Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Thriller Slasher dengan Bumbu Mitos Cerita Rakyat yang Menarik

Apa yang kamu tahu tentang Joko Anwar? Sebagian besar pasti mengenalnya sebagai sutradara film horor sukses, Pengabdi Setan yang dirilis dua tahun lalu. Namun, ia jelas merupakan sosok yang lebih dari itu.

Saya sendiri sudah mengikuti dan tertarik dengan karyanya selepas film debut-nya berjudul Janji Joni (2005). Selepasnya, saya mengikuti semua karya-karya yang ia sutradarai seperti Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), A Copy of My Mind (2015), serta Gundala (2019).

Bisa dibilang, hampir sebagian besar karyanya memang tidak jauh-jauh dari genre thriller serta horror. Apalagi, Pintu Terlarang dan Pengabdi Setan yang berhasil membawanya dikenal jauh kepada dunia perfilman internasional.

Baca juga : Review Weathering with You: Karya Makoto Shinkai yang Kurang Dialogis dengan Ending Antiklimaks

Seusai menggarap Gundala, Joko sepertinya ingin kembali ke genre yang telah membesarkan namanya ini dengan merilis Perempuan Tanah Jahanam.

Kabarnya, naskah Perempuan Tanah Jahanam yang memiliki judul asli Impetigore ini ditulis sejak 10 tahun silam. Solidnya naskah tersebut juga mendapat banyak dukungan.

Base Entertainment menggandeng tiga production house, yaitu Ivanhoe Pictures dari Hollywood yang juga memproduksi The Wailing, CJ Entertainment dari Korea Selatan, serta Rapi Films dan Logika Fantasi dari Indonesia.

Dengan sokongan tiga production house dan naskah solid, sudah sepatutnya Perempuan Tanah Jahanam memberikan tontonan yang menarik. Lantas, seperti apa hasilnya? Berikut sinopsis dan review film Perempuan Tanah Jahanam!

Film Perempuan Tanah Jahanam mengisahkan tentang seorang perempuan muda bernama Maya (Tara Basro), seorang penjaga tol yang kerap dilanda kesialan.

Suatu malam, ketika sedang bekerja, ia diserang oleh seseorang tak dikenal. Merasa keselamatannya terancam, sejak kejadian itu, ia memutuskan untuk berbisnis bersama sahabatnya, Dini (Marissa Anita).

Ketika bisnisnya mengalami kebuntuan serta mengalami permasalahan ekonomi, Maya memutuskan untuk pulang ke desa asalnya, karena ia mendapatkan petunjuk bahwa keluarganya kaya raya dan meninggalkan beberapa warisan.

Ditemani Dini, mereka pun pergi ke sebuah desa Harjosari, tempat di mana Maya dilahirkan. Setibanya di desa itu, Maya mulai dihantui beberapa sosok anak yang sudah meninggal.

Tidak hanya itu, seluruh penduduk desa ternyata mengincarnya untuk suatu rencana yang mengerikan. Rencana itu yaitu membunuhnya untuk menghilangkan kutukan yang ditinggalkan oleh keluarganya.

Sebagai informasi, judul asli dari Perempuan Tanah Jahanam yaitu Impetigore yang berasal dari kata rekaan yaitu impetigo dan gore.

Kalau ditelusuri lebih lanjut, impetigo ternyata adalah nama sebuah adalah infeksi kulit yang menyebabkan terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil berisi cairan nanah, dan paling sering ditemukan di wajah, lengan dan tungkai.

Sedangkan gore seperti yang kita tahu biasanya merujuk pada film yang berdarah-darah atau mengandung unsur sadis.

Karena itu, jelas banyak unsur gore yang memuaskan pecinta slasher seperti saya. Mulai dari kutukan yang menimpa desa Harjosari hingga konsep ilmu hitam yang melibatkan dalang dan wayang (ini benar-benar gila sih!).

Mungkin sebagian besar orang menganggap film Perempuan Tanah Jahanam mengusung genre horor. Padahal, lebih jelas mendekati genre thriller slasher yang penuh unsur gore.

Buat penggemar slasher seperti saya, tentunya ini hal yang menyenangkan. Namun, saya tetap menyarankan, sebaiknya menonton film Perempuan Tanah Jahanam sesuai ratingnya, yakni 17+. Pasalnya, banyak hal-hal disturbing yang tidak pantas ditonton dan bisa membuat kamu “mual”.

Salah satu hal lainnya yang paling patut diapresiasi dari film Perempuan Tanah Jahanam adalah set lokasi dan desain produksinya yang sangat menakjubkan.

Suspense yang coba dihadirkan oleh film Perempuan Tanah Jahanam jelas sangat terbantu dengan kemampuan desain produksi dan menciptakan lokasi yang punya aura semistis itu.

Joko Anwar tampaknya selalu memiliki tim yang pandai mencari set lokasi creepy dengan detail yang sanggup membangun aura mistis dengan sempurna. Perempuan Tanah Jahanam membangun kekuatan dari desain produksi yang sempurna.

Ditambah lagi, lokasi syuting film Perempuan Tanah Jahanam yang memang benar-benar dilakukan di daerah terpencil.

Seperti di Gundala, kualitas sinematografi yang dihadirkan Ical Tanjung di Perempuan Tanah Jahanam sangat memukau. Movement camera serta grading color ditampilkan untuk mendukung kengerian film Perempuan Tanah Jahanam dengan sangat baik.

Berbagai unsur creepy seperti konsep kutukan, rumah tua yang terbengkalai, dalang dan wayang, serta mitos-mitos lainnya. Apalagi, banyak dialog di dalam film Perempuan Tanah Jahanam menggunakan bahasa Jawa yang meningkatkan unsur kengeriannya.

Disokong oleh Ivanhoe Pictures yang pernah memproduksi The Wailing membuat Perempuan Tanah Jahanam sedikit banyak punya kemiripan dengan film Korea Selatan tersebut.  

Selain itu, sama seperti The Wailing, Perempuan Tanah Jahanam dibangun dengan slow burn (meski adegan awalnya cukup menegangkan).

Belum lagi, jajaran cast yang dihadirkan di film Perempuan Tanah Jahanam tampil sangat baik. Kredit jelas pantas diberikan untuk Christine Hakim sebagai Nyi Misni.

Tidak banyak berkata-kata, namun ekspresi wajah dan gerak tubuhnya mampu memperlihatkan kengerian yang total. Selain itu, sebagai scene stealer, 3 anak kecil itu memberikan aura creepy maksimal meski hampir tidak pernah berbicara.

Penampilan Marissa Anita sebagai Dini cukup menyita atensi saya. Tidak jarang, dialog yang keluar dari mulutnya punya terdengar sangat unik dan mampu membuat para penonton tersenyum menyaksikan polahnya.

Selain itu, penampilan Ario Bayu, Asmara Abigail, serta Tara Basro sebagai karakter utama juga terbilang oke.

Meski punya banyak keunggulan, film Perempuan Tanah Jahanam punya beberapa kekurangan minor seperti ada beberapa scene yang saya rasa harus terpotong karena ketentuan LSF.

Pasalnya, durasi asli film Perempuan Tanah Jahanam disebut-sebut 2 jam, namun yang hadir di bioskop cuma 106 menit. Artinya, mungkin ada sekitar 10 menit lebih scene dalam film Perempuan Tanah Jahanam yang dipotong.

Karena pemotongan tersebut, kemungkinan besar ada beberapa scene bagus yang mungkin terpaksa dibuang (mungkin karena tidak sesuai ketentuan LSF). Ada kemungkinan, scene yang dipotong adalah scene disturbing yang ditunggu-tunggu penggemar slasher seperti saya.

Selain itu, background story beberapa karakter seperti karakter yang diperankan Arswendy Bening Swara di babak pertama film terasa terlewatkan begitu saja.

Padahal, awalnya karakter Arswendy Bening Swara terlihat punya peranan penting, namun ternyata salah (entah memang hanya scene stealer atau atau dipotong LSF).

Untuk film yang terlihat sangat terpengaruh oleh slasher classic, saya sebenarnya berharap ada sedikit fight back maupun revenge dari karakter utama yaitu Maya yang diperankan Tara Basro ketika dikejar oleh seluruh penduduk desa Harjosari.

Karakter yang dimainkan Asmara Abigail juga saya kira awalnya punya kejutan twist yang lebih hebat seperti sang dukun dalam film The Wailing.

Hal lain yang menjadi kekurangan dari film Perempuan Tanah Jahanam adalah scene flashback yang ditampilkan dengan metode yang tidak biasa.

Baca juga : Review Bumi Manusia: Cerita yang Terlalu Ringan untuk Sebuah Mahakarya Pramoedya Ananta Toer

Namun, hasilnya justru menjadi terlalu panjang dan tidak mampu menjabarkan cerita sebelumnya dengan baik. Apalagi, ada scene yang juga mendapatkan sensor yang cukup kasar dari LSF.

Terlepas dari semua hal tersebut, film Perempuan Tanah Jahanam menghadirkan pengalaman sinematik yang penuh darah dan mampu menghadirkan kengerian yang cukup berbeda dibandingkan Pengabdi Setan.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam layak diberikan rating sebesar 8.4/10 karena berhasil menyajikan thriller slasher dengan balutan mitos cerita rakyat yang mampu membuat penonton terkejut dan ketakutan karena kengeriannya.

112 kali dilihat
Ads
cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail