Everytime – Chapter 5

#35 Point of View Salsa – New Life

Gua sudah berada didalam rumah yang tanpa penghuni yang terletak disalah satu komplek perumahan dikota Jogjakarta. Seorang wanita muda dengan pakaian rapi berdiri disebelah gua, sudah berkali-kali gua melihatnya menepuk-nepukan telapak tangannya yang tanpa sengaja menyentuh perabotan dan tembok berdebu didalam rumah ini.

“Masih lama ya mbak.. orang yang mau nempatin datengnya?”

Wanita muda itu bertanya sopan ke gua, sambil (lagi) membersihkan telapak tangannya. Gua melirik ke arah jam tangan kemudian mengangkat bahu.

Wanita muda sok bersih yang berdiri disebelah gua ini adalah Dinda, salah satu karyawan diperusahaan Resal Estate yang berada di Jogja, kalau elu mau tau, ya.. perusahaan ini juga punya bokap. Gua mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Ableh, beberapa kali gua mencoba dan nggak dijawab, mungkin sedang dijalan.

Waktu Ableh pamit hendak berangkat ke Jogja, gua terpaksa menyusulnya untuk membantu dia menemukan rumah untuk tinggal. Biarpun Ableh adalah anak laki-laki bokap, tapi dia nggak pernah mau tau menau tentang perusahaan-perusahaan yang dimiliki bokap, seluk beluknya, jenis industri-industrinya, apalagi untuk terjun langsung dan turun tangan disalah satu perusahaannya, yang dia tau hanya meminta sesuatu ke bokap dan nggak lama terpenuhi.

“Emang siapa sih mbak yang mau nempatin?”

Dinda terlihat gelisah mondar-mandir kesana kemari sambil melirik ke arah jam.

“Kalo lo bosen nunggu, lo boleh pulang kok..”

Gua berkata sambil tersenyum ke Dinda.

“Bener, mbak?”

Dinda bertanya sambil terlihat sumringah.

“Iya bener, sekarang lo boleh pulang cepet tapi besok lo dateng pagi-pagi bawa surat pengunduran diri..”

Gua bicara sambil memandang lurus kedepan, saat Ableh baru saja turun dari ojek, dia membuka pagar dan melangkah masuk. Sementara Dinda tengah diam terpaku ditempat dia berdiri, sepertinya shock mendengar jawaban dari gua tadi.

“Kemana aja sih lo, bleh…?”

“Lu nggak liat, gua baru sampe..”

“Kenapa SMS gua nggak dibales?”

“Nggak penting kan gua bales, isinya juga cuma alamat rumah ini doang kan”

“Trus lo kemana dulu, kok baru sampe..?”

“Ya emang gua baru sampe jogja, sa.. gua naek kereta..”

“Ngapain lo naek kereta?”

“Ya terserah gua dong, mau naek kereta kek, naek kapal kek, naek onta kek.. ini rumahnya, kok kotor banget, nggak dibersihin dulu… “

Gua hanya berdiri terdiam melihat Ableh yang semakin bertingkah. Kemudian dia memandang ke arah Dinda yang masih terlihat shock.

“Lu siapa?…”

“Saa..saya Dinda mas.. staff developer real estate..”

“Trus kenapa lu masih diem aja disini, bersihin kek nih tempat..”

Dinda hanya terdiam mendengar perkataan Ableh, gua melihat pipinya mulai basah.

“Dia bukan cleaning service, bleh.. udah dinda kamu pulang aja..”

“Taa.. tapi nanti kalo saya pulang..?”

“Nggak, lo nggak bakal dipecat, udah sana..”

Mendengar itu, Dinda buru-buru mengambil tasnya dan bergegas keluar dari rumah.

“Trus, siapa yang mau bersihin nih sa.., gua?”

“Udah gampang, ntar gua cari orang deh.. yuk makan dulu..”

Dan itulah hari pertama Ableh menginjakkan kakinya untuk tinggal di Jogjakarta. Sebelum kembali ke Jakarta, setelah membereskan semua keperluan hidup Ableh selama di Jogja, gua tengah mengepak pakaian dikamar hotel saat ponsel gua berdering.

“Halo..”

“Hallo mbak Salsa.. Piye kabare..?”

“Ya baik, ini siapa ya?”

“Pak Mardi, Sumardi… Jogja…”

“Eh, pak Mardi.. iya pak”

“Saya sudah ada dilobi hotel ini mbak..”

“Oke pak tunggu ya, sebentar lagi saya turun..”

Setelah selesai mengepak gua bergegas turun ke lobi sambil membawa koper, menemui Pak Mardi untuk membicarakan kemungkinan dia berpartner dengan Ableh dan kemudian sekalian kembali pulang ke Jakarta.

Pak Mardi ini adalah seorang ‘juragan’ konveksi terkenal di Jawa Tengah, dia adalah salah satu supplier dan rekanan bisnis bokap yang selalu menyuplai seragam staff perusahaan. Saat gua tiba dilobi hotel Pak Mardi sudah menyambut dengan senyum sumringahnya yang khas dibalut kumis tebal ala pak Raden, dia duduk bersama seorang gadis muda yang kemudian diperkenalkan sebagai anaknya; Astrid.

Setelah selesai denga pembicaraan mengenai bisnis, gua melirik ke arah Astrid, anak Pak Mardi.

“Usianya berapa?”

Gua bertanya ke Astrid.

“Sekarang dua tiga, mbak”

Astrid menjawab lugas, dari gestur dan gaya bicaranya gua bisa menebak kalau dia orang yang cukup supel.

“Udah punya pacar?”

“Kenapa mbak?”

Astrid bertanya, mungkin ragu dengan apa yang baru saja gua tanyakan.

“Udah punya pacar belum?”

Gua mengulang kembali pertanyaan yang tadi.

“Belum sih mbak, memang kenapa?”

Astrid menjawab ragu-ragu.

“Nggak apa-apa.. yaudah deh pak Mardi, saya pamit dulu..”

Gua berdiri dan menyalami Pak Mardi kemudian menyiapkan koper untuk segera berangkat.

Pak Mardi dan Astrid mengantar gua sampai ke depan lobi dimana sebuah taksi sudah menunggu untuk mengantar gua ke bandara. Gua menghentikan langkah sejenak saat menuruni tangga, menoleh ke arah Astrid dan Pak Mardi.

“Astrid.. bisa temenin saya ke bandara nggak?”

Gua bertanya ke Astrid.

Pak Mardi dan Astrid saling pandang, kemudian Pak Mardi menyenggol sikut Astrid dengan lengannya sambil berkata pelan, yang gua denger hanya selentingan kalimat berbahasa jawa yang gua nggak mengerti artinya. Kemudian Astrid berjalan menyusul gua menuruni anak tangga lobi hotel.

“Bisa mbak.. ayoo..”

Seperti yang sudah gua duga sebelumnya, bahwa Astrid adalah seorang perempuan yang supel dan cukup atraktif. Didalam taksi selama dalam perjalanan menuju ke Bandara gua terus berbincang dengannya dan rasanya seperti gua sudah lama mengenal dia, perempuan ini punya pembawaan yang menyenangkan.

“Astrid.. lo mau bantu gua nggak?”

Gua bertanya sambil memandang keluar melalui jendela taksi.

“Bantu apa mbak?”

“Kalau nanti, Bokap lo jadi bisnis sama Ade gua, bisa kan lo yang handle?”

“Oh bisa mbak, biasanya toh juga saya yang handle klien baru nya bapak..”

“Tapi ini beda, dan karena ini berbeda makanya gua minta bantuan lo..”

“Maksudnya..?”

Astrid menggeser duduknya mendekat ke gua, penasaran.

“Jadi gini, dia itu agak sedikit stress karena abis ditinggal sama pacarnya, gua mau lo temenin dia selama disini..”

“Hah stress..?”

Astrid melotot kemudian menggeser duduknya lagi.

“Bukan.. bukan stress Gila.. cuma sedikit tertekan aja kejiwaannya, tapi nggak tertutup kemungkinan kalo sebentar lagi dia gila beneran..”

“Oh. Gampang, bisa diatur..”

“Nggak Astrid, semua yang berhubungan dengan adik gua saat ini bener-bener nggak gampang.. “

“Emang kenapa?”

“Dia abis ditinggal sama pacarnya,..”

“Oh gitu…”

Astrid menjawab sambil manggut-manggut.

“Jadi.. bisa nggak?”

Gua bertanya sambil memandang ke arah Astrid.

“Mbak, saya sih mau bantu mbak.. tapi kasih saya satu aja alesan kenapa saya harus membantu mbak Salsa?”

Gua tersenyum mendengar pertanyaan dari Astrid

“Gua sebenernya bisa aja trid, menawarkan lo dua opsi; Bantu gua dan dapet bayaran gede atau bisnis bokap lo ancur dan keluarga lo jadi gembel selama-lamanya.. “

“…”

“Tapi, gua nggak gitu kok… gua minta tolong lu atas nama hati nurani kakak yang sayang sama Adiknya, atas nama seorang perempuan yang dipisahkan cintanya cuma gara-gara status yang sama sekali nggak dia inginkan untuk diembannya.. dan gua meminta lo dengan sangat, kalo perlu gua harus memohon sambil merangkak dihadapan lo, gua bakal lakukan…”

Astrid hanya terpana mendengar omongan gua, kemudian berkata;

“Wow..”

“So, bisa bantu gua?”

“Bisa!”

Astrid menjawab.

“Oke kalo gitu, gua jelasin detailnya nanti di bandara.. sambil makan, lo belum makan kan?”

“Hehehe.. iya..”

Sesampainya di Bandara Adisutjipto, gua dan Astrid langsung menuju ke sebuah restaurant cepat saji yang terletak di area Bandara. Gua melirik ke arah jam tangan, masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum pesawat gua berangkat ke Jakarta. Dibenak gua kini berputar-putar rencana-rencana yang dikelilingi semacam awan dan saling terhubung dengan garis berwarna-warni, disekelilingnya berputar sosok-sosok yang terkait dalam rencana tersebut, pikiran-pikiran dan rencana tersebut yang membuat tidur gua nggak begitu nyenyak belakangan ini, gua hanya bisa berharap Astrid mampu menggantikan gua sebagai ‘soul guide’-nya Ableh tanpa perlu tau siapa sosok dibalik ini semua. Dan gua bisa tidur nyenak lagi.

“.. Singkat aja, trid.. gua mau lo temenan sama Ade gua, tanpa dia tau kalo lo gua yang suruh… sebisa mungkin terlihat natural, bisa?”

“Hmm.. bisa mbak..”

Astrid menjawab dengan penuh keyakinan.

“Nanti instruksi berikutnya gua SMS lo dari Jakarta, dan kalo ada apa-apa lo buru-buru telpon gua..”

“Iya mbak.. Sip!”

“Dan… ini yang paling sulit, trid..”

“Apa mbak?”

“Jangan sampe lo jatuh hati sama dia.. inget tuh..”

“Hah?..”

“..dan jangan pernah bikin dia jatuh hati sama lo..!”

“Hah, Kenapa?”

“Karena dia udah ada yang punya, oke.. jadi tugas lo gampang tapi juga sedikit susah.. bikin aja dia kembali normal..”

“Tapi, ketahuan dia udah normalnya gimana mbak?”

“Lo perhatiin aja, kalo dia udah mulai ngerayu-ngerayu cewek dan tingkahnya mulai nyebelin.. itu berarti dia udah normal..”

“Hah..”

Gua berdiri sambil bersiap bergegas untuk pergi ke gerbang check-in bandara, sementara Astrid masih duduk terdiam sambil memandangi gelas kertas berisi minuman soda, gua menepuk pundaknya pelan sambil berkata lirih;

“Tolong ya Astrid…”

Dia menyambut tangan gua dipundaknya dengan tangan kirinya, kemudian berkata tanpa memalingkan wajahnya;

“Emang mbak Salsa, bisa ya bikin bapak bangkrut?”

“Hahaha, nggak kok.. tadi cuma becanda.. yaudah gua jalan dulu ya..”

Gua bergegas meninggalkan Astrid sambil berjalan cepat sambil tersenyum dengan kebohongan gua barusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *