Review Film Twivortiare: Chemistry Akting Menawan Raihaanun-Reza Rahardian yang Ditutup Ending Klise

Review Film Twivortiare – Apa yang akan terjadi bila sepasang pria dan wanita workaholic dipertemukan dalam sebuah ikatan pernikahan? 

Premis sederhana ini yang coba diangkat oleh film terbaru produksi MD Pictures dan disutradarai Benni Setiawan ini. Diangkat dari novel populer berjudul sama karya Ika Natassa, Raihaanun dan Reza Rahardian didapuk menjadi lead cast dari film yang naskahnya ditulis oleh Alim Sudio ini.

Twivortiare bercerita tentang kisah bankir sukses, Alexandra Rhea (Raihaanun) dengan dokter bedah super sibuk, Beno Wicaksono (Reza Rahadian).

Komunikasi yang terbata-bata, tak selalu bersahut satu sama lain. Kerap berbeda pendapat dalah bagaimana gambaran Beno dan Alex. Dulu, mereka bertemu karena hal ini, dan kemudian berpisah pun gara-gara hal yang sama.

Tak selalu sejalan, adalah penyebab perceraian mereka. Namun, ada hal-hal kecil lainnya yang membuat “tak sejalan” ini kemudian tumbuh lagi menjadi cinta. Semuanya terlihat ketika Beno dan Alex seperti memendam rindu sekaligus cemburu tentang kehidupan mereka.

Baca juga : Review Film Ready Or Not: Slasher dengan Premis Ringan yang Punya Eksekusi Cerita Mengagumkan!

Kehidupan mereka setelah perceraian ini yang menggiring Beno dan Alex seperti ingin menunjukkan rasa rindu mereka masing-masing. Ibaratnya, salah satunya ingin pamit dari kehidupan masing-masing.

Namun, seperti tak pernah diizinkan. Twivortiare akan menceritakan seperti apa akhir dari kisah mereka berdua.

Film Twivortiare dibuka dengan adegan yang tak biasa. Film dibuka dengan percakapan melalui media sosial Twitter, kemudian beralih pada beberapa tahun lalu, dimana Alex dan Beno bertemu. 

Singkat cerita, akhirnya mereka menikah. Adegan berpindah setelah dua tahun Alex bercerai dengan Beno. Wina, sahabat Alex menghiburnya, begitu juga teman lelaki mereka di bank, Ryan. 

Alur film ini sebenarnya terbilang klise. Tentang kisah cinta yang sebenarnya sulit untuk disatukan. Beberapa adegan flashback disajikan untuk menggiring emosi penonton.

Mulai dari cinta yang begitu bahagia hingga rapuh dan kembali lagi, cinta itu menunjukkan akarnya untuk bersemi.

Kekuatan Twivortiare adalah intensitas dialognya yang tinggi. Namun, hal ini juga tentunya terbantu dengan kemampuan kedua lead cast (Raihaanun dan Reza Rahardian) yang mampu menghidupkan dialog-dialog pada film Twivortiare.

Reza Rahardian kembali membuktikan kualitas aktingnya di dalam film ini. Reza memang tipikal aktor yang mampu berakting bagus ketika diberikan naskah yang tepat.

Chemistry Raihanun dan Reza benar-benar mampu menggambarkan keduanya tampak seperti pasangan yang benar-benar nyata. 

Sementara itu, Raihanun membuktikan masih mampu berakting dengan mumpuni usai comeback setelah cukup lama vakum. Penampilan keduanya setelah 27 Steps of May ini tampaknya berhasil membuat dirinya kembali ke dalam jajaran pelakon kelas atas di dunia perfilman Indonesia.

Selain itu, para pemeran pendukung seperti Anggika Bolsterli, Boris Bokir, Lydia Kandou, Ferry Salim, Denny Sumargo, Arifin Putra, hingga Roy Marten cukup sukses melengkapi chemistry dalam film Twivortiare.

Hal menarik lainnya, yaitu kualitas scoring dari film Twivortiare berhasil membangun emosionalitas dan menghidupkan ceritanya. Selain itu, para penonton juga cukup termanjakan dengan soundtrack-nya yang berjudul “Kembali ke Awal” yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly.

Sayangnya, kekuatan akting kedua lead cast tersebut tidak diikuti oleh tempo filmnya yang terlalu cepat sehingga mengganggu kenyamanan penonton dalam mengikuti ceritanya.

Perpotongan antar plot yang cepat tidak memberi kesempatan bagi penonton untuk mengalihkan perhatian dari satu konflik ke konflik lainnya. Penonton diajak untuk terus mengikuti tiap plot dengan pemicu konflik yang berbeda.

Baca juga : Review Film Portrait of A Lady on Fire: Potret Cinta Sejenis yang Terkungkung Budaya Patriarki di Abad 18

Tindakan ini diperparah dengan lompatan antar plot yang terkadang tidak berjalan secara urut. Meski bukan non-linier, tapi lompatan-lompatan konflik yang disertai kilas balik, sering kali memaksa penonton untuk memikirkan kesinambungan antar sebab-akibat dari tiap plot.

Hal lain yang patut dikritisi adalah konflik yang sama terasa dihadirkan berulang-ulang serta ending klise.

Yap, sama seperti ending dari film karya novel Ika lainnya, Twivortiare berakhir bahagia dan pasangan sama-sama mau berbenah diri. Terlalu klise dan kurang emosional untuk film yang mempunyai dua lead cast seistimewa Raihaanun dan Reza Rahardian.

Overall, Twivortiare ini layak diberikan rating sebesar 6.8/10 karena kemampuan kedua lead cast yang mampu menghidupkan tingginya intensitas dialog dalam film ini namun sayang akhir klise membuat film ini menjadi kurang istimewa.

82 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail