Review Wonder Woman, Film DC yang Tak Lebih Baik dari The Dark Knight

Banyak review positif dari berbagai media mengenai film Wonder Woman yang ‘hype’ banget, di IMDB saja Wonder Woman mendapat rating 8.1 dari 100ribuan user. Sedangkan situs Rotten Tomatoes yang notabene ‘rada’ pelit rating, memberikan 92%.

Film dibuka dengan adegan Diana sedang berada di Louvre, Prancis. Dan dia kedatangan kiriman dari Bruce Wayne yang ternyata isinya adalah foto asli Diana bersama kawan-kawannya semasa Perang Dunia I. Plot kemudian mundur kemasa saat Diana kecil dan tinggal di sebuah pulau bernama; Themyscira, sebuah pulau yang terisolasi secara gaib dari dunia luar dan hanya dihuni oleh para wanita suku Amazon.

Diana (Lilly Aspell) lahir dari tanah liat yang kemudian ditiupkan ruh oleh Zeus, dirawat dan dibesarkan oleh Hippolyta (Connie Nielsen) Ratu dari Themyscira dan sekaligus Ibu dari Diana. Suku Amazon di Themyscira memiliki doktrin kalau semua manusia itu diciptakan dengan hati yang baik, yang membuat manusia menjadi jahat dan senang berperang adalah Ares, anak Zeus dan juga dewa perang. Berpegang dengan doktrin tersebut, Antiope (Robin Wright) yang seorang Jendral Amazon dan sekaligus adik dari Hippolyta sangat ingin melatih Diana agar dirinya mampu bertahan saat Ares kembali dan menyerang mereka. Proses pelatihan Diana pun dimulai, dan karena memang keturunan dewa, kemampuan bertarung Diana tak sepele, Antiope dan rekan-rekan lainnya sampai terkejut dibuatnya.

Review Wonder Woman
Review Wonder Woman | Source: imdb.com

Suatu hari, secara tak sengaja sebuah kapal menembus isolasi gaib dan jatuh di lepas pantai pulau Themyscira. Diana dewasa (Gal Gadot) yang melihat hal itu lalu terjun kelaut dan mencoba menolong pilot yang terjebak didalam pesawat. Pilot tersebut adalah mata-mata Inggris untuk Jerman bernama; Steve Trevor (Chris Pine). Ternyata si Steve sedang dalam pengejaran. Singkat cerita, Diana yang masih berfikir kalau sebab musabab perang di dunia Steve dikarenakan campur tangan Ares, akhirnya ikut Steve kembali untuk membunuh Ares dan membantu menghentikan perang.

Baca juga : Review Logan, Film Superhero dengan Balutan Aksi yang Sadis

Sesampainya di London, Diana yang memang ‘kampungan’ terlihat shock dengan peradaban dan kebudayaan yang sangat berbeda jauh dengan di Themyscira, tempat tinggalnya. Setelah beberapa waktu beradaptasi dengan adab dan cara berperilaku di dunia normal. Steve yang ditemani Sameer (Saïd Taghmaoui) si ahli penyamaran, Charlie (Ewen Bremner) si penembak jitu dan Chief (Eugene Brave Rock) si penyelundup, kemudian membawa Diana ke garda depan. Tentu saja untuk menghadapi pasukan Jerman yang di pimpin oleh Jendral Ludendorff (Danny Huston) dan Profesor ahli Biokimia bernama Dr. Maru (Elena Anaya) yang tengah berusaha membuat senjata biologi untuk memenangkan perang.

Setelah selesai menonton filmnya, you know what i feel? honestly i have no idea why so many people think it’s so amazing. Buat saya secara pribadi film ini biasa aja. Okelah, saya akui film ini mungkin lebih baik daripada beberapa film DC sebelumnya seperti Green Lantern (yang memang sampah banget) dan Batman V Superman yang feel-nya kurang mengena. Tapi jelas film ini masih belum bisa mengalahkan The Dark Knight -nya Christopher Nolan (sesama film DC). Sorry to say, untuk yang mungkin tidak setuju dengan opini saya. Tapi saya punya beberapa alasan kenapa tak begitu setuju dengan banyak pendapat orang yang menganggap film ini suangat emejing, here we go.

First of all, Saya jabarkan kenapa film ini lebih baik dari film DC sebelumnya;

Setting Lokasi

Untuk setting-nya terbilang ciamik. Apalagi penampakan Themyscira yang super kece, pulau terpencil, terisolasi dan punya keindahan luar biasa seperti disurga. FYI, lokasi syuting Themyscira ada di Amalfi Coast, Itali setelah tim pra produksi mereka survey ke 47 lokasi sebelumnya. Setting lokasi lain seperti London dan Belgia semasa perang dunia I pun masih bisa dibilang ‘oke’ walaupun saya yakin banyak banget sentuhan CGI di lokasi-lokasi tersebut.

Review Wonder Woman
Review Wonder Woman | Source: Sreen Rant

Gal Gadot Effect

Yes! Bisa jadi film Wonder Woman ini bisa mendapat banyak perhatian dan atensi besar karena Aktris asal Israel ini. Dunia film Holywood dan perfilman lokal kita khusus-nya, sangat jarang mendapati jagoan ‘cewek’. so, people love watching a hot woman kicking ass. Mungkin film bagus terakhir yang saya tonton dimana jagoannya cewek adalah Kill Bill, Underworld atau Hunger Games?. Akting Gal Gadot disini juga menurut saya oke dan total banget. Menurut info, dia sempat melakukan workout selama 9 bulan untuk menambah massa ototnya sampai terlihat seperti yang kalian liat di film. Bukan cuma Gal Gadot, akting dari lawan mainnya; Chris Pine juga tak bisa dibilang standar dan oke punya.

The Fight.

Mungkin ini satu satunya hal paling menonjol di film Wonder Woman ini. Adegan fight nya walaupun pendek-pendek tapi sangat memorable dan kece. Ya jelas aja,  Connie Nielsen yang memerankan ibunya Diana pernah bilang begini;  “we have 3,000 calories a day, and then do two hours of weightlifting, two hours of swordplay, and two hours of horseback riding.” yang mana model latihan kayak begitu nyaris sama dengan yang dilakukan para aktor di film 300 -nya Gerard Butler.

And so on, berikut adalah kenapa nih film nggak sebagus seharusnya;

The Plot hole

Ada beberapa plot hole yang ‘nyata’ di film ini. Salah satu yang paling kentara adalah perkara umur si Diana. Diceritakan kalau Diana merupakan turunan langsung dari Zeus, makanya doi punya kekuatan super. Tapi, Diana kecil tumbuh menjadi dewasa (Saat perang dunia 1) lalu seperti yang kita ketahui Diana tetep kekal sampai zaman sekarang (Based on film Batman v Superman). Pertanyaannya, kenapa pertumbuhan Diana terhenti saat usia dia sekarang ini? kalaupun memang ada jawabannya, hal itu tidak dijelaskan didalam film.

Review Wonder Woman
Review Wonder Woman | Source: imdb.com

The Script

Nama Zack Snyder sebagai sutradara memang tidak ada lawannya. Tapi  sebagai penulis ternyata tidak begitu ‘ngaruh’ ke jalan cerita film ini. Beberapa hal yang keliatan sampah di film ini adalah pemeran antagonisnya. Pemeran antagonis di film ini tidak diberikan porsi berimbang dibanding dengan tokoh utama, bahkan masih tidak berimbang dibanding pemeran pembantu kayak Saïd Taghmaoui yang memerankan Sameer.  Selain itu munculnya peran pembantu yang melengkapi team-nya Steven tanpa ada motif dan tujuan yang jelas mereka mau ikutan ke garda depan dengan Steven. Mungkin ini dibuat untuk melengkapi scene foto Diana dengan Steven dan teman-temannya yang udah terlanjur muncul di Batman V Superman.

Baca juga : Review It Follows, Film Horor Ber-Budget Rendah dengan Kualitas Indah

Ya kira-kira itulah beberapa alasan saya (masih) mengapa menganggap film ini biasa-biasa aja. Ya memang masih banyak hal positif yang bisa digali di film ini, tapi ada beberapa hal juga yang masih standar seperti Efek CGI ledakan yang masih sedikit keliatan ‘bikinan’. Atau penampilan musuh yang sangat mudah ditaklukan. Saya tidak bilang nih film jelek, tapi kurang setuju juga kalo film ini di bilang Buagus banget. Anyway, film ini masih tetap layak disaksikan berulang kali atau bahkan jadi bahan koleksi.

100 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail