Review Film Joker: Representasi Kebobrokan Sistem Sosial di Masyarakat yang Melahirkan ‘Si Badut’

Joker merupakan salah satu karakter paling ikonik yang dimiliki oleh DC Comics. Bagaimana tidak, Joker kerapa digambarkan sebagai musuh abadi dari Batman, superhero penjaga kota Gotham.

Padahal, jika dibandingkan dengan secara logika, ketimbang musuh-musuh Batman lainnya, Joker mungkin adalah villain terlemah karena tidak punya kekuatan super apapun.

Joker tidak sekuat Bane, tidak bisa membuat orang berhalusinasi layaknya Scarecrow, tidak bisa mengontrol tumbuhan seperti Poison Ivy, ataupun membekukan orang kayak Mr.Freeze.

Lantas, apa yang membuat Joker begitu berbahaya dan pantas dijadikan musuh abadi sang ‘Caped Crusader’? Jawabannya tentu saja karena kegilaan yang membuatnya ia begitu kejam dan brutal sehingga patut ditakuti di kota Gotham.

Namun, Todd Phillips (The Hangover Trilogy, Due Date) kali ini mencoba menceritakan ‘si badut’ dari sisi lain. Melalui naskah yang ia tulis bersama Scott Silver, Todd ingin menampilkan masa lalu dan kehidupan sang Joker ketika masih bernama Arthur Fleck. Berikut ini sinopsisnya!

Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) merupakan seorang pria yang berprofesi menjadi badut di perusahaan hiburan bernama Haha’s. Arthur hanya tinggal berdua dengan ibunya (Frances Conroy) di sebuah apartemen yang kumuh dan tidak terawat.

Baca juga : Review Film Ready Or Not: Slasher dengan Premis Ringan yang Punya Eksekusi Cerita Mengagumkan!

Arthur sendiri memiliki riwayat gangguan jiwa, yang ditandai dengan ketidakmampuan mengontrol tawa. Dia bisa tertawa tanpa henti dan tidak terkendali, tidak peduli pada situasi apapun.

Arthur mendapatkan perawatan dari Layanan Sosial kotra Gotham berupa konseling gratis dengan psikolog dan obat-obatan yang harus ia konsumsi. Dengan bantuan layanan sosial itu, Arthur masih dapat menjalani kehidupan normal seperti bekerja dan merawat ibunya.

Gangguan yang diderita Arthur tersebut kerap membuat dia di-bully oleh orang-orang yang melihat keanehannya tersebut. Berbagai penderitaan dan kekecewaan hidup yang dia alami membuat Arthur menjadi brutal, melakukan beberapa pembunuhan.

Inilah yang membuat Arthur menjadi seorang Joker, penjahat yang melakukan aksi kejahatannya dengan topeng badut.

Butuh kesiapan mental untuk bisa menerima dan memahami segala hal yang dilalui oleh Arthur Fleck. Dalam konteks ini, sutradara Todd Phillips sungguh tak membuat Joker sebagai hiburan yang mudah ditelan begitu saja.

Konflik-konflik sosial seperti masalah kesehatan mental, benturan antar-kelas, hingga politik manipulatif ditampilkan secara nyata dan gamblang.

Termasuk perjalanan kejiwaan Fleck, dari semula seorang yang tertindas menjadi penjahat berdarah dingin yang tidak merasakan apa-apa ketika mengambil nyawa seseorang.

Untuk film Joker yang ini, saya benar-benar secara keras memperingatkan agar benar-benar mematuhi aturan rating terkait klasifikasi usia dari lembaga sensor. Joker sungguh dibuat untuk penonton usia 17 tahun ke atas.

Peringatan ini bukan hanya terkait aksi kekerasan fisik di dalam film, tapi juga kedewasaan dalam menerima pesan di dalam film.

Selain itu, penonton yang memiliki masalah kesehatan mental atau depresi akan jauh lebih bijak menghindari film ini. Atau mintalah pendampingan dari orang terdekat bila kukuh ingin menyaksikannya.

Peringatan ini bukan sekadar menakut-nakuti atau pun berlebihan. Todd Phillips bukan hanya menggambarkan segala kepiluan Arthur Fleck, namun membawa penonton ikut merasakannya (saya sendiri mengalami depresif selama setengah jam setelah menontonnya).

Saya sendiri sangat terkejut dan kagum mengingat film ini dihasilkan oleh sutradara yang terkenal akan film komedi ‘bodor’ seperti The Hangover Trilogy dan Due Date. Todd Phillips jelas berhasil melewati semua ekspektasi saya sehingga pantas diberikan apresiasi setinggi-tingginya.

Berada dalam kurun waktu di tahun 1981, Joker menceritakan awal mula kekacauan kota Gotham. Joker sendiri tampak jelas ter-influence dari film Taxi Driver dan King of Comedy yang sama-sama dibintangi Robert DeNiro.

Uniknya, Robert DeNiro juga turut diikutsertakan dalam film ini sebagai Murray Franklin, host acara TV terkenal yang diidolai oleh Arthur Fleck.

Selama ini kita melihat sosok Joker yang tiba-tiba tampil sebagai penjahat dengan motif yang tidak jelas. Secara tak terkendali menebar teror tanpa mengejar kekuasaan maupun materi.

Kita hanya mengenalnya sebagai Joker, badut gila yang tidak percaya akan apapun kecuali kehampaan dan kekacauan.

Namun, Todd Phillips merancang sosok Arthur Fleck sebagai pria yang selalu mengalami penindasan dan kesialan bertubi-tubi. Tak terhitung berapa kali ia harus menanggung malu karena tak bisa mengontrol tawanya.

Berapa kali ia harus terbaring pasrah dan membiarkan orang-orang memukulinya hingga puas.

Banyak hal telah dilalui oleh seorangg Joker sebelum kehilangan kepercayaannya dan tidak memiliki alasan lagi untuk menjadi baik.

Setiap manusia mempunyai batas kesabaran, begitu pula Arthur Fleck. Setelah bertahun-tahun membiarkan dunia mengurusnya, Arthur akhirnya menarik pelatuk untuk pertama kalinya pada 3 pria sekaligus untuk meluapkan amarahnya. And he doesn’t regret it!

Arthur justru merasakan sensasi memuaskan setelah meluapkan kekesalannya dengan membalas orang-orang yang menertawakannya.

Kepuasan tersebut semakin terasa ketika identitas anonimnya sebagai badut pembunuh menjadi ikon dari protes orang miskin pada golongan kaya di kota Gotham. Kembali lagi tentang kesenjangan sosial yang tengah terjadi.

Mulai memasuki transisi Arthur Fleck sebagai Joker, kehidupan pria malang ini semakin memburuk. Ketika dirinya mengetahui bahwa dia bukan anak kandung ibunya melainkan anak adopsi.

Tak diadopsi dengan baik, ia mengalami kekerasan, membuat saraf di otaknya memiliki gangguan yang membuat kehidupannya sengsara seperti sekarang.

Hanya butuh satu hari buruk untuk merubah Arthur Fleck menjadi Joker. Sekarang kita paham apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut dari seorang Joker.

Hal ini juga membuktikan bagaimana Todd Phillips menciptakan karakter Joker yang tidak lepas dari cerita yang telah ada di film animasi Batman: The Killing Joke yang dirilis di tahun 2016.

Gilanya, Todd Phillips juga menampilkan 2 konklusi tentang asal usul Arthur Fleck. Kedua konklusi ini yakni ia sebenarnya adalah anak dari Thomas Wayne serta ia benar-benar anak adopsi dan ibunya beneran delusional.

Belum lagi, sosok Arthur yang ‘sakit’ sepertinya mewarisi penyakit delusi seperti Ibunya. Adegan delusinya bisa kita lihat saat ia pertama kali menonton Murray Franklin Live Show dan saat ia punya kekasih khayalan.

Di akhir cerita, lagi-lagi Todd Phillips seperti mempermainkan kita kembali dengan menghadirkan adegan rumah sakit jiwa yang tampak seperti di awal film ketika intro scene saat Arthur berkonsultasi dengan psiakater.

Belum lagi, scene kedua sebelum akhir film semakin memperteguh alasan kenapa Joker pantas menjadi musuh abadi dari Batman. Coba aja bayangin, Joker lahir dari rakyat yang ada di kasta terbawah Kota Gotham.

Saking buruknya kehidupannya layaknya sebuah tragedi, ia memilih ‘fucked up’ dan membebaskan diri dengan jadi orang gila seutuhnya.  

Sementara Batman lahir dari kasta teratas Kota Gotham, yakni kalangan orang super kaya. Berawal dari tragedi kedua orang tuanya terbunuh, ia pun turun ke jalan dan memerangi kejahatan. Joker dan Batman adalah tentang perselisihan kedua kelas yang ada di sistem sosial masyarakat.

Apalagi, di film ini semakin diperkuat dengan bangkitnya Joker sebagai simbol pemberontakan masyarakat kepada orang kaya di Kota Gotham sehingga menewaskan Thomas dan Martha Wayne.

Hal ini masih ditambah (kalau ini benar-benar terjadi) konlusi tentang Arthur Fleck sebagai Anak Thomas Wayne yang artinya dia menjadi saudara tiri dari Bruce Wayne.

Joaquin Phoenix juga pantas mendapatkan apresiasi dan atensi terbesar. Demi memerankan sosok Joker, Joaquin Phoenix sampai melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badannya hingga lebih dari 25 kg.

Joaquin Phoenix juga diketahu berulang kali mengunjungi rumah sakit jiwa untuk mempelajari ‘Pathological Laughter’.

Secara pribadi, saya sangat menyukai karakter tertawa khas Joker yang ditampilkan oleh Joaquin Phoenix. Alih-alih mencoba mengikuti tertawa khas Joker yang ditampilkan oleh Heath Ledger yang tampak sangat tampak seperti orang sinting dan ‘psikopat’.

Baca juga : Review Film Portrait of A Lady on Fire: Potret Cinta Sejenis yang Terkungkung Budaya Patriarki di Abad 18

Tertawa khas Joker yang ditampilkan oleh Joaquin Phoenix tampak sangat ‘painful’ dan depresif. Seolah tertawa hanya satu-satunya jalan baginya untuk ‘speak up’ dari ketidakadilan yang ia dapatkan.

Hampir dari awal hingga akhir, wajah Joaquin Phoenix si pemeran Arthur Fleck benar-benar mengisi film ini. Todd Phillips benar-benar paham bahwa untuk membawa kita masuk ke dunia Joker, ekspresi wajah adalah kunci.

Jadi jangan heran jika wajah Joaquin Phoenix dan ekspresinya benar-benar memainkan emosimu sepanjang durasi film ini.

Kehadiran musik pengiring pada film ini juga menjadikan film ini begitu realistis. Musik-musik besutan Hildur Guðnadóttirmembuat alur film menjadi lebih hidup, beberapa hal dapat disampaikan tanpa kata yang terucap, hanya melalui gambar dan musik.

Overall, Joker pantas layak diberikan rating sebesar 9.2/10 karena menyajikan naskah, sinematografi, akting, musik pengiring, serta keseluruhan aspek film lainnya dengan sangat baik sehingga tidak mengherankan berhasil meraih Golden Lion di Venice Film Festival.

370 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail