Unbreakable – Chapter 2

Memoirs Of Marcella Part 1

Nggak ada yang lebih ditakutkan oleh seluruh manusia di muka bumi ini selain kematian. Kalaupun ada yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri, mungkin penyebabnya adalah kecemburuan.

Gua dilahirkan dari keluarga Cina yang Nasrani. Kebetulan gua lahir di Indonesia, negara timur dengan peringkat kesopan-santunan paling tinggi diantara negara asia lainnya. Ya, memang Indonesia terkenal dengan budayanya yang kaya serta kepribadian rakyat-nya yang santun. Tapi, apakah benar?

Sejak gua lahir dan kemudian dibesarkan di Indonesia, gua selalu mendapat perlakuan yang nggak seharusnya gua dapatkan sebagai salah seorang warga negara Indonesia. Gua, atau mungkin tepat-nya kami, sering mendapat perlakuan yang kurang ‘santun’ dari rakyat Indonesia lainnya yang notabene adalah Minoritas, kenapa?

Karena kami Cina dan Nasrani.

Gua masih ingat benar, saat itu gua berusia 11 tahun. Opa dan Oma memeluk gua erat didalam kamar sambil menangis. Sementara, diluar rumah terdengar teriakan-teriakan ‘Bakar.. Bakar..” yang saling bersahutan, menggema, tanpa henti. Sesekali terdengar jeritan yang melengking dari pria dan wanita yang sampai saat ini gua nggak pernah tau mereka diapakan. Pada usia segitu, gua nggak tau apa yang sedang terjadi, gua hanya takut, takut mendengar suara-suara teriakan orang dan takut karena opa dan oma tengah menangis. Berjam-jam lamanya opa dan oma memeluk gua didalam sebuah lemari besar didalam kamar, hingga saat malam tiba akhirnya Opa memberanikan diri untuk keluar dari dalam lemari dan mengecek kondisi di luar.

Tapi, ketakutan kami nggak berhenti sampai disitu. Papah dan mamah belum kunjung pulang ke rumah. Saat itu teknologi ponsel belumlah sepopuler sekarang, sehingga sangat sulit sekali untuk melakukan komunkasi disaat genting seperti sekarang ini. Papah dan mamah memiliki usaha bengkel dan onderdil sepeda motor di bilangan Roxy, Jakarta Barat. Mereka terbilang sukses dalam menjalan-kan usahanya dan saat itu keluarga kami tergolong keluarga yang cukup berada, dikalangan etnis tionghoa sekalipun.

Saat itu..

Papah dan mamah nggak kunjung pulang, satu, dua sampai hari ketujuh. Saat dirasa opa, kondisi sudah mulai aman. Dengan mengenakan topi dan kacamata, opa untuk pertama kalinya keluar dari rumah untuk berusaha mencari papah dan mamah. Tapi, naasnya.. Bengkel papah sudah luluh lantah dengan bekas menghitam, gosong di setiap sudut tembok-nya, sementara rolling door yang menutup bengkel rusak, dibobol dan nggak ada yang tersisa. Opa akhirnya berhasil menemukan Papah di kantor polisi, tergeletak nggak sadar. Sementara mamah?

Mamah pergi.

Atau dipaksa pergi menemui Tuhan lebih cepat.

Hari-hari sesudahnya, papah yang berusaha menentang penguasa dengan menuntut keadilan atas ‘kepergian’ mamah akhirnya nggak kunjung kembali pulang. Opa dan Oma yang sudah sekuat tenaga mencoba mencegah papah untuk melakukan hal tersebut. Namun, nggak berhasil meluluhkan hati papah, dan pada akhirnya saat kembali, papah sudah nggak bisa menyapa kami kembali. Papah akhirnya pergi keharibaanNya. Saat itu gua marah, gua begitu marah. Marah terhadap semuanya, terhadap Tuhan, terhadap orang-orang yang sudah berbuat keji dan terhadap Papah, yang memutuskan untuk mencari keadilan. Padahal, kalau papah nggak pergi, mungkin gua hanya kehilangan mamah, nggak kehilangan keduanya.

Hingga pada akhirnya gua harus hidup bersama dengan Opa dan Oma yang setelah tragedi tersebut akhirnya mencoba merintis kembali usaha papah dan mamah menjalankan usaha bengkel dan onderdil sepeda motor. Memasuki tahun ke 3 setelah kepergian papah, Kami kembali ditinggalkan. Kali, ini Oma nggak berhasil melawan sakit yang telah dideritanya sejak lama dan akhirnya hanya tinggal kami berdua; gua dan Opa.

Pun begitu pedihnya kejadian yang menimpa keluarga gua. Opa nggak pernah sekalipun terlihat putus asa, dia selalu tersenyum dan penuh dengan semangat. Hal itulah yang selalu ditularkan ke Gua. Opa bahkan nggak memiliki dendam kesumat kepada orang-orang yang telah menganiaya papah dan mamah, dia selalu berpesan ke gua agar nggak memupuk dendam kepada orang lain. Gua pun akhrnya tumbuh dengan didikan seperti itu, didikan yang ceria, positif thingking dan nggak mendendam.

Tahun demi tahun berjalan. Nggak pernah ada yang special dalam hidup ini, semua berjalan biasa saja. Hingga saat gua bertemu dengan cowok kurus, yang rambut belah pinggir dengan cambang hampir mencapai dagu. Namanya Arif.

Cowok ini sedikit unik dan berbeda.

Unik karena jarang banget ada cowok ‘pribumi’ tulen yang bersedia dengan ikhlas mau berhubungan dekat dengan gua dan dia berbeda, berbeda karena dia punya sebuah anugerah yang luar biasa; Arif menderita disleksia. Sebuah fenomena dimana dia nggak bisa dengan lancar membaca sebuah kata atau kalimat. Asyik banget kan? Dia bisa dengan santai menolak untuk menjadi petugas upacara, menolak dengan santai saat diperintah membaca didepan kelas dan masih banyak banget keuntungan-keuntungan lainnya. Tapi, entah kenapa, gara-gara hal tersebut Arif seringkali dibully dan sering di kucilkan, mirip sekali dengan gua. Bedanya gua dikucilkan karena Cina sementara Arif dikucilkan karena Nggak bisa baca.

Nggak butuh waktu lama buat gua untuk jatuh hati kepada Arif. Orangnya begitu hangat dan menyenangkan, obrolan kami pun begitu klop, bahkan secara kebetulan kami memiliki selera musik yang sama. Dan, rupanya Arif pun memiliki perasaan yang sama terhadap gua.

Yes..

Gua dan Arif akhirnya menjalani hubungan selayaknya pasangan pacar masa-masa SMA. Kami selalu pulang sekolah bareng, sesekali kami pergi nonton, keluar jalan-jalan dan rela telpon-telponan berjam-jam saat libur sekolah. Pada proses-nya, kami seakan nggak terfikir akan ‘masa depan’, akan kemana dan bagaimana hubungan gua dengan Arif nanti-nya. Gua Cina dan Nasrani, sementara Arif Pribumi, muslim dan Disleksia. Kami seperti sepasang tanduk kerbau, yang selalu bersama, selalu berdua tapi ‘ujung-nya’ nggak pernah bisa ketemu. Dan, gua yakin, Arif-pun berfikir hal yang sama dengan gua. Makanya, gua nggak pernah memulai atau membuka obrolan tentang ‘masa depan’ terlalu jauh, kami nggak pernah berdebat masalah agama, masalah ke-suku-an dan yang berbau ke-dua hal tersebut. Gua nggak mau digging too deep, hingga akhirnya bisa membuka kembali luka lama saat kehilangan papah dan mamah.

Tapi, hubungan dengan perbedaan kayak yang kami jalani ini cukup unik dijalani. Kami seakan kaya dengan banyak hal, banyak topik dan obrolan. Gua nggak pernah alpa mengingatkan Arif untuk melaksanakan solat, sementara begitu juga Arif yang nggak pernah lupa mengingatkan gua saat ibadah minggu. Kadang, kami juga saling bertukar pengetahuan seputar kebudayaan dan banyak hal mengenai adat dan agama. Arif seringkali bercerita tentang islam dan budayanya yang menarik, seperti cerita tentang tokoh-tokoh post-imperial kayak Sultan Salahudin atau Ibnu Sinna.

Dan seperti biasa, seperti lumrahnya kisah cinta beda suku dan agama di negeri ini. Pasti ada beberapa pihak yang bakal menentang hubungan ini. Opa jelaslah nggak bakal dan nyatanya nggak menentang hubungan gua dengan Arif, yang jadi masalah tentu saja, sesuai dengan tebakan gua sebelumnya; Orang tua Arif.

Beberapa kali Arif, nggak bersedia saat gua meminta diajak kerumahnya. Hingga suatu hari gua memiliki kesempatan untuk mampir dengan berbekal foto kopi KTP miliknya. Dan, tadaaaa….

Tebakan gua benar. Bokap-nya Arif terlihat banget nggak begitu menyukai gua.

Cobaan kami nggak berhenti sampai disitu. Berbulan-bulan setelah-nya kami berdua harus rela dipisahkan. Arif yang sudah lebih dulu lulus SMA harus pindah ke luar kota untuk meneruskan kuliah. Sementara, gua nggak lagi mampu berkata apa-apa. Sedih? Pasti. Tapi, ini bukanlah akhir dari segalanya, gua yakin kalau kami; gua dan Arif mampu kok menjalani ‘cinta’ yang seperti ini, cinta dengan ‘perbedaan’ dan cinta yang dipisahkan. Intinya; Ceria, Semangat dan Postif thinking.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *