Accidentally in Love by Alboni – Chapter 5

London

Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, waktu gua tiba di Bandara Heathrow, London. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil koper, gua setengah berlari mencoba mencari kamar kecil, selain memang harus menuntaskan hajat yang hampir satu jam gua tahan, sepertinya gua mengalami apa yang namanya ’jet-lag’. Kepala terasa pusing-pusing, mual, badan lemas dan ’gemreges’, keringat dingin mengucur, untuk yang terakhir gua kurang yakin akibat dari ’jet-lag’ atau ’nahan boker’.

Sebenernya gua udah dari di atas pesawat tadi berasa mules-mules ingin buang hajat, tapi pilot sudah memberikan pengumuman lewat pengeras suara kalau sebentar lagi kita akan mendarat, lampu penanda diatas toilet-pun sudah menyala merah, yang artinya tidak dapat digunakan. Bukannya bergegas mendarat, pesawat malah Cuma mondar-mandir, muter-muter di sekitar bandara, menurut pengumuman susulan dari pilot, katanya lagi nunggu landasan kosong. Kampret!

Gua keluar dari toilet di bandara dan mancari tempat untuk sekedar duduk, berisitirahat sebentar. Sukur-sukur ada tempat buat rebahan. Sambil mengagumi salah satu bandara paling sibuk di eropa ini, gua berjalan gontai sambil menenteng ransel dan menarik sebuah koper besar berwarna cokelat. Gua duduk disebuah bangku berderet di lantai bawah bandara ini, memandang ke sekitar. Bener juga, padahal sekarang jam 3 subuh, tapi suasana tempat ini hampir mirip dengan pasar kramat jati, tentu dengan mengesampingkan bau prengus para pedagang dan gerobak-gerobaknya. Riuh, ramai, suara dorongan troli-troli, percakapan orang-orang, suara dari layar televisi yang terletak hampir disetiap sudut bandara bercampur jadi satu dengan pengumuman-pengumuman yang keluar dari pengeras suara.

Gua memandang ke sebuah meja yang berbentuk setengah lingkaran, mirip seperti meja customer centre di bank-bank yang ada di Indonesia. Dibagian tengah meja tersebut terdapat tulisan cokelat dengan embos; ’Information’. Terdapat tiga orang petugas pria yang tengah melayani beberapa calon penumpang dibelakang meja tersebut. Di bagian belakangnya, terdapat sebuah papan besar, seperti sebuah backdrop panggung, berlatar putih dengan gambar ’landmark’ kota London, Big ben dan sebuah tulisan berwarna biru; Visit London.

Gua berjalan menghampiri meja tersebut, salah seorang petugas tanpa senyum menyambut gua dengan pandangan mencurigakan kemudian bertanya ragu;

”May i help you..?”
”Yes, actually i need some direction to get here..”
Gua berkata sambil mengeluarkan secarik kertas, berisi alamat kantor Mr.Kane, gua catat dari surat rekomendasi yang dikirim Mr.Kane via email waktu gua masih di Jakarta.

Si petugas nggak menjawab, nggak mengambil kertas yang gua sodorkan bahkan sama sekali nggak melihat ke kertas tersebut, dia mengambil semacam leaflet dengan tulisan ’visit london’ dan menyerahkannya. Gua mengambilnya dan membuka lembaran leaflet tersebut, sebuah peta. Si petugas mengambil beberapa leaflet dan brosur lain dan menyerahkannya ke gua. Kemudian menggerakkan tangan, memperagakan gerakan seperti mempersilahkan sambil berkata;
”Enjoy London..”

Gua mengucapkan ’Thank you’, berbalik dan menambahkan; ”Enjoy pala lu..” kemudian berjalan kembali ke bangku berderet, gua duduk dan memperhatikan satu persatu leaflet dan brosur yang tadi di serahkan oleh petugas tanpa senyum itu. Gua mengambil ponsel dari tas ransel dan menghidupkannya, kemudian membuka ’notes’ yang tersimpan di memori ponsel dan melihat alamat Heru di Manchester. Rencananya gua ingin memberi kejutan ke heru dengan datang tiba-tiba, mengetuk pintu-nya dan merekam ekspresi wajahnya, tapi setelah gua pikir-pikir kayaknya lebih baik gua minta jemput dia aja, daripada nyasar di negri orang. Gua mencari nama heru di ’contact list’ dan menghubunginya. Dua kali gua mencobanya dan nggak ada jawaban, mungkin masih tidur ni anak, sambil menyesali keputusan gua untuk memberi kejutan ke heru, gua mencobanya sekali lagi. Dua nada sambung terdengar kemudian disusul suara parau heru diujung sana, ah.. thank god.

”Halo..”
”Ruk..”
”Halo..”
”Ruk, ni gua Boni..”
”…”
”Woy..”
”Eh.. ada apaan?”
”Dari tempat lu ke Bandara Heathrow jauh nggak?”
”Eh buset.. bisa nggak si lu nelponnya ntar-ntaran, sekarang masih jam 3 nih disini..”
”Iya gua tau.. ”
”Kalo lu tau, ngapain lu nelpon jam segini..?”
”Gua di Heathrow sekarang, bisa jemput gua nggak?”
”…”
”Woy, beruk..”
”Apaan? Lu di Heathrow? Yaudah tunggu disitu, jangan kemana-mana, gua jemput..”
”Iya.. gua di deket information centre ya..”
Tut tut tut tut

Gua memasukkan ponsel ke dalam saku sambil menggeleng-gelengkan kepala, emang nggak ada ’manner’-nya di bocah, maen tutup telepon aja.

Gua mengangkat koper gua ke atas kursi disebelah gua, menaikkan kedua kaki di kursi yang berlawanan dan merebahkan kepala diatas koper. Mungkin bisa tidur dulu barang sebentar. Baru saja mata gua ingin terpejam, sebuah tepukan halus mengagetkan gua, seorang petugas berpakaian seragam biru muda, dengan celana panjang hitam dan topi bermotif kotak catur berdiri di hadapan gua.

”You can’t sleep here, young man..”

Gua terduduk, mengucek-ngucek mata kemudian mengucapkan maaf, sambil mengangguk-anggukan kepala.

Hampir dua jam gua duduk sambil sesekali mengangguk saat mata gua terpejam tanpa instruksi, gua melihat ke arah jam tangan, jarumnya menunjukkan angka lima. Gua melihat sekeliling, berharap heru segera datang menjemput, gua mengeluarkan laptop dari dalam ransel dan mencoba menyalakannya, layar laptop berpendar kemudian memunculkan sebuah jendela peringatan; ’Conect your charger’, gua menghela nafas, menutup layar laptop dan memasukkannya kembali ke dalam ransel. Damn.. mati bosen nih gua..

Akhirnya, gua dibangunkan oleh Heru yang menendang-nendang kaki gua. Terlonjak, gua menatap ke heru;

”Lama banget lu ruk..”
”Emang lu kata manchester kemari deket?”
Heru mengambil koper gua, menarik gagangnya dan mulai menyeretnya. Gua berdiri memakai ransel, melihat ke arah ke arah jam; 06.30, ah lumayan lama juga berarti gua tidur.

Gua menyusul Heru, berjalan disampingnya;
”Gua diterima kerja disini nih.. lu tau alamat ini?”
Gua mengambil kertas dari dalam saku, kemudian menyodorkannya ke heru. Dia mengambil dan membacanya kemudian menggeleng.

”Gua juga baru dua bulan disini, sebulan di London, sebulan di Manchester..”
”Yah, bijimane nih ruk..”
”Udah ke KBRI aja dulu, laporan.. ntar nanya disono..”
”Oke dah siip”

Kami berjalan meninggalkan bandar Heathrow, menuju ke pemberhentian bus yang nggak begitu jauh. Beberapa saat kemudian gua sudah berada didalam bus sambil nggak henti-hentinya mengaggumi pemandangan pagi di kota London.

Setelah melalui proses lapor diri di KBRI, gua duduk disebuah kursi dengan meja-meja berderet mirip sebuah meja di perpustakaan. Heru sudah kembali ke Manchester, nggak bisa menemani gua karena harus bekerja. Gua memakluminya dan gua juga harus mencoba secepat mungkin untuk terbiasa sendirian disini. Seorang wanita gemuk bertampang Indonesia, datang dan duduk dikursi dihadapan gua, memperkenalkan diri dengan nama Ibu Dewi, dia adalah seorang konsultan KBRI untuk orang-orang seperti gua, orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Inggris.

Kami mengobrol sebentar, ibu Dewi bertanya seputar kondisi terakhir di tanah air dan sambil memandang surat rekomendasi dari perusahaan tempat gua bakalan kerja, dia bertanya;

”Mas.. magang disini?”
”Iya bu..”
”Kalo alamat kantornya sih nggak begitu jauh dari sini, tinggal naik tube sekali..”
”Ooo..”
”Kapan mulai kerjanya..”
”Kalau memungkinkan sih pagi ini bu..”
Bu Dewi melirik ke arah jam dinding di dalam ruangan tersebut, ada dua jam dinding; satu berlabel GMT yang satu berlabel ’Jakarta’.

”Udah ada tempat tinggal belum?”
”Belum bu..”
Kemudian dia mengeluarkan kertas dari dalam map yang dibawanya dan menyodorkannya, gua mengambil dan memperhatikannya.

”Itu tempat –tempat yang saya rekomendasikan buat mas boni.. tapi mungkin agak costly ya, karena dadakan mas boni-nya..”
”Ooh gitu bu..”
”Kalau mas boni mau ke kantor-nya hari ini, barang-barangnya bisa dititipin disini kok, nanti kalau sudah dapet tempatnya baru diambil..”
”Gitu ya bu.. oke deh kalo gitu saya permisi..”
”Harusnya sebelum kesini, mas boni cari-cari tempat dulu, biar gampang..”
”Ya soalnya mendadak bu..”
”Yasudah semoga berhasil deh, ini kartu nama saya..”
Bu Dewi menyerahkan beberapa lembar kartu namanya, gua menerimanya sambil memasang wajah penasaran;

”Banyak amat bu, ngasih kartu nama..”
”Ga pa pa.. satu taro di dompet, satu taro di kantong celana, satu di kantong baju, sisanya simpen di tas..”
”Oke deh, makasih ya bu..”

Kemudian gua bergegas keluar dari ruangan tersebut, bu dewi mengantar sampai keluar ruangan sambil menjelaskan detail dan pilihan transportasi yang bisa gua gunakan.

Setelah berdandan necis di kamar mandi kedutaan gua keluar dan berjalan mengikuti petunjuk Bu Dewi. Jam menunjukkan pukul 10 pagi, matahari sudah bersinar terang, terasa hembusan angin hangat menerpa wajah, gua menebak-nebak mungkin saat ini adalah musim panas.

Gua terhenti disebuah pemberhentian bus, kemudian melihat papan jadwal yang menunjukkan waktu kedatangan bus, sambil mencari nomor bus dan waktu-nya. Lima menit berselang bus dengan nomor yang gua tunggu pun datang, gua melihat ke arah jam tangan dan mencocokkan dengan jadwal yang tertera dipapan sebelum naik kedalam bus; Anjritt, on time abis.

Dua puluh menit berikutnya gua sudah berada di dalam sebuah gedung berlantai 12 yang terletak di pusat kota London. Gua duduk didepan seorang pria, kepala HRD perusahaan tersebut, dia terlihat sibuk dengan ponselnya sambil menandatangani dokumen disana-sini, kemudian dia menyerahkan sebuah kertas berisi peraturan perusahaan untuk gua tanda tangani, disusul sebuah sebuah dokumen berisi kontrak kerja. Gua membacanya dengan seksama kemudian menandatangani dan menyerahkannya kembali ke pria tersebut. Dia menyerahkan copy-nya dan mengatakan sebuah nominal, gua mengasumsikannya sebagai gaji, karena status gua yang saat itu Cuma ’internship’ gua nggak merasa memiliki nilai tawar yang tinggi, jadi gua Cuma mengangguk setuju, kemudian menandatangani kesepakatan gaji yang disodorkan olehnya. (Oke sedikit bocoran; gaji gua saat itu sebagai internship di London berkisar £800 per pekan, tanpa asuransi kesehatan dan tunjangan lain-lain) kemudian dia berkata kepada gua untuk menunggu sebentar, sementara di berdiri dan meninggalkan gua sendiri didalam ruangan.

Nggak lama berselang terdengar suara pintu terbuka dibelakang gua, langkah kaki berat mendekat dan berhenti disebelah gua. Gua menoleh, seorang bule, perlente, berambut gondrong di kuncir tersenyum ke arah gua.
Mr.Kane, gua berdiri dan menyalaminya, dia mempersilahkan gua duduk kembali kemudian dia mengambil sebuah kursi dan duduk diatasnya.

”Well, Boni..Boni..Boni… if you comes two months earlier you’ll get better position, better salary..”
Gua mengangkat bahu mencoba mengatakan ’mau bagaimana lagi’ melalui sebuah gestur.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Mr.Kane, dia berdiri dan membuka pintu hendak keluar. Berkali-kali gua mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang dia berikan dan dia Cuma mengangguk, berkata ’enjoy your work’ kemudian keluar dari ruangan.

Satu jam kemudian, gua sudah berada di sebuah ruangan kecil,dimana terdapat beberapa layar monitor besar, beberapa mixer, sebuah keyboard dan sebuah laptop yang kini sedang gua hadapi, disebelah gua duduk seorang pria yang tadi sempat memperkenalkan diri dengan nama ’Clark’ seorang Sound Desainer Senior diperusahaan ini. Menurut Kepala HRD yang tadi gua temui, tugas gua seminggu ini adalah membantu Clark dalam sebuah projek iklan layanan masyarakat. Dan saat ini Clark sedang memainkan tuts-tuts piano membentuk sebuah nada, tugas gua adalah merekamnya ke dalam laptop dan memasukkannya kedalam ’timeline’, kemudian meng-compile-nya sehingga menghasilkan sebuah irama. Nah irama-irama tersebut yang kemudian bakal disisipkan kedalam sebuah video grafis yang kemudian menjadi tayangan yang layak konsumsi.

Sejujurnya, gua sedikit kaget dengan dunia kerja disini. Karena menurut cerita dari salah seorang teman yang pernah bekerja sebagai agen asuransi di Inggris, dunia kerja di sini sangatlah ’parah’, parah dalam artian tekanan pekerjaan dan suasana kerja-nya, menurutnya para pekerja disini sangat individualis dan egosentris. Tapi, kesan yang gua dapat saat ini, dihari pertama gua disini, sangatlah berbeda. Sebagai orang yang statusnya ’internship’, beberapa orang-orang disini boleh dibilang ramah terhadap gua, apalagi Clark yang dari tadi ’cengengesan’ ngetawain aksen british gua yang belepotan dan kebingungan gua dalam menggunakan laptop dengan Operating System non windows.

Saat istirahat makan siang gua Cuma duduk memandangi layar laptop sambil memainkan beberapa nada melalui piano digital yang terinstal didalamnya. Clark masuk kedalam ruangan sambil menenteng cangkir kertas berwarna cokelat, dari aromanya seperti kopi.

”Hey, bon.. take a break.. don’t get so serious..”
”Haha.. nope, just playin’ some nasty sound..”
Clark mengambil kursi dan duduk didepan komputer-nya, menyeruput kopi kemudian bertanya ke tentang timpat tinggal gua saat ini. Gua menggeleng dan mengatakan kalau gua baru saja sampai pagi ini dan langsung datang kesini dan belum sempat mencari tempat tinggal.

”Are you kiddin’ me? Why you didnt tell me?..c’mon..”
Clark berdiri kemudian mengajak gua keluar dari ruangan. Gua mengikuti dia, sampai di depan sebuah mesin kopi, dia mengambilkan cangkir kertas dan menyerahkannya ke gua kemudian dia memasukkan beberapa recehan dan menekan tombol ’black coffee’. Gua menambahkan beberapa sachet gula kedalamnya sambil kemudian bergegas mengikuti Clark lagi, kali ini dia masuk kedalam lift. Gua berjalan cepat menyusulnya sebelum pintu lift tertutup.

Didalam lift Clark mengenalkan gua ke orang-orang didalam lift, sebagian menyapa sambil tersenyum, sebagian lainnya Cuma menaikkan alis mata mereka. Kami tiba di lantai dua, gua kembali mengikuti langkah Clark yang berjalan cepat melewati meja-meja yang saling berhadapan, suasana kantor disini terlihat begitu nyaman dan santai, gua bahkan hampir nggak menemui karyawan yang mengenakan jas dan dasi, paling formal ya kemeja seperti yang gua pakai saat ini.

Clark sampai didepan sebuah ruangan yang bertuliskan; ’Legal Department’. Dia nggak mengetuk pintu, bahkan mendorong pintu-nya menggunakan kaki, pintu terbuka, terlihat dari luar, dari tempat gua berdiri beberapa orang yang sedang menghadapi layar monitor. Clark yang masih berdiri diambang pintu menyebut sebuah nama, disusul seorang berwajah sipit yang kemudian berdiri, keluar menghampiri kami, Clark merangkul pemuda berkacamata tersebut dan memperkenalkan-nya ke gua;

”Well boni, this is Chen, Chen this is Boni.. your new room-mate..”
Gua dan pemuda sipit bernama Chen itu bersalaman kemudian saling pandang. Hah..

Clark kemudian melepas rangkulan Chen dan menjelaskan ke gua, kalau Chen adalah seorang karyawan yang berasal dari Malaysia dan tinggal di salah satu Flat yang terletak nggak begitu jauh dari kantor. Gua berusaha meyakinkan kalau Clark, kalau gua nggak bisa begitu aja ’sekonyong-konyong’ datang dan numpang ditempat orang. Dia mengerti, kemudian menanyakan ke Chen apakah ada kamar yang kosong di Flat-nya, Chen masuk kedalam kemudian kembali dengan ponsel ditangannya sambil menunjukkan ke gua nomor telepon sang pemilik flat. Saat itu gua nggak berfikir, bagaimana kondisi tempatnya, seberapa luas ukurannya, dan berapa biayanya. Yang penting bisa buat tidur aja dulu barang semalam dua malam. Setelah mencatat nomor yang diberikan Chen, gua dan Clark berjalan kembali menuju ke lift;

”You dont see like person from same country… ”
Gua menghela nafas.

”Clark.. Chen is from Malaysia..and im from Indonesia..”
”What, i dont get it? Malaysia, Indonesia, its the same place for me..”
”….”
Dan gua menghabiskan waktu sejak dari masuk ke dalam lift sampai ke ruangan di lantai 10 hanya untuk menjelaskan perbedaan antara Malaysia dan Indonesia kepada Clark.

Sesampainya diruangan, Clark mengatakan ke gua untuk segera menelpon Landlord (pemilik flat) dan bergegas kesana untuk beres-beres. Gua mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor yang tadi diberikan oleh Chen.

”About £295 per month including electricity, water and on road parking with free council permits..”
Gua terdiam sebentar mendengar penjelasan si Landlord via telepon, kemudian berkata;
” £295, will be work for me.. i’ll be there soon..”

Saat jam menunjukkan pukul 4 sore, gua yang tadi mengabaikan saran dari Clark untuk pulang lebih cepat, pamit ke Clark. Dia mengangguk sambil mengangkat jempol tangannya, sementara matanya masih memandangi layar monitor komputernya.

Sore itu, sore pertama di negara yang sama sekali asing buat gua.
Gua berdiri memandang keluar lewat jendela kecil disebuah kamar yang masih kosong melompong, hanya terdapat sebuah kasur lipat tanpa seprei dan sebuah bangku kayu yang sudah usang. Gua meletakkan koper dan ransel gua disudut ruangan, kemudian duduk dikasur sambil memandangi amplop berisi uang saku yang gua bawa dari Indonesia. Uang yang terdiri dari hasil tabungan gua hasil dari ’menulis’ di majalah waktu di Singapore dan tambahan dari Nyokap yang bela-belain jual cincin sama kalung emasnya. Gua meremas amplop berisi uang tersebut, sambil bergumam dalam hati; ’Nanti oni bakalan beliin emak cincin sama kalung yang lebih bagus, oni janji mak..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *