Unbreakable – Chapter 5

Memoirs of Marcella – Enlighten

“Marcella, ini diisi dulu ya…”

Ujar mbak Ajeng, HR-GA dikantor seraya menyerahkah lembaran form ‘exit clearence’. Gua menerima sambil membalas senyumnya, kemudian mulai mengisi form tersebut.

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan isian di form tersebut. Kebanyakan hanya terdiri dari ceklist-ceklist tanda karyawan telah menyelesaikan kewajibannya sebelum ‘resign’ dari perusahaan. 

“Udah?” Tanya Mba Ajeng, saat berjalan melewati meja kerja gua

“Udah, nih…” Gua menjawab, sambil menyerahkan form tersebut kepadanya.

“Ok, yuk cell ngobrol dulu…” Mba Ajeng lalu mengajak gua kesalah satu ruang meeting kecil yang terletak nggak begitu jauh dari meja gua. Di ruang meeting, Mbak Ajeng lalu secara formal bertanya akan satu dan lain hal perihal pengalaman gua kerja disini, input untuk perusahaan dan keluhan-keluhan selama bekerja disini. Dibanyak perusahaan multinasional lain, kegiatan ini biasa disebut dengan ‘exit interview’.

Iya, sudah beberapa bulan terakhir ini gua banyak menghabiskan waktu untuk browsing-browsing lowongan kerja baru selepas kerja. Hubungan gua dan Arif sepertinya bakal menemui jalan buntu, dan nyaris nggak bisa ketolong lagi. Dan, kalaupun harus berakhir, sepertinya gua nggak bakal tahan untuk melihat wajahnya lagi. Salah satu caranya, ya kabur! kabur dengan makna yang sesungguhnya, Kabur dari kenyataan.

Untungnya, salah satu teman semasa kuliah di Bandung dulu; Intan, menawari lowongan ditempatnya bekerja saat ini dan lokasinya di Bandung. Pucuk dicinta ulam pun tiba!

Sent!

Gua mengirim CV terbaru yang memang sudah gua siapkan.

“Oke, nanti gue kabarin lagi ya cin…” Ujar Intan melalui pesan singkat yang ia kirim.

Beberapa hari berselang, Intan menelpon. Ia memberi kabar kalau CV gua sudah masuk ke HR dan dalam waktu dekat gua akan segera dihubungi. Benar saja, nggak lama berselang, sebuah panggilan dengan kode area Kota Bandung muncul dilayar ponsel gua. Negosiasi waktu interview pun dibuat. 

Long story short.

Dengan sedikit keberuntungan dan ‘Koneksi’ dari Intan, akhirnya gua diterima bekerja di sebuah Law-Firm di Bandung. Tempat yang sama dimana Intan juga bekerja.

‘Ok! ini waktunya’ gua membulatkan hati, untuk pergi dan meninggalkan Jakarta dan Arif.

Dihari terakhir gua bekerja di Jakarta. Jam menunjukkan pukul 9 malam, selepas berpamitan dengan beberapa rekan dikantor, gua memutuskan untuk pulang.

“Pulang ci?” Ujar mas Anto, office boy kantor gua yang sepertinya baru selesai mencuci gelas.

“Iya mas…” Gua menjawab santai, sambil melempar senyum.

Gua menghentikan langkah saat melihat koridor lift begitu gelap. Melihat gelagat gua, mas Anto lalu menghampiri; “Gelap ya ci? kalo jam segini emang dimatiin lampunya sama orang gedung” Ujar mas Anto menjelaskan

“Ayo saya temenin nuggu lift ci kalo takut…” mas Anto menawarkan bantuan.

Gua mengangguk dan mulai melangkah ke arah koridor lift yang gelap. Mas Anto berdiri disebelah gua, sambil memainkan ponselnya yang berpendar terang ditengah kegelapan. Nggak seberapa lama, salah satu pintu lift terbuka; ‘ting’. Gua bergegas masuk kedalamnya.

“Makasih ya mas Anto…” Ucap gua ke mas Anto yang dijawabnya dengan sebuah senyuman.

Lift lalu bergerak turun. ‘Ting’ disalah satu lantai, pintu lift lalu terbuka, dari koridor yang gelap lalu muncul seorang pria yang begitu gua kenali; Arif. Sontak, gua lalu menekan tombol ‘tutup’ berkali-kali agar ia nggak bisa merangsek masuk kedalam. Dari tempat gua berdiri terlihat ia berjalan cepat mencegah agar pintu lift tak tertutup, namun gagal.

Tiba dilantai dasar, gua berjalan cepat keluar dari lift menuju ke lobby utama. Beberapa kali gua menoleh kebelakang, enggan bertemu dengan Arif. Gua nggak mau nangis lagi.

Beberapa saat kemudian, Arif berhasil menyusul gua. Masih tersengal-sengal karena berlari, ia menunduk didepan gua. Gua menatapnya sebentar, kemudian berjalan pelan melewati-nya, saat ini mata gua terasa mulai berlinang.

“Please, jangan gini cell…” Suaranya terdengar dari belakang.

Gua menghentikan langkah; “kayaknya emang harus gini…”

kemudian menjawab amat lirih, hingga mungkin nggak didengarnya.

Arif kembali menghampiri gua; “Please…” ujarnya

“Gue nggak bisa lagi rif… hubungan kita emang udah nggak bisa dipaksain lagi…”

“Kasih gua kesempatan sekaliii lagi…” Arif memohon.

Gua menggeleng; “Gua nggak tau apa gua masih bisa tahan, nunggu hanya untuk tau kalo jawabannya adalah ‘nggak’…”

Arif hanya terdiam. Gua kembali meneruskan langkah, sementara air mata sudah tak tertahan lagi mengalir dikedua pipi. 

“Tapi, lo jangan pergi dan tau-tau ilang gitu aja dong Cell.. ini kayak nggak adil buat gua” Arif kembali buka suara, kali ini ia berjalan disebelah gua

“Trus, menurut lo, ini adil buat gue? perlakuan bokap lo adil ke gue? bahkan hidup aja terlihat nggak adil buat gue..” Gua memprotes

“Tapi kan kita bisa ngobrol baik-baik..”

“Lho, selama ini emang kita ngobrol kurang baik gimana lagi?” Gua mengajukan sebuah pertanyaan retoris, kemudian kembali pergi meninggalkannya.

Arif kembali menyusul gua. “Please rif… jangan abisin waktu lo buat sesuatu yang nggak mungkin lo ubah…” 

Dengan cepat ia meraih lengan dan memutar tubuh gua kearah-nya. Wajah kami berdua saling berhadapan, dekat, sangat dekat. 

Ia lalu mencium gua.

“Paling nggak, cerita kita nggak pait-pait amat lah ya..” gua bicara, sambil memaksakan untuk tersenyum. Kemudian pergi meninggalkannya.


Beberapa hari berselang, gua sudah berada di Bandung untuk proses tes dan interview. Selama, proses tersebut, gua ‘numpang’ di kontrakan Intan yang berlokasi nggak begitu jauh dari kantor Law-Firm dimana gua melamar.

Proses test dan Interview berjalan lancar; sangat smooth. Sebuah tanda, bahwa semesta merestui keputusan gua.

“Bisa mulai kerja kapan, Marcella?” Ujar pak Dimas, sosok yang akan menjadi atasan langsung gua nantinya. Iya, kantor Law-firm ini merupakan perusahaan kecil yang nggak banyak melibatkan karyawan. So, birokrasinya amat pendek dan cepat. Dikantor ini bahkan nggak ada HRD, proses rekruitment dilakukan secara sporadis yang akibatnya bisa menimbulkan kemungkinan Nepotisme. Yes, dan gua adalah salah satu contoh Nepotisme yang terjadi dikantor ini.

“Secepatnya, pak” Gua menjawab yakin

“Besok, bisa?” ia kembali bertanya.

“Sekarang juga bisa pak”

“Wow..” ujarnya cukup kaget.

“Baiklah kalau begitu, yuk saya kenalin ke temen-temen yang lain…”


Seminggu berselang, dan gua masih ‘numpang’ di kontrakan Intan. Beberapa kali gua, browsing untuk mencari tempat kos yang dekat dengan kantor namun punya harga yang cincai.

“Udah sih, disini aja sama gue…” Ujar Intan kala itu saat melihat gua memandangi situs pencarian kost di ponsel.

“Nggak enak lah, ntar lo keganggu privasinya…”

“Yaelah, lo kayak sama siapa aja…”

Perlu diketahui, rumah kontrakan Intan tinggal cukup kecil; Satu kamar dan satu kamar mandi. Saat malam minggu tiba, dan pacarnya Intan datang, gua jadi kayak obat nyamuk. Bengong, maen ponsel sambil nahan senyum mendengar rayuan ‘maut’ pacarnya Intan. So, sepertinya mencari tempat kos atau kontrakan sendiri merupakan sebuah keharusan.

Usaha gua lagi-lagi dimudahkan. Pacarnya Intan, yang biasa dipanggil ‘bogel’ oleh Intan (FYI, itu merupakan panggilan sayang Intan ke pacarnya, auto ngakak kan?) kebetulan punya teman yang ingin pindah dari tempat kostnya. Dan lokasinya nggak jauh-jauh amat dari tempat kerja gua sekarang. Untuk harganya pun masih amat terjangkau, walaupun tempatnya juga jauuuuuh dari kata mewah. Mirip dengan kontrakan Intan, hanya terdiri dari satu kamar berukuran 3x3m dengan kamar mandi kecil didalamnya. Posisinya berada nggak begitu jauh dari jalan utama, hanya saja akses untuk menjangkau lokasinya terbilang sempit, hanya bisa dilewati satu sepeda motor saja.

“Fyuh…” Gua mengelap keringat didahi usai membersihkan kamar kost baru gua, kemudian duduk bersandar pada dinding disebelah pintu. Gua meraih ponsel, yang layarnya masih menampilkan foto siluet Arif yang tengah berdiri sambil bertolak pinggang. Gua mencari namanya di contact book dan menekan tombol panggil, belum sempat terdengar nada sambung, gua lalu menutupnya.

Gua lalu berbaring di atas kasur kecil yang baru saja dibeli tadi sore, satu-satunya barang yang gua beli di Bandung. Lelah, gua lalu jatuh tertidur.

Suara adzan membangunkan gua.

Gua meraih ponsel untuk melihat jam; 4.45 dinihari. Cukup ‘wow’ sih, suara adzannya terdengar amat lantang, seakan-akan speaker masjidnya berada disebelah ruangan tempat gua berada.

Pagi-nya, seraya berangkat kerja, gua menyempatkan diri untuk mampir ke tukang bubur ayam yang terletak nggak begitu jauh dari tempat kost gua. Sambil menunggu pesanan bubur gua selesai, gua memandang berkeliling. Dan baru gua sadari tepat dibelakang posisi gua duduk saat ini terdapat sebuah bangunan masjid yang cukup besar. Gua berdiri dan melihat sekeliling. Ternyata, posisi masjid tersebut memang nggak begitu jauh dari tempat kost gua. Dan posisi menara speakernya berada persis disebelah kamar gua yang berada dilantai dua. Well fine!

Butuh waktu hampir dua bulan bagi gua untuk terbiasa dengan suara adzan yang membangunkan gua menjelang Subuh tiba. Diawaktu-waktu lain, gua tengah berada di kantor, praktis hanya suara adzan Subuh yang gua dengar. Saat pulang kerja, yang biasanya jam 9 malam, sudah tak ada lagi suara yang muncul dari pengeras suara Masjid. Pengecualian setiap Rabu dan Jumat malam, biasanya terdengar suara ‘kajian’ dari pengeras suara yang biasanya selesai hingga pukul 11 malam.

Berbulan-bulan, gua ‘terpaksa’ mendengarkan isi kajian islam dari kamar kos gua. Pembahasannya pun beragam, dari mulai pembahasan rumah tangga, finansial, pekerjaan, hingga masalah buang air. Namun, yang begitu menarik perhatian gua adalah saat pembahasan tentang Nabi dan para sahabatnya; Sirah Nabawiyah, begitu gua sering mendengar sebutannya.

Suatu hari, saat makan siang dikantor, beberapa rekan tengah melakukan pembahasan masalah poligami. Salah satu rekan yang sudah menikah, mengajukan klaim; “It’s ok kok kalo poligami, Nabi aja istrinya 4” Ujarnya sambil mengangkat keempat jari tangannya.

Beberapa rekan pria lainnya setuju dan mengangkat ibu jarinya. Sementara, beberapa rekan wanita dengan kompak bersorak “Wooooo….”

Gua lalu buka suara; “Tapi kan mas, Nabi Muhammad juga nggak pernah poligamiin Khadijah. Nabi baru nikah lagi pas, Khadijah meninggal, itu pun 4 tahun berselang…”

Pantry lalu mendadak hening, semua mata memandang gua dengan tatapan kaget. Ya lumrah sih, karena gua Cina dan bukan Muslim.

“Lo tau darimana?” Tanya Intan yang kebetulan duduk disebelah gua, dengan nada sedikit berbisik.

“Pengajian…” Gua menjawab santai.

Ternyata, jawaban gua tersebut kembali membuat suasana di ruang makan menjadi lebih canggung.

“… kostan gua sebelah Masjid, tiap malem gua denger pengajian…” Gua lalu meng-klarifikasi.

“Ooooowwwhhh…” Terdengar berbarengan, lalu ruangan kembali riuh.


Hari berganti hari, dan nggak butuh waktu lebih lama lagi buat gua untuk dapat mengenali perjalanan hidup Nabi Muhammad sejar ia lahir sampai ia meninggal. Kajian, Sirah Nabawiyah yang sebelumnya hanya satu minggu sekali, kali ini dilakukan lebih sering, ‘mungkin banyak peminatnya’ ujar gua dalam hati.

Daaaan, nggak butuh waktu lama buat gua untuk ‘jatuh cinta’ dengan sosok Nabi Muhammad.

‘Nih, kok orang keren abis yah..’ , ‘Masa iya sih ada orang kayak gini di dunia?’ ucap gua dalam hati, kagum.

Perihal ini, gua bahkan rela melakukan riset kecil-kecilan dengan browsing-browsing perkara jalan hidup Nabi. Namun, kenapa terlalu banyak referensi yang cukup membingungkan? terlalu banyak versi berbeda? dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain dibenak gua, perkara Muhammad sebagai Nabi. Hingga suatu hari, selepas kerja, gua memberanikan diri untuk datang ke kajian tersebut. 

Awalnya, gua nggak berani masuk kedalam masjid. Gua hanya berdiri dipelataran masjid sambil sesekali memandang sekeliling. Beberapa, jamaah menatap gua heran. Gua maklum sih dengan tatapan heran mereka. Lagi-lagi, karena mata gua sipit.

Seorang pria paruh baya lalu datang menghampiri gua. “Toiletnya di ditu neng…” ujarnya serayang menunjukkan sebuah lokasi dengan menggunakan ibu jarinya.

“Nggak pak, saya nggak cari toilet…” 

“Milarian saha? réréncangan?” Tanya-nya lagi.

“Nggak juga pak… saya cuma mau denger kajian aja pak..”

“Ooh, kitu…” Bapak itu lalu pergi, terlihat masuk kedalam masjid. Kemudian kembali keluar bersama dengan seorang wanita berjilbab. Wanita tersebut, lalu menghampiri gua.

“Assalamualaikum, kak…” Ia mengucap salam, yang lalu gua jawab dengan sebuah anggukan.

“Ayo masuk kak, kalo mau denger kajian…” Ujarnya

“Mmm… tapi…”

“…”

“Tapi saya non muslim…”

“Iya, nggak apa-apa kak, masuk aja…”

“….”

“Kalo kakak malu, boleh dengerin diteras aja, nanti saya temenin…” Wanita muda itu memberikan opsi, setelah melihat keraguan diwajah gua.

Gua lalu mengangguk dan tersenyum, kemudian mengikutinya menuju teras masjid yang cukup besar. Gua lalu duduk dilantainya yang dingin, sambil memeluk tas. Wanita tadi duduk disebelah gua dan meletakkan segelas air mineral kemasan tepat dihadapan gua.

“Ayu…” Wanita itu memperkenalkan diri.

“Cella..” Gua menyebut nama gua seraya menyambut uluran tangannya.

Kami berdua lalu duduk bersama, mendengarkan Sirah Nabawiyah hingga selesai.

Jam menunjukkan pukul 11 malam, saat jamaah bubar serentak. Beberapa mata, masih memandang gua heran saat mereka berjalan menuju ke pintu keluar. Ternyata cukup banyak jamaah yang hadir, sebagian besar terdiri dari para pria yang saat kajian duduk disebelah kanan, sementara yang wanita, duduk disebelah kiri dengan pembatas kain putih mengelilingi mereka.

Selepas acara, Ayu lalu memperkenalkan gua dengan para jamaah wanita lainnya. Rata-rata mereka terlihat masih berusia cukup muda, kebanyakan merupakan mahasiswi salah satu kampus terkenal di Bandung yang juga merupakan Almamater gua.

Menurut tebakan gua, para jamaah ini ini, termasuk Ayu, pasti akan langsung mendoktrin gua agar mau langsung memeluk islam. Nyatanya tebakan gua salah! Bahkan nggak ada satupun dari mereka yang membahas ke-nonmusliman dan ke-cina-an gua. Kami akhirnya, berbincang perkara, kuliner dan salon kece disekitar sini.

Minggu berikutnya, gua kembali ikut kajian tersebut. 

“Nggak papa kan, gue nggak pake ginian, yu..?” gua bertanya ke Ayu sambil memegang ujung jilbabnya.

“Gapapa kak, yuk..” Jawabnya.

“Wow! gua pikir, untuk bisa ikutan kajian reguler, gua harus pake” ujar gua.

Ayu merespon jawaban gua dengan sebuah senyuman.

Hari ke hari, hubungan gua dengan Ayu semakin intens. Beberapa kali gua janjian dengan Ayu untuk hanya sekedar makan siang atau hang out beli kuliner kekinian yang tengah marak di Bandung. Sedikit demi sedikit, pertanyaan-pertanyaan gua perkara Islam dan Nabi Muhammad dijawabnya dengan lugas, tanpa embel-embel rayuan agar gua masuk islam. 

“Astagfirullahaladzim..” Ujar gua sambil menepuk jidat, saat ingat kalau hari ini harus mengenakan batik kekantor.

Beberapa mata di ruangan kantor memandang gua kaget.

“Buset, orang kristen fasih amat lo istigfar…” Ucap Intan berusaha mencairkan suasana.

Sore harinya, Intan duduk disebelah gua, di tepi jalan sambil makan batagor; “Cell…” 

“Ya..”

“Lo mau masuk islam yah?” tanya Intan penasaran

“Kata siapa lo?” Gua balik bertanya.

“Kata gue…” Ucapnya judes

Gua hanya tersenyum.

“Tadi lo istigfar, belajar dimana?” ia kembali bertanya, sementara mulutnya penuh dengan makanan.

“Nggak belajar, kebiasaan denger aja…”

Deg! Sebuah perasaan gelisah, carut-marut lalu memenuhi dada. Gua pamit ke Intan yang masih menikmati batagornya, dan bergegas untuk bertemu dengan Ayu. 

Gua dan Ayu bertemu di depan masjid, dimana disaat malam digunakan beberapa pedagang untuk menggelar lapaknya. Gua menunggu Ayu selesai menunaikan solat Maghrib di tukang pecel ayam.

Beberapa saat kemudian, Ayu muncul dan langsung memeluk gua dari belakang.

“Woiii… kangen yah kak, ada apaan kok kayaknya penting…” Ayu bertanya, kemudian duduk disebelah gua.

Gua lalu menceritakan kisah tentang ucapan istigfar gua tadi pagi yang terjadi secara spontan dan perasaan gelisah yang menyelimuti hati. Mendengar cerita gua, Ayu pun nggak mampu memberikan penjelasan, ia lalu mengangkat kedua bahunya.

“Aa.. ayam hiji ya..” Ayu lalu memesan pecel ayam.

“Islamin gua yu….” Gua meminta ke Ayu, sedikit berbisik.

Terlihat Ayu sangat terkejut dengan ucapan gua. Ia lalu berdiri, menarik lengan gua keluar dari tanda pecel ayam. Dari arah tenda terdengar teriakan si akang penjual pecel; “Neng, ieu pesenannya kumaha?”

“Dibatalkeun…” Ucap Ayu sambil tetap menggandeng gua masuk kedalam masjid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *