’belel’, dibalut dengan jaket ’consina’ gua dan syal yang baru gua beliin kemarin.

”Tuh kan.. gue udah siap, elonya belon ngapai-ngapain…”
Gua bangkit, berdiri dan menuju kamar mandi sambil mendendangkan sebuah lagu, entah lagu siapa, gua lupa;

”Kau cantik hari ini,
Dan aku suka…
Kau lain sekali,

Dan aku suka …”

Jam menunjukkan pukul sembilan saat kereta mulai berangkat, kami berangkat dari London naik ’Virgin train’, untuk bisa naik kereta cepat ini menuju Manchester, gua harus rela merogoh kocek £30 untuk sekali jalan. Dan sampai kita duduk di kereta, si Ines belum tau kemana gua akan mengajak dia pergi.

”Eh kita mau kemana sih, Bon?”
”Udah gausah nanya-nanya.. duduk manis aja..”
”Yaaahh.. perjalanannya lama nggak?”
”Nggak, paling sejam setengah sampe 2 jam-an”
”Yauda gue pinjem mp3 player lu dong, bete kalo lama..”
Gua mengeluarkan Mp3 player dari kantong jaket dan memberikannya ke Ines.
”Jadi cewek kok bete mulu..”
”Bodo wleee…”

Gua menikmati pemandangan luar dari kereta sambil bertopang dagu pada jendela. Si Ines masih asik mendengarkan lagu dari Mp3 player sesekali dia ikutan bernyanyi juga dan menghasilkan suara ”ssssttt” dari kursi belakang dan samping gua. Gua Cuma tersenyum, kadang gua mencuri pandang dan menatapnya lama. Perempuan ini bener-bener bikin gua kalut, bikin perasaan nggak menentu, bikin jantung gua pengen copot.

Ines melepas headset, menggulungnya dan menyimpannya di kantong.
”Gue yang simpen ya?”
Gua mengangguk, masih memandang keluar jendela. Gua melirik Ines, dia sedang menatap kosong ke atas jendela kereta, dimana tertera iklan-iklan baris elektronik yang berjalan.

”Eh, bon.. kok nama keretanya ’Virgin train’ ya..ada hubungannya sama keperawanan ya..”
”Hah, koplak! Ini kereta swasta, yang punya nama perusahaannya ’virgin’”
”Owh…”

”Eh, bon.. kira-kira sekarang lu uda mao ngasih tau, kita mo kemana?”
”Untuk saat ini belom..”
”Trus, berapa lama lagi kita sampe nya?”
”Ish.. bawel amat sih ni cewek..”
Gua ngedumel sambil melihat jam tangan gua, dan ternyata jam gua mati. Gua mencoba melepas dan mengocok-ngocoknya, gua lihat lagi dan.. tetep mati. Gua mengambil ponsel, melihat jamnya dan mengatakan ke Ines kalau paling telat satu jam lagi kita sampai.

”Kenapa jam lo? Mati ya..”
”Iya nih, jam tua soalnya…”
”Dari orang yang spesial ya..”
”Iya dari nyokap, dikasih pas gua lulus SMA..”
”Owh..pantesan udah buluk gitu..”
”Biar buluk juga, awet banget nih jam..”
”Awet darimana? Tuh buktinya mati..”
”Iya ya.. ah bodo dah..”
Gua mengantongi jam Swiss Army lawas bertipe analog dengan tali kulit berwarna cokelat yang udah pada mengelupas.

”Merk-nya apa sih, coba liat?”
Gua mengeluarkan jam tersebut dan menyerahkannya pada Ines.
”Paling batre-nya abis..”
”Elo suka merk ini?”
”Nggak juga, kan itu dikasih…”
Kemudian Ines menyerahkan jam itu lagi ke gua dan mengantonginya, lagi. Ines menyandarkan kepalanya di bahu gua. Astaga.. dengkul gua lemes lagi.

Empat puluh menit berlalu, terdengar suara perempuan yang nadanya datar dari pengeras suara di dalam kereta, yang isinya memberitahukan bahwa sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Piccadilly, Manchester. Penumpang yang akan turun distasiun ini harap bersiap-siap, tidak meninggalkan barang bawaannya dan berhati-hati saat melangkah keluar peron. Gua membangunkan Ines yang tertidur, ni anak, gampang pingsan, gambang nangis, sekarang tambah satu; gampang molor.

”Nes.. bangung, udah sampe..”
”Hoaammm,, finally…dimana nih?”

Ines bertanya sambil celingukan. Gua memakai tas dan memberikan isyarat ke Ines supaya berdiri.

Jam 11 kurang lima menit. Kami tiba di stasiun Piccadilly, Manchester. Terpajang tulisan billboard besar dengan tulisan ’Welcome to Manchester’, di jam-jam sekarang ini stasiun Piccadilly ini menjamur orang-orang yang keluar dari kereta-kereta dengan menggunakan baju merah-merah dan atribut Liverpool lengkap. Mungkin sekitar 1 atau 2 jam lagi bisa tambah crowded.

”Waaahhh.. Manchester.. asyiikk…”
Eh..bon.. emang ada apaan aja sih di sini?”
Gua tersenyum melihat seringai lebar tersungging dibibir Ines.

Kemudian kami berjalan menuju keluar stasiun, suasana disini mirip-mirip dengan suasana di stasiun senen menjelang lebaran, memang begini kalau United lagi menggelar pertandingan melawan tim kayak Liverpool, Arsenal atau Chelsea yang beda Cuma di tone warna atribut yang dipake kerumunan ini, saat ini warna merah hati dan syal berlambang angsa dengan slogan ’You’ll never walk alone’ yang mendominasi.

Ines menggenggam tangan gua, gua meraihnya, kemudian kami meliak-liuk menerobos kerumunan untuk keluar dari sini.

”Elu lebih suka mana? Trem atau bis?”
”Hmmm… gue lebih milih, hmm apa ya? .. trem deh, bis mah udah sering di Jakarta”
”Oke..tapi kalo naek trem ntar jalannya agak jauh, gpp?”
”Gendooong..”
”Ngesot aja…”

”Eh , bon…”
”Apalagi?”
”Kayaknya ada suara yang mangil-manggil gue deh…”
Ines ngomong sambil memasang tampang bingung dan celingak-celinguk.

”Hah siapa? Mantan lo kali?”
Gua juga jadi penasaran dan celingak-celinguk juga sambil pasang telinga.

”Enak aja! Bukan…”
Ines meletakkan tangan kirinya di belakang telinganya membentuk posisi kuping gajah.

”Oh.. kayaknya dari arah sana deh suaranya, bon…hehehe..”
Ines kemudian menunjuk salah satu restaurant cepat saji dengan dominasi warna merah-kuning dan logo huruf ’M’ besar di salah satu sudut pintu keluar stasiun.

”Ngomong aja kalo laper….”

”Hehehe…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *