Accidentally in Love by Alboni – Epilogue

Epilogue #1

Gua duduk dihadapan laptop dimeja dapur, menghisap dalam-dalam marlboro light sambil ditemani secangkir kopi, mencoba memulai lagi hobi kecil yang dulu sempat padam, kini dengan sedikit hembusan motivasi, mencoba ’membakar’ kembali semangat itu. Gua memandang kursor berkedip pada layar laptop yang menampilkan sebuah aplikasi pengolah kata, kemudian mulai mengetik sebuah judul;
Desain, Sebuah Alat atau Tujuan.

Lama gua memandangi judul yang baru gua ketik tersebut, sebatang, dua batang, tiga batang rokok habis selama memandangi judul itu. Sebuah judul yang boleh dibilang sedikit kontradiktif. Gua menyulut batang rokok ke-empat saat mulai mengetik paragraf pertama, paragraf kedua dan seterusnya. Semuanya begitu mengalir, begitu mulus, hampir tidak ada halangan berarti, boleh dibilang setelah hampir lebih dari sebulan gua menulis sebagian kisah hidup gua dalam sebuah forum internet terbesar di Indonesia membuat naluri menulis gua bangkit lagi. Setengah jam kemudian gua mengangkat kedua tangan sambil meregangkan tubuh kemudian membaca ulang tulisan yang baru saja selesai. Gua menyeruput kopi yang sudah mulai dingin, mengambil ponsel yang tergeletak disamping laptop, mencari sebuah nama dan mulai menghubungi-nya.

”Halo Assalamualaikum..”
Terdengar sapaan dari ujung telepon.

”Waalaikumsalam.. Ari?”
”Iya bang.. ada apa?”
”Sorry, nih ri.. telpon tengah malem gini, nggak ganggu kan?”
”Hehehe.. ngga apa-apa bang, belon tidur kok, maklum anak kost-an, nggak bisa tidur sore..ada apa ya bang?”
”Hahaha.. ini gua udah ada artikel yang lu minta, gua email sekarang ya..”
”Hah, cepet amat bang, perasaan baru tadi sore saya kerumah..”
”Iya mumpung lagi mood, nih ri..”
”Yaudah dikirim ke email saya yang dikartu nama aja bang, makasih ya udah repot-repot..”
”Nyantai aja ri.. yaudah gua langsung kirim nih ya..”
”Oke bang..”
”Oiya ri, nanti kolom authornya, pake nickname aja ya.. jangan pake nama asli..”
”Oh gitu bang.. oke deh, nicknamenya apa?”
”Terserah elu dah..”
”Yaudah deh… sekali lagi makasih ya bang..”
”Iya ri, assalamualaikum..”
”Waalaikumsalam..”

Gua menutup pembicaraan, kemudian meletakkan ponsel kembali disebelah laptop.
Setelah beberapa saat mencari kartu nama Ari, gua menemukannya sudah sedikit lecek ditambah basah disudut-sudutnya, pasti tadi dibuat main oleh Fatih.
Gua meng-klik ikon email disudut kanan layar laptop, mengunggah file artikel gua barusan dan mengirimnya ke alamat email yang tertera didalam kartu nama tadi.
Gua tersenyum memandang background layar laptop gua yang menampilkan seorang perempuan cantik, hitam manis dengan rambut sebahu tengah berpose dengan seorang anak kecil sedang menggunakan kacamata hitam; Istri dan anak gua.

Gua mengambil cangkir kopi dan bungkusan rokok, kemudian berdiri dan bergegas menuju keluar, ke teras rumah. Gua berhenti sebentar di depan pintu kamar, mengintip melalui celah pintu yang masih terbuka sedikit, masuk kedalam untuk membetulkan letak selimut yang menutupi Ines dan Fatih, mengecup kening kedua malaikat gua ini. Ines menggumam, sejenak dia terjaga dan berkata;
”Kamu kok belom tidur?”
”Iya sebentar lagi..”
”Jangan malem-malem tidurnya..”
Kemudian dia memeluk guling dan memejamkan matanya lagi.

Gua kembali keluar, menutup pintu kamar dan menuju ke teras.
Salah satu kegiatan yang sering gua lakukan, duduk diteras rumah tengah malam sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang (berbatang-batang) rokok.

Teringat akan kejadian tadi sore, saat dua orang remaja datang bertamu ke rumah. Seorang pria dan wanita; Ari dan Santi. Mereka mengaku berasal dari kampus yang sama tempat gua kuliah dulu. Sedikit curiga gua bertanya darimana mereka bisa mengetahui alamat rumah gua, salah seorang dari mereka menjawab kalau mereka tadinya sempat datang kerumah nyokap dan nggak menemukan gua disana, akhirnya mereka datang kesini setelah diberikan alamat oleh bokap.

”Mas Boni?”
Pria yang mengenalkan diri bernama Ari bertanya.

”Iya.. ada apa ya?”
”Begini mas, kita dari kampus xxxxx.. sebelumnya maaf nih mas udah lancang tiba-tiba langsung dateng kesini…”
”Ya, nggak papa..”
”..kita sebenernya mau ngadain semacam seminar khusus untuk anak-anak DKV dikampus mas.. nah pas lagi nyari-nyari narasumber, kita dikasih tau kalo mas bisa bantu, soalnya mas kan almamater kampus xxxxx juga kan..”
”Oke.. begini.. yang pertama; jangan panggil saya mas.. panggil aja ’bang’, yang kedua; tau darimana alamat nyokap saya?, yang ketiga; siapa yang ngereferensiin saya buat jadi nara sumber?
Gua mengajukan tiga pertanyaan kepada mereka berdua seraya menyulut sebatang rokok. Ines muncul dari dalam sambil membawa dua gelas berisi air berwarna orange dan menyuguhkannya dihadapan mereka.

”Gini bang, kita juga nggak kenal siapa orangnya, soalnya dia juga ngasih taunya via email.. trus masalah alamat, kita minta dari pihak administrasi kampus..”
Si wanita yang bernama santi membuka suara.

”Oohh gitu… tau alamat emailnya? Oiya minum dulu deh,, Ri.. San..”
”Ada bang, sebentar..”
Ari mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, sesaat kemudian di mendiktekan sebuah alamat email ke gua; theponytailingyou@xxxx.com

Gua mengangkat bahu.
”Emangnya seminar tentang apaan?”
”Tema-nya sih Desain dan Penerapan dalam kehidupan bang..”
”Oooh.. bisa sih, tapi..”
”…anu bang kalo bisa sih sekalian ngasih motivasi juga, biar bisa dapet beasiswa keluar negri kayak abang, gitu..”
Ari berkata malu-malu sambil menyeruput minumannya.

”Loh kok tau gua pernah dapet beasiswa?”
”Iya bang, dari pihak administrasi kampus yang ngasih tau..”
”Ooh.. gua kalo Cuma jadi nara sumber sih nggak masalah, tapi kalo motivasi nggak bisa.. hidup gua aja masih berantakan, gimana mau memotivasi orang..”
”Yah.. yaudah deh bang.. tapi bener kan setuju nih buat jadi narasumber?”
Gua mengangguk, menjawab pertanyaan si Ari.

”Kapan sih acaranya?”
”Masih minggu depan bang..”
”Dimana? Dikampus?”
”Iya bang..”
”Oke deh.. nanti kasih tau detail acaranya aja, sama audience-nya siapa aja..”
”Acaranya sih pagi bang, audience ya Cuma anak-anak DKV kampus aja..”
Gua manggut manggut sambil menghisap rokok.

”Yaudah bang gitu aja deh, kalo bisa saya mau minta kontak abang..”
Ari berkata sambil menyerahkan selembar kartu nama, gua menerimanya kemudian menyebutkan nomor ponsel yang buru-buru dicatat kedalam ponselnya.

”Oiya bang, satu lagi, kalo bisa saya nanti dikasih bocoran tentang isi topik yang bakal abang bawain ya..”
”Oh..iya iya..nanti gua email..”
”Makasih ya bang..”
”Sama-sama”

Kemudian mereka berdua pun pamit.

Jumat, minggu berikutnya.
Malam itu, hujan. Gua sampai dirumah saat jam menunjukkan pukul enam sore, pekerjaan yang sedikit renggang membuat gua bisa pulang agak sedikit cepat. Setelah melepas jas hujan dan menggantungnya, gua masuk kedalam dan langsung disambut oleh fatih yang sudah berpakaian rapi. Gua berjongkok bersiap menyambutnya;
”Waah anak ayah mau temana, kok mangi bener..”
”Nek… mah.. nek..”
”Mau kerumah nenek? Sama siapa?”
”A..y..ah..”
Fatih menjawab lucu.

Gua menggapai dan menggendongnya, sesaat kemudian Ines keluar dari kamar, juga sudah berpakaian rapi.

”Mau kemana? Ke rumah nyokap?”
Gua bertanya ke Ines.

”Iya.. kan katanya kamu mau ngisi seminar besok di kampus..”
Ines menjawab sambil membetulkan rambutnya

”Ya kan seminarnya besok..”
”Ya kita ngikut ya dek..”
Ines menjawab sambil mengambil alih Fatih dari gendongan gua.

”Kita nginep dirumah ibu, besok jadi kamu berangkat dari sana..”
”Ooh.. yaudah..”
”Mau siap-siap langsung jalan sekarang apa mau makan dulu?”
Ines bertanya sambil menggendong Fatih.

”Emang kamu masak?”
”Nggak.. kalo mau makan aku masakin mie..”
”Nggak deh, ntar aja makan diluar…”
”Assiiik..”

Gua bergegas masuk kedalam kamar dan berganti pakaian. Beberapa saat kemudian kami sudah berada dijalan menuju ke rumah nyokap.

Keesokan harinya, gua tengah bersiap siap untuk berangkat menuju ke kampus guna menghadiri undangan seminar. Ines sedang membuat kopi untuk bokap kemudian dia menghampiri gua didalam kamar;

”Ayaah.. aku ikut ya?”
”Ikut.. mau ngapain?”
”Pengen ikut aja…”
”Ngapain sih ngikut-ngikut segala?”
Gua menjawab sambil pasang tampang sangar. Bukannya gua nggak mau Ines ngikut tapi entah kenapa setiap gua tengah mengisi acara-acara seminar dan Ines ikut hadir disana, membuat gua jadi sedikit grogi atau entah apa namanya. Jadi, gua berfikir untuk nggak pernah lagi mengajak Ines dalam acara seminar dimana gua jadi narasumber atau pembicaranya.

”Yaah.. aku kan pengen liat kampus kamu…”
”Waktu itu kan udah pernah liat..”
”Ish.. Cuma lewat doang…”
”Ntar fatih sama siapa?”
”Ya ikut juga lah..”
”Ntar kalo rewel?”
”Ya kan ada mami sama ayahnya..”
”….”
”..ya..ya..ya.boleh ya..”
Ines mendekati gua sambil memasang tampang memelasnya.

Oh God!, kenapa sih elu pasang tampang seperti itu nes, yang akhirnya selalu sukses bikin gua menyerah mempertahankan pendirian gua.
Gua Cuma menghela nafas panjang. Ines kemudian buru-buru keluar dari kamar dan memanggil Fatih yang sejak pagi asik bermain dengan kakeknya.

”Deek.. fatih.. yuk ganti baju, kita ikut ayah..”

Dan satu jam berikutnya kami sudah berada di aula kampus. Gua berdiri diatas sebuah panggung berukuran kecil dihadapan hampir dua ratus pasang mata yang menatap kearah gua seakan-akan menelanjangi gua dalam kesendirian. Gua mengetuk mikropon beberapa kali, dan pada ketukan ketiga seisi ruangan hening seketika. Setelah mengucapkan salam gua membuka topik dengan bertanya tentang kabar para peserta dan dilanjutkan dengan menyebut judul ’Desain sebuah alat atau tujuan’.

Selesai acara, gua diantar kebelakang panggung oleh Ari, dimana Ines dan fatih sudah menunggu. Gua mengambil Fatih dari gendongan maminya sambil bersiap-siap untuk pulang, Ari mengapit tangan gua dan membisikan sesuatu, yang gua dengar Cuma selentingan dari omongannya; ’amplop’.
Gua memberikan kunci mobil ke Ines dan menyuruhnya untuk menunggu dimobil, dia Cuma mengangguk dan mengangkat tangannya hendak meraih Fatih dari gendongan;
”Udah biarin sama aku aja, kamu tunggu di mobil ya sebentar..”
”Iya..jangan lama-lama..”
”Iya..”

Kemudian gua mengikuti Ari sambil menggendong Fatih kedalam sebuah ruangan kecil yang terletak dilantai dua.
Setelah menyelesaikan urusan dengan Ari, gua bergegas turun melalui tangga menuju kelantai dasar dan disaat turun gua berhadapan dengan sesosok perempuan berambut panjang yang diikat keatas dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya. Perempuan itu berdiri disudut tangga menatap gua yang masih menggendong Fatih, kami saling menatap.

Perempuan itu menggigit bibir sambil menyibak poni rambut dengan hentakan lembut kepalanya, terlihat sepintas sebuah luka sepanjang kurang lebih tiga senti disudut dahi kanannya yang kemudian tertutup oleh rambut lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.