Review Perburuan: Visual Mengagumkan dengan Plot dan Ritme Cerita Mengecewakan

Agustus bisa dibilang jadi bulan bagi Pramoedya Ananta Toer. Kedua novel karya Pram tercatat difilmkan di bulan Agustus, bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan Indonesia (17 Agustus).

Dibuat oleh rumah produksi yang sama, Falcon Pictures, 2 novel Pram berjudul Bumi Manusia dan Perburuan ini juga dirilis di tanggal yang sama, yaitu tanggal 15 Agustus.

Ditangani oleh 2 sutradara dengan gaya berbeda, yakni Hanung Bramantyo (Bumi Manusia) dan Richard Oh (Perburuan). Kali ini, kami akan membahas Perburuan yang ditangani oleh Richard Oh.

Perburuan bercerita tentang Hardo (Adipati Dolken) adalah tentara PETA, kesatuan militer sukarela buatan Jepang di Indonesia, yang berpangkat Shodanco (setara letnan). Hardo bertunangan dengan Ningsih (Ayushita) seorang guru di sekolah rakyat.

Menjelang masa kemerdekaan, Hardo dengan sahabatnya Dipo (Ernest Samudra) dan Karmin (Khiva Iskak) serta tentara PETA lain merencanakan pemberontakan terhadap Jepang. Mereka pun bergerak sesuai instruksi Shodanco Soeprijadi yang memimpin pemberontakan di Blitar.

Baca juga : Review Film Makmum: Horor Penuh Jump Scare yang Lumayan Meski Ditutup Mengecewakan

Sayangnya, salah satu dari mereka membelot dan mengacaukan rencana pemberontakan yang menyebabkan para pemberontak yang dipimpin Hardo harus melarikan diri dan bersembunyi di dalam hutan.


Tawaran rekonsiliasi tentara Jepang pun datang, namun Hardo bersikeras untuk tinggal diam di dalam gua, menunggu instruksi dan tetap teguh berupaya melawan tanpa bekerjasama dengan Jepang. Sayangnya teman-teman Hardo tidak berpikiran sama.

Mereka meninggalkan Hardo bersembunyi sendirian, berjuang lewat keteguhan hati dan berkorban demi kebebasan dan harga diri.

Secara garis besar, kisah ini memang sesederhana judul novel Pram tersebut yakni tentang perburuan terhadap Hardo dan dampak yang muncul bagi orang di sekitarnya.

Di balik itu, kisah ini memiliki nilai untuk menunjukkan sisi lain dari peristiwa jelang kemerdekaan yang tidak hanya berporos di lingkungan elite seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.

Meski ditangani oleh Richard Oh yang dikenal lewat karya-karya arthouse-nya, alur film ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Film mengalir perlahan demi perlahan lewat pilihan adegan yang terkesan dipercepat temponya setelah Hardo tinggal sendirian di gua.

Dengan guliran montase yang beriringan dengan kondisi orang tua Hardo, flashback masa pacaran dengan Ningsih dan pencarian yang dipimpin Shidokan (Michael Kho), film tiba-tiba menginjak 6 bulan masa persembunyian Hardo.

Tidak pernah terjelaskan motivasi Hardo kembali muncul kembali setelah 6 bulan padahal situasi masih terhitung berbahaya baginya.

Buat yang tidak membaca novel Pram yang ini, kalian akan diminta menebak sendiri alur dan apa yang sedang terjadi dalam film, mengingat, enggak adanya penjelasan waktu dan tempat di setiap adegannya. Informasi tentang cerita hanya akan muncul di awal dan akhir film. 

Hal yang paling patut dikritisi dari film Perburuan ini adalah masalah ritme cerita. Drama pergulatan yang dibangun sejak awal tak sukses dipertahankan secara kuat oleh Richard Oh hingga akhir.

Ujungnya, film Perburuan ini ditutup dengan kemudahan karena kebetulan yang antiklimaks.

Belum lagi, sisi akting Adipati Dolken yang tampak kurang tergali potensinya. Meski tampil cukup baik, rasa-rasanya seperti ada “hal” yang tertahan dalam akting Adipati kali ini. Selain itu, karakter lainnya lebih banyak tampil tidak cukup istimewa dalam aktingnya di film Perburuan.

Tercatat hanya Otig Pakis (Filosofi Kopi, Pocong 2), Khiva Iskak (Terjebak Nostalgia, Bangkit), Michael Kho (Kenapa Harus Bule?), dan Egy Fedly (Headshot, Marlina: The Murderer in The Four Acts) yang banyak menampilkan range emosi lebih luas dalam film Perburuan.

Meski begitu, gaya Richard Oh (Terpana, Melancholy is A Movement) dalam mengarahkan film ini masih menggunakan gaya arthouse dengan angle dan pilihan gambar yang minimalis mampu memberikan visual menawan dan sangat realistis.  

Baca juga : Review Film Instant Family: Film Komedi Keluarga yang Heartwarming

Visual tersebut tampak menyatu dengan tata musik orkestra yang mengalun sepanjang film yang digubah oleh Purwacaraka.

Satu scene yang paling menarik adalah ketika menggambarkan kesendirian Hardo di dalam gua dengan sebuah adegan bergaya teatrikal. Ditampilkan dengan gaya monolog, adegan cukup menarik dan menjadi salah yang paling cukup saya ingat dalam film Perburuan.

Overall, Perburuan layak diberikan rating sebesar 6.5/10 karena plot cerita yang tampak  seperti “melompat” dan ritme terburu-buru namun terselamatkan visual menawan serta dialog puitis.  

188 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail