Review The Founder 2016

This is Fast food nation. Pernah makan di McD (baca: McDonald)? Ah pasti pernah dong. Kalo belum pernah makan disana, paling tidak pasti pernah melewati restaurant dengan papan nama M raksasa ini dong? Sampai akhir 2016 kemarin, udah ada 168 restoran McD di 32 kota di seluruh Indonesia (data dari situs McDonald Indonesia). Personally, McD terkenal tidak hanya karena Burger-nya, tidak juga karena Ronald McDonald si maskot, melainkan karena logo-nya yang familiar dan kerap dijadikan landmark atau patokan lokasi buat sebagian orang buta arah, Review The Founder 2016.

Baca juga : Review Captain Marvel 2019

Nah, McDonald sendiri sudah hampir 25 tahun hadir di Indonesia. Saat era 90-an sempat tenar jingle ‘Mana Lagi’ yang mempopulerkan restoran ini. Beberapa tahun kemudian Jargon ‘I’m Lovin’ it’ muncul menggantikan jingle ‘Mana lagi’ yang membuatnya bertambah populer. Sepertinya cukup sampai disini aja deh prolog perkara McDonald di Indonesia, lalu kenapa sampai harus diberikan prolog seperti ini? karena film yang bakal kita bahas, erat banget hubungannya dengan McDonald dan sejarahnya.

The Founder, Sejarah terbentuknya McDonalds

The Founder, sebuah film yang diperankan oleh Michael Keaton (Spotlight, Need for Speed) dan disutradari oleh John Lee Hancock si spesialis film sejarah dan biografi seperti;  The Alamo, The Blind Side dan Saving Mr. Banks. Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata, tentang asal muasal restoran McDonald dari hanya sebuah restoran kecil di pinggiran kota hingga saat ini mampu dinikmati jutaan orang di seluruh penjuru dunia.

Ray Kroc | Image Source: Kompas Internasional

Tersebutlah seorang sales mesin mixer bernama Ray Kroc (yang diperankan oleh Michael Keaton). Dia memasarkan mesin-nya tersebut dari satu restoran ke restoran lainnya, dari kota satu ke kota lainnya, bahkan hingga melewati batas negara bagian. Bisa dibilang hasil penjualannya tidak jelek-jelek banget, tapi karena pribadi si Ray yang gigih dan tidak pernah ngerasa ‘cukup’, doi terus berusaha menjual  mesinnya tersebut. Saat itu, awal 1900-an di Amerika sana memang sedang populer yang namanya restoran drive-in. Dimana, si pemesan bisa melakukan order dari dalam mobilnya yang kemudian pesanannya diantar oleh pelayan ke mobilnya.

Baca juga : 6 Drama Korea Wajib Tonton

Suatu hari Ray dapet pesanan 8 mixer dari sebuah restoran di San Bernardino, California. Ini membuat Ray kaget dan penasaran. Kaget karena banyak dari restoran drive-in yang pernah dia tawarkan mesin mixer menolak mentah-mentah mesin mixer-nya, lho kok ini tiba-tiba ada restoran yang mau ingin memesan mesin mixer hingga 8 Unit! Penasaran, Ray langsung bergegas ke lokasi restoran tersebut. Sampai disana, Ray kaget melihat sistem yang berbeda dengan yang biasa dia lihat di kebanyakan restoran drive-in yang pernah dia temui. Di restoran milik Dick dan Mac McDonald ini, para pemesan harus turun dari mobil dan antri untuk mendapatkan pesanan mereka. Dan yang paling bikin Ray kagum adalah pesanan langsung tersedia beberapa menit begitu dia memesan. Ini jelas berbanding terbalik dengan sistem yang biasa ditemukan di restoran drive-in kebanyakan, dimana si pelanggan harus rela menunggu lama hanya untuk sebuah burger dan segelas softdrink.

McDonald brothers | Image Source: kingnail.info

Tanpa basa-basi, Ray lalu mengundang sang pemilik Restoran (Dick dan Mac McDonald) makan malam untuk berbagi kisah kesuksesan restoran milik mereka, yang lalu diberi nama Speedee service system. Berawal dari sini, Ray melihat adanya peluang untuk mencoba manjadi bagian dari McDonald dan mengembangkan usaha restoran tersebut dengan membuka cabang di lokasi lain. Namun ternyata McDonald bersaudara menolaknya, karena mereka telah mencoba beberapa kali dan gagal dengan alasan kurang-nya kontrol kualitas.

Ray lalu mencari cara bagaimana agar dapat tetap membuka cabang dilokasi lain namun tetap mampu menjaga kualitas makanannya. Akhirnya, munculah ide untuk me-waralaba-kan McDonald. Walaupun sempat ditolak oleh McDonald bersaudara, namun akhirnya Ray diijinkan untuk bekerjasama dengan McDonald bersaudara melalui sistem Waralaba. Ray kesana kemari mencari modal hingga akhirnya menggadaikan rumahnya untuk modal pembangunan restoran waralaba McDonald pertama di Des Plaines, Illinois. Berawal dari satu restoran dan berbekal kegigihannya Ray lalu berusaha terus memperluas waralaba miliknya, Tidak berhenti sampai disitu, Ray juga kerap melakukan inovasi-inovasi visioner untuk mengembangkan bisnisnya. Namun hal ini ternyata bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung McDonald bersaudara.

Baca juga : Apa Bedanya Sekuel Dengan Prekuel

Puncaknya, di tahun 1961. McDonald bersaudara menuntut Ray Kroc atas pelanggaran kontrak waralaba yang telah mereka sepakati diawal Tuntutan ini lalu berakhir dengan pembelian Merk McDonald sebesar $2.7 Juta, yang masing-masing dari McDonald bersaudara mendapat bagian; $1 Juta dipotong pajak. Namun, sayangnya Kroc nggak bersedia untuk memberikan royalti kepada McDonald bersaudara.

Review

Film dengan genre seperti ini (Sejarah dan Biografi) sangat sulit untuk mengutak-atik jalan cerita. Namum di film ini John Lee Hancock berhasil membuat jalan cerita yang menjemukan menjadi sangat menarik. Pun, mungkin banyak dari penonton yang sudah tahu tentang sejarah berdirinya McDonald, tetap masih akan menemukan keasyikan tersendiri saat menonton film ini. Hancock, berhasil memaksimalkan akting Michael Keaton hingga membuat jalan cerita jadi terkesan tidak begitu penting. Plot ceritanya maju, ada satu atau dua flashback minor yang tidak mempengaruhi alur cerita. Sinematografinya pun nggak terlalu brilian, kenapa? karena ekspos kota-kota di Amerika pada jaman itu tidak dibuat terlalu luas, ya hanya sekitar restoran dan interior ruangan yang memang di eksekusi mendekati setting aslinya.

Kualitas Michael Keaton sepeti yang tertulis diatas; keren banget. Walaupun kita tidak tahu bagaimana sifat Ray Kroc aslinya. Namun penggambaran sosok pria gigih, tekun dan sedikit greedy berhasil dibawakan oleh Michael Keaton dengan sangat ciamik. Sebagian dari kalian yang sudah menonton film ini berusaha untuk tidak membenci dia karena sifat serakahnya tapi di sisi lain kalian tidak bisa terlalu sebel karena sifat pantang menyerahnya, dilema kan? Sedangkan untuk scoring musik dan kualitas akting aktor lainnya, terbilang biasa-biasa aja.

Baca juga : Avengers Endgame : Hulk Bakal Mati?

Satu hal yang bisa diambil dari film ini adalah tentang betapa kejamnya dunia Bisnis. Man! seandainya kalian bisa merasakan betapa keselnya keluarga McDonald melihat kesuksesan Ray Kroc diatas penderitaan kakek buyut mereka. Hingga saat ini kalau McDonald mendapatkan royalti dari Waralaba restoran ini, mungkin keluarga McDonald bakal terus menerus ada di daftar 100 orang terkaya didunia versi Forbes. Kejam-nya lagi, di film ini juga digambarkan kalau McDonald bersaudara harus melepas papan nama McDonald di restoran miliknya karena Merk McDonald sudah dibeli dan dipatenkan oleh Ray, parahnya (lagi) Ray sengaja membangun restoran McDonald di seberang restoran asli-nya untuk ‘membunuh’ usaha dari McDonald bersaudara. Bisnis itu kejam kan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *