Everytime – Epilogue

Siang itu, Sabtu siang, panas terik matahari membiaskan cahaya yang menyilaukan mata melalui kaca depan mobil yang terparkir berjajar dihalaman salah satu gerai Restaurant cepat saji yang berada di kawasan Sektor Sembilan, Bintaro. Gua memicingkan mata sambil memandang keluar mencoba mencari-cari seseorang yang tadi pagi menghubungi gua untuk janji bertemu disini. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya orang yang gua tunggu datang. Gua mengangkat tangan sambil melambai memberikan petunjuk kehadiran gua disini, sosok pria kurus itu tersenyum kemudian berjalan cepat kearah gua.

Pernahkah kalian mengenal, bertemu atau bahkan memiliki teman, saudara yang ‘cerdas’? Tentu saja yang gua maksud dengan cerdas disini bukan melulu perihal prestasi akademik, melainkan kecerdasan yang hampir menyeluruh. Sejauh yang gua tau atau mungkin kalian juga sependapat, sosok paling cerdas untuk ukuran orang Indonesia adalah BJ Habibie, tapi tak usahlah terlalu jauh mencari sosok ‘cerdas’ yang satu itu. Gua memiliki seorang teman yang (mungkin) memiliki gen yang nyaris mirip dengan gen BJ Habibie, gen kecerdasan yang seperti komputer namun dilengkapi dengan nalar manusia. Dan ijinkan gua mengulang pertanyaan gua diawal; Pernahkah kalian mengenal, bertemu atau bahkan memiliki teman, saudara yang ‘cerdas’?

Gua pernah!

Namanya Aril, gua menyebutnya begitu, penggalan dari nama belakangnya, nama keluarga-nya; Syafriel. Aril memang tergolong pria yang cerdas, tapi nggak seperti ‘cerdas’ yang gua ungkapkan diatas, sosok yang gua golongkan cerdas ini adalah seorang wanita, istrinya Aril, namanya; Desita. Dan saat ini, disabtu siang yang terik ini; Sosok perempuan itu berjalan keluar dari sedan hitam mewahnya yang diparkir dipelataran parkir restaurant cepat saji, disusul Aril yang berjalan cepat menyusulnya dan memasuki restaurant. Setelah selesai memandang sekeliling dan mendapati gua tengah melambai ke arahnya, Aril tersenyum kemudian berjalan menghampiri gua diikuti oleh Desita dibelakangnya.

Aril dan Desita duduk bersisian diseberang gua. Semenit berikutnya kami bertiga larut dalam obrolan-obrolan ngalor ngidul yang nggak jelas muaranya. Gua teringat akan pertemuan pertama kali gua dengan Desita, saat itu Aril mengajaknya untuk bertemu dengan gua. Sosok perempuan mengagumkan yang menurut gua sangat ‘sulit’ untuk diajak ngobrol dan juga mungkin begitu hal yang dirasakan orang-orang yang baru pertama kali bertemu dengannya. Gaya bicaranya saat berbincang seperti melompat-lompat, bicara dan daya tangkapnya cepat, dia seperti dapat membagi otak dan pikirannya kedalam beberapa bagian, hingga nggak terlihat kesulitan memahami topik ganda yang sedang diperbincangkan, saat tengah bicara mengenahi hal A, tiba-tiba dia langsung membahas hal C, yang notabene pada akhirnya perbincangan kami bakal sampai ke sana. Daya ingatnya luar biasa dan begitu akurat, kemampuan berhitungnya pun tak perlu disangsikan lagi. Dan hasilnya gua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala lalu dibalas senyuman Aril yang seakan berkata; “Istri gua gitu loh”.

Saat Desita berdiri, beranjak dari duduknya untuk memesan makanan ke counter, gua iseng bertanya ke Aril;

“Lu bisa ketemu dia gimana ceritanya tuh ril?”
Aril hanya tersenyum, sambil mengeluarkan bungkusan rokok filter dari saku celananya dan menyulutnya dia menjawab;
“Cerita-nya panjang..”

“Oh..”

“… Dan unik..”

“Unik? Unik gimana?”
Gua bertanya penasaran.

Sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya dia mulai bercerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published.