Review Bumi Manusia: Cerita yang Terlalu Ringan untuk Sebuah Mahakarya Pramoedya Ananta Toer

Setelah sebelumnya kita membahas versi layar lebar dari novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer, kali ini kita akan membahas Bumi Manusia yang difilmkan oleh sineas Hanung Bramantyo.

Saya pertama kali mengetahui Bumi Manusia dari novelnya. Karya Pramoedya Ananta Toer ini adalah buku pertama dari Tetralogi Buru yang pertama kali diterbitkan di tahun 1980.

Novel ini bisa dibilang Mahakarya dari Pramoedya Ananta Toer. Tak heran, banyak rumah produksi yang tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar.

Saya pertama kali mendengar rencana film Bumi Manusia ketika Mira Lesmana dari Miles Film.

Setelah itu, kabar tersebut sempat menghilang hingga Falcon Pictures mendeklarasikan telah memegang hak untuk membuat film Bumi Manusia dan sempat menunjuk Anggy Umbara menyutradarainya.

Setelah beberapa waktu, Hanung Bramantyo telah resmi ditunjuk menjadi sutradara film Bumi Manusia.

Film Bumi Manusia berkisah tentang di masa penjajahan Belanda, Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah pribumi murid sekolah bergengsi H.B.S yang umumnya diisi oleh para siswa keturunan Belanda ataupun pribumi keturunan priyayi.

Bersama Surhoff (Jerome Kurnia), Minke diajak ke rumah sahabatnya Robert Mellema (Giorgino Abraham).

Di rumah itu, Minke bertemu dengan adik Robert, Annelies (Mawar Eva de Jongh), dan jatuh cinta. Hubungan mereka pun direstui oleh ibu Annelies, seorang gundik (istri kedua) Herman Mellema (Peter Sterk) yang bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).

Baca juga : Review Perburuan: Visual Mengagumkan dengan Plot dan Ritme Cerita Mengecewakan

Minke belajar banyak dari Nyai Ontosoroh yang menginspirasi Minke bahwa seorang gundik yang diibaratkan sebagai sosok yang terjajah tapi mampu mengambil sikap, mandiri dan penuh perlawanan akan ketidakadilan.

Namun gundik tetaplah gundik, budak tetaplah budak. Manakala dihadapkan pada hukum eropa, keduanya tak berdaya.

Peristiwa kedatangan anak pertama Herman Mellema, peristiwa kematian misterius Herman, serta tuntutan pewaris harta Herman mewarnai konflik film yang menguji keteguhan hati Nyai Ontosoroh dan intelektualitas Minke untuk melawan tirani yang membelenggu.

Mempunyai durasi 3 jam tampaknya tidak membuat Hanung Bramantyo mampu mengintepretasi cerita Novel Mahakarya Pramoedya Ananta Toer ini. Selain sisi romansa antara Minke dan Annelies, tak banyak hal yang bisa diperlihatkan dari film Bumi Manusia versi Hanung Bramantyo ini.

Patut dimaklumi karena Hanung Bramantyo menargetkan pasar lebih luas, khususnya generasi milenial, sehingga harus mengorbankan berbagai hal di novelnya. Seperti gejolak batin di balik kisah tokoh-tokohnya. 

Kompleksitas masalah dan adegan dalam novel dilepaskan dari penggambaran di filmnya. Misalnya, cara pikir dan pandang Minke yang berubah dari semula menganggap Eropa hebat dan kemudian berubah melihat pribumi yang sebenarnya memiliki kemampuan tak terkalahkan. 

Meski begitu, usaha Hanung untuk membumikan kisah Bumi Manusia tetap patut diapresiasi, meski dengan sejumlah catatan. Salman Aristo sebagai penulis naskah pun cukup lengkap menghadirkan alur cerita serta karakter-karakter.

Di antaranya momen pertemuan Annelies (Mawar Eva de Jongh) dan Minke (Iqbaal Ramadhan), kekaguman Minke pada Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), diskriminasi terhadap pribumi, hingga perlawanan di pengadilan kulit putih. 

Dari sisi akting, kekhawatiran seputar penunjukan Iqbaal Ramadhan sebagai sosok Minke memang benar-benar terjadi. Lekat dengan sosok Dilan, Iqbaal Ramadhan memang cukup mumpuni ketika harus beradegan romansa dengan Mawar Eva de Jongh.

Namun, hal ini berbanding terbalik ketika harus berakting di adegan dramatis yang tampak flop. Iqbaal Ramadhan sepertinya harus mencoba sekolah akting agar memperbaiki kekurangannya tersebut.

Sementara itu, Mawar de Jongh terbilang cukup baik membawa karakter Annelies. Yang masih menjadi catatan, karakternya yang kekanak-kanakan dan manja masih kurang tereksplorasi.

Bintang sebenarnya di film Bumi Manusia ini adalah Sha Ine Febriyanti. Pengalamannya di teater sepertinya mampu membantunya menjadi pelakon yang paling mencuri perhatian dengan superioritasnya menguasai adegan demi adegan.

Pembawaan Nyai Ontosoroh yang tenang dan anggun dan bisa seketika berubah tegas saat marah mampu memberikan warna ke tiap adegan yang ia lakoni. Sebuah nominasi Piala Citra aktris pendukung terbaik berpotensi mampir ke tangannya lewat peran ini.

Karakter lain yang patut mendapat apresiasi adalah Jerome Kurnia yang memainkan Robert Suurhof. Dalam adegan pembuka, kepiawaian Jerome bertingkah sebagai orang Eropa dengan kemampuannya berbahasa Belanda cukup mengesankan. 

Maiko, salah satu pelacur di rumah Bordil Babah Ah Tjong yang diperankan Kelly Tandiono turut menjadi salah satu karakter yang menarik.

Sayangnya, kisah hidup Maiko di film tidak diungkap secara mendalam. Padahal, ini menjadi satu bagian menarik tentang pergolakannya bertahan hidup.

Baca juga : Review Film Makmum: Horor Penuh Jump Scare yang Lumayan Meski Ditutup Mengecewakan

Dari sisi sinematografi, usaha Hanung untuk menghadirkan situasi kehidupan masa kolonialisme cukup berhasil.

Hanung pun cukup berhasil menciptakan adegan pembuka dengan menghadirkan arsip asli kehidupan masa kolonialisme dengan narasi yang disampaikan Minke, persis seperti di novel Pramoedya. 

Di balik itu, masih ada beberapa catatan teknis, khususnya pemilihan warna (tone) yang terlalu mencolok, kuning keemasan (layaknya film Falcon Pictures lainnya). Demikian pula beberapa bagian CGI yang kentara, terutama saat menampilkan gambar kapal pesiar. 

Overall, Bumi Manusia layak diberikan rating sebesar 7/10 karena tetap menjadi tontonan yang menarik untuk disaksikan meski ceritanya kurang ekplorasi dan terlalu ringan untuk sebuah Mahakarya Pramoedya Ananta Toer.

330 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail