Unbreakable – Chapter 5

Alive

Chapter Sebelumnya –> Klik disini

“Salam yah buat orang rumah…” Marcella bicara, kemudian berdiri. Sambil menggenggam gelas latte miliknya.

“Cell…” Gua meraih lengannya “Kita masih bisa ngobrol kan?”

Marcella tersenyum, kemudian menjawab lembut; “Anytime, rif.. anytime…”
Ia lalu perlahan menjauh, membuat genggaman gua dilengannya terlepas.

“Bye…” Sambil melambaikan tangannya, ia mengucapkan sebuah kata kecil yang bermakna besar. Sebuah perpisahan yang mungkin tanpa kemungkinan untuk kembali.

Gua menyambut senyum-nya dengan segaris senyum yang sama. Senyum ‘palsu’ refleksi dari kebencian diri sendiri yang tak mampu membuatnya bertahan. (Mungkin) perasaan yang sama juga menjangkiti dirinya.

“Bye then…” gua menjawab lirih, kemudian bangkit dan berlalu ke lobby lift untuk kembali ke lantai atas. Enggann melihat kembali punggungnya yang menjauh, lalu hilang.

“Udah kelar ngepak?” Suara Bang Boi membuyarkan lamunan gua akan Marcella. Saat tengah berjalan gua berpapasan dengannya yang terlihat kesulitan membawa barang-barang bawaannya dalam dua buah kardus, yang masing-masing diapit kedua lengannya.

“Udah…, lah ngapain lu bawa sendiri bang?” Gua bertanya begitu melihat dua kardus yang dibawanya.

“Gua kayaknya mau ngurangin barang-barang gua yang dikantor, mau gua bawa balik aja…” Ia menjawab santai, sambil melirik tangan gua yang bebas.

Tau maksud dari lirikan matanya, dengan cepat gua meraih sebuah kardus diantara lengan dan pinggangnya. Kardus tersebut terisi penuh dengan barang-barang pribadi miliknya, saking penuhnya, kardus tersebut dibiarkan terbuka. Di bagian atas tumpukan barang dalam kardus, tersembul sebuah foto dengan frame biru muda berukuran postcard, terpampang wajah istri dan anaknya; Kak Sofia dan Jani yang tengah berpose dipuncak sebuah gunung.

Selain foto tersebut, terlihat juga barang-barang pribadi milikinya. Salah satu yang menarik pandangan gua adalah sebuah suling berwarna putih yang biasa digunakan anak sekolah dasar tahun 90-an untuk mata pelajaran kesenian musik. Dan sebuah mangkuk juga piring berbahan melamin. Tebakan gua, ada pula sendok dan garpu yang mungkin terbenam didasar kardus, diantara tumpukan barang aneh miliknya.

“Ya lagian, barang-barang ginian ngapain lu bawa ke kantor, bang..” Gua mengomentari isi kardus tersebut sambil mengangkat suling miliknya.

“Buat koleksi…” ia menjawab enteng, sambil berlalu.

Gua mengekor dibelakangnya sambil terus berusaha mencari tahu barang-barang aneh apalagi yang ada didalam kardus miliknya yang saat ini tengah gua bawa.

Dalam perjalanan menuju ke basement, Bang Boi melambatkan langkahnya, menyamakan langkahnya dengan gua.

“Lu abis ketemuan sama si…. siapadah namanya?” Bang Boi bertanya ke gua.

“Marcella… “ Gua menjawab singkat.

“Iya, Marcella.., masih kontak-kontakan lu berdua?”

“Kagak.. dia juga mau pindah ke Bandung…”

“Patah hati abis-abisan dong lu?”

“…” Gua nggak menjawabnya. Seharusnya Bang Boi sudah tau apa jawabannya.

Beberapa menit berikutnya, kami sudah berada basement, tempat dimana Mobil Bang Boi terparkir. Ia menekan kuncinya, dan membuka bagasi belakang, meletakkan kardus yang ia bawa lalu meraih kardus yang berada ditangan gua.

“Udah mendingan lu sama si… siapa namanya yang waktu itu?…”

“Fani..”

“Iya, udah lu sama dia aja… islam kan?”

“…” Gua mengangguk.

Bang Boi menutup pintu bagasi mobilnya, “Kelar kan masalah lu, langsung dikasih jawaban sama Tuhan….” Ia bicara sambil menepuk pundak gua.

“Lu mau langsung balik?” ia menambahkan.

“Tas gua masih diatas…” gua menjawab sembari mengangkat jari telunjuk gua ke arah atas.

“Yaudah ayo…”

“Lah, lu balik ke atas lagi?” gua memastikan.

“Iya, masih ada dua kardus lagi..”

“Isinya model yang kayak tadi semua?”

“Iya…”

“Buset, mau jadi tukang loak lu, bang?”

“tukang sirkus…”


Hari pertama menempati gedung kantor baru.
Sebagian besar karyawan mabok!
Bukan, bukan karena minum-minum karena selebrasi gedung anyar, bukan pula gegara perjalan ‘jauh’. Namun, karena sebagian besar ruangan di kantor baru saja selesai dipasang parkit lantai yang proses pemasangannya menggunakan lem aibon.

Iya! Mabok lem!
Sebagian besar menderita pusing-pusing akut, beberapa diantaranya malah kedapatan keluar dari toliet dengan wajah pucat dan mata ber-air, habis muntah rupanya. Hanya Daus dan Ilham saja yang sepertinya terlihat menikmati aroma lem tersebut, mereka berjongkok di ruang studio yang masih kosong melompong, menghirup dalam-dalam udara disekitarnya sambil memejamkan mata.
Gua dan Bang Boi mengenakan masker, masih terasa aroma lem aibon menembus pori-pori masker berwarna hijau yang kami kenakan. Nggak mau terlalu ambil pusing dengan bau-bau aneh, gua meneruskan membongar kardus berisi barang-barang milik gua dan mulai menatanya diatas meja.

“Us…, Daus…” Gua memanggil Daus yang masih berjongkok disudut ruangan bersama Ilham.

“Paan bang?” Ia menjawab santai.

“Bongkar barang lah…”

“Iya bang…” Ia kembali menjawab, namun masih belum beranjak dari tempatnya.

Drrrtttt…. Drrrtttt…
Ponsel gua bergetar, menari diatas meja yang masih setengah kosong. Gua menatap layarnya, sebuah notifikasi pesan muncul.

Gua menyentuh layarnya, membuka pesan; “Rip, dmn?” dari Fani.

“Di kntr” gua membalas singkat.

Menit berikutnya, balasan dari Fani masuk; “Udah pindahan?”

“Udah” — Sent

Nggak lama berselang, ponsel gua berdering. Nama Fani muncul dilayarnya.

“Rip, lo udah mulai efektif disana?” Suara Fani terdengar diujung sana, nada biacaranya terdengar antusias.

“Assalamualaikum…” Gua mengucapkan salam, memotong bicaranya.

“Oiya lupa, Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh…”

“Waalikumsalam warahmatulahi wabarakatuh…”

“Rip, rip, lo udah mulai efektif disana?” Fani mengulang pertanyaannya.

“Iya udah, ini lagi beres-beres…”

“Jadi nyari kost nggak?”

“Hmmmm.. belom diskusi sama temen yang laen sih, tapi seandainya mau, lo ada?”

“Banyaaak… tar gua cariin yang cucok, lo mau yang harga berapa? fasilitasnya kaya apa?”
“Ya… yang kayak apa aja, bebas…” Gua menjawab sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Bingung, bingung apakah harus kost atau nggak. Kalau harus kost, bingung mau kost sama siapa, kalau sendirian kayaknya nggak asik juga, nggak punya temen ngobrol dan nggak bisa sharing ongkos dan bayar sewa-nya.

“Yaudah, ntar gue cariin yang paling bagus deh… tapi daerah-nye deket rumah gue… gapapa?”

“Ya gapapa, malah enak bisa minta makan…”

“Yeee…”

Ditengah obrolan gua dengan Fani melalui ponsel, Ilham dan Daus tiba-tiba sudah berada disamping gua. Ilham bicara dengan suara yang amat pelan, bahkan nyaris tak terdengar, namun gua berhasil membaca gerakan bibirnya; “Loudspeaker…” ujarnya.

Gua menggeleng.

“Fan, ntar gua telpon lagi ya..”

“Oh, oke, lo lagi sibuk ya? yaudah nanti gue kabarin lagi..”

“Oke…”

“Dah…”

“Waalaikumsalam…”

“Oiya…. hehehe.. Asalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Gua mengakhiri panggilan, yang lalu disusul dengan suara ‘Yaaah..’ secara bersamaan dengan nada kecewa dari Ilham dan Daus.

“Lu mau ngekost nggak?” gua bertanya ke Ilham.

“Ogaaah, ngapain…. rumah gua kan deket…” Ilham menjawab, kemudian membuak laptop gua dan mulai mengetik alamat rumahnya di aplikasi navigasi. “Tuh, dari rumah gua kesini cuma 10 kilo…, ngapain gua ngekost, naek motor juga paling bensin cuma goceng, pulang-pergi…”

“Ya kalo nggak mau gapapa, gausah pake dijabarin alesannya…” Bang Boi menyela jawaban Ilham, sementara tangannya masih sibuk memilah-milah barang dari kardus miliknya.

“Lu us, mau ngekost nggak?” Kali ini gua berpaling ke Daus yang sudah mulai membongkar kardus miliknya.

“Berapa duit bang?” ia bertanya masalah harga sewanya ke gua.

“Ya belom tau, kalo lu mau ntar gua nyari dulu.. sewanya kan bisa bagi dua..”

“Eeeet… gimana ya bang…” ia menjawab ragu-ragu.

“Rumah lu kan lumayan jauh, kalo ngekost lumayan bisa ngirit bensin, ngirit tenaga…” Gua mencoba meyakinkannya.

“Yaudah deh bang.. boleh..” Daus akhirnya setuju.


Sore harinya, menjelang jam pulang kantor. Fani kembali menelpon gua. Isinya kurang lebih masih sama, perkara tawaran-nya untuk mencarikan kost yang dekat dengan tempat tinggalnya;

“Mau yang ada AC nya nggak, rip?”

“Nggak usah, ntar mahal bayar listriknya…”

“Yeee, AC jaman sekarang mah kan ada yang Low-watt, rip…”

“Nggak ah, tetep aja ntar mahal..”

“Mau yang Kamar mandinya didalem apa diluar?”

“Yang didalem lah…ada?”

“Ada, tapi tidurnya diluar…”

“Yeee….”

“Lo maen kesini deh, ntar gue unjukin tempatnya…”

“Ah, maen kerumah lo kayak pengamen gua, nggak boleh masuk, males…”

“Ooo.. ngambek ceritanya, ntar deh gue ceritain alesannya… kapan mau maennya?”

“Besok kali…”

“Sekarang aja… nih gue otw balik…”

“Ah capek gua, abis gotongin kardus…” Gua beralasan, padahal memang lelah. Tapi bukan gegara angkat kardus, tapi lebih ke menempuh perjalanan ‘agak’ jauh dengan sepeda motor. Hal yang sangat jarang gua lakukan.

“Yaudah besok ya…”

Pembicaraan kedua gua hari ini dengan Fani pun berakhir. Ilham, Daus dan beberapa karyawan lain telah lebih dulu pulang. Sebagian besar karyawan pun melakukan hal yang sama. Kebanyakan dari mereka masih harus beradaptasi dengan lokasi kantor yang sekarang. Karena beberapa dari mereka ada yang pulang menggunakan KRL Commuterline yang untuk menuju ke stasiun terdekat harus mengandalkan Shuttle bus (mobil jemputan) yang disediakan pihak kantor. So, mereka harus terbiasa pulang on time untuk menyesuaikan dengan jadwal Shuttle bus tersebut, yang hanya ‘narik’ pada jam-jam tertentu saja.

“Lu nggak balik bang?” Gua bertanya ke Bang Boi, yang tengah asik menonton video di laptopnya. Dengan tubuh disandarkan pada kursi, sementara kakinya ia selonjorkan diatas meja.

“Bentar lagi, nanggung…” Ia menjawab, wajahnya tak berpaling, masih menatap layar laptop.

“Yaudah gua duluan ya..” Gua meraih tas dan pamit ke Bang Boi.

Bang Boi mengangkat tangan kanannya, sambil menggumam; ‘Ati-ati’.

Saat perjalanan menuju ke parkiran motor, ponsel gua bergetar, sebuah pesan masuk dari Fani. Isinya terbilang cukup singkat dan padat; “Yakin?”

Gua mengernyitkan mata begitu membacanya. Bukan, bukannya gua kesulitan membaca tulisannya, melainkan kesulitan mengartikannya. Gua lalu membalasnya; “Lo salah kirim?”
Nggak sampai semenit, Fani membalas pesan gua; “Nggak :)”

“Yakin nggak mau maen sekarang? gue udah deket nih”

Gua menghela nafas, sesuatu didalam diri gua bergumam; Oooh…
“Yaudah gua kesana” — Sent


Setengah jam berlalu,
Gua menghentikan motor persis didepan gerbang gapura perumahan tempat Fani tinggal. Gua mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubunginya. Beberapa kali nada sambung terdengar, namun tak ada jawaban. Setelah menunggu sejenak, gua kembali mencoba menguhubunginya, 2 kali, 3 kali, 4 kali, dan tetap tak ada jawaban. Saat gua tengah mencoba menghubunginya untuk yang ke-5, tiba-tiba gua dikagetkan dengan sepasang telapak tangan yang menutup kedua mata gua dari belakang.

“Tebak siapa hayooo…”

Gua menurunkan kedua tangan yang menutup mata dan mendapati Fani sudah berdiri disebelah gua.

“Katanya tadi udah mau nyampe?” Gua bertanya kepadanya, perkara informasi yang ia sampaikan melalui telepon setengah jam yang lalu.

“Emang… ini tadi gue mampir dulu ke apotik..”

“Apotik? Siapa yang sakit?” gua bertanya, sambil memandang ke arah tangannya, dimana tergantung plastik kecil berlogo gelas yang dililit seekor ular.

“Yee, emang apotik cuma jual obat doang…”

“Trus beli apa?” gua bertanya penasaran

“Kepo… eh lo udah makan?”

“Belom… “

“Makan pecel yuk…”

“Ayok, tapi pengen solat magrib dulu dimana ya? dirumah lo boleh?”

“Tuh, masjid…” Fani menunjuk sebuah Masjid besar yang terletak diseberang jalan.

“Yaudah gua solat dulu deh..”

“Ayo gue temenin…”

Kami berdua lalu menuju ke masjid diseberang jalan perumahan tempat Fani tinggal. Setelah memarkir motor, gua duduk dipelataran masjid untuk membuka sepatu, sementara Fani hanya berdiri, bersandar dimotor gua.

“Lo lagi nggak solat?” gua bertanya kepadanya

Fani nggak menjawab, ia hanya mengumbar senyum.


“Emang kenapa, gua nggak boleh maen kerumah lo?” Gua bertanya ke Fani, seraya kami berjalan menyusuri trotoar menuju tukang pecel ayam yang terletak nggak begitu jauh dari Masjid tempat tadi gua Solat Magrib.

“Bukannya nggak boleh maen, cuma nggak boleh masuk doang…”

“Sama aja..”

“Beda dong..”

“Yaudah iya, beda… trus kenapa gua nggak boleh masuk kerumah lo?”

Fani bersiap menjawab ketika kami sampai dipelataran parkir sebuah bengkel motor, yang kala malam disulap menjadi lapak dagangan pecel ayam. Fani menyibak, kain spanduk yang berfungsi sebagai penutup lapak tersebut, ia berdiri menghadap ke etalase dimana didalamnya terdapat jejeran daging ayam berwarna kuning pucat yang siap untuk di goreng.

“Lo ayam apa lele?” Fani bertanya ke gua.

“Ayam…”

Fani lalu memesan dua porsi pecel ayam untuk kami berdua. Ia duduk dibangku panjang yang terbuat dari kayu, sambil meletakkan tas dan plastik yang ia bawa diatas meja, Fani mulai bercerita:

“Jangankan elo rip, pacar-pacar gua dulu aja belom pernah ada satupun yang nginjek lantai rumah gue, bokap gue tuh orangnya strict banget, apalagi sama cowok, entah itu temen apalagi pacar”

“…”

“… dia tuh kayak paranoid gitu, kalo gue didatengin cowok..”

“Emang kenapa?”

“Jadi, bokap gue kan polisi… dulu, pernah ada kasus; orang jahat yang masuk ke rumah cewek, niatnya mau ngerampok. Trus entah gimana, jadinya tuh cewek disekap dirumahnya sendiri sama perampok itu selama tiga hari tiga malam. Selama disekap itu, si cewek diperkosa…”

“Trus.. trus…” Gua penasaran.

“Nah, akhirnya ada salah satu tetangga yang curiga, karena rumah tersebut udah tiga hari kok sepi-sepi aja, kayak nggak ada kehidupan. Akhirnya para tetangga yang curiga lapor polisi. Tapi, ternyata semuanya terlambat. Pas polisi dateng, si penjahat udah kabur duluan, bawa perhiasan sama barang berharga…”

“Trus cewek yang disekap?” Gua kembali bertanya, tambah penasaran.

Fani terdiam, kemudian berpaling kearah gua, meletakkan jari telunjuknya dileher dan menggerakkannya perlahan dari kiri kekanan. Persis seperti gerakan mengiris leher.

“Mati?” Gua bertanya lagi

Fani lalu mengangguk cepat.

“Buset…” Gua merespon sambil menggelengkan kepala.

“Tuh cewe, kebetulan yang nemuin pertama, bokap gua, rip… kondisinya telanjang dengan leher kegorok hampir mau putus, tangan dan kaki diiket, trus dari kemaluannya keluar darah…. hiiiiii…” Fani bergidik ketika menjelaskan.

“Buset…”

“Tapi itu kejadian udah lama banget… jaman bokap gua masih muda… makanya doi tuh parno banget kalo ada orang asing masuk ke rumah…”

“Buset…”

“Busat-buset mulu dari tadi…”

“Shock gua denger cerita lu..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *