Review All Is Lost (2013)

Hal pertama yang menarik dari All is Lost selain tentang konsepnya yang tergolong unik adalah: ini merupakan satu-satunya dalam 100 tahun sejarah film dimana hanya melibatkan satu aktor. Sang aktor (Robert Redford), satu penulis naskah merangkap sutradara (J.C Chandor), namun diproduseri oleh 11 orang. Selama 106 menit kita akan disuguhi tayangan sinematik kelas kakap dengan akting brilian dari Om Robert yang akan bikin kalian meringis.

Baca juga : Review Shazam! (2019)

All Is Lost, konsep-nya hampir mirip dengan Cast Away-nya Tom Hanks atau Life Of Pi yang fenomenal itu. Bercerita tentang survival di laut lepas. Bedanya di film ini, hampir sepanjang film kita sebagai penonton hanya disuguhi sedikit sekali dialog. Robert Redford sukses berat membawa emosi penonton hanya melalui mimik dan gestur-gestur yang dibuatnya. Cerita diawali dengan Robert Redford yang (difilm ini dia sama sekali tidak diberi nama oleh si sutradara) sedang sailing sendirian dengan yacht-nya. Dia berlayar di sekitar samudera hindia (dalam teks diawal film disebutkan disekitar selat sumatera), kemudian dibangunkan oleh genangan air yang masuk kedalam yacht-nya akibat berbenturan dengan container yang mengapung dilautan. Dengan kondisi perahu yang sedikit rusak ditambah juga terkena terjangan badai, dia harus bertahan hidup ditengah laut. Berbekal kemampuan nautical yang baru aja didapet dari buku yang dibacanya.

Film dengan Konsep yang menarik

Overall, konsep filmnya cukup menarik. Plot-nya juga jelas, no flashbacks, no monologues and no voices on the other end of the 2-way radio, just sound of the nature. Apalagi akting Robert Redford yang bener-bener ciamik, walaupun tanpa dialog. Hanya melalui mimik serta gesturnya saja dia berhasil menyampaikan ‘sesuatu’ yang hanya bisa disampaikan lewat sebuah dialog. Sepanjang film kita hanya menangkap beberapa dialog seperti “Shit”, “Oh God” dan “Help”.

Oiya, waktu diputar di festival film cannes film ini sempat mendapat 9 menit standing ovation dari para penonton. Uniknya lagi, ternyata ide film ini datang dari si aktor; Robert Reford sendiri saat bertemu dengan J.C Chondor waktu pemutaran film (yang juga disutradarai oleh Chondor) Margin Call.

Film bagus ini, bukan tanpa kekurangan. Ada beberapa hal janggal yang muncul, seperti saat dimana Redford menggunakan handheld radio secara terbalik. Atau saat dimana diawal film terlihat dia bercukur tapi menjelang akhir film (yang notabene udah sekitar lebih seminggu) dagu-nya masih keliatan klimis bersih dari jenggot. Tapi, itu semua hanyalah bloopers kecil dan sama sekali tidak mengurangi esensi dari konsep film ini dan hal yang disampaikannya.

All is Lost
135 kali dilihat
Ads
cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail