Review Film Susi Susanti-Love All: Film Biopik Bertema Olahraga yang Menarik

Review Susi Susanti Love All – Susi Susanti adalah legenda. Jika berbicara tentang bulutangkis (terutama bulutangkis putri), Susi Susanti adalah satu ikon yang membesarkan nama Indonesia lewat segudang prestasinya.

Di tahun 2019 ini, Damn! I Love Indonesian Movies bekerja sama dengan Oreima Films dan East West Synergy membuat film biopik tentang Susi Susanti.

Diproduseri oleh Daniel Mananta dan Reza Hidayat, film ini disutradarai oleh Sim F. Film yang berjudul Susi Susanti-Love All ini merupakan debut film panjang dari Sim F. Susi Susanti-Love All dibintangi oleh Laura Basuki dan Dion Wiyoko sebagai pasangan Susi Susanti dan Alan Budikusuma.

Film Susi Susanti-Love All bercerita tentang Susi Susanti (diperankan Laura Basuki) tumbuh di tanah kelahirannya Tasikmalaya bersama orang tua dan satu orang kakak, Rudy.

Ibu Susi merupakan seorang pengusaha bakpau, sementara ayahnya, Rishad Haditono (Iszur Muchtar) adalah mantan atlet PON.

Baca juga : Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Thriller Slasher dengan Bumbu Mitos Cerita Rakyat yang Menarik

Kisah ini dibuka dengan adegan Susi kecil (Moira Tabina Zayn) yang kabur saat harus tampil menari balet di panggung 17-an. Dia memilih menonton sang kakak bertanding bulutangkis yang berakhir kalah dan diejek oleh lawannya.

Tak terima si kakak diejek, Susi menantang sang juara bertahan bulutangkis di Tasikmalaya untuk bermain dengannya.

Susi kecil sukses melumpuhkan lawan dan kemenangan tersebut membuatnya mendapat tawaran berlatih di PB Jaya Raya. Pertandingan yang tak direncanakan itu membuka kiprah Susi Susanti di dunia bulutangkis.

Adegan demi adegan menggambarkan kerja keras Susi memenuhi ambisi menjadi nomor satu. Mengumpulkan emas yang dia janjikan kepada sang ayah.

Dalam usahanya, Susi mendapatkan sokongan termasuk dari sang idola Rudy Hartono (diperankan Irwan Chandra) yang memberinya pesan bahwa bakat saja tidak cukup, tapi butuh kerja keras serta kedisiplinan.

Saat menginjakkan kaki di Pelatnas PBSI, Susi dibimbing pelatih Liang Chiu Sia (Jenny Zhang Wiradinata).

Sia adalah bekas eksil di China yang didatangkan bersama Tong Sinfu (Chew Kin Wah) Ketum PBSI Try Sutrisno (Farhan) untuk mendongkrak prestasi bulutangkis Indonesia. Target pertama adalah mengantongi emas di Sudirman Cup perdana di Jakarta, 1989.

Gemblengan Sia sukses membuat Susi mendapatkan pengakuan internasional setelah memenangkan medali emas Olimpiade pertama untuk Indonesia Olimpiade Barcelona 1992.

Di sisi lainnya, kisah ini juga menampilkan masa-masa saat Susi menemukan tambatan hatinya, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) di pelatnas.

Secara garis besar, Susi Susanti-Love All dibangun dengan formula narasi tradisional genre film olahraga.

Formula tersebut yaitu perkenalan sang tokoh utama, menyaksikan tokoh utama mengatasi masalah, dan yang terakhir yakni menyaksikan tokoh utama memenangkan pertandingan penting dan menjadi pahlawan.

Meski begitu, tetap ada hal-hal terduga yang mampu dihadirkan oleh film Susi Susanti-Love All.  Salah satu hal yang menjadi kelebihan dari film ini visualnya mampu membawa para penonton merasakan era 80-an hingga akhir 2000-an.

Misalnya lewat benda-benda dan potret yang sesuai di era tersebut. Selain itu, tone warna vintage agak kekuningan yang diaplikasikan juga enak dipandang.

Scoring dan soundtrack film Susi Susanti-Love All juga digarap dengan amat baik. Selain deretan lagu romantis yang menemani Susi dan Alan saat berkencan, lagu nasional “Indonesia Raya” sampai “Tanah Airku berhasil membangkitkan rasa nasionalisme.

Di sisi lain, Susi Susanti: Love All menyuguhkan catatan kelam tentang bagaimana status kewarganegaraan etnis China pada masa Orde Baru. Tak hanya status yang tidak jelas, mereka pun mendapat perlakuan tidak adil oleh tindakan rasisme. 

Dari segi akting, Laura Basuki berhasil memberikan penampilan terbaik yang ia mainkan di tahun di film Susi Susanti: Love All.

Baca juga : Review Film Cinta Itu Buta: Komedi Romantis dengan Premis Menjanjikan Namun Dieksekusi Amburadul

Memerankan Susi Susanti, Laura terlihat begitu pas memperlihatkan diri sebagai perempuan yang ambisius dalam mewujudkan mimpi-mimpinya, bahkan rela melepaskan urusan pribadinya demi hal tersebut.

Sementara itu, ekspresi Dion Wiyoko saat memerankan Alan Budikusuma yang sedang kasmaran juga terlihat natural.

Adapun, kemunculan Sarwendah (Kelly Tandiono), Hermawan Susanto (Rafael Tan) dan Ardi B. Wiranata (Nathaniel Sulistyo) yang menjadi teman seperjalanan dalam mengharumkan nama bangsa Indonesia memiliki nilai tambah tersendiri karena membuat suasana dalam film semakin hidup.

Hanya saja, adegan puncak saat kemenangan Susi di Olimpiade Barcelona 1992 yang digambarkan pada film Susanti-Love All terasa kurang kuat. Ada bagian yang sepertinya tak tuntas, bahkan tidak sedramatis peristiwa aslinya.

Overall, Susanti-Love All layak diberikan rating sebesar 7.8/10 karena menyajikan film biopik bertema olahraga yang dikemas secara menarik dan mampu membangkitkan rasa nasionalisme.

83 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail