Everytime – Chapter 4

Chapter 4 Content :

#21 Point Of View Astrid – Astrid

Nama gua Astrid, saat baru berkenalan dengan seorang pria pemurung bertubuh tinggi dan kurus, usia gua saat itu baru menginjak 23 tahun. Malam itu gua mengarahkan sepeda motor matik gua menyusuri jalan Diponegoro menuju ke tempat salah satu rekan bisinis bapak yang terletak di daerah Demangan, Jogjakarta untuk mengantar sample T-Shirt.

Bapak adalah seorang pengusaha konveksi yang sudah lumayan ‘ternama’ di Joga, rekan bisnis-nya pun tersebar hampir diseluruh Jogja. Dan sebagai anak tertua-nya, gua seperti dihibahkan tanggung jawab untuk meneruskan bisnis ini, ya walaupun nggak terpaut jauh dari kegemaran gua dalam dunia fashion tapi bapak nggak pernah mengijinkan gua untuk turun langsung dalam urusan produksi. Gua hanya berada di level manajemen dan marketing, seperti malam ini, Mengantarkan sample untuk calon partner bisnis bapak yang baru akan memulai bisnis di Jogja.

Setelah celingukan sebentar didepan sebuah rumah bernomor dua puluh tujuh, gua turun dari sepeda motor dan menekan bel nya.

Ting-tong

Sekilas gua memandang kedalam rumah melalui celah-celah pagarnya yang lumayan tinggi. Rumah ini nggak terlalu besar, tapi mungkin konsepnya yang minimalis membuat rumah tersebut terlihat ‘lega’. Sesaat kemudian seorang pria kurus, tinggi membuka pintu, dia melongok sebentar kemudian berjalan santai menuju ke pintu gerbang. Dari sisi dalam pagar besi tanpa berjingkat dia menjulurkan kepalanya dan bertanya;

“Cari siapa?”

Nada bicaranya terdengar santai namun datar, hampir tanpa emosi. Dari pandangan matanya juga terlihat kalau pria ini adalah tipe-tipe pria introvert, tipe pria penyendiri yang mungkin cuma menghabiskan seluruh waktunya dalam rumah, dikamar gelap sambil bermain games.

Gua kembali melihat kertas berisi nama dan alamat yang tadi diberikan bokap.

“Mas Solichin ada…?”

“Ya, ada apaan?”

“Eem anu saya disuru ngasih sample T-Shirt sama bapak..”

“Bapak siapa?”

“Bapak saya, pak Mardi, Sumardi.. yang punya konve…”

Belum gua selesai menjelaskan dia mengangkat tangannya melewati pagar.

“Yaudah mana?”

“Nih..”

Gua menyerahkan kantung plastik besar berisi beberapa sample T-shirt, pria itu menggapainya kemudian seakan nggak menganggap gua, dia berpaling dan berjalan melangkah gontai ke arah pintu masuk.

“Woi.. mas..mas..”

Gua memanggilnya setengah berteriak. Pria kurus tadi menoleh sebentar kemudian kembali menghampiri gua.

“Apa lagi? Ada yang perlu ditanda tangan?”

Suaranya terdengar datar, hampir tanpa ekspersi, tanpa emosi.

“Eh.. emang lo pikir gua kurir?.. gua ini anaknya pak Mardi..”

Gua menjelaskan, sementara pria kurus tersebut masih tetap tanpa ekspresi dan memandang gua dengan tatapanya yang sendu. Kalau diperhatikan secara seksama sebenarnya pria ini cukup ganteng, mungkin kumis, cambang dan jenggotnya yang nggak keurus membuatnya terkesan ‘berantakan’.

“Trus? Lu bilang tadi cuma ‘ngasih’ sample kan..?”

“Ya gua mau ngasih sample sekalian nego harga sama mas Solichin..”

“Oh.. berarti tadi lu menggunakan bahasa yang salah..”

Pria itu berkata tetap tanpa ekspresi sambil membuka slot besi yang mengunci gerbang. Kemudin tanpa mempersilahkan gua masuk, dia melengos dan berlalu begitu saja. Gua mendengus kesal dan menyusulnya masuk kedalam. Pria tersebut meletakkan, mungkin lebih tepat melempar kantung plastik berisi sample T-shirt disebuah meja kayu yang terletak diantara dua buah kursi didepan teras, kemudian duduk disalah satu kursi yang paling dekat dengan pintu rumah. Mendapat pengalaman di depan pagar tadi, tanpa menunggu dipersilahkan, gua duduk dikursi satunya.

Dia membuka kantung plastik, mengeluarkan dan mengecek isi-nya satu persatu.

“Yang ini berapa?”

Dia menyodorkan sebuah T-Shirt berwarna putih ke gua.

“Itu udah ada harganya di situ..”

Gua menunjuk ke arah selebaran yang sengaja diikutsertakan pada T-Shirt T-shirt tersebut.

“Kalo gitu, lu sama sekali nggak ada fungsi-nya dong?”

Mendengar pertanyaan pria itu, gua mendengus kesal kemudian menyambar selebaran yang berisi daftar harga kemudian membacakan harga-harganya.

“Yaudah gua mau yang ini, 1000pcs.. ukuran S 200, ukuran L 200, ukuran XL 200 sisanya yang ukuran M..”

Ujar pria kurus itu sambil menunjuk salah satu T-shirt berwarna hitam dengan bahan Katun Combat.

“Wah itungannya lusinan mas..”

“Yaudah tinggal itung aja 1000 dibagi 12..”

Gua memandang ke atas sambil coba menghitung

“84 Lusin.. ngitung gitu aja lama..”

Pria kurus itu mengiterupsi proses menghitung gua kemudian berdiri dan membuka pintu rumah bersiap untuk masuk.

“Kalo bisa minggu ini harus udah dianter ke workshop gua, bokap lu udah tau alamatnya.. nanti kalo keluar pagernya tutup lagi”

Dia masuk kedalam, menutup pintu dan ‘cklek..’ terdengar suara pintu dikunci dari dalam.

Gua mendengus lagi, seumur-umur gua berhubungan dengan calon pembeli dan langganan-langganan bokap, belum pernah gua bertemu dengan pria seperti ini. Dan sepanjang perjalan pulang gua nggak henti-hentinya mengutuki perlakuan pria tadi ke gua.


“Uwis, trid..?” (Sudah, trid?)

Bapak bertanya saat gua baru saja tiba dirumah yang juga difungsikan sebagai kantor, tempat produksi dan gudang oleh bapak.

“Uwis pak..” (Sudah pak)

“Petuk karo uwonge..” (Ketemu sama orangnya?”)

“Hooh..”

“Gelem po ora?” (Mau apa nggak?)

“Gelem pak, 84 lusin pak..” (Mau pak, 84 lusin)

“Sing endi?” (Yang mana?)

“Sing Katun combat.., sesuk ae lah pak, ta’ terangke.. wes kesel aku..” (Yang katun kombat, besok aja ya pak saya jelasin, udah capek aku..)

Gua menjawab malas, kemudian bergegas masuk kedalam. Meninggalkan bapak yang masih duduk sambil menikmati segelas kopi diteras rumah. Dari luar terdengar bapak bertanya sambil berteriak;

“Warna ne, opo ae nduk..?” (Warnanya apa aja?)

Deg!

Gua menghentikan langkah. Menepuk jidat, sadar kalau tadi gua belum sempat bertanya perkara warna yang mau dipilih oleh Pria tadi.

“Campur pak; ireng, abang karo putih..” (Campur pak; hitam, merah sama putih)

Gua menjawab, mungkin tepatnya; menebak. Sambil melanjutkan langkah gua menaiki anak tangga menuju ke kamar. Gua berfikir kalau ada orang yang beli baju 1000 pcs pasti mau warna-nya dicampur, mana mungkin ada yang beli 1000pcs warna hitam semua, kalaupun ada tuh orang pasti penganut paham ‘dark metal’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *