Everytime – Chapter 5

#38 Kangen

“Aku juga nggak mau ninggalin kamu, sol.. bukan mau aku..”

Desita menjawab sambil memindahkan arah duduknya menghadap ke gua. Lebih dari tiga tahun nggak bertemu, Desita sedikit berubah, dia nggak lagi menggunakan bahasa ‘prokem’ ‘elo-gue’, rambutnya dibiarkan panjang dan dia terlihat sedikit lebih gemuk.

“Trus maunya siapa?”

“Aku nggak bisa jelasin ke kamu..”

“Trus sama siapa gua harus minta penjelasan?”

“Salsa..”

Desita menjawab lirih, sambil menatap kosong kearah luar melalui kaca jendela.

“Hah, Salsa..?”

Gua menepuk bagian kemudi dengan telapak tangan. Sudah bisa gua tebak, sejak tadi bertemu dengan Salsa di kantor itu, gua yakin kalau dia ada hubungannya dengan ini semua. Dalam hati gua mengutuki wanita sialan itu.

“Iya, kakak kamu…”

Desita menegaskan sambil memandang kearah gua.

Gua menepikan mobil dan balas menatap Desita. Perempuan yang selama ini jauh, yang selama ini gua cari, kini berada disini, disebelah gua.

“Kamu kangen sama aku nggak, sol?”

Desita bertanya, air matanya mulai berlinang.

“Kangen banget..”

Gua menjawab lirih, sambil tangan gua membelai pipinya yang lembut.

“Kamu masih suka dengerin ‘everytime’-nya Britney?”

“Masih.. Kok lo tau?”

Gua menjawab disusul sebuah pertanyaan penasaran.

“Tau dong, aku tau semua tentang kamu…”

Gua hanya tersenyum sambil membatin dalam hati ‘kalau Salsa yang ada dibalik semua ini’, tapi sekarang ini, bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan Salsa, saat ini gua hanya ingin menikmati indahnya sosok yang gua sayangi, sosok yang sudah sekian lama direnggut dari hidup gua. Gua selalu menantikan saat ini, saat-saat dimana bisa dengan langsung menatap mata biru nya yang indah, membelai rambutnya yang berkilau, menyentuh pipinya yang lembut, merasakan bibirnya yang mungil dan menghirup aroma tubuh yang bercampur parfum khas-nya. Bahkan gua rela menukarkan seluruh hidup gua hanya untuk hal-hal tersebut.

“Des.. selama ini lo nggak pernah deket sama cowok laen kan? Ato jangan-jangan lo udah punya suami?”

Gua bertanya sambil berbisik ditelinga-nya. Desita hanya tersenyum kemudian menggenggam tangan gua.

“Sol.. selama ini, even ada orang yang nanya ke aku; ‘udah punya pacar belum?’, aku pasti jawab ‘Udah’, dan kalo ada yang bertanya lagi; ‘siapa nama pacarnya?’, aku pasti menjawab; ‘namanya Solichin’..sambil ngasih liat ini ke mereka”

Desita mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, membuka dan memperlihatkan foto close-up kami berdua. Gua tersenyum lagi, kali ini, mungkin menjadi saat dimana gua sering sekali mengumbar senyum, senyum yang sudah lama sirna dari wajah ini.

“Makan yuk?”

“Makan dimana?”

Desita bertanya ke gua, sementara gua hanya mengangkat bahu, nggak tahu menahu lokasi restaurant atau rumah makan disekitar sini, bahkan gua nggak tau sedang berada dimana saat ini. Desita terlifat berfikir sejenak, melirik ke arah jam tangan-nya kemudian mulai menunjukkan arah.

“Tapi jangan lama-lama ya sol..”

“Lho emang kenapa?”

“Nanti aku ada kuliah..”

“Hah!! Lo kuliah?”

“Iya..”

“Serius?”

Gua bertanya sambil memasang wajah sangat serius.

“Hooh…”

“Ngambil apa?”

“Ekonomi..”

“Wuiih, hebaatt..”

Gua meraih kepalanya, kemudian memeluknya sambil tetap mengemudikan mobil.

Beberapa waktu kemudian setelah makan, dan saling bercengkrama, saling bertukar cerita, gua mengantarkan Desita ke sebuah kampus swasta yang lumayan terkenal di kota Bogor. Dia turun dari mobil, sambil berkata;

“Kamu tunggu aku, ya.. jangan kemana-mana?”

“Iya babe..”

Desita tersenyum sambil meninggalkan gua, kali ini nggak seperti dulu, waktu dia marah ketika gua memanggilnya dengan sebutan ‘babe’, ‘baby’ atau ‘honey’, sekarang dia terlihat seperti senang mendengarnya. Sambil menunggu gua turun dari mobil dan menyalakan sebatang rokok. Kemudian mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Salsa, jujur walaupun saat ini gua nggak begitu peduli dengan hubungan Salsa dengan semua ini tapi tetap membuat gua penasaran.

Nada sambung terdengar beberapa kali, sebelum akhirnya suara cempreng Salsa terdengar diujung sana. Belum sempat gua bicara, dia sudah membuka mulut duluan;

“Gimana bleh, lo ajak kemana? Ke hotel, Em-EL? Ato kemana? Seneng?”

“Apaan sih lo sa.. gua mau nanya sama lo, ini serius..”

“Nanya apa? Ntar aja deh, gua lagi sibuk nih..”

“Sibuk ngapain sih lo?”

“Sibuk nyetir..”

“Lo balik ke Jakarta?”

“Iya, sekalian nganter Astrid kebandara?”

“Hah? Lo kenal sama Astrid?”

“Ups.. keceplosan.. hehehe.. kenal lah.. yaudah ntar telp lagi, gua sibuk banget nih sumpah dah..”

Tut tut tut tut..

Salsa mengakhiri pembicaraan sepihak. Gua mengelus dada dan menghela nafas, sambil menikmati dinginnya cuaca kota bogor, gua memandang nanar ke layar ponsel yang kini menampilkan nama Astrid dan setelah menimbang-nimbang baik buruknya gua menekan tombol panggil, Nada sambung terdengar dua kali kemudian langsung disambut oleh suara Astrid, suara yang biasanya ceria kini terdengar lesu;

“Halo..”

“Halo, trid..?”

“Ya..”

“Lo balik ke Jogja?”

“Iya..”

“Nggak nunggu gua?”

“Nggak..”

“Kenapa?”

“Gua nggak mau ganggu elo..”

“…”

“Sekarang kan lo udah dapetin apa yang lo cari, mudah-mudahan lo bisa bahagia..”

“Yah, Astrid.. jangan sedih gitu dong..”

Gua menangkap kesedihan dari getaran suaranya di telepon.

“Ya lo tau kan gimana perasaan gua ke elo, cin.. dan itu nggak pernah berubah.. gua tau pada akhirnya gua bakal kecewa dan sedih.. tapi suatu saat nanti, gua bakal dateng lagi ke lo dan menagih jatah cinta buat gua…”

“Hah..??”

“Nggak becanda kok…”

“Sial..”

“Ciin, nggak ada sama sekali peluang buat gua ya?”

Gua terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari Astrid

“Licin..!!”

“Ya..”

“Nggak ada sama sekali peluang buat gua ya?”

“Maaf trid, gua punya cinta lain yang nggak bisa gua tinggalin…”

“Yaah.. yaudah sana, nanti sang putrid mu sudah menunggu.. gua baik-baik saja kok.. nggak usah dipikirin..”

“Triid.. Makasih, udah nolong gua selama ini…”

“Ah, santai aja… gapapa.. udah ya.. daaaa…”

Tut tut tut tut..

Astrid mengakhiri panggilan. Sementara gua masih menggenggam ponsel ditelinga kanan gua sambil menatap kosong ke depan, memandangi dedaunan yang jatuh tertiup angin dan mendarat diatas tanah, kemudian terinjak oleh kaki-kaki para mahasiswa yang tengah berjalan cepat keluar dari kampus, daun yang rela mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup si pohon.

Nggak lama, Ponsel gua bergetar, sebuah SMS masuk, dari Salsa; “Astrid nangis sejadi-jadinya nih, ngapain lagi lo pake telp dia segala, goblok!!”

Gua membacanya sekilas, kemudian bersandar pada bodi mobil sambil mengadahkan kepala ke atas dan membenturkannya beberapa kali.

Mencoba mengurai kenangan-kenangan saat bersama Astrid dan berusaha membuangnya jauh-jauh, saat ini gua sudah menemukan apa yang gua cari dan sepertinya gua nggak butuh lagi kenangan-kenangan itu. Gua tengah menyalakan rokok saat sebuah sedan datang dan parkir disebelah mobil gua, dari dalamnya bangku penumpang keluar sepasang muda-mudi. Sementara dibangku depan terdapat sepasang lainnya, terdengar sebuah lagu diputar dengan suara keras melalui stereo sound custom yang sepertinya berada di bagian bagasi mobil;

Janganlah pernah kau harapkan aku

Untuk dapat mencintai dirimu

Coba renungkan dalam hati kita

Perpisahanlah yang mungkin terbaik

Lupakan aku

Jangan pernah kau harapkan cinta

Yang indah dariku

Lupakan aku

Ku punya cinta lain yang tak bisa

Untuk kutinggalkan

Mungkin suatu saat nanti

Kaupun akan mengerti

Bahwa cinta memang tak mesti

Harus bersama

Dan setengah jam berikutnya, saat gua menghabiskan hisapan terakhir rokok filter dan membuang puntungnya, sebuah pelukan mendarat dipinggang gua, tanpa menoleh pun gua tau siapa dia dari aroma parfumnya. Desita

Gua tersenyum kemudian memutar tubuh, menggapai pinggulnya dengan tangan dan mengecup ujung kepalanya.

Malam ini mungkin bakal menjadi salah satu malam paling berkesan yang pernah gua lalui, tanpa tau rintangan apa yang bakal menanti didepan kami.


“Gua anter pulang ya..”

“Iya..”

Desita menjawab sambil mengangguk pelan.

Ternyata lokasi tempat tinggal Desita nggak begitu jauh dari pusat kota bogor, gua memarkirkan mobil di depan sebuah gang, namun kali ini bukanlah gang sempit, koto dan bau lagi, gang dimana gua berada saat ini terlihat lebih bersih dan lebih besar, kira-kira cukup untuk sebuah mobil masuk kedalamnya. Gua mengikuti Desita yang berjalan didepan, sambil memandang kesekeliling, melihat rumah-rumah mungil dengan desain yang amat minimalis, bersih dan rapi berderet, saling berhadap-hadapan. Kemudian Desita berhenti disebuah rumah mungil berpagar hitam dan mengajak gua masuk kedalamnya, rumah ini, jika ini benar rumah Desita maka jelas kalau ini lebih layak disebut tempat tinggal dibanding dengan yang ditempatinya dulu di Jakarta.

Desita membuka pintu dan kami disambut seorang wanita tua berdiri sambil tersenyum menyambut kami, dia memalingkan wajahnya dan memandang ke arah gua, senyum-nya terlihat menghilang.

“Dek, Solichin…”

“Iya bu.. apa kabar bu? Sehat?”

“Alhamdulillah sehat.. masuk-masuk..”

Gua pun menyusul Desita yang sudah lebih dulu masuk kedalam.

Gua duduk disebuah ruangan yang mungkin diporyeksikan sebagai ruang tamu, walau tanpa sofa, ruangan ini terlihat nyaman dengan karpet berbulu tebal sebagai alasnya ditambah bantal-bantal berukuran raksasa yang mungkin berfungsi sebagai aksesoris, pada dindingnya banyak terpajang foto-foto Desita bersama Ibunya dan satu foto yang sangat gua kenal, foto dimana Desita kecil mengenakan pakaian adat daerah tengah tersenyum. Disalah salah satu sudut ruangan terdapat sebuah meja pendek, hampir mirip dengan meja-meja yang biasa digunakan orang-orang jepang, dimana diatasnya terdapat sebuah PC dan monitor disebelah terdapat meja kecil lainnya tempat meletakkan televisi. Terdapat banyak stiker dan gambar-gambar kecil disisi depan televisi, gua mengamatinya; Foto gua dan Desita terpampang disana. Gua tersenyum sendiri kala melihat hal itu sementara Desita datang setelah mengganti pakaiannya dan langsung merebahkan kepalanya dipangkuan gua.

“Des.. dek solichinnya kan capek, masa langsung lendotan gitu sih..”

Ibu Desita berkata lirih sambil menepuk pelan kaki Desita.

Gua hanya tersenyum sambil menggeleng dan berkata; “Nggak apa-apa bu, biarin..”

“Eh, ula kitu… sana bikin minum..”

“Yaah..”

Desita terdengar sedikit menggerutu sambil bangkit dan pergi ke dapur yang terletak dibelakang.

“Dek, solichin…”

“Ya bu..”

“Desi sudah cerita?”

“Cerita apa bu?”

Kemudian si Ibu mulai bercerita tentang bagaimana Salsa mendatangi si Ibu dirumahnya waktu diJakarta dan malam itu gua habiskan dengan mendengar cerita dan penjelasan dari Ibu Desita sambil membelai rambut Desita yang mulai tertidur dipangkuan gua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *