Unbreakable – Chapter 5

Kamu Cuma Satu

“Cell..” Gua memanggil namanya begitu jarak kami hanya tinggal beberapa langkah.

Marcella nggak merespon, ia tetap berjalan. Sesekali terlihat dari tempat gua berdiri, ia mengusap wajah dengan lengan kaos hitamnya.

“Marcella…”

Sekali lagi gua memanggilnya, kemudian bergegas menyusulnya lagi.

Gua lalu meraih lengannya, yang langsung ia tepis. Marcella menghentikan langkahnya, namun wajahnya ia palingkan, enggan menatap gua langsung. Mungkin, ia enggan (lagi-lagi) terlihat menangis didepan gua.

“Gue cengeng banget yah, rif?” ia angkat bicara

“Iya..” Gua menjawab pertanyaan yang seharusnya nggak memerlukan jawaban.

Ia terdiam sebentar, kemudian kembali berjalan. Kali ini langkahnya sedikit lebih pelan dari sebelumnya. Gua menyamakan langkah dan berjalan bersisian disebelahnya.

“Ngapain?” ia bertanya, bermaksud mempertanyakan keberadaan gua disisinya. Meninggalkan Fani.

“Ngapain lo disini?” Ia kembali mengulang pertanyaannya, kali ini lebih lengkap.

Nggak langsung menjawab, gua lalu meraih tangannya dan menggandengnya. Sama seperti sebelumnya, ia mencoba menepis tangan gua, namun gua bergeming, tetap menggandeng tangannya. Marcella kembali mencoba melepas genggaman gua sekali lagi, kali ini sembari menatap ke arah gua. “Lepas..” Ujarnya.

“Nggak” Gua menjawab tegas.

“Lepas nggak?” Marcella mengancam

“Nggak!” Gua kembali menjawab dengan ucapan dan nada yang sama seperti sebelumnya.

“Lepas nggak, kalo nggak gue….” 

“Lo mo ngapain? kalo gue nggak lepas lo mau ngapain? mau teriak?” Gua memotong ucapannya.

“Iya..” Marcella menjawab singkat

“Coba…” Gua menantang. Namun, nyatanya Marcella nggak benar-benar berteriak, melakukan ancaman yang tadi ia utarakan. Ia menghentikan langkahnya, kemudian duduk ditepi tembok pembatas antara trotoar dan sebuah taman kecil.

“Sana balik, kasian Fani lo tinggalin…”

“Nggak, gue disini aja sama lo…” Gua menjawab, kemudian duduk disebelahnya.

“Kenapa?” 

“Ya karena gue pengen sama elo…”

Nggak langsung menjawab, ia tersenyum kecil; “Enak banget jadi lo, tinggal pilih yang lo suka, yang nggak lo suka trus lo tinggalin…”

“….”

Gua terdiam nggak mampu menjawab ataupun memberikan argumen, Serba salah.

“Lo kasian sama gue ya?” Ia bertanya.

“…”

“Jangan, rif… jangan balik ke gue kalo lo cuma kasian…”

“…”

“Lo sama Fani kan udah enak, nggak ada aral melintang, nggak ada yang ngelarang, dan lo tau kan kalo balik sama gue, kita bakal ngadepin apa? Gue udah banyak dapet perihnya, dan gue nggak mau lagi dapet harapan yang ujung-ujungnya ancur…such a waste…”

Gua lalu meraih tangannya dan mengajaknya kesebuah tempat yang akan merubah jalan hidup Marcella selamanya.


Saat itu, Bokap dan nyokap tengah bersantai diteras rumah, menghabiskan minggu pagi dengan ngobrol masalah tanaman atau buruh peliharaan bokap. Mereka nampak tak dapat menyembunyikan kekagetan mereka saat melihat Marcella turun dari boncengan motor tepat didepan rumah gua. Bokap, khususnya, walaupun masih terlihat tenang, namun tatapannya terlihat amat berbeda. Tatapan mata yang nggak pernah gua lihat sebelumnya. Sementara, nyokap terlihat lebih santai, ia mengumbar senyum seperti biasa kemudian berdiri dan masuk kedalam rumah.

Marcella masih berdiri disebelah motor gua dengan kepala sedikit tertunduk sambil menggenggam jemarinya. Gua meraih jemarinya dan menggandengnya.

“Assalamualaikum…” Gua mengucap salam lalu meraih tangan bokap dan menciumnya. Marcella lalu menyusul gua, melakukan hal yang sama. Bedanya, ia mengucapkan ‘Pagi pak’ daripada Assalamualaikum. Cukup lama bokap nggak merespon uluran tangan Marcella, namun akhirnya ia ‘menyerah’ kemudian mengulurkan tangannya ke arah Marcella, yang lalu menciumnya.

Marcella masih terlihat menundukkan kepalanya. Sampai ketika nyokap kembali keluar, kemudian menyalami Marcella dan memeluknya. Lagi-lagi, mata Marcella menggenang; ‘Cengeng banget ni anak’ ujar gua dalam hati.

“Kamu sehat cell?” Tanya ibu sambil kedua tangannya diletakkan di bahu Marcella

“Sehat, bu… Ibu gimana, sehat?” 

“Alhamdulillah… masuk yuk…” Nyokap lalu menggandeng tangan Marcella dan mengajaknya masuk kedalam rumah.

Sementara bokap lalu berpaling ke gua, melalui tatapannya ia memberikan kode agar gua duduk disebelahnya.

“Ngapain?” Bokap bertanya singkat. Namun, pertanyaan singkat tersebut gua duga memiliki  makna ganda; ‘Ngapain dia disini?’, ‘ngapain gua sama dia?’

“Pak…” 

“Pokoknya bapak tetep nggak setuju…”

Belum selesai gua bicara, bokap memotong ucapan gua dengan sebuah statemnet yang sudah gua duga.

Gua menggelengkan kepala.

“Cella salah apa sih sama Bapak? sampe bapak segitu bencinya sama dia? kenapa pak? karena dia Cina? emang kenapa kalo Cina?” Gua bertanya ke bapak, sambil sedikit memelankan suara, taut terdengar oleh Marcella dari dalam rumah.

Bokap nggak langsung menjawab, namun dari gestur tubuhnya terlihat sepertinya bokap kurang senang dengan pertanyaan dari gua.

“Marcella mau kok masuk islam pak, tapi emang dia bisa milih dilahirin jadi arab atau Cina?”

“Kamu sekarang udah pinter ngelawan sama orang tua…” Bokap merespon kali ini langsung berdiri.

Gua ikut berdiri, setelah mengumpulkan keberanian lalu mulai bicara; “Kalo bapak nggak mau Arif sama Marcella, gapapa… Arif nggak perlu persetujuan bapak lagi…” Suara gua terasa bergetar, terasa mata gua mulai berair. Gua lalu masuk kedalam, menuju ke kamar, melewati Marcella dan Ibu yang tengah bicara di ruang tamu.

Sebuah tas olahraga besar gua ambil dari balik pintu kamar. Dari dalam lemari gua ambil beberapa potong pakaian, ijazah dan Kamera, lalu asal-asalan gua masukkan kedalam tas. Gua keluar dari kamar dengan tas di pundak; “Ayo cell…” Gua bicara ke Marcella yang terlihat sedikit kaget.

“Kamu mau kemana rif?” Nyokap bertanya, kemudian berdiri dan menghampiri gua.

Gua lalu memeluk nyokap, meraih tangannya dan mulai menciumnya. “Arif mau pergi aja bu…ntar Arif pulang kalo bapak udah mau nerima Marcella…” Gua mengecup kening nyokap, lalu meraih lengan Marcella yang masih terdiam karena kaget. Setelah meletakkan kunci dan STNK motor diatas meja, kami berdua lalu berjalan keluar, melewati Bokap yang kini berdiri di ambang pintu. 

Bokap nggak berkata apa-apa, diam seribu bahasa.

“Rif… Jangan gini juga sih…” Ujar Marcella saat kami berdua berjalan menjau dari rumah bokap nyokap.

“Emang harus gini cell…” Gua menjawab

Marcella lalu melepas gandengan tangan gua dan menghentikan langkahnya. Ia menatap gua lama; “Buat apa lo dapetin gue, tapi lo jadi nggak punya keluarga… gue aja pengen banget punya keluarga…”

‘Duh, serba salah…’ Ujar gua dalam hati.

“Emang ada jalan lain?…” Gua bertanya kepadanya

“Ada…” Ujarnya

“Apa?”

“Lo sama Fani, orang yang direstuin bokap lo, Fani nggak kehilangan lo, lo nggak kehilangan keluarga… biarin gua aja yang nggak punya keluarga..”

Gua lalu meraih pundak dan memeluknya. 

Beberapa ibu-ibu yang tengah melintas memandang kami jijik. Salah satunya bahkan sempat berkata; “Cari kamar mas…”

‘Bodo amat’ balas gua dari dalam hati.

“Nggak…Cell…” Gua bergeming dengan keputusan yang sudah gua buat.

Marcella memandang gua lalu berkata; “Kita balik lagi yuk, trus ngomong baik-baik, please…” Ia tersenyum.

Gua lalu membalas senyumnya lalu mengangguk.

Beberapa menit berikutnya, kami sudah kembali berada didepan rumah gua. Kami berdua masuk kedalam, diruang tamu terlihat bokap tengah duduk terdiam sendiri, sementara suara isak tangis terdengar dari dalam kamar nyokap. Begitu mendengar suara gua mengucap salam, sontak suara pintu kamar terbuka dan nyokap langsung berlari dan memeluk gua erat, sebuah pelukan yang sepertinya tak akan dilepasnya.

Sementara Marcella masih berdiri disebelah gua, menggenggam ujung kaos gua.

Bokap lalu berdiri, menatap ke arah gua, nyokap dan Marcella. Ia lalu menarik nafas panjang, kemudian menghampiri dan memeluk gua. Sambil menepuk-nepuk punggung ia lalu berbisik; “Ajarin islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *