Unbreakable – Chapter 1

#1 Do i Know You

“Do I know you?”
Wanita itu bertanya sambil mendekatkan tubuhnya, kedua mata-nya yang bulat memandang ke arah gua dari balik kacamata-nya yang seperti tidak memiliki lensa.

“Mmm.. maaf mbak? Saya salah orang..”
Gua menjawab gugup, sambil melinting bagian rambut di belakang telinga. Kemudian memutar tubuh, dan berjalan secepat mungkin menjauh dari wanita tersebut.

“Sial..!” Gua membatin seraya berjalan cepat menyusuri reiling tangga yang mengarah turun ke basement 2, tempat dimana gua memarkir sepeda motor.

Tadi, saat jam pulang kantor, gua sempat berpapasan dengan seorang wanita yang mirip ‘abis-abisan’ dengan ‘temen’ lama gua. Berhubung saat itu, posisi gua berada di sudut lift yang sedang penuh sesak, maka gua pun cuma bisa bertahan sembari memandang yakin kearah wanita tersebut; yakin kalo doi adalah ‘temen’ lama gua.

Begitu lift sampai ke lantai dasar, gua buru-buru menghambur keluar, berjalan cepat, setengah berlari kemudian menepuk bahu dan merangkul wanita tersebut.

“Woy Sel.. apa kabar lu?”

Yang gua rangkul sontak memandang cepat ke arah gua, lalu buru-buru melepaskan rangkulan gua dari bahunya. Doi terlihat sedikit bingung dan mundur beberapa langkah. Wanita itu mengernyitkan dahinya sambil menaikkan sudut bibirnya, memandang sinis kearah gua.

Gua mempercepat langkah, tinggal beberapa anak tangga lagi dan pintu exit menuju ke basement 2 sudah terlihat. Kemudian sebuah sentuhan mengagetkan gua.

“Woy…”
Gua menoleh sambil menepis tangan yang menyentuh bahu gua barusan.
Dihadapan gua sekarang berdiri wanita yang tadi sempet salah gua kira sebagai ‘temen’ lama dan sekarang doi berada dihadapan gua sambil berkacak pinggang.

“Mampus dah..” Gua membatin dalam hati.
Gua pikir kesalahan gua nggak parah-parah banget kok, cuma salah nyapa doang. Ya okelah, sama nge-rangkul juga sih, tapi apa perlu sampai harus dikejar ke basement.

“Sorry, mbak.. saya tadi salah orang, saya kira temen saya, soalnya mbak mirip banget sama temen saya..” Gua berusaha menjelaskan sambil tersenyum, senyum maksa.

Wanita itu menaikkan dagu-nya, masih dengan pose berkacak pinggang, berdiri diantara dua anak tangga, menunduk, memandang ke arah gua. Lalu doi mulai buka suara;
“Emang temen lo, namanya siapa?”

Gua menunduk, kemudian menjawab lirih; “Marcella..”

“Siapa…?” Wanita itu turun satu langkah, menurunkan lehernya sambil menyingkap rambut yang menutupi daun telinga-nya, berusaha menunjukkan gestur ‘mendengarkan’.

Gua lalu mengulangi jawaban tadi dengan suara lebih lantang; “Cella.. Marcella..”, lalu kembali menundukkan kepala.
Wanita itu menjulurkan tangannya ke arah gua, seperti mengajak bersalaman. Gua menatapnya tangannya kemudian beralih ke wajahnya, bingung. Wanita itu kemudian meraih tangan kanan gua dengan tangan-nya yang bebas dan meletakkannya di tangannya yang masih mengatung. Gua spontan memperkenalkan diri; “Arif..”

Wanita itu tersenyum, kemudian berkata; “Marcella..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *