Everytime – Chapter 5

Chapter 5 Content:

#31 A True Detective

“Halo, Ari?”

“Iya.. ini siapa ya?”

“Gua, Solichin.. keponakannya Om Sasmi..”

“Oh iya..iya.. “

“Gua mau minta data bisa..?“

“Iya bisa, tadi Pak Sas udah ngomong ke gua.. berapa nomornya? Elu minta data nomor panggilan terakhir kan?”

“Iya, 081294xxxxxx”

“Oke, tunggu sebentar ya.. hmmm atau ntar gua telepon deh, ini nomor lu kan?”

“Iya, oke.. gua tunggu ya, ri.. thanks..”

“Oke sip..”

Gua mengakhiri panggilan kemudian duduk disofa kamar hotel sambil berharap-harap cemas. Astrid tengah berbaring di ranjang sambil menonton tivi. Sudah malam ke empat gua dan Astrid menginap di hotel ini, dan nggak sudah selama tiga malam ini Astrid selalu tidur dikamar gua.

“Kunci kamar lu mana?”

Gua berdiri kemudian menghampiri Astrid sambil menengadahkan tangan, meminta kartu kunci kamarnya.

“Buat apaan?”

“Mau tidur, sebentar..mana cepet..”

“Yaudah tidur aja disini, ribet amat..”

“Nggak ah, berisik disini ada elu.. lagian juga sayang-sayang amat tuh kamar disewa tapi nggak ditidurin..”

“Yee.. “

Astrid mengeluarkan sebuah kartu dari saku celana belakang celana Denimnya dan menyerahkannya ke gua, kemudian dia kembali sibuk lagi dengan cartoon network.

Baru saja gua merebahkan diri diatas ranjang kingsize dikamar hotel yang serusnya ditempati ole Astrid saat ponsel gua berbunyi, gua melihat layarnya, nomor telepon lokal dengan area Jakarta tertera disana. Dengan mudah gua menebak kalau panggilan ini dari Ari.

“Halo..”

“Solichin..?”

“Yak, gimana ri..”

“Ada kertas sama pulpen?”

“Udah sebutin aja..”

“Emang lu bakal inget?”

“Inget..”

“Nih.. 0251 8336XXX..”

“Nomor lokal ya, ri?”

“Iya, Prefix-nya sih Bogor itu..”

“Oke makasih ya ri..”

“Sip sama-sama..”

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Ari via telepon barusan, gua buru-buru menuju ke kamar sebelah. Astrid masih berbaring diatas kasur sambil menonton tivi, gua mengambil remote dan mematikannya.

“Kok dimatiin sih..?”

“Gua udah dapet nomornya dari Ari..”

“Mana liat?”

“Nih disini..”

Gua menunjuk dahi dengan jari telunjuk. Kemudian duduk disebelah Astrid dan mulai mengetik nomor telepon yang tadi diberikan oleh Ari.

“Sini..sini gua yang telpon..”

Astrid menyambar ponsel gua, memandang sekilas kelayarnya dan mengernyitkan dahi.

“Nomor lokal..?”

“Iya..”

Astrid mengangguk, dia menekan tombol panggil, kemudian merubah mode-nya menjadi loudspeaker.Terdengar nada sambung beberapa kali, lalu disusul suara renyah seorang wanita menyapa.

“Sinar Surya Trading, selamat pagi…”

“Hmm.. halo..”

“Halo Sinar Surya Trading, selamat pagi… ada yang bisa dibantu..?”

“Iya mbak, bisa minta alamat kantornya nggak ya, karyawan saya mau anter surat tapi nyasar nih..”

“Oh bisa ibu, silahkan dicatat ya..”

Astrid tergopoh-gopoh mencari kertas dan pulpen, kemudian mencatat sesuai dengan alamat yang diberikan oleh wanita diujung telepon sana. Setelah selesai dia berdiri dihadapan gua, berkacak pinggang sambil melambai-lambaikan kertas berisi alamat ditangannya.

“Ada Astrid Apapun Lancar..”

Dia berkata sambil mengerlingkan matanya, berlagak bak model yang tengah mempromosikan barang dagangan. Gua tersenyum kemudian menyambar kertas berisi alamat yang berada di tangannya.

Nggak lama berselang gua dan Astrid sudah kembali berada di jalan kota bogor. Dan seperti kapok dengan petunjuk dan arahan Astrid, gua berinisiatif menelpon Taufik untuk bertanya petunjuk menuju ke alamat Sinar Surya Trading, Astrid hanya mendengus kesal ketika gua menelpon Taufik dan mendengarkan petunjuk arah darinya, terdengar dia mengomel dan marah-marah sendiri

“Alah,.. nyari alamat gitu doang gua juga bisa, ngapain pake nelpon taufik.. nggak percayaan banget..”

Gua meletakkan ponsel di atas dashboard mobil yang kini sudah nggak ada bentuknya dan menggeleng.

“Ntar cuma muter-muter doang kayak kemaren..”


Setelah mengikuti petunjuk ringkas yang diberikan taufik via telepon tadi, akhirnya kami tiba disebuah komplek perkantoran yang terdiri dari deretan ruko yang rata-rata memiliki lebih dari tiga lantai. Ternyata kantor Sinar Surya Trading yang kami cari terletak nggak begitu jauh dari tempat gua memarkirkan mobil, gua menyulut sebatang rokok dan bersandar pada body mobil.

“Ayoo.. malah ngerokok..”

Astrid berusaha menarik lengan gua.

“Bentar, gua bingung mau nanya apa nanti?”

“Oiya..ya..”

Astrid berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Gua mulai berfikir, kira-kira kenapa Desita menelpon kekantor ini, ada beberapa kemungkinannya; Desita adalah karyawan kantor ini atau Desita bukan karyawan dan dia menelpon untuk menghubungi seseorang dikantor tersebut, teman, sahabatnya atau mungkin pacarnya.. dan yang terburuk.. suaminya. Ah..sial. Gua menggelengkan kepala, kemudian menceritakan kemungkinan-kemungkinan yang barusan terfikirkan oleh gua kepada Astrid. Dia hanya mengangguk-anggukan kepala, kemudian menjentikkan jarinya.

“Gua ada ide..”

“Apa?”

“Udah ayo ikut aja…”

Gua mematikan rokok yang baru saja dinyalakan dan mengikuti Astrid berjalan menuju ke kantor tersebut.

Sesampainya didalam kantor itu, kami disambut sapaan ramah seorang resepsionis yang langsung berdiri begitu kami menginjakkan kaki didalam ruangan. Dengan penuh percaya diri Astrid menghampiri meja resepsionis sementara gua hanya mengikutinya dari belakang.

“Selamat pagi, bisa saya bantu…”

Wanita resepsionis itu mengucap sapaan lagi.

“Pagi, mbak.. saya mau ketemu sama mbak Desita-nya bisa?”

“Mbak Desita ya, sebentar ya mbak..”

Wanita resepsionis itu kemudian terlihat mengangkat gagang teleponnya, bicara sebentar kemudian menutup gagang telepon bagian bawah dengan tangan satunya, dan bertanya ke Astrid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *