Review Film The Peanut Butter Falcon: Heartwarming dan Memikat!

Review The Peanut Butter Falcon – Ikatan emosional awalnya terkadang diawali dari hal-hal sederhana. Kesederhanaan inilah yang coba ditampilkan oleh film The Peanut Butter Falcon.

Disutradarai oleh Tyler Nilson dan Michael Schwartz, film The Peanut Butter Falcon ini dibintangi Zack Gottsagen, Shia LaBeouf, Dakota Johnson.

Film The Peanut Butter Falcon berkisah tentang Zak (Zack Gottsagen), pria pengidap Down Syndrome yang terjebak di panti jompo karena tak memiliki keluarga lagi lagi. Ia berulang kali mencoba kabur dari tempat yang dirasa bukan untuk dirinya tersebut.

Bukan hanya karena merasa tak nyaman, pelarian itu ia lakukan juga demi mengejar impian menjadi pegulat seperti sang idola, The Salt Water Neck (Thomas Haden Church).

Tujuan Zak untuk kabur tergolong sederhana, pergi ke sekolah gulat milik Salt Water Neck dan berguru langsung kepadanya.

Baca juga : Review Film Cinta Itu Buta: Komedi Romantis dengan Premis Menjanjikan Namun Dieksekusi Amburadul

Dalam pelarian tersebut, Zak bertemu dengan Tyler (Shia LaBeouf), seorang nelayan yang kabur usai membakar perangkap ikan di pelabuhan. Tyler sebelumnya hidup tenang.

Tapi usai kepergian sang kakak, hidupnya berantakan. Untuk meneruskan hidup, Tyler harus sikut-sikutan dengan nelayan lainnya. Puncaknya, pembakaran perangkap itu.

Kemudian, Tyler memilih kabur ke sebuah pesisir yang disebut sebagai tempat para nelayan kecil bertahan hidup. Dalam pelarian itu, Tyler bertemu Zak. Keduanya bersama melalui lika-liku petualangan, bersenang-senang di tepi pantai, sampai menemukan keyakinan akan Tuhan.

Tidak hanya itu, mereka juga berhasil membujuk Eleanor (Dakota Johnson), petugas panti yang semula mencari Zak kemudian mengembalikannya ke sana, untuk ikut bergabung dalam petualangan.

Sepintas, film The Peanut Butter Falcon ini mempunyai kisah yang sederhana dan cenderung klise, yaitu upaya mewujudkan mimpi, kesetiaan dalam persahabatan, mengikuti kata hati, dan menikmati juga memaknai hidup yang sudah dimiliki.

Namun, hal-hal tersebut justru yang membuat film The Peanut Butter Falcon menjadi heartwarming dan menarik untuk ditonton. Bila kamu pernah menonton Wonder ataupun Captain Fantastic, mungkin The Peanut Butter Falcon punya “emosi” yang sama.

Meski berfokus pada kisah pengidap Down Syndrome, namun energi positif dan nilai-nilai kehidupan di dalamnya jadi pondasi utama dari The Peanut Butter Falcon ini.

Dari sisi akting, film The Peanut Butter Falcon (mungkin) merupakan salah satu penampilan terbaik dari Shia LaBeouf.

Shia jelas sangat meyakinkan sebagai seorang nelayan yang mengalami pahitnya kehidupan hingga kemudian belajar arti kebahagian dan nilai hidup yang lebih luas pasca bertemu Zak, pengidap Down Syndrome yang tetap optimis dan memandang segala hal dengan positif meskipun memiliki banyak keterbatasan pada tubuhnya.

Tak hanya dengan Zack, bersama dengan Dakota Johnson pun Shia LaBeouf mampu menampilkan chemistry yang cukup apik. Penampilan keduanya dalam film The Peanut Butter Falcon ini berhasil meyakinkan penonton bahwa dua insan ini memang betul-betul kasmaran meskipun masih saling menyembunyikan pada awalnya.

Zack Gottsagen yang di dunia nyata memang seorang pengidap Down Syndrome mampu membuktikan bahwa keterbatasan tubuhnya bukanlah halangan untuk menggapai mimpi. Zack membuktikan bahwa nilai kehidupan yang dibawanya ke dalam film, adalah sebenar-benarnya dirinya di dunia nyata.

Duo sineas Tyler Nilson dan Michael Schwartz berhasil meracik berbagai unsur pendukung seperti action, drama, dan komedi menjadi kombinasi yang ideal, tanpa ada salah satu yang memiliki warna lebih dominan.

Baca juga : Review Film 27 Steps of May: 27 Langkah Pemulihan Korban Kekerasan Seksual Berdamai dengan Masa Lalunya

Hal tersebut membuat The Peanut Butter Falcon tampil dengan warnanya sendiri meskipun menggunakan tema yang juga pernah muncul pada film-film lainnya.

Satu-satunya kekurangan The Peanut Butter Falcon sejatinya ada pada beberapa konflik yang tidak klimaks dalam penyelesaiannya. Hal ini termasuk beberapa konflik yang tampak tiba-tiba timbul kemudian tenggelam tanpa dijelaskan lebih lanjut.

Overall, The Peanut Butter Falcon layak diberikan rating sebesar 8/10 karena menyajikan sebuah kisah perjalanan yang berat dari rasa kehilangan, penyesalan, dan penebusan (dosa), tetapi lewat gelaran emosi, terutama bagian kisah hidup Zak yang miris (ditinggalkan keluarganya sendiri).

Meski begitu, ia masih memiliki harapan untuk berjuang hidup, nuansa kelam hampir tak terasa, tergantikan getaran positif, dan kebesaran hati yang akan terbawa oleh kita selepas film usai.

29 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail