Review Rumah Merah Putih, Kisah Ironi di Timur Indonesia

Seperti tak kenal lelah, Ari Sihasale bersama dengan sang istri Nia Zulkarnaen kembali memproduksi film yang menggugah rasa kebangsaan kita, melalui film Rumah Merah Putih.

Hampir mirip dengan film-film mereka sebelumnya, Ale (sapaan akrab Ari Sihasale) dan Nia melalui Production house milik mereka Alenia Pictures. Kembali mengangkat kehidupan serta aksi anak-anak di Timur Indonesia.

Sinopsis Film Merah Putih

Review Rumah Merah Putih
Review Rumah Merah Putih | Img Source: Alenia Pictures

Film Rumah Merah Putih berkisah tentang Farel dan Oscar tinggal di perbatasan Indonesia ( NTT ) – Timor Leste. Meskipun hidup sederhana, rasa cinta mereka terhadap tanah air sangatlah dalam. Bersama kedua temannya Anton dan David mereka mengikuti lomba panjat pinang, dalam rangka memeriahkan 17 Agustus, bukannya kompak mereka malah bertengkar hadiah mana yang harus diambil duluan. Mereka gagal dan saling menyalahkan. Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah putih milik Farel hilang entah kemana.

Takut dimarahi ayahnya, Farel dan Oscar berupaya mengumpulkan uang untuk membeli cat pengganti. Dari Om Oracio mereka mengetahui akan ada lomba panjat pinang ke-2, dan berhadiah cat merah putih, namun saat panjat pinang Oscar terjatuh dan sakit. Farel sangat sedih karena merasa bersalah. Perjalanan Farel, Oscar dan teman-temannya untuk merayakan 17 Agustus menjadi cerita utama film ini.

Terinspisrasi dari Kisah Nyata

Kisah Varel ini sejatinya memang terinspirasi dari kisah nyata bocah pemanjat tiang bendera yang sempat viral pada tahun 2018. Namun, ide film ini sudah tercetus jauh sebelum peristiwa itu.

Review Rumah Merah Putih
Review Rumah Merah Putih | Img Source: Alenia Pictures

Ari Sihasale yang difilm ini juga berperan sebagai sutradara mampu membuat plot yang sederhana menjadi sangat berkesan. Walaupun sederhana, namun film ini banyak menyajikan pesan kehidupan dan tentu saja rasa nasionalisme.

Baca juga : Review Mendadak Kaya, Trio Doyok, Otoy, Ali Oncom Tampil lebih Baik dari Cari Jodoh

Sinematografi dan Akting Ciamik

Tampilan sinematografi-pun tak kalah ciamik. Penonton akan disuguhkan oleh pemandangan desa Belu yang menakjubkan. Scoring musik pun terdengar ‘cukup’ pas, ya walaupun masih jauh dari kata sempurna.

Hal yang cukup menarik untuk dibahas adalah kualitas akting para pemerannya. Melibatkan ‘bocah’ daerah asli seperti Petrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacai membuat adegan di film terlihat sangat natural. Padahal, menurut Ari Sihasale ini adalah pertama kali-nya mereka terjun ke dunia akting.

Para penonton akan dibuat terkagum-kagum dengan bagaimana anak-anak ini menjiwai perannya. Semangat, kepolosan, dan kejujuran terpancar dari mereka. Akting mereka yang memang sesuai dengan kepolosan hati membuatnya terlihat ‘tak seperti akting’, sungguh natural.

Sebuah Ironi Bangsa

Review Rumah Merah Putih
Review Rumah Merah Putih | Img Source: Alenia Pictures

Selain itu, menonton film ini juga menimbulkan kesan ironi tersendiri buat saya. Bagaimana tidak, di film ini kita disuguhkan keindahan alam yang luar biasa menakjubkan. Namun, disisi lain, terlihat bagaimana kerasnya kehidupa masyarakat di timur Indonesia yang masih dianggap ‘tertinggal’.

Selain Ari Sihasale yang duduk sebagai sutradara, ada pula Jeremias Nyangoen yang menulis naskahnya. Sedangkan dari jajaran cast ada nama Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, Dicky Tatipikalawan, Calvin Petrus dan Antonio Do Rosario.

Overall, film ini sangat cocok ditonton bersama anak dan keluarga. Selain menjadi suguhan hiburan, Rumah Merah Putih juga dapat memupuk rasa nasionalisme. Untuk itu saya tak segan-segan memberikan angka 8.0/10 untuk keberanian dan komitmen Ari Sihasale melalui film-film seperti ini.

Review Rumah Merah Putih
568 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail