Everytime – Chapter 6

Chapter 6 Content:

#39 Haru Biru

Gua memang pria yang nggak begitu pandai menyembunyikan emosi, tapi tiga tahun hidup tanpa Desita membuat gua terlatih memasang wajah tanpa emosi, dan wajah itu yang mungkin tampak saat ini. Saat dimana Ibu Desita bercerita tentang bagaimana Salsa, kakak perempuan gua satu-satunya merencanakan untuk menjauhkan Desita dari gua dengan alibi penolakan bokap.

Dibalik tampang dingin yang saat ini tampak, jantung gua terasa berdetak kencang, perut seperti terkocok-kocok dan perasaan seperti diaduk-aduk. Sambil memandang Desita yang tertidur dipangkuan, gua membelai rambutnya pelan kemudian mengangkat kepalanya dan memindahkannya keatas bantal besar yang berada disana.

“Des..des.. bangun atuh.. ada dek Solichin kok malah ditinggal tidur..”

Ibu Desita menepuk pelan kaki Desita, mencoba membangunkannya.

“Biarin bu, mungkin kecapean..”

Gua berkata sambil terus memandangi Desita yang masih terlelap.

“Kenapa ya bu, kok Salsa sampe segitunya ke Desita sama Ibu, saya jadi nggak enak..”

Gua bicara sambil berpaling ke Ibu Desita.

“Aduuh.. nggak apa-apa dek… lagian juga sebenernya Salsa teh niatnya baik kok..”

“Baik gimana, kalo baik kenapa Ibu dan Desita disuruh pergi..”

“Neng Salsa teh sebenernya nggak niat misahin kalian.. dia cuma nggak mau sampe ayah kamu yang turun tangan..”

Gua hanya bisa menggeleng, merasa nggak percaya dengan penjelasan Ibu Desita. Gua harus mendengarnya langsung dari Salsa. Dan gua butuh penjelasan itu sekarang.

Gua berdiri dan ingin bergegas kembali ke Jakarta.

“Saya pamit dulu deh bu…”

“Lho udah malem gini, mau balik ke Jakarta?”

“Iya bu..”

“Ati-ati lho, jangan ngebut..”

“Iya bu, saya pulang ya.. nanti titip pesen aja ke Desita, besok saya balik kesini lagi deh..”

Gua pamit ke Ibu Desita, sementara mata gua nggak lepas memandangi Desita yang (masih) terlelap. Sebelum pergi, gua mengambil ponsel Desita yang tergeletak dimeja, menghubungi nomor ponsel gua dengan ponselnya dan menyimpannya kedalam phonebook gua.

Berat sekali sebenarnya gua meninggalkan Desita saat ini, saat dimana gua baru bertemu dengannya setelah terpisah cukup lama. Mungkin jika bisa mengesampingkan rasa penasaran, kesal dan marah yang bercampur menjadi satu, gua nggak bakal rela melepaskan momen ini, pun hanya bisa sekedar memandangi Desita yang tengah tertidur. Langkah gua terhenti saat hendak membuka pintu mobil dan berjalan kembali ke dalam rumah. Ibu Desita memandang heran, kemudian bertanya;

“Ada yang ketinggalan?”

“Iya bu.. separuh hati saya selalu tertinggal disini..”

Gua menjawab sambil tersenyum, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan .. ckrek!! Mengambil gambar wajah Desita yang tengah tertidur dengan kamera Ponsel.

“Ya Allah, kirain teh naon…”

Ibu Desita bicara sambil tertawa dan menepuk pelan pundak gua, sementara gua kembali berjalan cepat menuju ke mobil.


Jam menunjukkan pukul satu dini hari saat gua tiba dirumah. Dengan mengabaikan rasa lelah dan lapar gua keluar dari mobil dan menghambur masuk kedalam rumah. Dari luar, gua memandang ke atas, ke arah kamar Salsa yang terlihat lampunya masih menyala, dengan cepat gua mendatangi kamarnya.

“Sa.. sa.. buka… “

Gua berteriak sambil mengetuk pintu kamar Salsa.

“Apaan sih lo, bleh teriak-teriak..”

Terdengar suara Salsa menjawab dari dalam kamar.

“Buka buruan!!”

Kemarahan gua sudah hampir mencapai puncaknya saat Salsa membuka pintu, gua menghambur masuk kedalam.

“Maksud lu apaan sih, sa.. pake nyuruh pergi Desita.. gua nggak abis pikir deh, kok bisa-bisanya lu, kakak gua sendiri malah yang bikin gua tersiksa selama ini..”

“…”

“..mikir nggak lu, sa..”

Salsa nggak menjawab, dia hanya diam dan melangkah kearah meja rias yang terletak disudut ruangan. Dia mengambil ponselnya dan melemparkannya ke arah gua, setelah itu dia menuju ke atas kasur dan merebahkan diri diatasnya.

“Baca tuh, SMS-SMS nya…”

Gua mulai membacanya.

Salsa bangun dari atas tempat tidur, dia mendorong gua keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Nggak seberapa lama pintunya terbuka kembali, Salsa mengelurakan kepalanya;

“Kalo udah selesai baca, dan lo mau minta maaf ke gua.. jangan harap gua maafin sebelum lo beliin gua parfum Hanae Mori yang Butterfly..”

Kemudian pintu tertutup lagi, kencang.

Gua hanya mengabaikannya, sebelum mengikuti instruksi nya untuk membaca pesan-pesan yang ada gua mengecek phonebook-nya. Sepertinya dia menyediakan ponsel khusus yang dipergunakan diluar keperluan pribadinya, diponsel ini hanya terdapat sedikit sekali contact list, beberapa diantaranya gua kenali sebagai nomor Desita dan nomor.. Astrid. Dan kemudian gua mulai membaca pesan-pesan yang berada disana, dimuali dari pesan-pesan dari tiga tahun yang lalu. Dan akhirnya gua larut dalam kalimat-kalimat singkat yang terkadang membuat gua sedikit menahan nafas dan shock.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi saat gua selesai membaca pesan-pesan diponsel Salsa. Gua membuka jendela kamar dan menyulut sebatang rokok sambil merenungi apa yang sudah dilakukan Salsa terhadap gua, begitu banyak yang sudah dia korbankan buat gua, adiknya yang jahanam ini. Dan betul kata Salsa, gua harus minta maaf kepadanya. Gua melemparkan puntung rokok melalui jendela dan bergegas menuju kamar Salsa.

“Sa.. sa.. “

Gua memanggil dan nggak ada jawaban, masih tidur.

Gua kembali kekamar dan memutuskan untuk meminta maaf kepada Salsa nanti pagi.


Gua terbangun saat sentuhan tangan lembut membelai pipi gua. Gua membuka mata dan melihat Ibu tengah duduk diatas kasur disisi gua.

“Bangun.. bleh, sarapan dulu..”

Gua bangun dan duduk diatas kasur.

“Salsa mana bu?”

“Udah berangkat..”

“Hah..”

Gua bangkit dari atas kasur dan segera menuju kekamar Salsa, kosong.

Gua bergegas kembali kekamar, mandi, berganti pakaian dan bersiap menyusul Salsa kekantornya.

“Salsa tadi pesen, katanya parfumnya jangan lupa”

Ibu berkata sambil menyiapkan sarapan untuk gua, kemudian mengambil tas jinjingnya, mengecup pelan kening gua dan pamit untuk berangkat bekerja.

Sementara gua hanya menggelengkan kepala sambil mengenakan sepatu kets kesayangan, kemudian sambil menggit roti isi buatan nyokap, gua bergegas menuju ke kantor Salsa.

Dimobil dalam perjalanan menuju kantor Salsa, gua mengeluarkan ponsel yang kini dengan background foto Desita yang tengah tertidur kemudian menekan tombol angka dua, speed dial untuk Desita.

Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara Desita menyambut pagi gua yang mudah-mudahan Indah.

“Halo Des.. ini gua..”

“Kamu kok pulang nggak bilang-bilang sih

“Udah malem, lagian mau bangunin kamu nggak tega..”

“Ih kamu mah.. sekarang dimana?”

“Masih di Jakarta..”

“Yaah kirain masih di bogor..”

“Ya nanti aku kesana..”

“Bener?”

“Iya..”

“Sekarang lagi ngapain?”

“Lagi mau kekantornya Salsa..”

“Ngapain,.. eh kamu jangan marah-marah sama Kak Salsa lho sol..”

“Nggak kok, tenang aja..”

“Awas ya kalo sampe marah-marah..”

“Iya.. yaudah deh, gua tutup ya..”

“Iya ati-ati..jangan lupa sarapan..”

“Hehe iya babe..”

Gua mengakhiri panggilan dengan senyum sumringah, kemudian mendari nama Salsa do phonebook dan menekan tombol panggil, gua menghela nafas sesaat sebelum menempelkan ponsel ke telinga.

“Halo..Apaan?”

“Sa, gua ke otw ke kantor lu nih..”

“Mau minta maaf?”

“Hehe Iya..”

“Bawa parfum nggak?”

“Nggak..”

“Yaudah balik aja, kan gua udah bilang.. bawa parfum!!”

Tut tut tut

Salsa mengakhiri pembicaraan sepihak.

Gua menekan tombol redial.

“Apa lagi?”

“Nama parfumnya apaan dah?”

“Hanae Mori Butterfly!!”

Tut tut tut

Salsa mengakhiri pembicaraan lagi yang kedua kalinya. Gua melemparkan ponsel ke jok sebelah kemudian mengalihkan arah mobil menuju ke sebuah mall yang terletak didaerah kuningan.


Ternyata punya kakak seperti Salsa ada banyak untungnya juga, selain rela mengorbankan sesuatu demi adiknya dia ternyata juga memperlakukan Desita dengan baik. Sore itu setelah mencari Parfum Hanae Mori Butterfly yang ternyata harganya hampir satu juta dan mengantarkannya untuk Salsa, dia mengajak gua untuk makan. ‘Gua yang traktir deh’ dia bilang begitu yang kemudian gua jawab; ‘ya iyalah, lu udah dapet parfum sejuta’. Sambil makan, Salsa menceritakan semua, semuanya.

Gua menghela nafas panjang saat Salsa selesai bercerita, sementara ponsel gua berdering, sebuah pesan masuk, dari Desita yang bertanya apakah gua jadi kebogor sore ini. Gua membalasnya singkat; ‘Jadi, sebentar ya’

“Siapa? Desita..?”

Salsa bertanya, gua hanya mengangguk.

“Trus gimana nih sa, kalo bapak ternyata nggak terpengarus sama rencana-rencana lu?”

“Ya lo pura-pura gila aja..”

“Ngaco..”

“Ato ngancem bunuh diri, kalo sampe nggak direstuin..”

“Tambah ngaco..”

“Ya terus gimana?”

Gua bertanya ke Salsa.

“Ya lo pikir dong, gua kan udah capek tiga taon mikir buat lo doang..”

“Bantuin mikir dong..”

“Udah ah, pusing gue..”

Salsa berdiri dan menagmbil tasnya, berniat pergi.

“Yah lu mau kemana?”

“Pulang!.. udah sono, samperin cewe lo, ntar ngambek lagi..”

Gua hanya berdecak pelan, kemudian berdiri dan menyusul Salsa keluar dari restaurant menuju ke mobil.


Sore itu, gua hanya bisa terbawa dan larut dalam perasaan yang campur aduk tidak menentu. Bagaimana tidak, setelah tersiksa selama tiga tahun, dipisahkan dengan orang yang dicintai, kemudian tau kalau keluarga sendiri yang punya andil besar melakukannya dan bokap gua sendiri penyebabnya. Sejauh yang gua tau, pasti sangat sulit untuk meruntuhkan hati bokap. Sambil mengandarai mobil menembus malam ditengah Tol menuju ke Bogor, gua mulai berfikir keras untuk mencari cara bicara dengan bokap.

Ponsel gua berdering, menari-nari di atas Dahboard mobil gua yang masih terlihat rusak berantakan. Desita menelpon.

“Ya Halo…”

Gua menjawab panggilan.

“Lagi dimana? Kok lama?”

“Lagi dijalan, iya sebentar lagi sampe..”

“Aku tunggu di kampus ya”

“Iya..”

“Ati-ati..”

Gua mengakhiri panggilan dan kemudian menambah kecepatan. Nggak sabar ingin segera bertemu dengan Desita dan mencurahkan semua masalah, meringankan keraguan yang ada didalam sini, didalam hati.

Nggak sampai satu jam setelah Desita menelpon, gua sudah tiba di area parkir kampus tempat Desita berkuliah, gua tengah mengambil ponsel dan berniat menghubunginya saat sebuah ketukan di kaca jendela mobil mengagetkan gua. Desita berdiri disisi mobil sambil tersenyum, sepertinya nggak perlu lagi digambarkan betapa cantiknya perempuan mungil ini, apalagi ditambah dengan balutan kemeja putih bergaris, celana denim hitam dan beberapa buah buku yang dipeluknya membuat dia semakin terlihat ‘aduhai’ dan ‘pintar’.

Gua membuka kaca dan memandangnya sekilas, kemudian berkata;

“Lu kok cantik banget sih hari ini Des..”

“Hah? Berarti kemarin-kemarin aku nggak cantik?”

“Cantik sih.. tapi.. hari init uh beda..”

“Gombal!”

Desita bicara sambil melangkah memutari mobil dan masuk melalui pintu penumpang bagian depan.

“Mau makan asinan nggak?”

Desita bertanya sambil duduk dan memasang sabuk pengaman.

“Asinan? Boleh…”

Kemudian gua mengarahkan mobil mengikuti patunjuk arah yang diberikan Desita, kami memasuki sebuah jalan yang ramai, dimana dikanan kirinya banyak terdapat toko-toko, seperti pasar, Desita menunjuk sebuah jalan masuk tertutup papan metal (seng) berwarna hijau, gua mengarahkan mobil masuk kesana dan ternyata didalamnya ada beberapa mobil dan motor yang berjajar rapi, seorang petugas parkir sibuk mengarahkan mobil sambil semprat-semprit.

“Priitttt.. “

“Dikit lagi om.. maju dikit.. yak.. yak.. balas.. balas.. op..op..”

Kami turun dari mobil disambut dengan senyuman si petugas parkir. Desita meraih tangan gua dan menggandengnya keluar dari tanah kosong tertutup Seng itu, kami berjalan sedikit keluar kearah barat dan berhenti disebuah warung dengan gerobak dan bangku-bangku kayu berjajar dibawah tenda terpal berwarna biru.

Nggak sampai menunggu lama, semangkok besar asinan hadir dihadapan kami berdua, sambil menyantap makanan yang menurut gua aneh itu; namanya Asinan tapi rasanya Asem.

Gua terus memandangi Desita yang tengah asik menikmati asinan, entah kenapa saat memandangnya sepertinya semua masalah yang gua punya terasa seperti menguap hilang.

“Des.. besok libur kan?”

Gua bertanya sambil tetap memandanginya.

“Libur.., kenapa?”

“Besok ikut ke Jakarta ya..”

“Hah, ngapain?”

“Kerumah gua, ketemu bokap..”

“Hah..”

Desita terlihat kaget dan terkejut mendengar perkataan gua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *