Review Film Gundala: Pembukaan yang Menarik Bagi Jagat Sinema Bumilangit

Sama seperti Bumi Manusia, adaptasi komik superhero lokal Gundala ke layar lebar ini sempat berlarut-larut dan tidak menemukan kejelasan.

Awalnya, Gundala sempat diisukan akan disutradarai oleh Hanung Bramantyo (bahkan sempat muncul posternya).

Hingga, rumah produksi Screenplay Films tiba-tiba mengumumkan kerjasama dengan Bumilangit, studio komik pemilik hak atas Gundala dan beragam superhero lokal lainnya.

Tak lama kemudian, Screenplay Films juga mengumumkan akan memfilmkan Gundala dan menunjuk Joko Anwar sebagai sutradaranya.

Setelahnya, rencana untuk membuat Jagad Sinema Bumilangit pun dimulai dengan 7 film yang akan dibuat setelah Gundala. Joko Anwar juga didapuk sebagai produser kreatif untuk menjaga benang merah cerita setiap film selanjutnya dari Jagat Sinema Bumilangit.

Film Gundala bercerita tentang masa lalu Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) diwarnai dengan berbagai tragedi, ayahnya (Rio Dewanto)meninggal karena ditusuk dalam sebuah demonstrasi buruh pabrik. 

Ibunya (Marissa Anita) pergi meninggalkan dia seorang diri sehingga Sancaka kecil harus hidup mengamen, menjadi kuli dan berbagai pekerjaan keras lainnya.

Baja juga : Review I Am Mother, Film Underrated yang Cukup Memuaskan

Kehidupan yang keras itu membuat hati nurani dan sisi kemanusiaannya hilang, Sancaka kecil hingga menjadi dewasa tidak lagi mau membatu orang yang sedang kesusahan atau mengurusi hidup orang lain.

Sampai suatu ketika keadaan kota semakin tidak aman dan ketidakadilan merajalela di seluruh negeri, Sancaka menjadi bimbang apakah tetap egois dengan mementingkan dirinya sendiri atau menjadi Gundala untuk membela orang-orang yang tertindas.

Di komik Hasmi, Sancaka adalah seorang peneliti jenius yang mencari serum anti-petir. Saking ambisiusnya, Sancaka digambarkan larut dalam eksperimen sampai-sampai hubungan dengan sang kekasih ambyar. Sancaka patah hati.

Sebagai pelampiasannya, ia berlari di tengah hujan deras (entah menangis atau tidak) dan tersambar petir.

Sejak itu, Sancaka punya kekuatan monumental dari Penguasa Kerajaan Petir, Kaisar Kronz, dan Raja Taifun dari Kerajaan Bayu. Sancaka lantas menjelma sosok Gundala yang mampu memancarkan geledek dari tangan dan berlari secepat kilat.

Meski berbeda dengan versi komik, karena Sancaka digambarkan sebagai seorang penjaga keamanan. Naskah yang juga ditulis oleh Joko Anwar ini justru tampaknya membuat karakter Sancaka sebagai superhero Gundala menjadi lebih humanis dan terlihat sangat realistis.

Awal film menjadi bagian terbaik dari keseluruhan Gundala. Naskah Joko membuat anak-anak sebagai simpul pembentuk cerita dalam semesta film Gundala.

Sancaka kecil misalnya, sudah tumbuh sebatang kara. Ayahnya, seorang aktivis buruh, tewas ditikam saat bentrok dengan aparat. Tak lama setelah itu, Sancaka ditinggal ibunya kerja di kota lain dan tak pernah kembali.

Hal inilah yang memaksa Sancaka bertahan di belantara dunia yang kejam. Demi sesuap nasi, ia menjadi pengamen jalanan, buruh kasar pelabuhan, hingga satpam. Tak jarang, Sancaka bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya karena sering jadi aim kekerasan oleh bandit-bandit muda.

Seperti Sancaka, masa kecil sang antagonis, Pengkor (Bront Palarae), juga tak kalah memprihatikan. Pengkor lahir dari keluarga kaya. Akan tetapi, privilese itu tak berlangsung lama.

Ayahnya difitnah telah membunuh seorang pekerja setelah menolak mengubah sistem kerja yang dinilai tak manusiawi di perkebunan miliknya. Keluarga Pengkor pun jadi sasaran amuk massa: rumahnya dibakar, orangtuanya dibunuh.

Pengkor dititipkan ke panti asuhan yang terkenal kejam yang sering membunuh atau memperdagangkan anak. Namun, nasib nahas itu tidak jatuh pada Pengkor. Ia justru memobilisasi anak-anak panti yang lain untuk memberontak dan membunuh para penjaga dengan sadis.

Dua realitas itulah yang pada perkembangannya turut berperan membentuk karakter Sancaka dan Pengkor di usia dewasa.

Sancaka jadi superhero yang masih dibayangi masa lalu, sementara Pengkor jadi mafia yang berupaya menciptakan tatanan sosial tersendiri dengan mengacaukan situasi sosial.

Anak-anak menjadi origin story dalam film Gundala. Sebuah pernyataan sikap bahwa kenyataan yang pahit bisa menimpa siapa saja, tak terkecuali bocah.

Formula semacam itu sebetulnya sudah lazim diterapkan di movie-movie superhero Hollywood. Peter Parker (Spider-Man) dan Bruce Wayne (Batman), misalnya, adalah superhero yang kehilangan orangtua ketika kecil.

Namun,Gundala adalah sebuah kasus unik, mengingat belum banyak film Indonesia hari ini yang menempatkan karakter anak dalam kondisi serba sulit.

Sebagai penggemar DC, saya pribadi sangat menyukai bagaimana Joko menciptakan kota untuk semesta film Gundala. Punya tone yang gelap, noir, dan suram.

Bahkan, Joko juga menghadirkan seorang karakter sidekick layaknya Jim Gordon untuk Batman di film Gundala. Meski begitu, tenang saja, Joko juga cukup banyak menyelipkan jokes-jokes ala Marvel yang mampu mengurangi kadar keseriusan film.

Selain itu, Joko juga cukup banyak menyisipkan  unsur-unsur politik dalam semesta film Gundala.

Yakni tentang serikat buruh yang melawan buruknya sistem kerja di pabrik, penjarahan, anggota dewan yang gampang dibeli, rusaknya keadaban masyarakat, serta isu masalah HAM di tahun ‘98 (ini juga termasuk hal yang saya sukai karena juga menggemari politik sayap kiri).

Perpaduan antara sinematografi dari Ical Tanjung dan set desain dari film ini nyari sempurna dan memanjakan mata, khususnya di awal-awal film. 

Mulai dari pelabuhan, percetakan, pasar, rumah susun, semuanya dikemas dengan komplit. Selain itu, scoring garapan Aghi Narotama, Bemby Gusti, dan Tony Merle membuat film Gundala tampak semakin berkelas.

Di bagian akhir, Joko menampilkan sebuah beberapa cameo kejutan yang (bisa) mempengaruhi jalan cerita dari sekuel film Gundala.

Salah satunya, jelas merupakan tribute terbesar bagi Hasmi, sang kreator Gundala karena menampilkan salah satu villain untuk sekuelnya, dengan cara yang sama di komik.

Namun, bukan berarti film Gundala tidak punya masalah. Joko Anwar tampaknya masih mewarisi region film-film Indonesia yang tingkat kesabarannya hanya sampai di tengah cerita lalu berlari terbirit-birit menjelang akhir. Alhasil, ada hal-hal yang tak tuntas terjelaskan.

Selain itu, Joko Tampaknya harus banyak belajar dari Gareth Evans (Merantau, The Raid, Berandal) dalam menggarap adegan fighting scene. Dalam film Gundala, adegan fighting scene memang tampak kurang smooth sehingga mengurangi estetika visualnya yang sudah menawan.

Selain itu, terlalu banyaknya karakter yang coba ditampilkan Joko dalam pembuka Jagat Sinema Bumilangit ini tampaknya sedikit mengganggu keseluruhan cerita. Pasalnya, banyak karakter yang hanya tampil seperti “selewat” saja dan kurang terjelaskan kehadirannya.

Terakhir, kesalahan yang menjadi masalah paling sulit diatasi di film-film Indonesia adalah CGI. Di beberapa adegan, tampilan CGI tampak kurang smooth yang tentu sangat disayangkan mengingat skala film Gundala yang cukup besar.

Well, meski begitu, pembuka rangkaian Jagat Sinema Bumilangit ini tetap sangat patut diapresiasi setinggi-tingginya. Pasalnya, ini merupakan genre baru di perfilman Indonesia.

Apalagi, beberapa film sebelumnya yang mencoba mengusung genre superhero lokal tampil sangat flop, sebut saja Garuda Superhero dan Valentine.

Baca juga : Review Bumi Manusia: Cerita yang Terlalu Ringan untuk Sebuah Mahakarya Pramoedya Ananta Toer

Apalagi, banyak netizen yang biasanya cenderung langsung “nyinyir”, seperti mengkritisi CGI atau fighting scene, dan hal-hal lainnya seolah seorang kritikus film profesional. HELLO, GAK BISA DIPUKUL RATA GITU DONG!!

Buat saya, saat menonton film Gundala, setidaknya kalian harus coba turunkan sedikit ekspektasi dan berhenti membanding-bandingkan segalanya dengan Hollywood!

Setidaknya, cerita film Gundala (khususnya di babak pertama) adalah sesuatu yang sangat orisinil bagi saya yang bahkan (mungkin) tidak akan dipikirkan oleh Disney dan Marvel sekalipun.

Terlepas dari beberapa kekurangan, Joko Anwar memang terbukti cukup pandai meramu cerita superhero, lepas dari genre favoritnya yakni Thriller dan Horror.

Jadi, buat kalian yang tidak ingin perfilman Indonesia akhirnya hanya akan diisi kembali oleh Horor “Sampah”, Drama “FTV”, dan Komedi yang cuma mengandalkan Komika buat melucu, tidak ada salahnya untuk mencoba menyaksikan Gundala.

Overall, Gundala  layak diberikan rating sebesar 8/10 karena menjadi pembuka yang menarik bagi Jagat Sinema Bumilangit dengan cerita yang ditawarkan, terlepas dari beberapa kekurangannya (yang minor buat saya).

348 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail