Everytime – Chapter 5

#33 Point of View Salsa – SS

Nama gua Salsabila Syafriel, beberapa orang memanggil gua Salsa, ada juga yang menyebut ‘Bila’ dan sisanya beberapa orang yang nggak mau menghemat waktunya dengan memanggil gua dengan ‘Salsabila’. Gua adalah anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara dikeluarga ini, adik gua laki-laki; namanya Solichin Syafriel.

Selain punya Adik, ternyata gua juga punya Bokap dan Nyokap, karena gua bukan Sun Go Kong yang terlahir dari batu. Bokap gua; Sastrowardjodjo Syarfriel adalah seorang Notaris yang juga owner dari sekitar 15 perusahaan di Jawa dan Bali, konon katanya beliau adalah keturunan ningrat yang mungkin kalau dilukai kulitnya darah yang mengalir berwarna biru, bahkan jika masuk angin kemudian punggungnya dikerik maka bekasnya bukanlah merah seperti kebanyakan orang, melainkan biru. Nyokap gua; Noviatami adalah seorang guru disalah satu SLTP negeri di Jakarta, karena profesinya itu terkadang tingkat kedisiplinan nyokap lebih tinggi daripada bokap, walaupun hal itu nggak sama sekali mengurangi kelembutan seorang ibu kepada anak-anaknya.

Banyak sepertinya yang bisa diceritakan tentang hidup gua, apalagi masalah percintaan. Tapi, kisah percintaan gua masih terdengar kacangan jika dibandingkan dengan kisah hidup dan cinta milik adik gua; Ableh, ya Solichin memang sering disebut sebagai Ableh, oleh teman-temannya, gua bahkan nyokap.

Selama ini Ableh seringkali bergonta-ganti pacar, dan sejauh yang gua tau semuanya nggak ada yang bertahan lama. Alasannya jelas, bukan alasan klasik seperti perselingkuhan atau kecemburuan, biasanya para gadis nggak bakal kuat bertahan lama dengan Ableh, jika bukan itu alasannya maka ‘kebosanan’ Ableh bisa jadi alasan lainnya. Hal itu berlangsung lama, selama yang gua ingat gadis yang jadi pacarnya hanya beberapa dan bisa dihitung dengan jari tangan, itu diluar gebetan-gebetan dia lainnya yang usianya cuma seumur jagung, kalau diibaratkan lagu mungkin ‘cinta satu malam’ bisa menggambarkannya dengan tepat.

Sampai suatu hari, Ableh terlihat nggak seperti biasanya. Banyak hal dilakukan keluar dari polanya dan patternya; perlu diketahui Ableh adalah pria dengan tipikal Perfeksionis. Semua hal yang berhubungan dengan dirinya ada aturan, skema dan jalurnya. Dia meminum kopi satu cangkir sehari; setengah cangkir pagi hari dan setengah sisanya malam hari, dia nggak pernah membiarkan pembantu kami menyusun pakaian dilemarinya, dia menyusunnya sendiri, diurutkan sesuai dengan jadwal kapan dia akan memakainya, dia sudah mengatur pakaian mana yang akan digunakan selama seminggu. Dia yang nggak pernah bersikap terbuka ke gua pun tiba-tiba mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh.

Pernah suatu malam dia mengajukan pertanyaan yang sedikit aneh, seperti “Sa, gua nyebelin nggak?”

Dan sejak saat itu tingkah laku Ableh berubah drastis. Hal itu nggak hanya membuat gua tersiksa penasaran tapi begitu pula bokap. Sejak mengenal gadis misterius yang merubah hidupnya, Ableh terlihat lebih ‘hidup’, dia nggak lagi terjebak dalam rutinitasnya yang menyebalkan, nggak lagi sering mengencani gadis-gadis ‘liar’ yang baru saja dikenalnya. Sampai suatu hari, Bokap memanggil gua ke ruang kerjanya. Dan gua tau kalo ada hal sangat serius yang ingin dibahas, bokap nggak pernah memanggil anak-anaknya ke ruang kerja jika nggak sedang inginn membahas sesuatu yang teramat serius.

“Kenapa pak?”

“Kamu udah kenal pacar barunya Solichin, sa?”

“Belum.. kenapa emang?”

“Kamu tau nggak kenapa bapak panggil kesini?”

“Ya nggak tau, makanya aku nanya.. ih berbelit-belit deh..”

“Hampir sama seperti bapak membatasi hubungan kamu dengan andre dulu.. bapak mau kalau pacarnya solichin yang sekarang ini memenuhi kriteria bobot, bibit dan bebet nya..”

“Oh..”

Gua hanya meng-oh kan, Bokap membahas hubungan gua dengan mantan gua dulu; Andre yang harus kandas gara-gara status sosial Andre dan gua nggak suka itu.

“Kamu cari tau deh, tadi sih Solichin sempet bilang kalo pacarnya itu yatim dan orang nggak berada.. coba cari tau deh…”

“Tapi, pak.. Ableh kayaknya udah stuck banget sama cewek itu, kasian.. biarin deh.. lagian juga hari gini masih mikirin bobot, bibit dan bebet.. udah nggak jaman.. “

“Pohon yang baik dan bagus itu berasal dari benih yang baik dan bagus pula, sa… dan bapak cuma mau anak-anak bapak nanti bisa punya keturunan yang baik pula..”

“Punya keturunan baik kalo nggak bahagia buat apa…”

Gua berkata sambil berbalik, keluar dari ruang kerja bapak sambil membanting pintu.

Sejujurnya, gua sangat nggak setuju dengan pola pikir bapak yang kolot, yang masih menimbang-nimbang jodoh dari ideologi jawa dengan bobot, bibit dan bebet nya. Dan gua juga nggak mau nasib Ableh nanti seperti gua dan Andre yang harus rela berpisah gara-gara ideologi bobot, bibit dan bebet nya bapak. Tapi, mau nggak mau, suka nggak suka gua harus melakukan perintah bapak, daripada nantinya bapak turun tangan sendiri dan ,alah berujung chaos dan keluarga ini malah berantakan.


Buat gua nggak sulit sama sekali untuk bisa menggali informasi mengenai pacar barunya Ableh. Gua cukup memanggil satu nomor telepon dan orang diujung sana bakal melakukan semuanya buat gua, kata orang sih ‘The abuse of power’ tapi gua lebih setuju menyebutnya ‘The power of money’. Hanya dalam hitungan jam, gua sudah menerima email yang berisi detail tentang gadis bernama Desita itu. Gua membaca sekilas dan mendapati kalau pendidikan terakhirnya hanya sebatas SMA, selain bukan berasal dari keluarga yang punya ‘bibit’ yang mumpuni hal ini bakal menjadi kendala hubungan Ableh dan Desita dimata bokap. Dan gua sadar hanya lambat laun bokap pasti mengetahui akan hal ini dan itu nggak bakal lama.

Gua duduk dibalik meja kerja sambil bertumpu dagu, mencoba mencari solusi yang tepat agar semua bisa bahagia; win-win solution, Solusi bahagia buat Ableh, buat Desita dan buat Bokap. Sementara rekan-rekan kerja lain di departemen Akunting salah satu tivi swasta ini tengah berseliweran menuju ke kantin untuk makan siang, gua tetap terpaku menghadapi layar monitor dimeja gua. Awalnya bokap nggak pernah mengijinkan gua untuk bekerja diperusahaan lain selain diperusahaan miliknya, tapi gua mendapat pembelaan dari nyokap yang bilang kalau gua paling nggak cari pengalaman kerja dulu, nggak sekonyong-konyong kerja langsung jadi direktur dikantor bokap, dan langkah gua diikuti oleh Ableh.

Sore harinya, sepulang kerja gua menghubungi Ableh;

“Bleh, dimana lo?”

“Lagi jalan sama Desita, kenapa?”

“Oh yaudah..”

“Ada apaan?”

“Gapapa..”

“Aneh lu..”

Gua mengakhiri pembicaraan yang memang sengaja dilakukan untuk mengecek lokasi mereka berdua. Kemudian gua dengan ditemani Ubay, pacar gua, pacar piliha bokap tepatnya, langsung menuju ke daerah palmerah, jakarta barat. Menuju ke rumah Desita.

Setengah jam berikutnya gua sudah berada di depan sebuah rumah yang kurang layak disebut sebagai rumah. Gua berniat mengetuk pintunya, saat tiba-tiba pintu itu terbuka dan muncul seorang wanita tua dari dalam, dia terlihat sedikit terkejut dengan kehadiran gua.

“Cari siapa, neng?”

“Ibu, bener ini rumah Desita?”

“Iya betul..”

“Ibu, ibunya Desita?”

“Iya..”

“Boleh saya masuk bu..?”

“Silahkan neng.. eneng siapa ya?”

“Saya Salsa bu, kakaknya Solichin…”

“Oh iya iya, ada apa ya neng..?”

Gua menelan ludah, sambil memandang sekeliling ruangan yang terlihat kotor dan sedikit kumuh ini.

“Desita bikin masalah ya neng?”

“Eh.. nggak kok bu, enggak bukan itu..”

“Aduh sampe lupa nawarin minum.. mau minum apa neng? Ayo duduk deh..”

Si Ibu menawarkan gua minum dan mempersilahkan gua duduk disebuah sofa kecil yang terlihat kusam.

“Nggak usah bu, saya cuma sebentar kok..”

Si Ibu kemudian duduk dilantai, untuk menghormatinya gua turun dari sofa dan ikut duduk dilantai yan sepertinya hanya dilapisi semacam karpet dari bahan plastik.

“Jadi begini bu.. kalau bisa Desita jangan dulu berhubungan sama Solichin ya bu.. “

“Oh kenapa emangnya?.. “

Si ibu sama sekali nggak terlihat terkejut

“Hmm.. “

Gua nggak bisa berkata-kata, bingung bagaimana cara menjelaskannya.

“Iyah, kita mah udah biasa neng, diperlakuin kayak gini.. eneng mah nggak usah ngerasa nggak enak..”

“Iya bu, sebelumnya saya minya maaaaff banget.. Bapak saya nggak setuju… dan satu lagi bu..”

“Apa neng?”

“Ibu asli bogor kan?”

“Iya bener..”

“Mau nggak kalau pindah ke bogor? Nanti disana saya sediain tempat tinggal dan kerjaan buat Desita.. “

“Lho kenapa?”

“Karena kalau cuma memaksa mereka untuk putus, solichin nggak bakal terima dan ujung-ujungnya dia bakal terus menerus mengejar Desita..”

“Tapi…”

Kemudian gua menjelaskan semua duduk persoalan dan rencana-rencana spontan yang terlintas dibenak gua. Si Ibu sesaat terlihat bingung tapi pada akhirnya dia tersenyum dan mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian gua pun pamit dan bergegas untuk pulang.

“Saya pamit dulu ya bu..”

“Iya, makasih ya neng salsa..”

“Sama sama bu..”

Diperjalanan pulang, gua mencoba menghubungi Pak Yohannes, direktur disalah satu perusahaan bapak yang berada di Bogor.

“Halo pak yohannes.. ini saya Salsa..”

“Oh iya halo sa.. apa kabar?”

“Baik pak.. gini pak saya minta tolong bisa?”

“Tolong apa sa?”

“Saya ada temen di bogor, lagi cari kerja.. bisa dibantu?”

“Bisa bisa..”

“Ada posisi yang masih kosong kan? “

“Gampang, bisa diatur.. besok orangnya suruh dateng aja kekantor ya sa..”

“Nah itu masalahnya pak, dia itu orangnya idealis, dia nggak mau kalau sampe ketahuan saya bantu dia dapet kerja..”

“Lah terus gimana?”

“Udah nanti itu saya atur..”

“Oke deh, nanti kamu SMS aja detailnya..”

“Oke makasih ya pak.. oiya satu lagi pak..”

“Apa tuh..?”

“Bapak jangan sampe tau ya..”

“Beres..”

Gua mengakhir pembicaraan dengan pak Yohannes dan kemudian berpaling ke arah Ubay yang tengah asik menyetir. Sambil merayunya gua meminta tolong dia untuk membuat semacam print-out lowongan pekerjaan yang dibuat semirip mungkin dengan sobekan kertas koran kepadanya, Ubay hanya mengangguk sambil tersenyum dan gua pun mengecup keningnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *