Everytime – Chapter 5

#37 Point of View Salsa – Idea

Pagi itu setelah Ableh dan Astrid berangkat untuk memulai pencariannya, gua mulai memborbardir Astrid dengan instruksi-instruksi lewat SMS untuk terus mengarahkan Ableh ke Bogor. Sebenarnya gua bisa saja langsung memberitahu Astrid lokasi dimana mereka bisa menemukan Desita, tapi gua rasa itu terlalu to the point, dimana letak seru-nya dan lagi proses pencarian Desita paling tidak bisa memberi gambaran betapa seriusnya Ableh dengan komitmen dan hubungan yang pernah dijalin-nya bersama Desita.

Menjelang sore, Astrid memberitahu gua kalau mereka sudah mendapatkan list nama orang-orang yang mengaktivasi nomor ponsel dan kini mereka sedang bergerak ke Bogor. Oke, sebuah permulaan yang bagus, pikir gua dalam hati. Gua mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat ke Astrid.

“Nnti plng kerja, gua ksana.. lo SMS nama hotel tmpt lo nginep”

Send!.


Dan sepulang kerja gua, dengan diantar Arya langsung bergegas menuju ke Bogor.

“Penting ya, kita harus nyusul ke bogor?”

Arya bertanya sambil tetap memandang lurus dihadapan kemudi.

“Kamu anggap aku penting nggak buat kamu?”

“Penting banget..”

“Yaudah, berarti ‘nyusul ke Bogor’ juga penting banget, buat aku, buat Ableh, buat keluarga aku..”

“Iya deh..”

Dan dua setengah jam berikutnya gua dan Arya sudah berada di Bogor, gua langsung mengkonfirmasi kedatangan gua ke Astrid dan dia menjawab kalau saat ini kami belum bisa bertemu; “Nanti aku SMS mbak..” Kira-kira begitu isi pesan singkat balasan dari Astrid. Gua hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Astrid memberitahu kalau dia sedang berada dihotel A dan bersiap untuk ketemuan, gua menunjukkan isi SMS tersebut ke Arya, dia hanya mengangguk dan mulai bergegas memasuki mobil. Buat gua Arya itu sudah hampir seperti peta berjalan, Jakarta, Bandung, Bogor, Jogjakarta, Surabaya, Semarang, Solo hampir semua kota besar di pulau jawa pernah dijelajahinya, maklum tugas-nya sebagai Deputi Kontrol Jaringan membuatnya menjadi ‘Bolang’ (Baca: Bocah Petualang) yang mengharuskannya menjelajahi hampir kota-kota besar yang gua sebutkan diatas. Dan tanpa celingak-celinguk kekiri dan kekanan, sepuluh menit berikutnya kami sudah berada di depan hotel A, hotel yang dimaksud si Astrid.

Ditepi jalan, diatas trotoar, Astrid tengah berdiri menunggu kami, gua membuka jendela dan menyapanya;

“Astriiid..”

“Eh mbak..”

“Masuk..”

Kemudian Astrid masuk kedalam mobil dan kami bergegas pergi dari sana.

“Ableh tau nggak lo keluar?”

Gua bertanya ke Astrid sambil memandang wajahnya melalui kaca spion dibagian atas.

“Nggak kok, tenang aja..”

“Mana? Lo bawa list-nya?”

“Bawa.. nih..”

Astrid bicara sambil menyodorkan lembaran list berisi daftar nama dan alamat, kesemuanya bernama Desita dan telah disortir hingga menyisakan nama-nama yang domisilinya Bogor. Gua menepuk jidat, mengelus wajah kemudian meminta Arya untuk menepikan mobil. Gua turun dari mobil dan bergerak menuju ke sebuah warung tenda yang menjual bubur kacang hijau dan masuk kedalamnya, disusul Astrid kemudian Arya.

“Kamu makan dulu aja yank..”

Gua berkata lembut ke Arya yang tampak kelelahan, kemudian berpaling ke Astrid.

“Maksud gua, lo harusnya minta list nama-nama yang Top-Up dan lokasinya, triid.. bukan nomor yang baru di aktivasi..”

“….”

“… kalo berdasarkan ini sih, nggak bakalan ketemu..”

Gua berkata sambil menggaruk-garuk kepala, kesal.

“Ya tadinya kita juga minta gitu, tapi orang providernya nggak ngasih..”

Astrid menjelaskan.

“Yah,gimana sih nih Om Sasmi..”

“…”

“…yaudah gini deh, sementara ini lo ikutin aja dulu si Ableh berdasarkan list ini, nanti gua coba ngomong lagi ke Om Sasmi.. kalo list yang disini udah selesai semua, lo kasih clue ke dia tentang perkara Top-Up..”

“Oh gitu mbak, oke deh..”

“Yaudah sekarang lo makan aja dulu..”

Gua berkata ke Astrid, yang kemudian memesan bubur kacang hijau. Sementara gua hanya duduk sambil berusaha berfikir. Mencari cara yang tepat agar Ableh bisa bertemu dengan Desita tanpa dia tau kalau gua ikut andil didalamnya.

‘Cling’

Sebuah ide terbesit dibenak gua.

“Trid..”

“Ya mbak..”

“Kalo list yang disini udah selesai semua, lo jangan kasih clue ke dia tentang perkara Top-Up tapi, kasih tau dia suruh tanya sama Om Sasmi nomor terakhir di hubungi..”

“Oh iya, mbak..”

Gua tersenyum kemudian, mengambil ponsel, mencari nomor Desita yang lain dan mulai menghubungi-nya. Beberapa kali nada sambung terdengar, sampai akhirnya suara lemah dari ujung sana terdengar, gua berdiri, keluar dari warung tenda, menjauh dari keramaian.

“Ya halo..”

“Halo, des.. lo sakit..”

“Eh, kak.. nggak kok..”

“Kok suaranya serak?”

“Iya baru bangun..”

“Oh iya.., sorry-sorry ganggu malem-malem..”

“Nggak papa kak, aku kalo tau ada telp dari kak Salsa, bawaannya panik, takut ngasih kabar buruk..”

“Nggak kok, sekarang malah mau ngasih kabar baik..”

“Apa kak?”

“Besok pagi-pagi banget, lo telepon ke kantor ya, pake nomor lo yang lama.. terus sesudah telepon lo non aktifin lagi..ngerti?”

“Ngeerti sih, tapi.. buat apaan, aku harus telepon ke kantor, ngomong sama siapa?”

“Sama siapa kek, pokoknya lo telepon ke kantor, nggak usah banyak nanya.. lo mau ketemu Ableh nggak?”

“Hah?”

“Lo mau ketemu Ableh nggak..”

“…”

“Halo, Des..”

“Apa perlu aku jawab, kak?”

“Ya makanya kalo mau ketemu, ikutin kata-kata gua.. ngerti?”

“Iya kak..”

“Yaudah,gitu aja dulu, nanti gua SMS lagi kalau ada apa-apa..”

“Iya.. eh kak..”

“Ya..”

“Solichin sehat kan?”

“Sehat..”

“Alhamdulillah..”

“Yaudah, tidur lagi sana…”

“Iya..”

Gua mengakhiri panggilan, kemudian bergegas menyusul ke warung tenda. Disana Astrid sudah selesai dengan semangkuk Bubur kacang hijau-nya sementara Arya tengah asik dengan rokok putih ditangannya. Dan lima belas menit berikutnya gua sudah berada dijalan tol menuju ke Jakarta, meninggalkan Astrid yang gua turunkan beberapa puluh meter dari Hotel tempat dia menginap.

Leave a Reply

Your email address will not be published.