Everytime – Chapter 1

Chapter 1 Content :

#1 Solichin

Nama gua Solichin, semasa sekolah dasar dulu gua biasa dipanggil ‘licin’ dan menginjak SMP teman-teman mulai memanggil gua ‘Ableh’.

Entah kenapa gua bisa dipanggil begitu, lupa.

“Bleh.. nebeng dong sampe depan..”

Gua sedang mengikat tali sepatu kets hitam kesayangan gua saat Salsa, kakak perempuan gua satu-satunya berteriak dari dalam kamarnya.

“Yaudah buruan.. gua kesiangan nih..”

Gua berkata setengah berteriak sambil berdiri, kemudian bergegas keluar dari rumah dan menghidupkan motor. Nggak lama berselang Salsa keluar, berjingkat sambil memakai sepatu berhak-nya yang sepertinya agak kekecilan, dimulutnya masih tersisa remah-remah roti yang sepertinya dimakan terburu-buru.

Beberapa menit kemudian gua dan Salsa sudah berada di tengah kerumunan sepeda motor yang mulai menyemut di jalan raya depan komplek rumah. Seperti hari-hari weekday biasanya, gua berangkat kerja pukul tujuh pagi dan terkadang Salsa ikut ‘nebeng’ sampai perempatan depan komplek dimana nanti dia bakal dijemput sama pacarnya disana.

Buat gua semua hari itu sama, terdiri dari hari Senin #1, Senin #2, Senin #3, Senin #4, Senin #5, Libur dan Senin minus 1. Gua orang yang perfeksionis, semua harus tepat pada tempat dan porsinya, gua nggak pernah terlambat masuk kerja, gua nggak suka ada kemeja baju yang warna kancing-nya beda satu, kalau makan telor – kuningnya gua makan belakangan, begitu juga dengan Ice cream – gua makan cone –nya lebih dulu baru kemudian cream-nya, kata orang sih save the best for the last. Gua bahkan mengurutkan channel stasiun televisi berdasarkan tahun berdirinya stasiun yang bersangkutan; #1 Untuk TVRI, #2 untuk RCTI, #3 untuk SCTV dan seterusnya dan seterusnya, gua selalu membeli sikat gigi berwarna hijau dan menyikat gigi bagian depan 24 kali, gigi bagian samping masing masing 24 kali, kemudian berkumur selama 30 detik- sesuai dengan anjuran yang tertulis dikemasan obat kumur. Gua selalu meletakkan ponsel disaku celana bagian kanan, dompet di saku celana bagian kanan belakang, uang receh/kembalian gua tempatkan disaku celana bagian kiri, kunci kendaran di saku celana kiri belakang dan rokok disaku kemeja, selalu begitu dan harus selalu begitu, harus!

Semasa kecil gua bercita cita jadi dokter, supaya bisa megang-megang cewek tanpa digampar atau diomelin. Tapi, setelah melihat bahwa jadi instruktur fitnes punya persentase lebih besar untuk bisa megang-megang cewek tanpa digampar atau diomelin, gua pun beralih cita-cita, tapi sayang sampai gua kelas 3 SMP tubuh gua nggak memberikan respon yang berarti, bahkan sampai sekarang tubuh gua cuma terdiri dari tulang, sedikit lemak dan terbungkus kulit. Makanya Salsa selalu bilang begini;

“Bleh, badan udah kurus kering, jangan panas-panasan mulu.. ntar jadi kerupuk..”

Akhirnya gua memutuskan meninggalkan cita-cita untuk jadi dokter atau instruktur fitness dan mulai menggantungkan impian menjadi artis, sambil tetap berharap dapet peran yang bisa megang-megang, meluk bahkan mencium artis tanpa digampar atau diomelin.

Lulus SMP gua masuk SMA, dan memang seharusnya begitu (mengesampingkan teman gua; si Bewok, yang lulus SMP ingin langsung kuliah. Katanya dari SMP lanjut SMA itu terlalu mainstream). Di SMA, gua memilih untuk mengambil jurusan IPS. Sebenarnya jika menggunakan kalimat yang tepat bukan “memilih” tapi terpaksa, karena nilai-nilai gua nggak mencukupi untuk masuk ke jurusan IPA. Oke, gua ralat; Di SMA, gua terpaksa untuk mengambil jurusan IPS. Jujur, selama ‘makan’ bangku sekolah formal dari SD sampai SMP gua cuma berhasil mempelajari tiga hal; Menulis, membaca dan berhitung. DiSMA gua juga cuma belajar tiga hal juga; Belajar merokok, deketin cewek dan Billiard. Lulus SMA, Bapak ingin agar gua masuk ke Akademi Kepolisian, Ibu ingin anak laki-laki satu-satunyajadi sarjana pendidikan, Salsa menyarankan gua untuk kuliah ambil jurusan IT dan gua sedikit membelot dengan mengambil jurusan Desain Grafis. Lulus kuliah, setelah magang disana sini akhirnya gua berlabuh di sebuah perusahaan yang bergerak sebagai distributor makanan, bagian Exim, Exim disini bukan seperti nama penyakit kulit (Eksim) melainkan sebuah kependekan dari Eksport-Import.

Gua lahir dan dibesarkan dikeluarga yang ‘nyeleneh’, makanya gua jadi orang yang sedikit ‘nyeleneh’ pula. Bapak, saat dikantor, bekerja sebagai notaris dan saat dirumah dia menjelma menjadi sosok tukang kebun dan koki dadakan. Ibu yang jadi guru di salah satu SMP negeri di Jakarta saat dirumah berubah menjadi perdana menteri, ratu, manager keuangan merangkap mandor, semua kata-katanya adalah titah, sebuah ultimatum yang tak terbantahkan, Salsa, kakak perempuan gua adalah seorang akuntan yang bekerja di salah satu stasiun TV swasta di Jakarta dan saat berada dirumah dia menjelma menjadi tangan kanan-nya perdana menteri merangkap asisten mandor, walaupun kata-katanya bukanlah titah, bukan ultimatum yang tak terbantahkan namun seringkali pedas dan pedih bagai cambuk, walaupun begitu Salsa adalah salah satu ‘role-model’ kakak yang brilian, dia selalu ingat dengan adik nya dalam kondisi apapun. Misalnya saat dia makan malam di restaurant mahal dengan rekan kantor atau pacarnya, dia selalu ingat dengan gua; adiknya yang durjana ini.

“Bleh, tadi gua abis makan di Ritz, gilaa.. enak banget kepiting nya…”

“Asik dong, gua dibawain?”

“Nggak lah, mahal gilaaa… tapi tadi pas makan, gua inget kok sama lo dan pengen buru-buru sampe rumah buat cerita ke lo..”

“Najis.. kakak durhaka”

Hampir semasa hidup, gua nggak pernah menemui kesulitan berarti, apalagi dari segi ekonomi. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu selalu dicukupkan rejekinya hingga kedua anaknya bisa bersekolah. Dunia sosial gua juga bisa dibilang, tanpa masalah. Gua punya banyak teman dan hampir nggak punya musuh, tapi mungkin kisah percintaan yang selalu jadi masalah. Gua yang perfeksionis, ego sentris dan mau menang sendiri (kata temen gua, si Bewok; gua begini mungkin karena terlahir sebagai anak bungsu) selalu jadi kendala buat cewek-cewek yang baru mau jadi pacar atau sudah terlanjur jadi pacar gua. Tercatat jelas dibuku harian gua, sejak SMP sampai masa kuliah, total gua sudah enam kali berpacaran dan rata-rata durasinya cuma satu bulan. Dina; 27 hari, Ira; 25 hari, Intan; 20 hari, Cecil; 25 hari, Sita; 41 hari, Eci;45 hari dan Anto; 5 hari, oke yang terakhir nggak perlu dihitung. Totalnya; 27+25+20+25+41+45 = 183, 183:30=6,1.

Dan sejak terakhir putus dengan Eci, gua nggak pernah lagi dekat atau berpacaran dengan cewek manapun (cowok juga). Kata peribahasa begini; “Keledai nggak bakal jatuh dilubang yang sama dua kali” dan itu nggak berlaku buat gua, gua jatuh di “lubang” kesalahan yang sama enam kali. Dan gua menolak untuk disamakan dengan Keledai.

Masih terngiang jelas dibenak gua saat Eci bilang ;

“Bleh.. kayaknya cukup gue aja deh yang lo perlakuin kayak gini, lo tuh harus belajar ngalah.. kalo lo begini terus, egois, nggak bakal ada yang bisa bertahan sama lo..”

Setelah berkata begitu, gua dan Eci pun ‘balik kanan-bubar jalan’ alias putus. Tiga hari kemudian Eci udah jalan sama Kemal, temen-nya (dan temen gua juga) yang kemudian jadi pacarnya. Saat itu gua bertekad buat dapet pacar yang bisa tahan dengan ke-egoisan gua dan dengan perfeksionisnya gua.


Gua tiba dikantor saat jam menunjukkan pukul 8.45. Gua menghela nafas panjang setelah tau kalau nggak terlambat. Hidup dan kerja diJakarta dengan melalui jalan-jalan pagi ibukota yang seperti neraka memang benar-benar melatih kesabaran, dan untungnya kesabaran yang gua punya, yang konon diturunkan dari Bapak, jumlahnya Unlimited dan mampu menjaga gua dari ganasnya jalanan Jakarta. Sebenarnya jarak dari Kantor gua di daerah Senayan dari rumah gua di Bintaro nggak sampe 10 menit kalau terbang naik gantole. Tapi sayang gua nggak bisa, nggak punya dan memang nggak niat untuk punya gantole, jelas lebih enak naik motor. Selain bisa dipakai buat kerja dan transportasi sehari-hari, motor juga nyaman dipake buat pacaran, gua nggak habis pikir kalau harus pacaran naik gantole, cepet sih cepet. Tapi, agak repot juga kalau mau beli jajan di pinggir jalan.

“Sayang, aku mau makan cilok..” Si cewek berkata sambil setengah berteriak, karena suaranya parau, hilang terbawa angin.

“Oke honey, dimana?” Si cowok yang menggunakan kacamata terbang, balas bertanya, tetap sambil berteriak

“Itu, abangnya ada dibawah sana..” Si cewek menunjuk titik kecil, dibawah sana, dikejauhan

“Baiklah, kita mendarat dulu ya..”

Dengan naik motor, jarak dari rumah ke kantor yang seharusnya cuma 10 menit dengan menggunakan gantole bisa memuai jadi sekitar 45 menit sampai satu jam. Itupun dengan gaya berkendara yang oportunis, lihai melihat celah dan pandai memanfaatkan ruang kosong dijalan raya.

Gua berlari kecil menuju lobi lift, berusaha memburu lift yang sedang diisi oleh para karyawan yang juga tengah memburu mesin absen di lantainya masing-masing. Sesaat sebelum pintu lift menutup, sambil menggumam “sorry..sorry..”, gua berhasil masuk dan menelisip disela-sela kerumunan orang yang sudah memenuhi lift. Samar terdengar suara mengeluh dari belakang gua, mungkin salah satu orang yang terjepit dengan ransel yang gua kenakan. Kemudian sesosok tangan mungil, menyentuh pinggang gua dari sela-sela kerumunan. Gua menoleh sesaat dan nggak melihat sosok tersebut, hanya tangan-nya mungil putih nya saja yang bergoyang-goyang mencolek gua. Dari balik sosok Bapak-bapak berambut klimis, terlihat sosok perempuan yang sepertinya berjingkat dan hanya terlihat ujung kepala sampai mata saja, sambil berkedip memberikan isyarat dia berkata;

“Mas, lantai 20 dong..”

“Berapa? Sepuluh?”

Gua mengernyitkan dahi sambil sedikit menunduk.

“Dua puluh mas!!”

Wanita mungil itu sedikit berteriak, hingga membuat beberapa orang didalam lift menoleh kepadanya.

“Waduh.. biasa aja kali mbak..”

Gua berkata sambil melirik ke arah kumpulan tombol yang terdiri dari angka-angka di bagian kanan pintu lift. Terlihat kalau angka 20 sudah berpendar merah yang artinya sudah ada yang menekan tombolnya. Lantai tujuan yang sama dengan gua.

“Ting”

Bunyi suara dari speaker diiringi dengan terbukanya pintu lift. Gua melangkah keluar dari dalam lift diikuti dua orang lainnya dan salah satunya adalah wanita yang tadi mencolek dan berteriak ke gua. Gua bergegas berjalan menuju ke sebuah pintu kaca yang terletak nggak begitu jauh dari Lift, pintu masuk ke kantor tempat gua bekerja.

Saat membuka pintu kaca, terdengar lagi suara wanita tadi memanggil. Gua menoleh sebentar, dia melambai ke arah gua, kesal karena tadi dia sudah berteriak ke gua dan karena terburu-buru untuk absen, gua pun melengos dan mengabaikannya. Setelah selesai absen, wanita mungil itu terlihat masuk menyusul gua melalui pintu kaca yang sama, celingak-celinguk sebentar kemudian berjalan cepat menghampiri gua.

“Bu Indra dimana ya?”

Wanita mungil itu bertanya ke gua, tanpa basa-basi.

“Eh..mbak, kalo nanya yang sopan sedikit dong, permisi dulu kek..”

“Yee, emang saya kurang sopan? Trus nanya yang sopan gimana?”

Gua menaikkan alis dan memasang tampang kesal kemudian meninggalkannya begitu saja, sambil berlalu gua berkata: “Gua nggak tau..”

Dan itulah awal pertemuan gua dengan Desita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *