Unbreakable – Chapter 5

Memoirs Of Marcella – Jangan Kau Lepas

“What?!!…” Suara Intan bergema diseisi ruangan kantor.

“Serius lo?…” Ia menambahkan, kali ini suaranya ia pelankan setelah semua mata diruangan memandang kearah kami berdua. 

Gua mengangguk.

Intan lalu bersandar di kursi-nya, masih belum hilang ekspresi terkejut dari wajahnya. Iya, gua baru saja bercerita tentang ‘konversi’ yang baru saja semalam terjadi.

“Lo udah ngurus dokumen-dokumen?” Tanya Intan, beberapa saat kemudian.

“Belum…” Gua menjawab sambil menggelengkan kepala.

“Sini, gue bantu urusin…” Intan memberi penawaran.

“Itung-itung, paling nggak kan gue ada kontribusi akan keislaman lo…” Imbuhnya. Suaranya kembali terdengar lantang. Hal tersebut tentu saja membuat semua mata kembali tertuju kepada kami berdua. 

Seakan mengerti akan rasa penasaran orang-orang disekitar, Intan lalu bikin pengumuman; “Marcella, baru aja convert lho… islam dia sekarang…” Ujarnya.

Sontak hampir seluruh karyawan yang berada diruangan tampak terkejut. Sebagian besar yang beragama Islam lalu mendatangi gua satu-persatu, memberi selamat. Sisanya, hanya melempar senyum seraya melanjutkan pekerjaannya.

Siangnya, Intan mendatangi gua tergopoh-gopoh. Ia lalu menyerahkan sebuah tas karton bermotif batik. “Nih, hadiah dari kita-kita…” ujarnya.

“Apaan nih?” Gua bertanya penasaran.

“Buka aja…” Balasnya

Gua membuka segel kemasan dan mengintip isinya. Didalamnya terdapat satu set mukena, sajadah, Alquran dan sebuah tasbih. Gua tersenyum, kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya dan teman-teman yang lain. Oke, saat ini gua udah punya hampir 4 set perlengkapan solat, setelah semalam Ayu dan teman-teman di tempat kajian juga memberikan ‘hadiah’ yang sama.

Intan lalu mengajak gua untuk ikut solat berjamaah, diruang meeting kantor. Iya, kalian nggak salah baca; di ruang meeting! Dikantor kami yang terbilang kecil ini, nggak ada mushola. So, biasanya teman-teman menggunakan salah satu ruang meeting kantor sebagai ‘mushola’.

“Lo udah apal bacaan solat..?” Tanya Intan selesai Solat.

Gua menggeleng.

“Trus lo tadi baca apaan pas Solat?” Tanya-nya kembali, penasaran.

“Diem aja..”

Lalu disambut tawa oleh Intan.

“Lha, gue baru islam sehari, emang lo expect apa? gue langsung bisa semua bacaannya?..” Ujar gua kepada Intan sambil berkelakar.

“Gapapa, take your time… belajarnya pelan-pelan aja…” Tambahnya.

Sejak saat itu, setelah ke-Islam-an, gua banyak menghabiskan waktu di kost untuk membaca buku panduan solat beserta bacaannya, yang sempat dihadiahkan oleh Ayu. Di waktu senggang, gua menyempatkan diri untuk hadir di Masjid untuk ikut kajian. Terbukti, sedikit-banyak hal tersebut cukup mengobati luka hati akan hubungan cinta gua dan Arif yang kandas.

Tapi, Arif nggak sepenuhnya bisa hilang dari kepala. 


“Katanya lo mau bantuin gue ngurus dokumen?” Gua bertanya ke Intan, menagih janjinya.

“Oiya, lupa gue, mana sini KTP lo..” Intan lalu menyodorkan tangannya.

Gua mengambil dompet, mengeluarkan KTP dan menyerahkannya kepada Intan. Ia memandangi KTP, cekikikan sebentar setelah melihat foto gua di KTP yang culun; “Lah, KTP lo masih Jakarta?” Tanyanya

“Iya..”

“Ya ngurusnya harus disana…”

“Yaudah, gue ngurus sendiri aja deh.. Kalo sama lo ntar ngajuin cuti-nya barengan, nggak bakal boleh sama pak bos…” Ujar gua sambil merebut KTP dari tangannya.

“Beklah… itu lo ngurusnya KTP dulu, ngisi formulir di kelurahan.. kalo KTP udah jadi baru ngurus KK, kalo ngurus KK harus pake pengantar RT dan RW…”

“Yah lama dong, mana bisa cuti lama begitu…”

“Ya lo urus KTP nya aja dulu, bulan depan baru ngurus KK nya…” Saran Intan, yang lalu gua amini dengan mengangkat ibu jari keatas.

Setelah minta ijin cuti ke Pak Bos, yang memang orangnya santai abis, akhirnya gua dapet ijin dua hari untuk mengurus KTP ke Jakarta. ‘Ok, Rabu sore jalan dari Bandung, Kamis pagi bisa langsung ngurus-ngurus ke kelurahan, Jumat, bisa langsung balik lagi ke Bandung’ Gua menyusun rencana dikepala.

Rabu, nyaris tengah malam, gua sudah menginjakkan kaki di Jakarta. Dengan Taksi, gua lalu meluncur pulang ke rumah di Grogol dari tempat travel di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Iya, gua salah naik Travel, padahal ada Travel yang bisa nurunin gua di kawasan Citraland, Grogol. Dan hal ini harus gua tebus dengan merogoh kocek lebih dalam untuk bayar ongkos taksi yang, wow, nggak masuk akal.

Kamis pagi, gua mulai mengurus KTP di kelurahan. Gua membeli makanan di resto cepat saji sebelum berangkat, In Case, prosedurnya rumit, berbelit-belit dan menghabiskan waktu, jadi nggak kelaparan. Nyatanya, proses perubahan KTP (saat ini) cepet banget; ngisi formulir, kasih KTP lama, nunggu kurang lebih 10-15 menit, gua lalu dipanggil untuk Foto. Dan, tadaaa.. KTP baru gua selesai. “Wah, bisa balik ke Bandung lebih cepet nih…” Gua membatin dalam hati.

“But, lets do lil bit nostalgia…” gua kembali membatin.

“Ah, Kenapa nggak langsung ngurus Kartu Keluarga aja…” Sisi lain diri gua memberi saran yang lebih bermanfaat.

Akhirnya, gua memutuskan untuk langsung mengurus Kartu Keluarga, biar nggak bolak-balik. Sekali jalan, semua urusan kelar. 

Dan untuk urusan Kartu Keluarga (yang memang sedikit rumit) harus ke RT dan RW untuk meminta surat pengantar, kemudian kembali ke Kelurahan. Nyatanya, proses pengurusan KK ini juga terbilang cepat, ya walaupun gua masih harus keluar ‘cuan’ buat pelicin di RT dan RW. Memang, nggak ada ‘biaya’ yang ditagih di RT maupun RW, namun lucunya, ditempat RT dan RW ada semacam kotak kayu dengan tulisan; ‘Sumbangan seiklhasnya’; What the…


Sabtu siang itu, gua masih di Jakarta. Rencana ingin balik ke Bandung lebih awal, nggak terealisasi. Kayaknya gua masih pengen kangen-kangen-an sama kota yang udah ngabisin banyak banget Air Mata gua. Praktis, Jakarta seharusnya jadi kota paling suram; gua ditinggal bokap-nyokap, kehilangan Oma-Opa, dan Arif; orang yang seharusnya menjadi pengobat luka.

Masih diatas ranjang. Gua memandang sebuah foto dalam frame; sepasang ‘kekasih’ (dimasanya) tengah berpose sambil tersenyum, seakan dunia mendukung pilihan mereka. Dipose tersebut, Arif terlihat, menarik ujung matanya dengan kedua tangannya; “Biar keliatan sama-sama Cina” ujarnya kala itu.

Tak terasa, mata gua mulai berlinang; “Apa kabar lo Rif?” Gua bicara kearah frame foto tersebut.

“Ah, let’s do some fun…” Gua bicara sendiri, kemudian memutuskan untuk ‘hang out’, menghibur diri. Pergi ke Mall Favorit, minum kopi langganan, balik ke Bandung dan memulai lembaran baru.


Gua berdiri di depan counter kafe kopi langganan gua dulu, (langganan gua dan Arif) memesan kopi-susu kesukaan; “Atas nama siapa kak?” penjaga counter bertanya ke gua, sambil bersiap menulis nama digelas plastik yang digenggamnya.

“Marcella…” Gua menyebut nama.

Setelah melakukan pembayaran, gua mencari tempat duduk untuk menunggu. Namun, entah kenapa, perasaan gua seperti nggak menentu, gelisah. Sambil mencari tempat untuk duduk, tanpa sengaja, sosok Arif terlihat.

Sosoknya nggak berubah, Cambang-nya nggak pernah ia cukur, berbanding terbalik dengan rambutnya yang selalu ia tata rapi. Kemeja Flanel merah dan jeans belel biru yang ia kenakan terlihat cocok dengan sepatu canvas hitam yang sama dengan yang gua kenakan saat ini. As always, ia tampil mempesona.

Namun, ia nggak sendiri. Seorang gadis cantik terlihat berjalan disampingnya. Tangan mereka terlihat saling bergandengan dan mereka berjalan ke arah kafe tempat gua berdiri. Gua menarik nafas panjang, hati ini rasanya seperti diaduk-aduk. Rindu gua terobati ketika melihat Arif, namun disisi lain; hati terasa tercabik melihatnya jalan bergandengan tangan berdua.

Gua lalu berpaling, berjalan cepat, kemudian memilih posisi terjauh dan duduk di salah satu kursi kafe yang berada di teras. Nggak lama, terdengar nama gua dipanggil oleh petugas di counter pemesanan, gua bergeming. Tangan gua menggenggam mulut, menahan tangis yang bersiap meledak, sementara air mata mulai terasa membasahi pipi.

Beberapa saat setelah nama gua berhenti dipanggil, gua memutuskan untuk ‘nekad’ mengambil pesanan kopi yang memang sudah tersedia di counter pemesanan. Gua meraih gelas kopi tersebut, lalu dengan cepat bergegas untuk keluar, melewati tempat gua menunggu, dan terus berjalan. Entah menuju kemana, saat ini yang gua mau, hanya terus berjalan.

Gua bersandar disisi pilar besar, mengeluarkan ponsel, mencari-cari nama Intan. Disaat seperti ini, ingin rasanya gua bercerita, menumpahkan segala keluh kesah kesal kepada seseorang. Dan entah kenapa, nama Intan langsung muncul dikepala. Dari ekor mata, terlihat seorang berjalan mendekat, gua mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang masih mencari nama Intan. 

Mata kami lalu saling bertemu. 

Lama kami berdua saling manatap. Ia berjalan perlahan ke arah gua. Tiba-tiba, semua orang disekeliling berjalan sangat lamban, seakan memberikan kesempatan kami untuk saling memandang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *