Perlukah Dubbing Dalam Sebuah Film?

Perlukah Dubbing dalam sebuah film? – Di Indonesia ada kecenderungan film-film berbahasa asing untuk di sulih-suarakan atau bahasa kerennya di-Dubbing. Mayoritas film atau acara yang di dubbing adalah film atau acara untuk anak-anak, telenovela dan acara televisi berbahasa selain Inggris, kenapa? karena supaya calon audience (anak-anak, atau bahkan ibu-ibu) tak kesulitan mengikuti cerita dibanding dengan menggunakan subtitle yang biasanya muncul terlalu cepat. Ya masuk akal sih, kalau alasan yang digunakan untuk memudahkan anak-anak agar memahami isi cerita dan mungkin untuk ibu-ibu rumah tangga yang biasanya nonton sambil berkegiatan.

Tapi semakin lama, munculnya film-film dubbing-an ini menurut saya semakin ‘ngelunjak’ dan ‘Liar’. Sekarang, tak hanya film untuk anak-anak aja yang di dubbing, film film box-office yang tayang malam hari pun tak jarang kena proses dubbing, bahkan semacam acara-acara game-show jepang, bahkan salah satu laga ISL pernah melakukan dubbing. Hal ini tak lepas dari kesalahan konsep perkara jenis film itu sendiri.

Di Indonesia, masyarakat udah secara umum memandang film kartun itu untuk anak-anak (secara mayoritas memang benar tapi kalau meng-generalisir tentu saja salah, salah besar!). Scooby Doo, Doraemon, Ben10, Upin-Ipin, jelas masuk dalam kategori kartun untuk anak-anak dan (sangat) perlu untuk di dubbing, sedangkan kartun sejenis Naruto, One Piece, Dragon Ball merupakan kartun adaptasi manga, rata rata audience-nya adalah Remaja yang notabene tidak perlu dubbing-an, sedangkan kartun seperti Crayon Shinchan, The Simpsons, merupakan kartun untuk dewasa yang seharusnya tidak perlu di dubbing dan ditayangkan untuk anak-anak.

Oke, sebelumnya saya bakal kasih tau tentang apa itu dubbing;

Dubbing is a form of post-synchronized revoicing that involves recording voices that do not belong to the on-screen actors, speaking in a language different from that of the source text and ideally in synch with the film image [1]

http://www.filmreference.com/encyclopedia/Criticism-Ideology/Dubbing-and-Subtitling-DEFINITIONS.html

Biasanya, di luar negeri atau sebut saja negara dengan pola pikir maju, Dubbing tidak lazim digunakan untuk tujuan mempermudah anak-anak untuk memahami isi film/acara. Biasanya dubbing digunakan untuk mengganti kualitas suara yang jelek atau menambahkan jenis suara ‘lain’ kedalam film atau produk visual lain.

Baca juga : Pemeran Batman dari Masa ke Masa

Perlukah Dubbing
Perlukah Dubbing

Beda dengan di Indonesia yang tujuan awalnya adalah agar mempermudah anak-anak menikmati film, lalu lama-kelamaan bertranformasi menjadi sebuah ‘kewajiban’ untuk film asing. Menurut saya secara pribadi, proses dubbing banyak sekali menghilangkan emosi pada karakter yang ada di sebuah film. Ditambah lagi, suara dubber yang terdengar tidak match dan terdengar nggak natural.

Mari kita ambil contoh, film Arthur and The Minimoys yang di dubbing. Difilm tersebut, tokoh Putri Selenia diisi suaranya oleh Madonna dan Luc Besson. Si sutradara juga tak mungkin asal pilih Madonna sebagai pengisi suara dari Selenia. Diperlukan casting dan research untuk menyelaraskan jenis suara dan intonasi terhadap karakter yang sudah di buat.

Tak hanya itu saja, diperlukan juga berbagai tahap demi tahap untuk menghasilkan suara dalam karakter yang tepat dalam film, seperti pengisian suara, sinkronisasi dan lain-lain (yang butuh proses lama, sulit dan mahal). Namun, begitu masuk di Indonesia, film tersebut lalu di dubbing, oleh dubber yang ‘biasa-biasa’ aja, dan di arahkan oleh pengarah dubber yang juga tak sekelas Panos Asimenios (si pengarah dubbing film Arthur and the minimoys). What the hell…

Kesimpulannya, (menurut saya) orang-orang di pertelevisian Indonesia kebanyakan ‘menyepelekan’ sebuah film/acara yang di dubbing. Buat mereka, tidak masalah jenis film/acara apapun asal bisa ‘dimengerti’ semua kalangan maka bakal di dubbing.

Urusan konsep yang udah saya bahas di paragraf sebelumnya, seperti emosi pada karakter yang ada pada tokoh di sebuah film, suara dubber yang tidak match dan ditambah suara dubber terdengar tak natural bakal diabaikan. Padahal ‘suara’ adalah salah satu faktor yang bisa membuat sebuah film/acara semakin optimal.

So, Perlukah Dubbing?

73 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail