Everytime – Chapter 5

#32 After All

“Pagi, mbak.. saya mau ketemu sama mbak Desita-nya bisa?”

“Mbak Desita ya, sebentar ya mbak..”

Wanita resepsionis itu kemudian terlihat mengangkat gagang teleponnya, bicara sebentar kemudian menutup gagang telepon bagian bawah dengan tangan satunya, dan bertanya ke Astrid.

“Maaf, mbaknya darimana ya..”

“Oh, saya Astrid dari Telkoms*l”

Wanita resepsionis itu kemudian bicara lagi melalui gagang telepon kemudian meletakkannya.

“Mbak Desita-nya lagi keluar tuh mbak, tapi kalau mau ketemu sama bagian purchasing, ada Bapak Aldi yang bisa nemuin..”

“Oh, nggak usah mbak, ini pribadi.. kira-kira lama nggak keluarnya..”

“Hmm.. kurang tau juga ya.. mau nunggu aja?”

Mendengar pertanyaan dari respsionis barusan, Astrid menoleh ke gua sambil mengangkat dagunya dan berbisik; “Mau nunggu apa gimana?”. Gua nggak menjawab, kemudian melangkah maju, mengambil dompet, mengeluarkan dan menunjukkan foto Desita kepada resepsionis tersebut.

“Ini kan yang namanya Desita?”

Gua bertanya ke respsionis itu, dan dia mengangguk sambil tersenyum.

“Oke makasih ya, saya tunggu di mobil aja deh…”

Gua kemudian berbalik dan melangkah keluar.

Astrid menyenggol bahu gua dengan bahunya, sambil menyeruput Es Cendol didepan pelataran parkir komplek perkantoran tadi, kami berdua menunggu Desita sambil menikmati Es Cendol.

“Ciee.. yang mau ketemu sama tuan putrinya…”

Gua hanya tersenyum mendengar candaan Astrid, mata gua nggak lepas menatap kearah pintu masuk kantor tersebut, sambil memainkan sendok kecil dan sedotan didalam gelas gua memandangi logo perusahaan Sinar Surya Trading itu, sebuah logo yang entah pernah gua lihat dimana.

Setelah menghabiskan masing-masing dua gelas Es Cendol, gua dan Astrid berpindah kedalam mobil karena suhu semakin panas. Gua sengaja memutar posisi mobil agar bagian depannya persis menghadap ke arah depan kantor Sunar Surya tersebut, dari sini, dari tempat dimana mobil gua terparkir hanya berjarak kira-kira dua puluh meter ke bagian depan kantor tersebut sehingga kami bisa melihat jelas siapa yang lalu-lalang, masuk-keluar ke dan dari kantor itu.

“Kita kayak detektif aja ya cin?”

“Hahaha.. iya.. Eh, tadi kenapa lu kepikiran bilang kalo dari Telkoms*;?”

“Oh.. jaman sekarang hampir semua orang punya ponsel dan kita sama sama tau Desita pake provider itu, hal itu bikin orang nggak bakal curiga kalo ada yang nyari dari perusahaan provider..”

“Boleh juga lu..”


Hampir kurang lebih tiga jam gua dan Astrid menunggu didalam mobil, rasa lelah dan lapar mulai menyerang tapi gua mengabaikannya. Berkali-kali Astrid keluar-masuk mobil hanya untuk sekedar membeli cireng, tahu goreng, rujak dan minuman dingin, sedangkan gua saat ini benar-benar kehilangan selera. Gua melihat kearah jam tangan, angkanya menunjukkan pukul satu siang, cuaca di bogor hari ini pun sangat panas, hampir mirip dengan Jakarta, mirip sekali.

Astrid menepuk-nepuk lengan gua ketika terlihat sebuah mobil berhenti dan parkir didepan kantor Sinar Surya Trading. Gua yang tengah menyulut sebatang rokok, memicingkan mata dan terkejut melihat sebuah innova hitam, innova hitam yang sangat gua kenali. Lampu rem berwarna merah-nya menyala sebentar, kemudian pintu penumpang terbuka dan keluar sosok wanita mungil dari dalamnya, bergegas masuk kedalam kantor. Astrid menepuk-nepuk pundak gua, seperti memberikan kode ke gua untuk segera bertindak jika perempuan yang barusan keluar adalah benar Desita. Gua masih tertegun, bengong…

Bukan… bukan..

Bukan sosok Desita yang membuat gua sangat terkejut, karena gua sudah mengira Desita bakal muncul, tapi yang diluar perkiraan adalah mobil Innova hitam itu, mobil dengan nomor polisi yang benar-benar gua kenali; B 1 LA.

Nomor polisi dari mobil Salsa.

Tidak bisa dipungkiri, rasa rindu didada ini terhadap Desita hampir membuncah pecah, tapi rasa penasaran perihal Desita yang keluar dari mobil Salsa adalah sesuatu yang aneh, sangat aneh, yang membuat gua sedikit mengesampingkan rasa rindu ini.

Gua menatap tak berkedip saat sosok wanita, putih, tinggi dengan rambut panjang digerai yang baru saja keluar dari mobil. Salsa, dia berjalan pelan sambil menuju ke arah kantor. Gua buru-buru turun dari mobil, sambil setengah berlari gua menghampiri Salsa yang baru saja hendak membuka pintu kaca kantor, gua menahan pintu kaca dengan tangan dan memposisikan diri dihadapannya.

“Ngapain lu disini? Ngapain lu sama Desita?”

Salsa nggak menjawab, dia hanya mengernyitkan dahi dan menurunkan sedikit kacamata hitamnya kemudian melewati gua dan masuk kedalam, gua menyusulnya sambil mengulangi pertanyaan tadi, kali ini dengan nada sedikit lebih tinggi.

“Ngapain lu disini? Ngapain lu sama Desita?”

Suara gua membuat hampir semua orang yang berada diruangan depan kantor tersebut berdiri dan melihat ke arah gua. Nggak lama Desita muncul dari balik pintu ruangan.

“Solichin..”

Desita menyebut nama gua sambil berdiri mamatung, menatap nanar dengan mata birunya yang indah. Gua mengalihkan pandangan kepadanya, membalas tatapan gadis mungil yang kini rambutnya dibiarkan panjang, gua berjalan pelang menghampirinya, semakin dekat semakin berkecamuk perasaan didada gua, entah apa namanya. Perlahan wangi parfum aroma candy mulai menyesaki nafas, aroma yang sudah lama gua rindukan, gua memejamkan mata sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengangkat tangan gua dan menyentuh pipi-nya yang lembut.

“Elu gemukan..”

Gua berkata sambil memindahkan telapak tangan gua dari pipi ke helaian poni rambutnya yang menjuntai. Desita nggak menjawab, dia hanya diam sambil menatap gua dalam, perlahan mengalir air mata dari ujung mata membasahi kedua pipinya, gua mengusapnya perlahan.

Sambil memandang sekeliling, gua melihat kalau semua mata menatap ke arah kami saat itu. Gua menarik lengan Desita dan mengajaknya keluar, melewati Salsa dan Astrid yang masih berdiri mematung.

“Lu masih utang penjelasan sama gua..”

Gua berkata ke Salsa sambil berlalu, kemudian mengerling ke arah Astrid, memberikan kode agar mengikuti gua dan Desita.

Sambil berjalan cepat dan mengapit lengan Desita yang terlihat kesulitan mengikuti langkah kaki gua, Astrid membuka suara;

“Gua langsung ke Hotel aja deh..”

“Hah?”

Gua berhenti dan memandang heran ke arah Astrid.

“Nggak apa-apa, gua naik taksi aja.. lo butuh waktu berdua kan?”

Astrid menjawab tatapan heran gua, kemudian membuka pintu mobil, mengambil tas dan berlalu pergi meninggalkan kami.


Dan siang itu, gua dan Desita berada didalam mobil, dijalan kota bogor tanpa arah dan tujuan.

“Kamu abis marah-marah ya sol?”

Desita bertanya sambil memandang ke arah Dashboard mobil gua hancur berantakan kemudian menatap ke gua.

“Kamu kurusan…”

Dia menambahkan, kemudian menyentuh pipi gua dengan punggung tangannya.

“Cewek tadi, bukan pacar kamu kan?”

Gua menggeleng dan mencoba mengatur nafas yang tersengal-sengal mendapat perlakuan seperti itu darinya. Ini seperti waktu baru pertama kali bertemu dengannya, rasa ini. Gua menepikan mobil disalah satu sudut jalan yang lengang dan mematikan mesin.

“Kenapa lu ninggalin gua, kenapa nggak pernah ada kabar, kenapa lu bisa bareng sama salsa… kenapa?”

Gua bertanya tanpa berani menatap wajahnya, gua takut. Takut melihat dia mengangis.

“Aku juga nggak mau ninggalin kamu, sol.. bukan mau aku..”

Desita menjawab sambil memindahkan arah duduknya menghadap ke gua. Lebih dari tiga tahun nggak bertemu, Desita sedikit berubah, dia nggak lagi menggunakan bahasa ‘prokem’ ‘elo-gue’, rambutnya dibiarkan panjang dan dia terlihat sedikit lebih gemuk.

“Trus maunya siapa?”

“Aku nggak bisa jelasin ke kamu..”

“Trus sama siapa gua harus minta penjelasan?”

“Salsa..”

Desita menjawab lirih, sambil menatap kosong kearah luar melalui kaca jendela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *