Review Film Pariban: Idola dari Tanah Jawa – Sajian Mengecewakan dari Sineas Pembuat Love For Sale

Saya sudah mengenal film-film Andibachtiar Yusuf sejak ia merilis Romeo & Juliet (2003), Hari Ini Pasti Menang (2013), hingga karya terbaiknya sejauh ini yaitu Love For Sale (2018).

Kali ini, sutradara yang kerap menyisipkan unsur olahraga dalam filmnya ini dipercaya oleh rumah produksi debutan, Stayco Media untuk menyutradarai film berjudul Pariban: Idola Dari Tanah Jawa.

Dipimpin oleh duo lead cast yakni Ganindra Bimo dan Atiqah Hasiholan dengan dukungan Rukman Rosadi, Dayu Wijanto, Rizky Mocil, Surya Insomnia, Joe P-Project serta Mak Gondut sebagai pemeran pendukung.

Film Pariban: Idola Dari Tanah Jawa ditujukan untuk tidak hanya memberikan suguhan film bergenre komedi romantis biasa, melainkan sebagai perkenalan dan perayaan akan keindahan budaya tradisional Batak.

Film Pariban: Idola Dari Tanah Jawa bercerita tentang Halomoan Brandon Sitorus (Ganindra Bimo)atau biasa dipanggil Moan, adalah definisi pria sukses di Jakarta.

Seiring kesuksesan kariernya di usianya yang ke 35 tahun, Moan dihadapkan pada tekanan untuk menikah oleh sang Mamak (Mak Gondut).

Tabiat Moan yang playboy, gemar gonta-ganti pasangan ini terusik ketika Mamak meminta Moan untuk menemui paribannya di kampung untuk diajak menikah dengannya.

Menikah, apalagi dengan Pariban yang berarti sepupu yang berhak dinikahi dalam adat batak bukanlah menjadi tujuan bagi Moan yang masih ingin bersenang-senang dalam hidup. Namun, ancaman dan paksaan orangtua, serta rasa penasaran akan sosok paribannya membuat Moan terpaksa menemui sang pariban di kampung.

Di luar dugaan Moan, Uli Silalahi (Atiqah Hasiholan), sang Pariban, puteri Tulang Palmor (Rukman Rosadi) sangatlah cantik dan sukses memikat hati Moan.

Sayangnya, usaha Moan untuk dekat dengan Uli terhalang oleh Binsar (Rizky Mocil), pemuda kaya raya yang juga terpikat dengan kecantikan Uli.

Persaingan keduanya untuk menarik perhatian Uli pun tidak terhindarkan, melibatkan pertandingan catur dan berbagai intrik lain sampai tiba waktunya Moan pulang ke Jakarta dan mengajak Uli ikut serta. Bersediakah Uli ikut ke Jakarta bersama dengan Moan?

Pesan yang ingin disampaikan filmnya sebenarnya cukup bagus, Pariban: Idola Dari Tanah Jawa mengangkat budaya Sumatera Utara.Film ini akan memperkenalkan kita pada tradisi perjodohan khas Batak (pernikahan antar sepupu) yang memiliki marga keluarga sama.

Mengusung genre komedi, film ini menunjukkan kepada kita gimana sistem Pariban ini kadang menjadi momok, namun juga seringkali menjadi langkah ampuh dan aman untuk mendapatkan jodoh. 

Sejak awal film, kalian akan disuguhi dengan adegan komedi slapstick dan jokes ‘dewasa’ yang memancing tawa.

Sayangnya, menuju paruh akhir, film ini terus menyajikan formula komedi yang sama. Tidak ada hal baru sehingga jokes yang dihadirkan pun terasa hambar dan menyedihkan selanjutnya.

Selain itu, chemistry lemah juga hadir antara Moan (Ganindra Bimo)dengan Uli (Atiqah Hasiholan). Di sepanjang film, Moan memang selalu berusaha merayu Uli, sementara Uli terus mengelak, menganggap sepupu jauhnya ini hanya bercanda saja.

Harapannya, penonton disuguhi lebih banyak momen kedekatan antara Moan dan Uli. Yang terjadi, persaingan Moan dan Binsar lebih mendominasi di sepanjang film. Efeknya, penonton enggak merasa ada romansa nyata antara kedua pemeran utama tersebut.

Belum lagi, sepanjang durasi film, penonton tidak diberikan narasi yang cukup tentang mengapa Moan rela menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan hati Uli.

Tidak ada satu pun scene yang menunjukkan ‘memorable moment’ dari Uli yang mampu membuat Moan jatuh hati dan tergila-gila padanya. Tiba-tiba kalian ‘dipaksa’ menerima bahwa Moan jatuh cinta begitu saja kepada Uli.

Di akhir film, Pariban: Idola Dari Tanah Jawa menampilkan sedikit twist aneh yang dihadirkan. Twist ini justru membuat konsistensi Pariban: Idola Dari Tanah Jawa  dengan jalan cerita yang sudah berjalan dari awal patut dipertanyakan.

Hal ini sepertinya karena agenda sesungguhnya dalam Pariban: Idola Dari Tanah Jawa yakni untuk menghadirkan sebuah sekuel. Sayangnya, rencana membagi cerita menjadi dua justru membuat Pariban: Idola Dari Tanah Jawa menjadi seperti sebuah film yang tidak utuh.

Sebuah cerita haruslah punya bagian awal, tengah, dan akhir. Menyedihkannya, Pariban: Idola Dari Tanah Jawa justru melakukan berbagai pemotongan yang membuatnya ceritanya tidak ‘layak’ disebut sebagai sebuah film yang utuh.

OverallPariban: Idola Dari Tanah Jawa cuma pantas diberikan rating sebesar 5/10 karena gagal mengeksekusi premis cerita yang menarik dan menyajikan sebuah film ‘utuh’.

1924 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail