Unbreakable – Chapter 3

Memoirs of Marcella – Disleksia

Kenapa sih harus ada dogma yang mengatakan kalau mengutarakan cinta duluan itu harus cowok? Emang cewek nggak punya kredibilitas untuk mengatakan hal tersebut duluan? Masalahnya apa? harga diri? Trus kalo kita udah cinta, tetep harus nunggu si cowok nembak kita gitu? Iya kalo cowoknya peka, kalo nggak? mau sampai kapan ‘kita’, para cewek ini ngasih kode-kode biar ‘ditembak’? Sampe Tua!

Sabtu sore itu, hari yang (mungkin) menjadi salah satu hari yang nggak bakal gua lupakan sepanjang hidup. Nanti, Arif bakal jemput gua dan dia menjanjikan untuk mengajak gua nonton. Sebenernya, ini bukan pertama kalinya ada cowok yang ngajak gua ‘hang-out’, namun ini jelas pertama kalinya ada cowok yang ngajak gua nonton dengan sebuah alasan yang klise.

“Lo boleh keluar malem, Cel..?” Arif bertanya ke gua. Saat itu kita tengah ngobrol di kantin sekolah yang mulai sepi.

“Malemnya, jam berapa?”

“Ya, jam 7-an lah..”

“Emang kenapa? lo mo ngajak gua jalan yah?” Gua balik bertanya ke Arif, namun ia nggak menjawab. Ia hanya tersenyum kemudian kembali bertanya.

“Kalo nonton lo suka..?”

“Nonton apa? kalo nonton film di bioskop gua suka.. tapi kalo nonton topeng monyet gua ogah..” Gua menjawab asal, yang kemudian disambut gelak tawa si Arif.

“Lagian mana ada sih, orang yang nggak suka nonton di bioskop..” Gua menambahkan.

“Gua nggak suka..” Arif kembali angkat bicara.

“Masa..?” Gua bertanya, memastikan. Lalu Arif menjawabnya dengan anggukan kepala.

Setelahnya, percakapan terhenti, Hening!

“Kalo gua ajak nonton, lo mau…” Arif lalu kembali membuka percakapan.

“Mmmmm….. mau nggak ya..” gua berlagak berfikir, menimbang-nimbang sambil memandang ke langit-langit asbes kantin sekolah.

“Yaudah kalo nggak mau..”

“Mau… mau.. mau banget..”

“Nah, gitu dong.. besok bisa kan?”

“Bisa-bisa..” gua mengangguk.

“Yaudah besok agak sorean gua jemput ya, tapi gua minta alamat lo..”

“Sip… iya nanti gua catetin.. by the way, mau nonton apaan emang rif..?” Gua kembali bertanya ke Arif.

“Nonton kebakaran…” ia menjawab, sambil berlari menjauh dari gua.


Jarum jam di ruang tamu menunjukkan pukul 7.30 malam. Gua duduk di bangku rotan, sambil sesekali melongok ke arah gang didepan rumah. Pintu pagar, sengaja gua biarkan terbuka lebar. Gua sudah menunggu Arif datang menjemput sejak pukul 5 sore tadi. Tapi, hingga sekarang, Arif belum juga datang.

Gua menghela nafas panjang saat jarum jam menunjukkan pukul 8.15 malam. Gua bangkit dari tempat duduk, kemudian berjalan menuju kekamar di lantai atas. Gua menyerah!

Sempat terbesit pikiran, kalau Arif kenapa-kenapa dijalan. Atau mungkin ia ada acara keluarga mendadak yang tak bisa ditinggalkan. Namun, entah kenapa hati ini nggak bisa dikelabui, tetap merasa dibohongi. Gua membanting jepit rambut biru muda yang sejak sore tadi mengapit belahan poni rambut ke atas meja rias. Mengambil tisu basah disebelahnya dan mulai menghapus make-up di wajah.

Setelah selesai menghapus make-up dan mengganti baju. Gua duduk berpangku tangan di bibir jendela, memandang langit Jakarta yang pekat, terbiaskan dengan lampu dari gedung-gedung yang seperti tengah menunjukkan siapa yang paling perkasa. Kabel-kabel listrik bersilangan, membentuk rangkaian tak berpola dengan berbagai arku layang-layang menjuntai di salah satu helainya. Pikiran gua mulai melayang, berkelana, lalu perlahan muncul pertanyaan-pertanyaan yang sungguh gua nggak mengetahui jawabannya.

Kemana Arif? Kenapa? Ada cewek lainkah? Gua dipermainkan? Gua dibohongi?

Puncaknya adalah saat, gua mulai menyusun rangkaian kata yang akan digunakan besok untuk menghardik Arif. “Kemarin Lo kemana? Lo nggak tau kalo gua udah nunggu-nunggu lo?”

Saat tengah dalam lamunan, samar terdengar suara Arif yang sedikit menggema dari gang sempit depan rumah gua. Sesekali, suaranya diselingi dengan benturan besi pagar yang tadi sudah gua kunci. Dengan sigap gua beranjak dan setengah berlari menuruni tangga hingga di hadapan pintu didepan pintu. Setengah berjinjit gua menggapai tirai dijendela dan mengintip keluar. Melalui lubang di sela-sela pagar, Mata gua menangkap striping motor Arif dan Helm yang ia letakkan diatas jok motornya. Gua lalu tersenyum, lega arif nggak kenapa-kenapa. Namun, gua merasa senyuman ini harus tetap gua simpan, gua harus menunjukkan kepadanya, bahwa tak ada kompromi untuk keterlambatan!

Gua lalu memutar anak kunci, membuka pintu dan menuju ke pagar.

“Malem banget..” Gua berkata datar, sambil membuka pintu pagar. Kemudian bergegas masuk kedalam dan duduk dibangku rotan diruang tamu.

“Masuk..” Gua bicara setengah berteriak kepadanya.

Arif lalu melepas sepatunya, kemudian berjalan perlahan masuk kedalam. Matanya memandang kesekeliling seakan baru pertama kalinya melihat rumah seperti ini.

“Duduk…” Gua berkata sambil menunjuk kursi rotan disebelah.
Arif lalu menjatuhkan dirinya dikursi sebelah gua. Wajah teduhnya terlihat pucat, matanya masih memandang berkeliling.

“Mau minum apa?”
“Apa aja deh..” Arif menjawab sambil menebar senyum.

“Racun mau?” Gua menjawab, lalu berdiri dan menuju ke dapur. Dari kejauhan terdengar suaranya samar, berkata: “Buset..”


Saat gua kembali dengan membawa segelas orson untuknya, Arif tengah berdiri sambil memandang foto keluarga kecil gua.

“Itu bokap sama nyokap gua..” Gua bicara, memberikan keterangan foto yang tengah ia pandangi.

“Oh.. nyokap lu cakep..” katanya.

“Nyokap gua udah meninggal, rif..”

“Eh..sorry.. sorry..Cell, gua…..”

“Alah.. udah nggak apa apa.. nyantai aja” Gua menjawab sambil merebahkan diri dibangku rotan.

“Lo belom jawab pertanyaan gua tadi..” Gua bertanya kepadanya

“Pertanyaan yang mana?”

“Kenapa malem banget kesini nya?”

“Ooh.. gua nyasar, cel..”

“Ya masa orang nyasar sampe tiga jam…” Gua mengernyitkan dahi, berusaha untuk menelaah alasannya yang sangat klise. Hingga akhirnya, otak gua memutuskan bahwa alasanya hanya bualan.

“Gua…mmm… gua…” Arif tergagap, terlihat kebingunan

“Trus, mau ngapain kalo dateng udah jam segini?…” Gua memotong kalimatnya, sambil memandang kearah jam dinding yang tengah menunjukkan pukul 9 malam.

“Ya.. ngobrol.. “

“Ngobrol? Kalo ngobrol mah disekolah bisa, rif.., lo janji katanya mau ngajak gue nonton kan kemaren.. dan lo juga yang janji mau jemput gue…nyatanya dateng-nya telat, nonton juga nggak jadi..”

“…”

“Trus lo dateng tanpa rasa bersalah, planga-plongo kayak orang bego..” Emosi gua semakin meluap.

“Iya, sorry cel.. sorry deeh..” Arif berusaha meminta maaf.

Kemudian suasana mendadak berubah menjadi hening. Gua hanya terdiam sambil memasang tampang kesal, Aseli super kesel!! Arif pun begitu, ia hanya terdiam sambil memandang ke gua.

“Abisin tuh minumnya, abis itu lo pulang aja.. ngantuk gue..” Gua bicara memecah keheningan, sambil menggeser gelas minuman ke arah-nya.

“Lah..”

Arif lalu menyeruput setengah isi gelas. Sebelum ia menghabiskan minumannya, gua meraih gelas tersebut dari tangannya lalu menenggaknya habis. Kemudian gua bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu depan, membukanya dan berdiri di sisi pintu. Sebuah bentuk pengusiran!

Arif yang memahami gestur yang gua tunjukkan lalu berdiri, kemudian berjalan pelan menuju ke pintu keluar. Sambil melalui pintu ia berkata lirih; “Maaf ya Cel, padahal gua udah jalan dari rumah jam 5..”

“Trus mampir kemana dulu?”

“Nggak kemana-mana.. gua nggak bisa baca jelas..”

“Maksud lo, tulisan gua nggak kebaca? Tulisan tangan gua jelek?”

Arif nggak menjawab, ia mengeluarkan secarik kertas yang gua kenali dari tulisan gua diatasnya.

“Nggak cel, tulisan lu bagus kok, bahkan bagus banget.. tapi emang gua nggak bisa baca..” Ia mencoba menjelaskan sambil beberapa kali meralat ucapan-nya.

“Maksudnya gua bisa baca, tapi… gua..”

“…”

“Gua…”

“…”

“Gua disleksia, cel..”

“Lo kenapa?” Gua bertanya, untuk memastikan.

“Disleksia, gua bisa baca.. tapi sulit banget, apalagi kalimat-kalimat panjang dengan campuran symbol atau angka, dimata gua huruf-huruf kayak muter-muter, menari-nari..” Arif mencoba menjelaskan sambil berlalu kemudian duduk diatas sepeda motor. Sambil menyalakan mesin motornya ia berkata ke gua: “Buat orang kayak gua, nyari alamat tuh susah banget, cel..”

Kemudian ia pun pergi.

Suara motornya menderu meninggalkan gang sempit rumah gua. Dikepala gua terngiang kata-kata yang tadi ia ucapkan “Gua disleksia”


Esok harinya, pagi-pagi sekali gua sudah berada didepan sebuah ruko berlantai tiga, bercat kuning, dengan banyak berbaris sepeda motor dihalaman parkirnya. Bangunan tersebut merupakan Warnet dan game center yang cukup populer didaerah Grogol. Setelah masuk kedalamnya, gua diarahkan ke sebuah PC kosong yang berada dilantai dasar. Samar terdengan suara hiruk pikuk dari lantai atas yang merupakan game center, sepertinya banyak manusia-manusia pecinta game yang menghabiskan malamnya dengan begadang bermain game. Saat baru masuk tadi, gua sudah beberapa kali berpapasan dengan muda-mudi yang baru saja turun dari lantai atas dengan mata yang memerah dan badan yang bau got.

Gua duduk menghadapi sebuah layar monitor dengan tampilan background laut dengan seekor lumba-lumba ditengahnya. Sebuah tampilan umum yang biasa ditemukan diwarnet-warnet yang menggunakan billing sistem yang seragam. Setelah, berhasil login gua mulai membuka browser dan mulai mencari kata kunci “Disleksia”.

Sejatinya Disleksia merupakan gangguan belajar, bukan gangguan kejiwaan. Orang yang mengidap Disleksia biasanya kesulitan mengenali kata dengan lancar serta kemampuan mengeja yang buruk. Akibatnya, gangguan ini bisa mengakibatkan masalah dalam membaca dan memahami bahan bacaan. Imbasnya, tentu saja akan menghambat pemahaman akan kosakata dan makna di baliknya.

Sekalipun merupakan kondisi yang menyebabkan gangguan belajar, Disleksia ini nyatanya sama sekali nggak memengaruhi atau berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang. So, seorang yang memiliki disleksia bukan berati tolol atau memiliki IQ yang rendah. Kedua hal ini sama sekali tidak berkaitan.

Parahnya, sampai saat ini Disleksia belum bisa disembuhkan. Namun, semakin cepat hal ini diketahui, semakin cepat pula Disleksia bisa dikelola.

Fyuh…

Gua menghela nafas lega. Lega karena ‘gangguan’ yang diidap Arif bukanlah sesuatu yang ‘mengerikan’. Dan lega karena akhirnya, Arif punya alasan yang menggugurkan emosi gua semalam.

Dan entah kenapa, semakin dalam gua mengenalnya, semakin gua jatuh cinta kepadanya.


Senin siang, disekolah, gua berjalan cepat menuju ke kantin, tempat gua biasa ngobrol dengan Arif.

Suasanya di kantin, kala itu cukup lengang. Maklum, jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang, sebagian besar murid tentu saja sudah selesai menuntaskan hajatnya mengisi perut kosong mereka. Yang tersisa hanya sebagian kecil, yang masih duduk-duduk dibangku panjang dimuka kantin sambil saling bicara.

“Liat Arif nggak, kak?” gua bertanya ke salah satu kakak kelas yang gua kenali sebagai teman sekelas Arif.

“Nggak liat sih..” Dia menjawab singkat.

“Tapi, masuk kan orangnya?”

“Masuk kok, tadi ada di kelas..”

Begitu mendapat jawaban darinya, gua langsung menuju ke kelas 2-5, kelasnya Arif. Setelah mengucapkan terima kasih tentunya.

“Rif.. Arif..” Gua memanggil manggil namanya melalui kaca nako di tepian kelas.

Arif mendongak, kemudian mencari-cari sal suara. Kemudian menatap ke gua.

“Rif, keluar doong..” Gua bicara kepadanya, sambil sedikit melompat.

“Ogah ah, males..”

“Lo marah ya?” Gua bertanya, percakapan kami masih terjadi diantara jendela kelas.

Gua lalu berjalan cepat dan masuk kedalam kelasnya. Tadinya sempat berfikir dua kali untuk melakukan hal ini, karena gua cewek dan masih kelas satu, mencoba masuk kedalam kelas anak kelas dua yang tengah jam istirahat. Saat itu, merupakan hal yang ‘sedikit’ tabu, jika seorang cewek ‘nyamperin’ cowok ke kelasnya. Tapi, ah peduli setan!

Daaan, tebakan gua benar!

Begitu gua menginjakkan kaki dan mulai berjalan menuju ke Arif yang duduk dibangku deretan paling belakang. Sontak seisi kelas mendadak terdiam, semua mata memandang ke arah gua, kemudian disusul suara riuh rendah dan sesekali terdengar sahutan “Ciee..ciee..ciee”.

Gua berdiri disamping Arif yang masih duduk dan menggambar. Lalu, mulai bicara; “Sorry ya rif… yang kemaren..”

Arif lalu menghentikan gerakan pensil diatas kertas sketsa, lalu melemparkan pandangan ke gua. Setelah menghela nafas panjang, ia berdiri dan berjalan keluar kelas, menuju ke belakang kantin, tempat biasa kami ongobrol. Sementara gua, berjalan mengikuti langkahnya yang cepat, kami berdua berjalan dalam diam, tak bersuara.

“Rif.. Maafin gua ya..” Gua kembali mengajukan permohonan maaf, begitu kami sampai di belakang kantin.

“Lu nggak salah kali cel..” Arif menjawab santai.

“Gua salah, rif.. gua yang salah… gua nggak tau kalo lo itu…..”

“Gua disleksia?..” Arif memotong kalimat gua.

“Tau begitu, mending kita ketemuan aja kemaren, ngapain juga gua minta jemput lo, bego!” Gua bicara mengutuki diri sendiri sambil memukul pelan kepala.

“Rif..”

“Cel.. dari awal sebenernya gua udah siap..”

“Siap untuk apa?”

“Siap kalo lu ninggalin gua saat tau gua kayak gini”

“What? Picik banget pikiran lu rif,..”

“Soalnya gua sering banget ngalamin kejadian kayak gini cel, seriiing banget… temen atau sahabat yang menjauh bahkan ninggalin gua karena gua nggakl bisa baca…”

“Loh, itu kan yang laen.. kalo gue nggak..”

Terlihat Arif menyunggingkan senyumnya, seakan menyindir pernyataan gua barusan.Gua lalu mencubit kecil pinggang-nya lalu berkata;
“Tembak gua sekarang rif…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *