Review X-Men Dark Phoenix, Film X-Men terakhir Fox yang Mengecewakan

Review X-Men Dark Phoenix

Review X-Men Dark Phoenix: Setelah kejadian di film X-Men:Apocalypse, X-Men tidak lagi ditakuti dan dibenci oleh masyarakat. Mereka dipuja-puja oleh publik. Profesor X lalu ditunjuk oleh pemerintah sebagai perwakilan para mutan dari seluruh dunia.

Suatu ketika, sebuah pesawat luar angkasa terjebak dalam sebuah solar flare. Untuk menyelamatkan mereka, pemerintah lalu meminta bantuan kepada Profesor X yang kemudian mengutus para X-Men untuk melakukan misi penyelamatan. Sayangnya, saat tengah melakukan misi penyelamatan, Jean hampir terbunuh ketika dia terjebak oleh kekuatan kosmik misterius. Begitu dia kembali ke bumi, kekuatan ini tidak hanya membuatnya jauh lebih kuat. Tetapi juga membuatnya menjadi jauh lebih tidak stabil.

Baca juga : Review Godzilla: King of the Monsters, Pertarungan Epik dibalut Plot yang Monoton

Jean pun mencoba untuk ‘bertarung’ dengan entitas lain yang ada didalam dirinya tersebut, namun selalu gagal. Akhirnya, Jean pun lepas kendali dan melukai orang-orang yang paling dia cintai. Hal ini membuat para anggota X-Men lainnya kembali bersatu dan mencoba untuk menyelamatkan Jean. Tak hanya itu, para anggota X-Men juga harus menyelamatkan bumi dari ancaman alien yang ingin menguasai kekuatan Jean dan memerintah galaksi.

Tak Banyak Adegan Action

Review X-Men Dark Phoenix

Film Dark Phoenix dimulai dengan cukup baik. Sejak awal film penonton sudah diperlihatkan Jean Gray kecil dengan orang tuanya dan tragedi mengerikan yang memisahkan mereka. Penonton juga akan ditunjukkan bagaimana proses Profesor Xavier berhasil membujuk dan membawa Jean kecil ke sekolahnya. Ini adalah momen yang menyentuh dan menjanjikan. James McAvoy berhasil merepresentasikan seperti apa sosok pahlawan yang sebenarnya, melalui tindak-tanduknya, bukan melalui kekuatannya.

Tidak ada banyak adegan ‘action’ di film ini, adega-adegan ‘action’ yang tak seberapa jumlahnya tersebut justru sangat menghibur. Tidak ada adegan ‘Big Fighting’ seperti di film-film X-Men sebelumnya, namun hal tersebut terbayar lunas setiap kali melihat Magneto menghancurkan benda dengan kekuatannya. Atau saat Cyclops menembakkan ‘sinar’ matanya.

Di film ini pula, akhirnya cita-cita Profesor X terwujud, yaitu membuat manusia dan mutan dapat hidup damai berdampingan. Hal ini tentu saja, membuat rasa penasaran para fans akan masa depan hubungan manusia-mutan terjawab. Walaupun, tentu saja hal tersebut tak berlansung selamanya.

Easter Egg MCU?

Film X-Men produksi Fox terakhir ini juga memiliki sejumlah Easter Eggs untuk kalian para penggemar komik. Ada Chris Claremont sang pencipta beberapa karakter X-Men dan penulis Phoenix yang menjadi cameo. Dan yang paling mengejutkan adalah saat di akhir film terlihat sebuah kelompok mutan tengah berkumpul, mereka semua memakai badge di lengan bertuliskan “MCU”. Apakah ini hanya sebuah kebetulan? atau memang dibuat sebagai penanda X-Men akan segera bergabung dalam Marvel Cinematic Universe?

Baca juga : Review Film Aladdin 2019, Sukses Mengadaptasi versi Animasi-nya

Tone Warna dan Scoring musik yang Aneh

Dark Phoenix dibuat dengan tone yang terlihat aneh. Pada dasarnya (mungkin) color grading yang ingin diangkat bertema ‘Dull’. Namun, nyatanya hal ini tidak dieksekusi dengan sempurnya. Alhasil, tone film Dark Phoenix jadi ‘berasa tanggung’. Berada antara tone warna yang ‘pucat’ dengan tone melankolia yang samar.

Tak hanya itu, scoring musik film Dark Phoenix juga terbilang gagal. Lagi-lagi, sepertinya scoring musiknya ingin dibuat bernuansa retro ala Stranger Things atau Thor:Ragnarok. Dengan paduan musik noise dengan synthesizer 80-an. Namun, sepertinya Hans Zimmer, orang yang bertanggung jawab akan scoring musik-nya gagal mewujudkan hal tersebut.

Kualitas Akting Standar

Review X-Men Dark Phoenix
James McAvoy – Review X-Men Dark Phoenix

Untuk kualitas akting para pemerannya-pun terbilang standar. Yang cukup mencuri perhatian hanyalah McAvoy dan Jeniffer Lawrence yang tampil gemilang diantara aktor lain yang terlihat ‘biasa’ saja. Begitu pun dengan naskahnya yang ditulis ‘serampangan’. Dialog-dialog yang ditampilkan terasa sangat ‘klise’ dan naif, kurang menggambarkan betapa tragedi tengah menimpa para anggota X-Men dan penduduk bumi.

Overall, Fox bersama Simon Kinberg sebagai sutradara sepertinya gagal membuat film terakhir X-Men (dibawah naungannya) menjadi film terakhir yang memorable. Jika, boleh membandingkan dengan film-film X-Men sebelumnya, tentu saja Dark Phoenix sangat pantas berada di deretan terbawah.

Dengan berat hati, kami memberikan rating 6/10 untuk film X-Men Dark Phoenix ini.

784 kali dilihat
Ads

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail