Everytime – Chapter 2

Chapter 2 Content :

#11 Point of View Desita – What The Hell

Sudah hampir satu bulan ini gue menjalani masa probation di kantor baru. Dari segi pekerjaan boleh dibilang bidang yang gue tekuni sekarang hampir-hampir tanpa tantangan, apalagi nanti gue bakal ditempatkan dibagian Legal, dimana dibagian ini menurut gua sama sekali nggak membutuhkan skill teknis khusus. Semuanya dikerjakan hanya berdasarkan kontinuitas sehari-hari dan kemampuan negosiasi yang baik. Kalau di cermati memang nggak ada sekolah atau fakultas khusus dimana orang belajar untuk mengurus perijinan Domisili Perusahaan, Tanda Perseroan Terbatas, Surat Importir Terdaftar, Perijinan Reklame bahkan pengurusan perpanjangan pajak kendaraan bermotor. Semua dilakukan berdasarkan pengalaman sehari-hari dan yang seperti tadi gue bilang; kemampuan negosiasi yang baik.

Negosiasi yang baik tanpa link dan koneksi yang luas juga tidak ada artinya. Di Indonesia, apalagi di Jakarta, semua yang ada bau pemerintahan dan perijinan pasti erat kaitannya dengan birokrasi yang kompleks, dari birokrasi yang kompleks tersebut akan terkonversi menjadi uang, semakin banyak uang digenggaman, semakin cepat proses pengurusan ijinnya, sisanya; hanya jadi yang orang-orang sebut sebuah formalitas.

Dan mungkin karena proses yang mudah dan nggak butuh skill teknis khusus itu pula, gue jadi terdampar di bagian import selama masa probation bisa jadi juga karena korelasi antar departemen yang intens atau mungkin takdir yang membawa gue kesana, who knows.

Dari segi pekerjaan mungkin tidak ada kendala yang berarti. Tapi mungkin dunia sosial gue yang benar-benar mengalami ‘masa probation’ yang sebenarnya. Senior gue, di bagian Import; Solichin, benar-benar menjadi sosok yang bisa dibilang untuk saat ini paling ingin gue hindari. Ya, walaupun gue nggak segan untuk bilang kalau dia memang tampan, necis dan terlihat smart walau sedikit kurus tapi dibalik itu semua, Solichin seperti punya kepribadian yang aneh, nyaris mirip seorang aristrokrat jaman Napoleon dulu, arogan, egois dan selalu ingin menang sendiri.

Sebulan ini, gua di-training sama dia. Dan nggak sekalipun dalam satu hari, dia bersikap normal layaknya orang-orang kebanyakan. Hampir semua yang gue lakukan (diluar content pekerjaan) selalu dianggap salah olehnya. Jangan makan sambil kerja, jangan letakkan pulpen tanpa ditutup terlebih dahulu, jangan meninggalkan kursi membelakangi meja, jangan menggunakan ‘enter’ untuk pindah kolom, jangan ngupil sambil ngobrol dan ratusan ‘jangan’ lainnya. Hidupnya seperti militer, stuck dalam berbagai macam aturan yang menurut gue malah membebani dirinya sendiri. Dan dia hampir nggak pernah bersikap ramah terhadap gue.

Suatu hari, Pak Swi, si manajer Eksport-Import yang terkenal ‘killer’ datang menghampiri gue. Saat itu Solichin sedang tidak berada ditempatnya.

“Cari Solichin pak?”

Gue bertanya, mencoba bersikap ramah.

“Oh, ndak.. justru cari kamu..”

“Saya pak?”

“Iya, gimana.. udah ngerti?”

“Udah pak, udah paham.”

“Ok, besok kamu ke BPOM ya.. urus dokumen pindah.. saya sudah bicara ke Manajer Legal..”

“Wah, tapi kalo urus-urus begitu saya belum begitu paham pak..”

“Ndak papa.. nanti minta temenin Solichin..”

Dan beberapa saat kemudian Solichin sudah duduk disebelah gue sambil menuliskan catatan tentang dokumen-dokumen yang perlu disiapkan untuk dibawa besok ke kantor BPOM. Dia memberikan catatan itu ke gue, sebuah kertas notes yang disobek rapi. Gue mendengar penjelasan singkatnya sambil mata gue tertuju pada sebuah tulisan dengan tinta berwarna merah.


Entah apa yang ada dibenak cowok kurus dan ngeselin ini. Bisa-bisa nya dia ngerjain gue dengan membiarkan gua menggunakan helm sementara dia membawa mobil. Mungkin kalau nggak menimbang-nimbang tentang perlu-nya gue akan pekerjaan ini, gue pasti udah keluar dari sini, keluar dari situasi dimana gue terjebak dengan seorang cowok kurus ngeselin ini.

Ditengah perjalanan menuju kantor BPOM, didalam sebuah mobil CRV hitam, setelah lama kami berdua tenggelam dalam diam, Solichin mulai membuka pembicaraan, awalnya dia bertanya tentang latar pendidikan gue, yang mana gue nggak terlalu suka menjelaskannya ke banyak orang. Lama kelamaan pertanyaannya semakin ‘nggak jelas’, dia mulai bertanya tentang konsep hukum fisika lah, teori relativitas Einstein lah, konspirasi illuminati lah bahkan seakan mengetes gue, dia mengajukan soal-soal matematika ke gue. What’s wrong with this guy?

Mungkin seandainya Solichin nggak punya kepribadian aneh dan nggak selalu bertindak menyebalkan, dia pasti bisa menjadi sosok ideal buat para cewek-cewek. Terkadang gue menangkap ada kebimbangan terpancar dari gelagatnya, apalagi seminggu belakangan ini, dia sering terlihat kikuk, bingung dan gundah, seperti orang yang nggak punya pegangan hidup, ‘doyong’, bergoyang kesana kemari.

Gue menyusul Solichin setelah mengambil tiket nomor antrian untuk konsultasi perpindahan alamat di salah satu ruangan di kantor BPOM. Solichin hanya duduk terdiam disebelah gue sambil memandangi kerumunan orang-orang yang hilir mudik di ruangan itu. Kemudian dia mengeluarkan ponsel canggihnya dan mulai hanyut dalam sebuah permainan didalamnya, ini yang gue kurang suka, saat lo harusnya bisa bersosialisasi dengan orang-orang yang ada didekat lo, elo malah hanyut dalam kesendirian dengan gadget. Gue meminjam ponselnya dengan alasan ingin mendengarkan musik. Dia menyerahkan ponsel dan earphone nya ke gue, sambil memutar lagu dan berlagak melihat playlist-playlist yang ada di ponselnya, gue memeriksa pesan-pesan yang ada disana. Hehehehe.. lo pikir, lo doang yang bisa iseng.


“Mau dianter ke rumah?”

“Hah?”

Gue balik bertanya ke Solichin yang menwarkan mengantar gue kerumah sepulangnya dari kantor BPOM.

“Mau dianter kerumah, nggak?”

“Eh, nggak.. nggak usah.. gue turun di palmerah aja.. eh lo lewat palmerah kan?”

“Iya lewat.. bener nih?”

“Bener..gue mau beli buah dulu..”

Gua menjawab, bohong. Mencoba meyakinkan Solichin agar nggak perlu mengantar gue ke rumah. Seperti biasanya, gue nggak mau ada orang yang tau dimana gue tinggal. Gue nggak mau ada orang yang lihat betapa menyedihkannya tempat gue tinggal, sebuah ‘gubuk’ dua petak dikawasan padat penduduk, dibelakang pasar yang biasa gue sebut ‘rumah’. Gue nggak mau ada orang yang tau, apalagi Solichin.

Dan yang gue nggak habis pikir, malam setelah perjalanan kerja kami ke kantor BPOM. Solichin menelpon gue, gue ulangi; Solichin menelpon gue, marah-marah kemudian ngajak gue jalan. Dan malam itu Solichin mengajak gue pergi, kemudian kami makan di sebuah warung tenda roti bakar di daerah Blok-M, sebenarnya hanya gue yang makan, jadi sepertinya kurang tepat jika menggunakan kata ‘kami’. Bisa dibayangkan betapa anehnya dia; Telpon ngajak jalan, ngajak makan tapi dia nggak makan. Dan seakan hal itu nggak cukup membuat gue ‘shock’, sepulangnya dari sana dia; Solichin ‘nembak’ gue. What the hell…

Sejak bertemu, hampir sebulan, dia nggak pernah ada manis-manisnya ke gue, tiba-tiba telpon sambil marah-marah, ngajak makan tapi dia nggak makan dan akhirnya.. nembak gue. Mungkin untuk ukuran cowok normal, hal seperti itu bisa dibilang aneh, sangat aneh. Yang gue tau dan yang pasti kebanyakan orang tau, tahap sebelum ‘nembak’ cewek itu PDKT (red; pendekatan), dalam proses PDKT itu sendiri biasanya, si cowok bakal bersikap ‘manis’ semanis-manisnya, setelah ada proses penjajakan yang matang, barulah si cowok ‘nembak’ si cewek. Sedangkan, perlakuan yang gue terima dari Solichin malah sebaliknya.

Malam itu, sepulang dari makan roti di salah satu warung tenda di daerah Blok-M. Gua dan Solichin berteduh dari hujan yang tiba-tiba turun, di salah satu ‘emperan’ ruko didaerah Melawai. Gue hanya terduduk, sambil berselimut jaket yang dipinjamkan Solichin ke gue, memandang tumpahnya air hujan yang menerpa aspal. Gue merenung, menatap percikan air hujan, mungkn percikan yang sama yang gue tatap tiga belas tahun yang lalu, saat ibu membisikkan kata ; “Neng.. Bapak udah nggak ada..”., Malam itu, malam tiga belas tahun yang lalu, malam dengan hujan yang sama seperti malam ini, saat gue terduduk dipelataran teras sebuah rumah sakit negeri didaerah Jakarta Pusat, saat gue memandangi bapak yang terkulai kaku dan membiru, setelah berhari-hari merasakan sakit yang luar biasa, setelah berhari-hari Ibu bersusah payah mengurus surat keringanan berobat, setelah puluhan kali ibu beradu argumen dengan bagian administrasi rumah sakit karena tidak mampu membeli obat, akhirnya Bapak menyerah. Gue hanya bisa menangis, mengiringi Bapak yang tengah didorong diatas kasur beroda menuju sebuah ambulan yang sudah siap menunggu. Sebuah ambulan dengan tulisan besar ;’Melayani Tanpa Pamrih’ akhirnya mengantar Bapak ke peristirahatan terakhirnya.

“Gua suka sama lu..”

Sebuah kalimat yang diucapkan Solichin. Sebuah kata yang membuyarkan lamunan gue, sebuah kata yang membuat gue kaget, sangat kaget.

Dan disisa malam itu, sebuah malam yang terasa panjang. Gue mendekap ponsel dipelukan, setelah Solichin baru saja selesai menelpon. Dia sepertinya khawatir terhadap gue dan nggak bisa dipungkiri kalau gue suka akan hal itu. Ah perempuan mana yang nggak senang diperhatikan. Sambil terus tersenyum-senyum sendiri, gue membayangkan sosok Solichin yang tengah berjalan memunggungi gue, entah kenapa gue nggak berani untuk membayangkan wajahnya, mungkin karena disatu sisi hati gue takut. Takut kalau semua ini hanya mimpi, takut kalau Solichin hanya bermain-main belaka dan kalaupun Solichin benar-benar serius, gue takut dia bakal pergi setelah tau kondisi hidup gue, tapi disisi hati gue yang lain seperti ada bunga yang kembali mekar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *