Review Film Love for Sale 2: Kompleksitas Romansa Berujung Drama Keluarga

Review Love for Sale 2 – Seusai kesuksesan film Love for Sale yang dirilis di tahun 2018 silam, sineas Andibachtiar Yusuf kembali melanjutkan kisah tersebut di tahun ini. Kali ini, Ucup (panggilan akrab dari Andibachtiar Yusuf) menggandeng Irfan Ramly untuk meramu cerita dari sekuel film Love for Sale ini.

Jika di film Love for Sale yang pertama menampilkan kesepian dan kesendirian dalam sosok Richard yang diperankan oleh Gading Marten, sekuelnya ini lebih membahas tentang keluarga serta tekanan isu pernikahan. Dalam film Love for Sale 2, Arini kali ini dipertemukan dengan client bernama Ican yang diperankan oleh Adipati Dolken.

Film Love for Sale 2 berkisah tentang Indra Tauhid Sikumbang alias Ican (Adipati Dolken) yang terus didesak oleh Ibunya, Rosmaida (Ratna Riantiarno) untuk menikah karena dianggap sudah cukup usia.

Ican sendiri tampak belum ingin menikah dan kesulitan mencari pasangan yang cocok dengannya, walau sempat dekat dengan beberapa wanita. Terlebih, dia merasa hampir mustahil mencari calon istri yang cocok dengan sang ibu.

Tekanan itu membuat Ican memutuskan mencari jalan pintas lewat Love Inc., aplikasi penyewaan kekasih yang juga digunakan Richard (Gading Marten) di film pertama Love for Sale.

Baca juga : Review Film Abominable: Visual Apik dengan Cerita Hangat dan Menyentuh!

Ican menginginkan pasangan yang cantik, paham agama, dan tentunya berdarah Padang, sesuai dengan keinginan kuat ibunya (Ratna Riantiarno). Dan hadirlah Arini Chaniago (Della Dartyan) ke dalam hidup Ican.

Alih-alih bercerita tentang kesepian seperti di film pertamanya, Love for Sale 2 kali ini mencoba mengkritik keadaan sosial di masyarakat yang menggambarkan pernikahan menjadi sebuah eksistensi paripurna dari seseorang.

Mungkin, kamu sendiri sering mengalami pertanyaan lazim “kapan menikah?”. Pertanyaan ini seolah harus selalu ditanyakan kepada mereka yang belum memutuskan untuk berkomitmen secara penuh kepada lawan jenis.

Bahkan, pertanyaan ini seringkali diiringi oleh berbagai jenis pelabelan seperti terlalu pemilih, standar tinggi, gagal bangkit dari masa lalu, perawan tua, bujang lapuk, dan sebagainya seringkali disematkan seenaknya oleh tetangga, kawan, bahkan hingga keluarga sendiri. Label ini menembus sekat-sekat kesukuan, gender, bahkan agama.

Terlepas dari hal itu semua, film Love for Sale 2 dihidupkan oleh karakter Arini, Ican, serta Ibunya. Dialog-dialog yang dihadirkan terasa relevan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh kultur masing-masing.

Meski begitu, karakter-karakter pendukung lainnya tak kalah memberi dinamika cerita lebih kompleks yang membuat penasaran, tanpa terasa bosan. Konflik demi konflik mengalir begitu saja, tak terasa dibuat-buat.

Sejumlah karakter pendukung di antaranya adalah kakak dan adik Ican, Anandoyo Tauhid Sikumbang alias Ndoy (Aryo Wahab) dan Yunus Tauhid Sikumbang alias Buncun (Bastian Steel), kemudian ada geng Sikumbang, yakni Surya, Romli, dan Jaka (Abdurrahman Arif, Revaldo, dan Adriano Qalbi), Daeng Ibrahim (Yayu Unru), serta Maya (Putri Ayudya).

Pujian terbesar mungkin pantas diberikan kepada sosok Ratna Riantiarno yang memerankan ibunya Ican. Ratna tampak sangat baik dalam memainkan peran sebagai -ibu menyebalkan yang ‘gemar’ meneror anaknya untuk menikah.

Meski begitu, kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya juga tetap tergambar. Karakternya tampak begitu hidup bahkan bisa “menutupi” sosok Ican yang diperankan Adipati Dolken sebagai tokoh utamanya.

Di sisi lain, latar dan gambaran situasi kehidupan bermasyarakat dalam film ini juga dipotret dengan baik dalam film Love for Sale 2

Ambience yang dihadirkan pun seolah membawa penonton masuk ke dalam adegan lewat suara-suara pedagang keliling, suara adzan, anak-anak bermain, hingga orang-orang dewasa yang bercengkerama sambil bermain kartu atau domino.

Selain cerita yang solid, film ini juga didukung oleh sinematografi yang indah hasil bidikan Ferry Rusli serta arahan musik oleh McAnderson. Kedua elemen itu turut meningkatkan daya tarik film.

Baca juga : Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Thriller Slasher dengan Bumbu Mitos Cerita Rakyat yang Menarik

Di balik semua kelebihannya tersebut, Love for Sale 2 punya cukup banyak kelemahan dibandingkan film pertamanya.

Alih-alih berfokus pada romansa, konflik yang coba diperluas dengan menghadirkan drama keluarga dalam film Love for Sale 2 agak lemah. Banyak plot-plot yang punya konflik dengan penyelesaian yang terlalu mudah atau tidak terjelaskan.

Overall, Love for Sale 2 layak diberikan rating sebesar 7/10 karena menyajikan romansa dengan masalah yang cukup relevan di masyarakat di dalam balutan drama keluarga.

20 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail