Everytime – Chapter 7

Chapter 7 Content:

#48 Here We Are Now

“Des.. i’ll stop this pain.. Gua janji!”

Gua bicara, mencoba memberinya semangat sambil tetap memeluk erat tubuhnya dan mengecup lembut ujung kepalanya. Desita mendongak, kemudian bertanya;

“How?”

“Nggak penting gimana caranya, apapun harga yang harus gua bayar.. gua bakal lakukan buat elu.. even jika harus menanggalkan nama belakang gua, maka akan gua lakukan buat lu..”

“Sol, jangan… aku nggak mau kamu dianggap durhaka gara-gara aku..”

“Terus..?”

Gua bertanya ke Desita, kami berdua saling pandang, saling menatap mata yang penuh dengan pertanyaan, penuh dengan keputus-asaan. Sambil berdiri gua menggandeng tangannya dan mengajaknya keluar.

Kami menunggu hasil sidang skripsi Desita sambil duduk disebuah kafe yang terletak nggak begitu jauh dari kampusnya. Dia duduk menyandarkan kepalanya dibahu sambil sesekali mendendangkan sebuah lagu yang tengah dimainkan diponsel gua melalui headset di kedua telinga-nya. Gua melepas salah satu headset tersebut ; “Nanti sore, gua anter lu pulang, dan lu siap-siap ya..”

“Hah? Ke Jakarta-nya hari ini?”

“Nggak, besok pagi aja..”

Gua menjawab yakin, sambil memutar cangkir berisi kopi dihadapan gua.

“Oh.. oke..”

Desita menjawab tanpa semangat.

“Des.. yang semangat doong.. biasanya lu paling semangat…”

“Hehehe.. iya.. Semangat!!”

Desita tersenyum sambil mengepalkan kedua tangannya.

“That’s my girl..”


Drrt..Drrt..Drrt..

Ponsel Desita begerak menari-nari diatas meja kafe. Dia meraih kemudian menjawab panggilan masuk tersebut. Setelah berbicara, cepat dengan seseorang diujung sana, Desita mengakhiri panggilan kemudian menatap gua. “Hasil sidangnya udah keluar..”

“Hah? Terus hasilnya gimana? Trus itu yang telpon siapa?”

“Temen aku.. yuk”

Desita membereskan buku dan ponsel, memasukkannya kedalam tas, serampangan. Tidak ada yang berubah dari perempuan ini, tetap slebor, tetap ugal-ugalan. Dia meraih lengan gua sambil menggerutu; “Cepeet..”.

Kemudian kami berdua berjalan cepat, menyebrangi jalan raya yang sibuk kemudian melintasi pelataran parkir kampus dan akhirnya sampai disebuah halaman luas yang berada tepat dibagian tengah gedung kampus, halaman ini berlantai keramik putih yang bagian atasnya terbuka, dikelilingi oleh bangunan-bangunan kampus yang membentuk huruf U. Desita menyeret gua menuju ke sebuah papan besar dengan banyak tempelan kertas-kertas yang diatasnya tertera sebuah tulisan besar; Fak. Ekonomi. Dia melepas genggaman tangannya kemudian masuk membaur ke dalam kerumunan mahasiswa yang juga tengah mencoba mencari nama mereka diatas kertas yang ditempel tersebut. Gua hanya mampu berdiri, sambil memandang beberapa mahasiswa yang tampak berlarian, tertawa puas, mungkin tau kalau dirinya lulus, dilain sisi tak ketinggalan beberapa mahasiswa yang tertunduk lemas bahkan ada yang sampai pingsan dan menangis sesenggukan, nggak perlu ditebak; mungkin mereka masuk ke golongan yang nggak lulus.

Setelah menunggu beberapa lama, Desita muncul dari dalam kerumunan, berjalan pelan ke arah gua sambil menatap layar ponsel-nya. Wajahnya datar, sangat sulit buat gua untuk menebak apakah dia lulus atau tidak. Desita memberikan ponselnya ke gua, sementara dia tanpa berkata apa-apa tetap berjalan melewati gua. Gua melihat ke arah layar ponsel-nya yang tadi diserahkan; sebuah foto yang sudah melalui proses pembesaran beberapa kali; disitu tertera nama Desita Rahmawati dengan keterangan; Lulus. Gua tersenyum kemudian mengejarnya, memeluknya dari belakang kemudian berbisik di telinganya; “Selamet ya sayang… sedikit lagi jadi Desita Rahmawati, SE deh..”

Dia memutar tubuhnya kemudian tersenyum; “Makasih ya sol, udah mau semangatin aku..”

Gua mengapit bahunya kemudian mengajaknya keluar dari kampus dan bergegas mengantarnya pulang. Besok, adalah hari yang penting buat gua, buat Desita, buat kami berdua.


Esok hari. Disebuah pagi yang baru, pagi yang penuh dengan harapan dan sebuah kisah yang menanti untuk dirajut. Gua berdiri disamping mobil sambil menunggu Desita, ponsel berdering beberapa kali, gua membuang puntung rokok kemudian mengambil ponsel dari dalam saku, dari layarnya terpampang foto dan nama Salsa. Gua menghela nafas panjang sebelum menjawab panggilan tersebut.

“Ya apaan, sa?”

“Lo masih di Bogor?”

“Masih, tapi nih udah mau balik..”

“Sama Desita kan?”

“Iya..”

“Nanti langsung mampir ke Cinere bisa?”

“Hah ngapain?”

“Udah jawab aja, bisa nggak?”

“Bisa.. “

“Nih gua SMS alamat lengkapnya..”

“Sa.. ngapain ke Cinere.. ?”

“Family meeting..”

Tut tut tut tut

Salsa mengakhiri panggilan, beberapa detik berselang sebuah pesan masuk, gua membuka pesan dari Salsa tersebut yang isinya sebuah alamat didaerah Cinere. Gua memasukkan ponsel kedalam saku saat Desita datang menghampiri sambil menggendong tas ranselnya, gua meraih tas-nya kemudian meletakkannya di bangku penumpang bagian belakang.

“Siapa?”

Desita bertanya, merujuk ke orang yang baru saja bertelponan dengan gua barusan.

“Salsa..”

Gua menjawab, Desita sedikit kaget mendengar jawaban gua.

“Nggak ada apa-apa kan?”

“Nggak.. nggak ada apa-apa..”

Gua menjawab santai, mencoba mencairkan suasana. Setelah Desita masuk kedalam mobil, gua menghampiri Ibu Desita yang berdiri nggak jauh dari pagar rumahnya.

“Bu, saya pamit ya..”

“Iya dek, titip Desi ya..”

“Iya bu..”

Setelah pamit, gua bergegas masuk ke mobil, membuka jendela disisi penumpang dan membiarkan Desita tersenyum melambaikan tangan ke Ibunya. Mudah-mudahan saat kembali kesini nanti, Desita dan Ibunya bakal tetap tersenyum seperti sekarang.

Dan beberapa menit berikutnya, kami sudah berada di jalan tol menuju ke Jakarta. Selama diperjalanan Desita hanya terdiam, sesekali dia memutar lagu, kemudian mematikannya, nggak lama memutar lagu kembali dan mematikannya, terus berulang-ulang. Sambil menyetir, gua meraih kepalanya dan mengecup keningnya;

“Kenapa sih gelisah banget?”

“Nggak tau nih, gugup gimana gitu..”

“Santai aja…”

Gua berusaha menghiburnya, padahal mungkin bisa jadi perasaan gua saat ini lebih gugup daripada Desita, tapi paling nggak gua harus menunjukkan sikap yang sedikit positif agar kita berdua nggak sama-sama berasa ‘cemen’.

“Iya nih lagi nyoba santai..”

“Mau denger lagu?”

“Lagu apa?”

Gua mulai mencari data lagu-lagu yang tersimpan di memori stereo-set baru yang berada di dashboard mobil. Kemudian gua menghentikan pencarian saat Desita menyerobot menekan tombol ‘play’, nggak lama sebuah nada berbunyi; ‘Smell Like Teen Spirit’-nya Nirvana berkumandang diseisi mobil.

With the lights out it’s less dangerous

Here we are now

Entertain us

I feel stupid and contagious

Here we are now

Entertain us

A mulatto

An albino

A mosquito

My Libido

Yeah

Dan boleh dibilang sepanjang perjalan dari bogor menuju Jakarta mobil gua kemudian berubah menjadi seperti ‘konser rock alternatif’ berjalan. Desita memutar lagu-lagu khas seattle sound’-, seperti Alice In Chain, Pearl Jam, Soundgarden sampai Weezer. Sesekali dia bertanya tentang isi musik yang sedang diputar dan gua berusaha menjelaskan semampunya.

“Kamu suka nggak sol, musik-musik grunge begini?”

“Suka..”

“Masa? Tampang kayak kamu kayaknya lebih cocok musik-musik old school macem Guns n Roses, Metallica, Black Sabbath atau Van Hallen deh..”

“Sial, tua banget kayaknya gua.. “

“Hahaha.. nggak kok becanda sol..”

“Menurut lo emang kenapa nama gua Inisalnya SS?”

“SS? SS dari Seattle Sound maksud kamu? Jangan-jangan bapak kamu suka juga sama Grunge?”

“Nggak lah, becanda itu mah..”

Dan entah akhirnya berapa lama waktu yang kami habiskan dengan membahas Nirvana, Cobain, Dave Ghroll, Pearl Jam, Weezer dengan Rivers Cuomo-nya bahkan sampai merembet ke British Invasion ala Beatle sampai ke Oasis dan Coldplay. Oke, gua akui untuk selera dan pengetahuan musik, Desita bisa dibilang bukan perempuan biasa. Mungkin jika dapat dirangkum dalam sebuah kalimat pendek, Desita bakal punya deskripsi seperti ini; Cantik, Bermata Biru, Cerdas, Mudah Bergaul, Bijaksana dan Punya Selera Musik Bagus. Siapa yang tertarik silahkan angkat tangan dan berbaris didepan mobil gua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *