Review Escape From Pretoria, Satu lagi Film Tentang Tahanan Kabur dari Penjara

Review Escape From Pretoria mengandung Spoiler!

Film bertema ‘kabur’ dari penjara bukanlah tema unik dikalangan film Hollywood. Sebelumnya sudah ada Shawshank Redemption, Escape from Alcatraz, The Way Back, The Next Three days dan yang paling sampah; Escape Plan -nya Stallone.

Escape From Pretoria merupakan kisah nyata adaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Tim Jenkins. Tim sendiri merupakan sosok mengalami langsung dalam upaya kabur dari penjara Pretoria. Sebuah penjara di Afrika Selatan dengan keamanan super maksimum.

Tim Jenkins (Daniel Radcliffe) dan rekannya Stephen Lee (Daniel Webber) merupakan sosok yang vokal, dimana mereka berdua tergabung dalam aktivis anti-apartheid. Keduanya adalah warga Afrika Selatan berkulit putih yang menentang politik Apartheid melalui partai bernama ANC (African National Congress). Politik Apartheid sendiri merupakan, gagasan dimana warga kulit hitam dianggap sebagai ras kelas dua setelah warga kulit putih.

Baca juga: Review Vivarium, Visual Ciamik dengan Ending Anti-Klimaks

Pada tahun 1978; Saat keduanya tengah membagi-bagikan selebaran penting yang berisi program kontradiksi terhadap politik Apartheid, mereka berdua ditangkap oleh polisi. Ya, bagaimana mau nggak ditangkap, mereka menyebarkan selebaran tersebut menggunakan bom berdaya ledak ringan, dengan maksud mencuri perhatian orang yang lalu lalang. Namun, tindakan mereka justru diketahui polisi, alhasil mereka berdua lalu ditangkap dan disidang dengan tuduhan ‘Aksi terorisme’.

Dalam sidang, yang mana pihak berwajib dan pengadilan masih dalam kekuasaan pemerintah pro Apatheid, Tim Jenkins didakwa hukuman penjara selama 12 tahun sebagai dalang pengeboman. Sementara. Stephen Lee diganjar hukuman selama 8 tahun.

Karena skala kejahatan yang dianggap sangat serius, keduanya lalu dibawa ke Penjara Tahanan Politik dengan pengamanan super ketat; Pretoria. Penjara tersebut memiliki keamanan berlapis, dengan penjagaan yang juga tanpa cela. Tim dan Lee sendiri menempati ruang tahanan dengan pintu tahanan ganda.

Di penjara Pretoria, Tim dan Lee bertemu dengan narapidana lain, Denis Goldberg (Ian Hart) yang merupakan tahanan politik kelas kakap dan sudah dianggap ‘sesepuh’ oleh tahanan lain di penjara tersebut. Mereka juga berkenalan dengan Leonard (Mark Leonard Winter) yang punya ambisi untuk kabur dari penjara tersebut karena kerinduan terhadap anaknya. Tim, Lee dan Leonard lalu bekerjasama untuk merencanakan kabur dari penjara, namun rencana mereka tersebut sempat mendapat tentangan dari Goldberg yang menganggap rencana kabur bukanlah sesuatu yang ideal. Goldberg lalu menceritakan kisah-kisah upaya kabur dari penjara tersebut yang selalu berakhir dengan kegagalan.

Dengan mengesampingkan saran dari Goldberg, Tim, Lee dan Leonard akhirnya terus melanjutkan minsi tersebut. Tim berusaha membuat duplikat kunci ruang tahanan dengan ukiran kayu yang ia dapatkan dari bengkel kayu tempatnya bekerja di penjara. Setiap hari Tim dengan bantuan dari Lee dan Leonard terus melatih skil kabur-nya dari penjara, hingga suatu hari mereka memutuskan untuk melaksanakan rencananya tersebut.

Baca juga: Review Bloodshot, Visual Ciamik dengan Cerita Pasaran

Sejatinya Escape From Pretoria memiliki plot cerita yang cukup intens. Francis Annan, sang sutradara berhasil menterjemahkan apa yang dialami oleh sosok Tim Jenkins kedalam sebuah visual yang akurat. Tempo ceritanya sendiri dibuat dinamis, agak lambat diawal film, kemudian berangsur-angsur berubah semakin cepat seiring dengan durasi film yang semakin menipis hingga mencapai klimaksnya; saat Tim, Lee dan Leonard tengah berusaha kabur.

Namun, plot cerita yang dihadirkan terkesan monoton. Hampir nggak ada konflik berarti antara Tim, Lee, Leonard dan Goldberg. Padahal, jika konflik internal dibangung lebih dalam lagi, bisa jadi film ini punya daya greget yang maksimal. So, peran protagonisnya nggak hanya ‘melawan’ sipir yang jahat dan kesepian akibat dikurung, tapi juga punya konflik batin yang bikin gelisah.

Akting Daniel Radcliffe, Ian Hart dan Daniel Webber terbilang sangat baik. Walapun, beberapa penonton sempat mengkritisi aksen Afrika selatan yang sama sekali nggak muncul melalui dialog-dialog yang mereka ucapkan. So, buat penonton yang ketinggalan scene awal-awal film, bisa jadi menebak setting lokasi penjara berada somewhere in Us or Uk.

Sinematografi-nya juga nggak begitu mencuri perhatian, selain wardobe a-la 70-an yang sempat muncul di awal-awal film. Saat didalam penjara, hampir nggak ada ‘clue’ untuk penonton mengetahui setting waktu yang tengah berlansung, selain dari penggunaan kunci dan gerbang-gerbang yang masih menggunakan metode manual.

Overall, Escape from Pretoria masih layak tonton dan cukup menghibur. Walaupun masih belum bisa sebaik Shawshank Redemption atau The Next Three Days, tapi paling tidak film ini masih jauh lebih baik dari Escape Plan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *