Review Ratu Ilmu Hitam, Visual Memanjakan dengan Plot Cerita Seadanya

Review Ratu Ilmu Hitam – Satu lagi film horor karya Kimo Stamboel yang meramaikan jagat sinema Indonesia. Setelah beberapa waktu yang lalu Joko Anwar sukses dengan ‘Perempuan Tanah Jahanam’, kali ini gilirin Kimo yang unjuk gigi. Walaupun Joko Anwar masih tetap terlibat di film ini, sebagai penulis naskahnya.

Ratu Ilmu Hitam merupkan remake dari film horor keluaran tahun 1981 berjudul sama yang disutradarai oleh Liliek Sudjio. Dan diperankan oleh sang legenda horor Indonesia; Suzzana bersama dengan W.D. Mochtar dan Teddy Purba.

Berbeda Dengan Versi Originalnya

Jauh berbeda dengan film originalnya yang mengangkat kisah tentang seorang perempuan bernama Murni. Yang dituduh sebagai sumber kekacauan sebuah desa hingga akhirnya ia dibuang ke jurang. Namun, seorang dukun menyelamatkannya dan menjadikannya sakti dengan bekal ilmu hitam. Murni lalu kembali dengan kakuatan-nya untuk menuntu balas kepada orang-orang yang telah memfitnahnya.

Review Ratu Ilmu Hitam

Sedangkan untuk versi remake-nya berkisah tentang Hanif (Ario Bayu) yang kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Bersama dengan istrinya; Nadya (Hannah Al Rashid) dan ketiga anaknya; Dina (Zara), Haki (Muzakki Ramdhan) dan Sandi (Ari Irham). Selain Hanif, beberapa teman satu pantinya juga turut hadir; Anton (Tata Ginting) dan Jefri (Miller Khan), mereka juga mengajak istrinya masing-masing. Tujuan mereka kembali ke panti adalah untuk menjenguk Pak Bandi (Yayu A.W. Unru), pimpinan Panti yang tengah sakit keras.

Saat tiba di panti mereka disambut oleh Maman (Ade Firman Hakim) dan Siti (Sheila Dara Aisha), yang juga teman mereka semasa di panti dulu. Tak hanya Maman dan Siti, di panti asuhan tersebut juga tersisa dua anak lain, yaitu Hasbi dan Rani, sedangkan para anak-anak panti lainnya tengah pergi karya wisata keluar kota.

Baca juga : Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Thriller Slasher dengan Bumbu Mitos Cerita Rakyat yang Menarik

Begitu tiba di panti, Hanif dan rekan-rekannya menemukan kejanggalan-kejanggalan. Seperti saat Hanif tak sengaja menabrak sesuatu saat awal kedatangannya hingga suara-suara aneh yang didengar oleh si bungsu Haki. Misteri semakin menjadi, saat Hanif dan Jefri mendapati bus yang digunakan karya wisata para anak-anak panti terperosok ke area sawah/kebun dengan kondisi semua anak tewas mengenaskan.

Review Ratu Ilmu Hitam

Tak sampai disitu, perlahan lahan para pengunjung panti; seperti istri Toni dan Jefri mengalami halusinasi hingga menyakiti diri mereka sendiri. Dilain tempat, Haki yang penasaran mencoba menonton video lama yang berisi sesuatu yang menakutkan.

Tak sama dengan Film Originalnya

Spoiler Alert!

Boleh dibilang hampir tidak ada kesamaan film ini dengan film versi originalnya (selain judul tentunya). Mulai dari sisi cerita, karakter hingga setting lokasi dan waktunya. Namun, sebagai orang yang sudah menonton kedua film tersebut, saya kira benang merah yang menyatukan kedua filmnya adalah; Ilmu Hitam dan Balas Dendam!

Jujur saja, saya memiliki ekspektasi yang cukup tinggi untuk film ini. Pertama karena ada nama Joko Anwar sebagai penulis naskahnya, yang belum lama ini sukses dengan ‘Perempuan Tanah Jahanam’. Kedua, nama Kimo Stamboel juga pernah sukses menebar teror melalui Rumah Dara-nya.

Plotnya Mainstream

Review Ratu Ilmu Hitam

Namun, sepertinya saya harus (sedikit) kecewa kali ini. Ide untuk membuat plot yang sama sekali berbeda dengan film originalnya, justru menjadi blunder untuk Om Joko dan Kimo. Stereotype film horor mainstream masih melekat erat pada film ini. Mulai dari setting lokasi di pedalaman, jumpscare dengan memanfaatkan area kosong dilayar, hingga sosok penjahat yang terlalu ‘gampang’ mati. Jujur saja, saat sosok Murni terbakar gara-gara hanya dilempar lilin sontak membuat saya tertawa geli. Padahal sebelumnya leher Murni sempat ditebas celurit hingga putus oleh Nadya, namun berhasil tersambung kembali. Oke, mungkin Murni kebal senjata tajam tapi nggak anti api.

Sepertinya, Om Joko sebagai penulis naskah harus mulai berani. Nggak lagi bermain aman dengan mencoba menyuguhkan plot cerita mainstream, dimana kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Menurut saya pribadi, penonton Indonesia sepertinya sudah siap menerima hal-hal anti mainstream, seperti Hantu atau penjahatnya menang dan si Jagoannya kalah atau mati. Seperti layaknya Midsommar yang sukses dengan Horor dengan visual ceria dan Plot anti Mainstream-nya.

Tempo ceritanya juga terlihat nggak imbang. Berjalan lambat diawal film lalu berubah cepat saat pertengahan dan semakin ekstrem di sepertiga akhir. Disepertiga akhir film malah penonton seakan dibuat ‘ngos-ngos-an’ karena haru ‘mengejar’ tempo yang cepat.

Kualitas akting para pemerannya masih terbilang bagus, walaupun nggak juga bisa dibilang ‘Wow’. Kredit tersendiri justru patut disematkan oleh Muzakki Ramdhan yang tampil ciamik mengingat usianya yang masih anak-anak. Sisanya, seperti yang tadi saya bilang; Bagus tapi nggak ‘Wow’.

Kemasan Visual dan Scoring jempolan

Dua hal yang mampu menyelamatkan film ini dari ke-horor-an yang hakiki; yaitu visual efek dan scoring-nya. Kimo mampu menampilkan efek visual kelas holywood yang memukau. Coba tengok saat adegan kelabang-kelabang merayap didalam kulit, atau adegan saat Hasbi mensteples mulutnya sendiri. Sinematografinya pun terbilang cukup oke, mulai dari teknik pengambilan gambar long-shot hingga penggunaan drone untuk menampilkan scene-scene landscape.

Scoring musiknya mungkin yang paling juara. Adegan per adegan dikemas dengan suara-suara yang beneran horor. Belum lagi efek suara langkah kaki yang diseret, mampu membuat seisi bioskop merinding dibuatnya.

Overall, Ratu Ilmu Hitam terbilang cukup mampu menghadirkan film horor yang cukup memberikan teror. Ya, walaupun masih belum berhasil mengalahkan teror yang disebar Suzzana di versi originalnya.

89 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail