Everytime – Chapter 5

#36 Point of View Salasa – Ableh

Sejak gua berhasil membujuk Astrid untuk ikut berperan dalam permainan yang sudah gua rencanakan, tidur gua perlahan-lahan mulai nyenyak, apalagi tau kalau Desita dan Ibunya sudah bisa hidup normal di Bogor sesuai dengan arahan gua dan sampai saat ini semuanya berjalan smooth dan terlihat baik. Kecuali rencana gua untuk mengubah pola pikir bokap yang selalu gagal.

Bokap memang terkenal dengan pemikirannya yang kolot dan idealisme-nya yang terlalu konservatif. Pembawaanya mungkin terlihat santai, penuh senyum dan ramah. Tapi dibalik itu dia punya ketegasan bak militer dan ketangguhan seperti tank tempur. Mungkin jika ada yang tau sosok Seta Soujiro di anime Samurai-x atau Hisoka di serial Hunter X Hunter, sosok yang selalu penuh senyum tapi ada kekejaman dibaliknya, kata-katanya indah tapi tersimpan ‘bisa’ dan seperti itulah Bokap.

Dulu gua pernah punya pacar, namanya Andre. Selain ganteng, dia juga pribadi yang lembut, bisa ngemong dan tegas, dia selalu sukses meredam betapa ‘liar’nya gua dulu, gua jatuh cinta padanya dan selama beberapa bulan kami menjalani hubungan yang penuh cinta, apalagi ditambah saat Andre gua perkenalkan dengan Bokap dan Nyokap, respon mereka begitu positif, tanpa malu Andre pun bercerita tentang asal-usulnya yang berasal dari keluarga broken home, bokap dan nyokap hanya tersenyum mendengarnya, buat gua itu sudah lebih dari cukup untuk menebak ke arah mana hubungan kami nanti bakal berlanjut. Tapi semua itu sirna seminggu kemudian, saat Andre tiba-tiba menghilang, cukup lama gua berusaha mencarinya dan ketika bertemu dia menjelaskan semuanya, bercerita tentang orang-orang bertubuh besar dan tegap datang kerumahnya, mencoba meneror dia, ibu dan adiknya, bahkan tanpa segan-segan menggunakan kekerasan dalam terror-teror tersebut. Dan semua itu atas perintah satu orang; Sastrowardjodjo Syarfriel, Bokap gua.

Dan sejak saat itu setiap pria yang dekat dengan gua, haruslah tepat bobot, bibit dan bebetnya dimata Bokap dan nggak perlu ditanyakan lagi bagaimana rasa sakitnya dipisahkan dengan orang yang lo cintai dengan cara seperti itu, cara kampungan dan sama sekali nggak elegan. Dan kali ini, gua akan memperlihatkan ke bokap, sebuah cara mempertemukan lagi dua insan manusia yang terpisah gara-gara dia dengan cara yang nggak kampungan dan Elegan. Tapi ya tetap kendala utamanya adalah betapa sulitnya merubah pendirian bokap, jangan sampai nanti gua berhasil menyatukan Desita dan Ableh tapi nggak berhasil membuat hubungan mereka disetuji, sama aja bohong.

Dengan alasan itu pula-lah, gua mendaftarkan Desita ke salah satu universitas swasta di Bogor, jadi kalau Bibit (aspek keturunan, apakah ningrat atau bukan, keturunan baik-baik atau penjahat) dan Bebet (Faktor kemampuan ekonomi) nya kurang berkenan dimata Bokap, paling tidak Bobot-nya atau kualitas seseorang dalam arti aspek pendidikan-nya cukup mumpuni. Awalnya Desita menolak jika haruis gua biayai, tapi gua bersikeras, akhirnya diambil jalan tengah, gua akan menanggung biaya masuk kuliah dan Desita yang membayar biaya semester-nya, oke that’s fair enough.

—-

“Mbak, Solichin ud mulai cerita ttg Desita”

Begitu kira-kira isi pesan yang dikirim Astrid ke gua, saat itu sabtu sore menjelang malam, saat gua baru saja bersiap menaiki mobil Arya yang terparkir didepan rumah. Gua mengetik sebentar kemudian mengirim SMS balasan kepadanya;

“Ok, Nice progress.. giring terus nanti kalo ud dpt wktu yg tepat, bikin supaya dia mau bergerak nyari Desita ya..”

Pesan terkirim, dan nggak begitu lama berselang gua sudah menerima balasan darinya;

“Mbak, kyaknya ak mulai jth hati beneran deh sm solichin, gmna dunk? ”

Gua menggelengkan kepala saat membaca SMS balasan dari Astrid.

“Jatuh hati beneran? Berarti sebelumnya lo ud sempet jatuh hati sma dia?”

“Iy..”

“Kan gua ud bilang ke lo, skrng gua ga mau tau, nanti klo patah hati tnggng sndri akbtnya”

Gua selesai mengetik dan menekan tombol ‘send’ kemudian memasukkan ponsel kedalam tas. Ini anak kayaknya benar-benar out of control, kalau cuma Astrid yang jatuh hati sama Ableh sih mungkin bukan perkara besar, its really not a big deal. Tapi, kalau sampai Ableh yang jatuh hati kepada Astrid bisa sia-sia semua yang udah gua lakukan.

Gua kembali mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan ke Astrid;

“Astrid, Stay In the Line!”

Send, Done

Drtt…drrtt

Ponsel gua bergetar. Sebuah pesan masuk, dari Astrid.

“Kalem bae, mbak”

Gua hanya tersenyum membaca pesan singkat tersebut, kemudian kembali (lagi) memasukkan ponsel kedalam tas, sementara Arya yang sedari tadi melirik ke arah gua yang sibuk dengan ponsel seakan bertanya dengan matanya; ‘sibuk amat, SMSan sama siapa?’.

“SMS dari Astrid, yank..”

“Ooh..”


Nggak ada hampir satu minggu sejak Astrid mengabari gua tentang progress si Ableh, dia mengirimi gua pesan lagi. Kali ini isinya tentang perubahan sikap Ableh setelah Astrid bertanya banyak perihal Desita. Gua menghubungi Astrid setelah mengkonfirmasi via SMS kalau dia sedang tidak bersama Ableh.

Gua menginstruksikan Astrid agar mendorong Ableh untuk berusaha mencari Desita, caranya dengan melacak nomor ponsel lama Desita, dan ternyata Astrid sukses melakukan itu, malam harinya dia mengkonfirmasi jika mereka berdua tengah dalam perjalanan menuju ke Jakarta untuk mencari Desita. Gua buru-buru bangkit dari atas kasur dan memberitahu nyokap kalau Ableh bakal pulang dan nggak lupan menghubungi Om Sasmi yang memang bekerja di salah satu provider telekomunikasi terbesar yang ada di Indonesia.

“Halo Om Sas..”

“Eh Sa.. ada apa, malem-malem telpon.. tumben..”

“Gini om, si Ableh kayaknya bakal minta tolong om deh ngelacak nomor ponsel, kira-kira bisa nggak..”

“Hah, emang nomor siapa yang mau dilacak, sa?”

“Nomor pacarnya, bisa Om?”

“Sebenernya sih bisa, tapi semua ada prosedurnya sa.. nggak bisa maen minta trus dapet gitu aja..”

“Yaah Om, bisa doong, demi keponakan mu yang cantik dan imut ini..”

“Nggak bisa, saa.. kamu siapin surat keterangan deh dari kepolisian nanti Om bantu..”

“Yaah om maah.. bisa doong, please yaaa.. pleaseee…”

“…”

“Om sas.. Om masa tega sih sama salsa…”

“Yaaah, kamu emang paling bisa deh saa.. yaudah om usahakan deh..”

“Assik, om sasmi emang om paling keren deh.. nanti Ableh yang dateng ya om..”

“Iya,…”

“Eh Om, tapi jangan bilang-bilang kalo salsa udah ngomong ke Om duluan ya..”

“Oh gitu, iya deh..”

“Yeay.. makasih ya Om..”

“Iya Salsa, sama-sama..”

“Selamat malam Om..”

“Malam..”

Gua mengakhiri pembicaraan dengan Om Sasmi dan bergegas untuk segera tidur, besok past Ableh sampai dirumah pagi-pagi buta dan bakal bikin bangun orang satu kampung.

Dan perkiraan gua hampir nggak meleset, saat adzan subuh berkumandang gua sudah mendengar samar-samar suara Ableh diruang makan. Gua bergegas bangun dan menuju kesana, dimeja makan Astrid tengah duduk sendirian, gua mengambil setoples keripik dan duduk diseberang-nya.

“Gua kan udah ngasih tau lo, trid.. kalo jangan sampe suka sama Ableh..”

Gua bicara sambil berbisik dan sesekali melirik ke arah tangga, takut Ableh tiba-tiba turun.

“Iya mbak, tapi hati kan nggak bisa bohong..”

“Ya terserah juga sih, gua nggak mau tanggung jawab kalo lo sampe patah hati..”

“Iya mbak, aku udah tau konsekuensi-nya..”

“Lo tau kenapa mereka dipisahkan?”

Gua bertanya ke Astrid sambil menunjuk ke kamar Ableh, merujuk kepada kondisi hubungan Ableh dengan Desita. Dan Astrid menggeleng.

“Karena Desita nggak berada di strata yang sama dengan keluarga ini.. dan gua rasa kalo lo jadi pacarnya saat ini, kondisi yang sama bakal terulang..”

“Iya mbak, aku ngerti..”

“Oke.. good Girl..”

Baru saja gua selesai berbicara, Ableh turun dari kamar, menghampiri kami dan menginstuksikan Astrid untuk mandi dikamarnya. Gua memandang Ableh yang terlihat sedikit ‘amburadul’ dengan jenggot memenuhi wajahnya, gua mengahampirinya;

“Itu? Kayak gitu gantinya?.. masih mending juga Desita..”

“Bukaaan…”

“Oh bukan.. bagus dah… trus ngapain lo pulang?”

“Ada urusan, minjem mobil lu dong..”

Ableh mengatungkan tangan ke arah gua. Gua hanya berdiri diam mematung.

“Pake mobil lo sendiri dong! Emang kenapa kalo mobil lo, motor lo, punya kenangan sama Desita, dijual nggak boleh, dipake juga enggak mau diapain.. belajarlah nerima sesuatu…”

Gua bicara, mencoba memaksa dia melawan memorinya sendiri. Sementara Ableh nggak mendengarkan, dia malah ngeloyor pergi meninggalkan gua yang masih bicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *