Review Film Dua Garis Biru: Debut Memuaskan Gina S. Noer Sebagai Sutradara

Saya mengenal Gina S. Noer lewat karya-karyanya sebagai penulis naskah. Beberapa naskah film box office Indonesia pun berkualitas pernah ditulis olehnya, seperti Habibie & Ainun, Posesif, Ayat-Ayat Cinta, dan Keluarga Cemara. Selalu rapi, tertata, dan terkadang memainkan diam yang tersembunyi.

Ada makna-makna tersendiri dari naskah yang pernah ditulis oleh Gina. S. Noer. Membiarkan penonton larut dalam alunan ceritanya. Namun, di film Dua Garis Biru, Gina S.Noer tak lagi menjadi penulis naskah.

Review Dua Garis Biru

Kali ini, ia menjalani debut sebagai sutradara, mencoba keluar dari kursi nyaman sebagai penulis naskah. Hasilnya, film ini tetap terasa bergaya Gina. S Noer.

Elemen yang paling kental dari film ini adalah cinta dan keluarga. Ciri khas yang memang begitu melekat ketika Gina memainkan jari-jarinya dan mematangkan ide-ide dalam mengisahkan cerita film. Dua Garis Biru bisa disebut sebagai bagian dari Gina S. Noer yang belum tersampaikan.

Film Dua Garis Biru menceritakan kisah asmara Dara (Zara JKT 48) dan Bima (Angga Yunanda) berawal dari persahabatan, kemudian mereka memutuskan untuk berpacaran. Kisah asmara di usia 17 tahun membuat mereka merasa saling melengkapi, sebab mereka bisa jadi diri sendiri, kebodohan bisa ditertawakan, dan kerapuhan tak perlu ditutupi.

Baca juga : Review It Follows, Film Horor Ber-Budget Rendah dengan Kualitas Indah

Namun suatu ketika, mereka melakukan hal yang di luar batas kewajaran dalam berpacaran.

Keduanya harus menerima kenyataan jika Dara tengah hamil buah cintanya dengan Bima.

Di usia yang masih sangat belia, tentu dari pihak orang tua terjadi pertentangan dan konflik, mengingat anaknya hamil di luar nikah sedangkan Bima jadi ikut bersalah.

Review Dua Garis Biru

Sebagai salah satu penulis naskah senior, debut Gina S. Noer sebagai sutradara film Dua Garis Biru ini mampu membawa penonton hanyut dalam dialog dan penuturan tanpa jarak dan sekat antar pemain.

Para penonton pun seperti diajak membaca naskah yang runtut, dibantu dengan visualisasi kedua karakter utama yang diperankan secara prima oleh Angga Yunanda dan Adhisty Zara.

Gina S. Noer meramu setiap dialog yang dihadirkan dalam Dua Garis Biru tak hanya sekadar interaksi, namun menyimpan banyak makna tentang ekukasi seks terhadap remaja.

Baca juga : Review Passengers, Film Sci-Fi Dengan Konsep yang Segar

Gina S. Noer membuat alur cerita Dua Garis Biru dengan landasan yang jelas sejak awal. Konflik pun dibiarkan menganga agar terasa jelas. Hasilnya?

Cerita film ini tegas dan jelas. Plus, ada solusi yang diberikan di dalam film ini. Pilihan-pilihan solusi yang membuat situasi menjadi campur aduk. Haru, kepolosan remaja, kehanngatan keluarga hingga tawa benar-benar menyatu di dalam filmnya.

Dua Garis Biru bisa disebut sebagai bagian dari Gina S. Noer yang belum tersampaikan. Tertata rapi, namun dibiarkan membisu. Membuat penonton punya kesempatan untuk menentukan sendiri pilihan apa yang mereka lakukan ketika sudah terhanyut dalam ceritanya.

Dua Garis Biru merupakan sebuah film drama remaja yang berkelas, ketika banyak produksi film-film lainnya yang hanya menawarkan cerita standar “FTV”.

Kali ini, Gina S. Noer kembali membuktikan bahwa naskah cerita yang baik adalah landasan dari sebuah film berkualitas. Sama seperti kata Alfred Hitchcock, “To make a great film, you need three things-the script, the script, and the script”.

Overall, Dua Garis Biru layak diberikan rating sebesar 8.5/10 karena menyajikan cerita berkelas di atas film remaja pada umumnya dan yang lebih mengejutkan karena ini merupakan debut dari seorang penulis naskah yang sering dikenal dengan karya-karya “pop”.

384 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail