Review Film Ready Or Not: Slasher dengan Premis Ringan yang Punya Eksekusi Cerita Mengagumkan!

Apakah kalian pernah mendengar tentang ikrar pernikahan “sampai maut memisahkan”? Ikrar ini sepertinya menjadi dasar dari film garapan dua sineas, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett berjudul Ready or Not ini.

Mengusung premis sederhana tentang pernikahan, Ready or Not menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Seperti apa kira-kira? Berikut review Ready or Not!

Ready or Not bercerita tentang Alex Le Domas (Mark O’Brien) dan Daniel Le Domas (Adam Brody) sudah dihadapkan dengan hal mengerikan seputar keluarganya sejak kecil. Hal yang membuat semuanya berjalan turun-temurun. Beranjak dewasa, semua tradisi itu tak pernah berganti.

Baca juga : Review Dora and The Lost City of Gold: Film Live Action yang Menyenangkan dan Menghibur!

Meski Alex sudah menentang dan khususnya, Daniel yang menganggap semua ini gila, justru masih tetap diam saja. Tiba saatnya tradisi itu dilanjutkan. Semuanya dimulai ketika Alex memilih menikah dengan Grace (Samara Weaving) gadis yang dikenalnya selama 18 bulan.

Dua karakter yang berbeda, tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Alex, berasal dari keluarga berada. Punya sejarah masa lalu yang akan dikenang siapa saja.

Anak yang baik dan selalu ‘patuh’ dengan hal-hal yang ada di sekitar hidupnya Grace? Ia hanyalah anak asuh, yang kemudian lebih bergaya sesuka hatinya.

Malam tradisi dimulai oleh keluarga Le Domas. Tradisi yang sekiranya hanyalah permainan belaka. “Hide and Seek” atau petak umpet. Hal ini harus dijalani oleh Grace.

Review Ready or Not

Bukan sekadar petak umpet biasa, namun justru membuat Grace harus berdarah-darah. Bukan sekadar bersembunyi di balik lift makan atau dapur milik keluarga Le Domas.

Grace harus bersembunyi di malam paling epik di dalam hidupnya. Tertancap paku, hingga harus memutus tradisi turun temurun keluarga Le Dolmas. Siapa yang bisa menolong Grace?

Sekilas, film ini menjelaskan bagaimana sebuah keluarga yang memburu satu orang di rumah mereka sendiri. Dengan pengetahuan mereka tentang seluk beluk rumah dan bantuan CCTV, tentu memburu satu orang bukanlah pekerjaan yang sulit. Lantas, mana letak keseruannya?

Yang membedakan Ready or Not dengan film lainnya adalah eksekusi dari duo Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillet. Menyelipkan berbagai unsur pendukung lainnya, seperti tema keluarga dan keinginan untuk bertahan hidup, serta sisipan dark komedi yang muncul tanpa diduga-duga. 

Semua plot dalam film Ready or Not tidak difokuskan pada twist atau permainan mengerikan yang disajikan. Semuanya difokuskan pada bagaimana melihat kegilaan dari dua sisi yang berbeda.

Review Ready or Not
Review Ready or Not

Tema keluarga lama vs keluarga baru yang diusung film Ready or Not patut diapresiasi. Ada banyak pertentangan yang terjadi sepanjang cerita, yaitu apakah sang karakter akan memilih keluarga baru atau kembali pada keluarga lama yang sudah membesarkan dan mengasihi sedari kecil.

Bintang dari film Ready or Not adalah Samara Weaving. Bintang dari acara TV SMILF (2017) ini sukses memerankan sosok wanita kuat yang berjuang demi mempertahankan hidupnya dengan berbagai cara.

Pengembangan karakter Grace yang diperankan Weaving ini dibangun secara bertahap oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett.

Yang paling menarik, ketika Weaving berteriak dalam film Ready or Not rasanya itu bukan gambaran ketakutan tak berdaya. Teriakan itu seperti menandakan sesuatu yang “menyeramkan dan gila”.

Akting luar biasa dari Samara Weaving ini tidak terlepas dari dukungan pemain lainnya, seperti Mark O’Brein sebagai Alex yang plin-plan, dan Adam Brody sebagai Daniel yang cukup waras.

Lalu, ada Nicky Guadagni sebagai Bibi Helene yang punya tatapan membunuh, Andie MacDowell sebagai ibu Alex, dan sebagainya.

Aspek lain yang mengagumkan tentu kebrutalan dari film Ready or Not. Darah berserakan di mana-mana seakan menunjukkan kegilaan dari duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett ini.

Film Ready or Not seakan tidak malu-malu menyampaikan hal-hal gila dari kedua sutradaranya tersebut kepada penonton.

Kebrutalan yang dibangun pun tak hanya dari sisi keluarga Le Domas. Grace yang awalnya terkejut dengan malam pertamanya sebagai anggota keluarga baru Le Domas pun sebenarnya punya “sisi lain”. Perlahan tapi pasti, Grace mulai menunjukkan kegilaannya sendiri.

Satu-satunya kelemahan film Ready or Not ada beberapa plot yang terasa janggal. Bahkan, salah satu twist terbilang tak mengejutkan dan mudah tertebak.

Di luar hal tersebut, duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett juga tampak sangat memainkan emosi penonton seperti biola.

Sepanjang film, latar hanya ada di dalam rumah dengan para karakter yang tertawa dan berteriak serempak. Seolah-olah, penonton adalah paduan suara yang tengah diarahkan oleh seorang konduktor dengan nada yang mengerikan.

Pada bagian akhir film, Ready or Not menyuguhkan salah satu ending paling berdarah yang tentu sangat menyenangkan bagi penggemar slasher seperti saya.

Overall, Ready or Not  layak diberikan rating sebesar 8.0/10 karena berhasil mengeksekusi premis cerita sederhana menjadi sebuah slasher berkelas yang gila dan brutal.

Review Ready or Not
265 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail