Review Film Parasite: Sajian Black Comedy Berbalut Isu Sosial yang Sangat Mengagumkan!

Review Film Parasite

Review film Parasite – Sejujurnya, Parasite merupakan salah satu film produksi Korea Selatan yang sangat saya tunggu-tunggu perilisannya di tahun ini. Hal ini mungkin bersifat subyektif lantaran saya sangat menyukai karya-karya dari sineas pembuatnya, Bong Joon-ho.

Saya pertama kali menyukai film buatan Bong Joon-ho saat menyaksikan Mother, sebuah film noir yang mengangkat premis cerita tentang seorang Ibu yang berjuang untuk membuktikan bahwa anaknya yang mengalami gejala autisme tidak bersalah dalam kasus pembunuhan.

Selanjutnya, saya terus mengagumi karya-karya dari sineas berusia 49 tahun ini yang tak pernah mengecewakan seperti Snowpiercer, Okja, ataupun karya lamanya yakni Memories of Murder atau Barking Dogs Never Bite.

Baca Juga : Kucumbu Tubuh Indahku: Mempertanyakan Batas Antara Feminitas dan Maskulinitas dalam Kisah Penari Lengger

Parasite bercerita tentang kisah keluarga yang hidup di bawah jurang kemiskinan, keluarga ini terdiri dari seorang ayah bernama Ki-taek (Song Kang-ho), istrinya bernama Chung Sook (Jang Hye-jin), anak laki-laki bernama Ki-woo (Choi Woo-shik) dan anak perempuannya bernama Ki-jung (Park So-dam).

Review Film Parasite

Suatu hari, Ki-woo mendapatkan pekerjaan sebagai guru les privat bahasa Inggris untuk anak perempuan dari keluarga Park yang kaya raya. Sejak Ki-jung masuk ke dalam rumah super mewah itu, serangkaian kejadian mengejutkan pun dimulai.

Baca Juga: Stranger Things Season 3 Rilis Final Trailer-nya

Kepura-puraan, satu kata ini mungkin cukup jelas untuk menggambarkan bagaimana film Parasite ini divisualisasikan. Bong Joon-ho kali ini menampilkan manusia sebagai sosok yang abu-abu, tak ada protagonis maupun antagonis.

Review Film Parasite

Tampil dalam format black comedy, Parasite memperlihatkan bagaimana orang-orang miskin menghalalkan berbagai cara untuk menjadi orang kaya. Di lain sisi, Bong menampilkan bagaimana orang kaya berpandangan negatif dan merendahkan harkat dan derajat orang-orang yang tingkat ekonominya jauh di bawahnya.

Tak hanya itu, Bong Joon-ho juga menampilkan orang-orang kaya sebagai sosok yang tidak mampu menjadi orang tua yang baik bagi anak mereka.  Selain itu, para orang kaya juga terlihat tidak mampu melakukan pekerjaan rumah yang cukup simpel seperti mencuci piring.

Bong Joon-ho membuat film Parasite penuh dengan kritik sosial yang dirangkai secara subtil maupun keras serta apa adanya. Hal ini tampak dari visualnya yang secara jelas menampilkan rumah keluarga kaya yang benar-benar di atas bukit.

Sedangkan rumah keluarga miskin terpisah dengan berbagai tangga-tangga yang seakan tidak ada habisnya sampai ke dasar, bahkan memang benar-benar berada di bantaran sungai.

Menjelang akhir, Bong Joon-ho seakan meluapkan “amarah” kepada ketimpangan sosial di Korea Selatan, dia tidak lagi bermain dalam suasana subtil melainkan suasana yang benar-benar diungkapkan secara gamblang dan apa adanya.

Baca Juga: Trailer Queen & Slim: Film Crime-Thriller Terbaru Daniel Kaluuya

Akhirnya, penonton pun akan dibuat untuk mempertanyakan diri sendiri. Siapa saya? Manusia? Atau monster kecil yang kini sudah besar dan menyamar di tengah-tengah manusia? 

Seusai menyaksikannya, saya pun langsung paham kenapa Parasite menjadi film Korea Selatan pertama yang mendapatkan penghargaan tertinggi di festival film Cannes, Palme d’Or, bahkan dipilih secara mutlak oleh para juri termasuk sineas Alejandro González Iñárritu.

OverallParasite layak diberikan rating sebesar 9.3/10 karena menghadirkan isu kritik sosial dalam format black comedy yang satir, menohok, dan ditutup dengan akhir sempurna.

Review Film Parasite
812 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail