Everytime – Chapter 5

#34 Point of View Salsa – Master Mind

Satu minggu setelah Desita dan ibu-nya pergi, gua cukup melihat perubahan gelagat dan perilaku Ableh untuk mengetahui sejauh mana rencana gua berjalan. Dan persis seperti perkiraan gua, rencana yang gua buat berhasil. Sudah hampir seminggu ini Ableh terlihat uring-uringan, gelisah dan sering kedapatan bicara dan marah-marah sendiri. Puncaknya adalah ketika Ableh resign dari kantornya untuk lebih fokus mencari Desita, its more getting serious.

Gua sadar kalau gua telah menciptakan sebuah permainan berbahaya, permainan dimana hidup Ableh dipertaruhkan, gua hanya berharap rencana ini bisa berhasil dan agar semua ini bisa berjalan sesuai dengan plan yang sudah terpatri dalam benak ini, butuh keseriusan dan kesetiaan Ableh terhadap Desita, mudah-mudahan Ableh mampu melaluinya.

Persis dua minggu setelah perpisahan pasangan beda status; Ableh dan Desita, gua mendapat kabar dari Pak Yohannes kalau Desita sudah bekerja diperusahaannya, gua cukup sumringah mendengarnya, ini berarti satu sisi ‘rencana’ gua sudah berjalan mulus, gua hanya tinggal meluncur ke bogor dan berbicara empat mata dengan Desita, takutnya nanti dia malah kecantol dengan pria lain.


Diakhir minggu, gua sudah meluncur ke bogor, menuju ke salah satu perusahaan milik bokap yang dipimpin oleh Pak Yohannes, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang tradding.

Hanya butuh waktu nggak sampai dua jam untuk bisa sampai ke kota bogor, gua tiba didepan sebuah komplek perkantoran dan masuk kedalam sebuah kantor dengan logo dua huruf S yang saling behadapan simetris dibagian atas bangunan. Didalam gua disambut oleh Pak Yohannes yang langsung mengajak gua ke lantai atas untuk bertemu dengan karyawan baru bernama Desita.

“Nggak perlu, pak.. Desita-nya aja yang suru turun kesini deh..”

Gua menolak ajakan Pak Yohannes dan duduk disofa sambil menunggu. Nggak lama berselang Desita muncul dari sudut tangga dan sangat terkejut begitu melihat sosok gua. Gua berdiri, tersenyum kepadanya. Desita berjalan pelan menghampiri gua;

“Kok Kak Salsa ada disini? Disuruh Solichin ya…?”

Gua nggak menjawab, tetap tersenyum kemudian mengalihkan pandangan ke arah Pak Yohannes.

“Pak, saya pinjem Desita-nya sebentar ya.. “

Gua kembali menatap Desita, menarik tangannya mengikuti gua keluar dan masuk kedalam mobil. Gua mengarahkan mobil nggak begitu jauh, dan tiba disebuah mall yang berada di pusat kota Bogor.

“Kak Salsa kok tau aku disini? Disuruh Solichin ya?”

“Nggak kok..”

Gua menjawab sambil melepas kaca mata hitam yang gua kenakan.

“Terus.. kok bisa tau aku disini?”

“Justru gua yang bikin lo bisa ada disini..”

“Maksudnya..?”

“Bokap gua nggak setuju sama hubungan kalian, gua yakin lo tau alesannya dan gua nggak pengen bokap sampe turun tangan sendiri, karena lo pasti nggal bakal suka dengan caranya.. makanya waktu itu gua dateng ke rumah lo dan bicara sama nyokap lo, karena gua tebak kalau lo pasti nggak mau ngingkarin permintaan dari nyokap lo, dan tebakan gua benar.. “

“…”

“… gua pengen lo stay away dulu dari Ableh untuk sementara waktu, paling nggak setahun atau dua tahun dan nanti gua bakal ketemuin lo lagi sama Ableh.. dan tempat lo kerja sekarang itu gua yang atur”

Gua menjelaskan rencana gua ke Desita secara singkat, gua yakin dia cukup mengerti.

“Tapi, apa kak Salsa nggak mikirin perasaan aku, perasaan Solichin?”

Desita bertanya sambil menyeka airmata yang mulai menetes.

“Gua tau gimana rasanya, Des.. karena gua pernah ngalamin hal yang sama dengan alasann yang sama, maka dari itu gua berusaha supaya kalian nggak ngalamin apa yang gua pernah rasakan… dan gua pikir ini cara yang tepat..”

“Tapi kenapa harus selama itu, dua tahun kan nggak sebentar..”

“Gua pengen Bokap sadar dengan perubahan sifat Ableh.. dan gua pengen supaya kalian mengalah dulu untuk akhirnya.. menang”

“…”

“Jangan takut, Des.. Ableh pasti balik ke lo, gua jamin…”

“Tapi, kak..”

“Udah, nggak usah pake tapi-tapian, nanti gua bakal kasih tau lo terus tentang kondisi dan kabar Ableh, dan lo jangan hubungin dia dulu..”

“…”

“Nomor hape lo yang lama masih ada?”

“Masih kak..”

“Nomor itu jangan lo buang, tetep lo aktifin, isi pulsanya kalau masa aktif nya udah mau habis, tapi jangan biarin selalu on.. paham kan?”

“Iya kak..”

Desita menjawab lirih sambil sedikit terisak, gua membelai rambutnya dan sekali lagi mencoba meyakinkannya.

“Lo percaya sama gua kan Des?… kalo memang pada akhirnya semua ini nggak berhasil, lo bisa menyalahkan gua sepanjang umur lo..”

Kemudian Desita menggenggam tangan gua erat.

Siang itu gua menghabsikan waktu dengan Desita untuk sekedar makan siang dan berjalan-jalan sambil shopping disalah satu mall di pusat kota bogor, sebelum akhirnya gua mengantarnya kembali ke kantor.

Dari jendela mobil yang terbuka gua pamit ke Desita;

“Des.. jaga kepercaaan gua sama Ableh ya.. jangan ganjen..”

Desita kemudian tersenyum dan kembali masuk kedalam kantor.


Malam itu, setelah kembali dari Bogor saat gua hendak bersiap untuk tidur terdengar suara ribut-ribut dan teriakan dari kamar Ableh. Kami semua; bokap, nyokap dan gua berkumpul didepan kamarnya, Nyokap mengetuk pintu kamar dan mencoba membukanya; terlihat Ableh tengah berteriak-teriak histeris sambil memanggil-manggil nama Desita, gua melihat kesekeliling kamar, kamarnya yang dulu terkenal paling tertata rapi sekarang berubah menjadi kotor dan kumuh, dindingnya banyak ditempeli kertas-kertas dengan sketsa Desita. Nyokap berusaha memeluk Ableh yang masih berteriak-teriak, dia memegang kepalanya dan sambil menangis berkata ke bapak;

“Kita ke dokter pak, badannya panas banget…”

Dan dengan bantuan Oge, Satpam depan dan Bapak membopong Ableh kedalam mobil untuk ke dokter, gua menyentuh dahi-nya; Panas. Saat hendak memasuki mobil gua sempat melihat kepunggung ableh yang telanjang, sebuah tato baru yang sepertinya baru saja dibuat karena masih meninggalkan sedikit memar disekitarnya, sebuah tato bergambar telapak tangan yang menengadah dibawah sebuah lingkaran yang didalamnya terdapat ukiran huruf ‘D’. Gua hanya mengerling sebentar, menebak kalau demam-nya disebabkan oleh hal itu, sebuah Tato.

Sejak kejadian itu, Nyokap dan Bokap sering terlihat beradu argumen yang kemudian diakhiri dengan suara tangisan nyokap dari dalam kamar, sementara dikamar satunya, kamar Ableh terdengar suara seperti pukulan-pukulan konstan pada dinding. Gua hanya bisa merenung sambil meneteskan airmata, memikirkan kondisi keluarga ini. Besoknya, gua memberanikan diri masuk ke kamar Ableh yang gelap dan apek, kemudian duduk disebelahnya. Ableh tengah, tertunduk dimeja kerjanya, memainkan pensil mekaniknya diatas sebuah kertas, menggambar sesuatu yang belum jelas bentuknya.

“Bleh..”

Gua menyapa, dia hanya diam nggak menjawab, masih tertunduk menghadapi kertas didepannya.

“Jangan gini terus dong.. lo harus percaya..”

Ableh berhenti menggerakkan pensinya kemudian menatap gua nanar.

“Gua harus percaya sama siapa?”

“Sama diri lo sendiri, sama Tuhan, sama Desita..”

“Desita aja udah pergi ninggalin gua..”

“Gua percaya kok kalo lo pasti bisa nemuin dia lagi, suatu saat..”

“Suatu saat itu kapan? Lima taun, sepuluh taun, dua puluh taun. Berapa lama?”

“Ya nggak tau deh, tapi paling nggak masa lo mau gini-gini aja?”

“Trus lo mau gua harus gimana? Move on trus nyari pacar laen.. kayak lo gitu?”

“Hahaha… gini aja deh, ikut liburan gua yuk “

“Nggak males!!

“Liburan ogah, bikin usaha mau nggak?”

Usaha apa?”

“Apa kek, clothingan aja.. atau distro..”

“Kenapa harus clothingan..?”

“Lo kan dulu kuliah desain, sayang-sayang kalo nggak dipake.. dan gua punya kenalan bos konveksi yang bisa kerjasama sama lo..”

“Hmmm…”

“Tapi nggak disini.. di Jogja, sekalian lo menjernihkan pikiran.. ngejauhin ini semua.. gimana?”

“….”

“..kalo lo mau, ntar gua cariin rumah disana..”

“Males..!!”

Gua menghela nafas mendengar jawaban Ableh, kemudian meninggalkan dia sendiri didalam kamarnya yang gelap dan sempit.

Gua sempat pesimis dengan rencana gua untuk memindahkan Ableh ke Jogja, selain sebagai sarana rehabilitasi darisana nanti gua bakal menggiring Ableh untuk berusaha kembali mencari Desita.

Dan hampir satu tahun berlalu setelah tawaran gua mengenai pindah ke Jogja, Suatu hari Ableh mendatangi gua;

“Udah siap belom rumah yang lo tawarin di Jogja?”

“Hah?”

“Gua mau berangkat sekarang, lo SMS alamatnya ke gua..”

“Hah, gila lo bleh, mendadak banget.. “

Gua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Ableh yang pergi sambil menenteng ranselnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *