Unbreakable – Chapter 5

Mencintaimu #2

“Boleh nggak kalo gue mau ketemu sama Fani?” Marcella bertanya saat gua mengatarnya ke tempat Travel, dimana ia tengah bersiap kembali ke Bandung.

“Mau ngapain?” Gua balik bertanya

“Mau ngobrol… itu juga kalo boleh, kalo lo nggak nge-bolehin juga gapapa…” Marcella memberikan jawaban

“Ngobrol apaan sih?” 

“Ya, gue nggak enak rif.. pengen minta maaf… Gue pengen nggak ada yang tersakiti” Marcella menambahkan, kali ini ia pasang tampang manja yang mana dengan cara tersebut permintaannya nyaris bisa gua abaikan.

“Yaudah, kapan-kapan yah…” Gua menjanjikan

“Minggu depan ya, gue ntar kesini lagi…”

“Oke, atau.. nanti gue aja yang ngomong sama Fani deh…” Gua mengajukan usulan.

Marcella lalu dengan cepat merespon. Ia berdiri dari tempat duduknya lalu memposisikan dirinya tepat dihadapan gua yang masih duduk. “Pokoknya, jangan berani-beraninya lo ketemuan sama Fani, tanpa gue…” Ujarnya gahar.

“Emang kenapa?” Gua bertanya.

“Pokoknya, jangan!” Ujarnya

Marcella lalu kembali duduk ditempatnya, ia menarik nafas panjang, kemudian menambahkan; “Gue takut aja, takut lo ‘tergoda’ lagi sama dia”

Kata ‘Lagi’ yang ia ucapkan diberi penekahan lebih.

“Dia kan cakep, rif… “ Ia kembali menambahkan, kali ini ia kembali pasang tampang manja-nya.

“Cakepan lo…”

“Bohong…”

“Nggak, beneran kok cakepan lo….”

“Ah, bohong, lo kan sekarang jago bohong…”

“Yaudah, iya, cakepan Fani….”

“Iiish…” Ia menggerutu, kemudian berpaling.

“Iya, ntar ketemuan sama Fani-nya bareng sama lo..” Gua menjawab sambil mengusap rambutnya.

“Janji ya…” 

“Iyaaa, …” Gua menjawab, sambil memandang wajahnya.

Beberapa menit berikutnya, Marcella masuk kedalam mobil besar yang akan membawanya ke Bandung. Kembali berpisah dengannya membuat hati sedikit tercekat, namun saat tau bahwa akhirnya tak ada lagi penghalang yang memisahkan kita, gua bisa tersenyum sambil memandang wajahnya. Wajah, cina-nya yang hampir saja memporak-porandakan hidup gua.


Beberapa hari berselang, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel, sebuah pesan dari Fani. Awalnya, gua ragu untuk membuka dan membaca pesannya. Tapi, gua teringat kata-kata Marcella yang bilang “kalo bisa nggak ada yang tersakiti”, gua pun membuka pesannya.

“Rif, mau ngobrol, boleh?” 

Gua menghapus pesan, kemudian menghubunginya.

Nada sambung sempat terdengar sekali, lalu disusul dengan suara Fani diujung sana. Kali ini, suaranya nggak terdengar ceria seperti biasanya.

“Gue mau ngobrol langsung…” Ujarnya, membuka percakapan tanpa salam, tanpa basa-basi.

“Yaudah, disini aja…” Gua menjawab, merujuk agar obrolan kami bisa dilanjutkan melalui sambungan telepon.

“Gue mau ketemu sama lo…” Ujarnya, suaranya kali ini terdengar parau.

“Kapan?” Gua bertanya.

“Nanti sore?”

“…” Gua nggak langsung menjawab

“Rif? …”

“Yaudah…” 

“Bye then…”

Gua mengakhir panggilan, kemudian membuat panggilan lain. Kali ini ke Marcella. 

“Assalmualaikum…” Sapa Marcella di ujung sana.

“Waalaikum salam… wah udah fasih banget salam lo” Gua menjawab salam, kemudian memuji ucapan salamnya yang terdengar begitu fasih. ‘Ah, mungkin Marcella sedikit banyak sudah memperlajari Islam, walaupun belum memeluknya’ pikir gua dalam hati.

“Kenapa rif?” Tanya Marcella

“Fani barusan telpon, ngajak ketemu…”

“Trus, lo mau?”

“Iya…”

Lalu hening cukup lama, hingga kemudian Marcella kembali buka suara; “Yaudah, tapi ntar ceritain yah…”

“Beneran nih?” Gua memastikan

“Ya, sebenernya sih gue nggak setuju, tapi daripada gue ngelarang, trus lo bohong, diem-diem ketemuan sama dia…”

“Ya nggak gitu juga sih, Cell…”

“Yaudah ketemuan aja, gpp…” Ujar Marcella, suaranya terdengar sinis.

“Yaudah deh…” Gua mengakhir panggilan.


Sore harinya, gua duduk didepan teras sebuah mini market dibelakang gedung kantor lama gua di daerah Slipi. Iya, sekarang Fani lah yang berkantor digedung ini. Setelah menunggu hampir setengah jam, sosok Fani muncul dari kerumunan karyawan yang keluar dari gedung. Ia berjalan cepat ke arah gua, wajahnya masih terlihat cantik, walaupun kemurungan menghilangkan senyumnya yang biasa ia tebar.

Ia duduk disebelah gua, melihat kedepan sebentar, kemudian berpaling. Kali ini ia memandang gua dengan tatapannya yang tajam.

“Kenapa?” ia membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan, sebuah pertanyaan yang ia pun tahu akan menimbulkan pertanyaan lain.

“Apanya yang kenapa?” Gua balik bertanya.

“Kenapa lo milih dia, yang dulu lo yakin hubungan kalian nggak mungkin berhasil?”

Ia mengulang pertanyaannya, kali ini lebih detail.

Gua memainkan jemari, sambil memikirkan jawaban yang tepat. Gua perlu jawaban cukup diplomatis, yang sebisa mungkin nggak menyakitinya. Dan tentu saja harus masuk akal buat Fani. Namun, seberapa keraspun gua mencoba mencari kata dan kalimat yang tepat, sepertinya nggak bakal mampu mengusir kekecewaannya. Jadi, gua pikir ‘jujur’ adalah pilihan yang tepat. 

“Awalnya gue pikir, dengan ‘jalan’ sama elo, gue bisa ngelupain bahkan bisa ngilangin Marcella dari hidup gue…”

“…”

“… gue juga nggak bisa ngelanjutin hubungan kita sementara pikiran gue masih ngawang-ngawang bayangin sosok Marcella…”

“…”

“… dan iya, lo bener Gue dan Marcella emang sepertinya nggak punya ‘masa depan’…”

“…”

“… tapi pas gue ketemu Marcella waktu mau nonton sama lo, gue sadar, kalo dia udah ngabisin seluruh hidupnya buat memperjuangkan hubungan kita.. dan gue nggak pernah dengan sungguh-sungguh melakukan hal yang sama…”

“…”

Kami lalu sama-sama terdiam cukup lama. 

Hingga akhirnya, Fani mulai buka suara; “Ok, fine, jadi gue cuma jadi ajang pelarian lo doang ya?”

Gua mengangguk pelan.

“Wow…”

“Sorry…”

Fani lalu menarik nafas panjang. Ia berdiri dari duduknya; “Seandainya gue diposisi elo, kayaknya gue juga bakal ngelakuin hal yang sama deh.. well, she deserved it…”

“Fan…” Gua memanggil namanya, saat ia bersiap untuk pergi.

“Apa?”

“Marcella mau ngobrol sama lo…”

“Buat apa?” Ia bertanya sambil menyuguhkan senyum sinis.

Gua mengangkat bahu, enggan menyampaikan alasan yang Marcella pernah bilang ke gua, kalau dia mau minta maaf ke Fani.

“Kalo dia mau ketemu cuma pengen minta maaf, kayaknya nggak perlu deh… di situasi kayak gini, benar dan salah cuma based on sudut pandang aja.. Dan, again… di situasi kayak gini, sepertinya wajar, kalau salah satu dari kita jadi yang ‘tersakiti’.. dan kebetulan itu gue…”

Selesai bicara, ia lalu berjalan pergi meninggalkan gua yang masih terduduk.

Gua berdiri lalu bergegas menyusulnya.

“Fan… kita masih bisa temenan kan?” Ujar gua begitu berada sejajar disebelahnya.

Ia nggak langsung menjawab, Fani tersenyum kemudian mulai berkata; “Iya…”

“Makasih ya, atas pengertian lo..”

“Gue lho harusnya yang bilang makasih ke elo… karena lo udah ngasih pengalaman berharga ke gue, pengalaman kalo jangan cepet  jatuh cinta ke cowok.. “

“You’re welcome…”

“Dulu kenapa gue goblok banget ya, bisa demen sama lo…” Ia lalu tertawa sambil mengutuki dirinya sendiri.

“…”

“Bye the way, nanti kalo lo nikah undang gue yah…” Ujarnya.

“…”

Gua nggak menjawab, hanya meresponnya dengan senyuman.

“Kayaknya lucu deh rif, klo ntar pas kalian nikah, pake barongsai gitu…” tambahnya sambil tersenyum. Namun, dari posisi gua saat ini, terlihat ia mengusap ujung matanya yang mulai basah.

Gua menghentikan langkah; “Sorry, again…” ucap gua lirih. 

“Bye…rif…” Fani menoleh, melambaikan tangannya kemudian pergi dan hilang disudut tikungan.


Oke, Kabar tentang kembalinya Marcella ‘kepelukan’ gua harus sampai ketelinga Bang Boi. Yang dulu selalu sesumbar, kalau hubungan kami berdua nggak mungkin dilanjutkan. Akhir pekan ini, Marcella kembali ke Jakarta dan rencananya, gua mau mengajaknya ketemu dengan Bang Boi.

“Hi there…” Ia berjalan ke arah gua sambil tersenyum. Gua meraih tangannya kemudian menggandengnya.

“Kayaknya happy banget…” Tanya Marcella

“Iya, kan mau ketemu elo..”

“Happy mau ketemu gue apa happy abis ketemu Fani?” Marcella kembali bertanya, pertanyaan yang menyudutkan

“Ketemu lo lah, oiya Fani nggak mau ketemu sama elo anyway…” Gua memberi penjelasan.

“Lho, emang kenapa?” 

Gua mengangkat bahu, enggan menjawab.

“Yaaah…”

“Gua mau ngajak lo kerumah bang Boi…” 

“Hah, ngapain?”

“Pengen pamer aja…”

Selepas menjemput Marcella dari stasiun kereta, kami berdua lalu bergegas kerumah Bang Boi. Marcella yang sejatinya, enggan diajak kerumah Bang Boi untuk tujuan ‘pamer’ gua, tak henti-hentinya menggerutu sepanjang jalan. Banyak alasan ia kemukakan; yang paling sering keluar dari bibirnya : ‘Malu’.

Bang Boi menyambut kami dengan wajah lusuh dan kucel, terlihat sepertinya ia baru saja bangun tidur. Dengan kaos oblong a-la Travis Barker dan celana kolor bola Real Madrid, ia membuka pintu pagar untuk kami berdua.

“Katanya siang mau kesininya?” Ia bertanya sambil mendorong pagar rumahnya.

“lha ini siang bang…” Gua menjawab.

Ia nggak merespon, kemudian bergegas masuk kedalam rumahnya setelah kembali menutup pintu pagar.

“Buset, jam 2…” Terdengar teriakannya dari dalam rumah. 

Gua dan Marcella duduk dikursi kayu, diteras depan rumahnya. Bang Boi lalu kembali keluar; “Masuk sini rif, cell…” Ujarnya, kali ini ia sudah berkalung handuk.

“Gua mandi dulu…”  Imbuhnya, kemudian masuk kedalam.

Nggak lama berselang, Sofia, istri Bang Boi muncul dari dalam, ia menyalami gua dan Marcella. 

“Apa kabar?” Tanya nya

“Baik kak…”Gua menjawab diiringi anggukan dan semyuman dari Marcella yang masih terlihat malu-malu.

“Kenalin kak, ini Marcella…” Gua lalu mengenalkan Marcella kepada Sofia.

“Halo kak… Cella…” Marcella memperkenalkan diri

“Ooo ini toh, Marcella… Cantik, pantes dikejar mati-matian ya rif..” Ujar Sofia, sambil tersenyum.

“Makasih kak..” Jawab Marcella tersipu, sementara tangannya mencubit lengan gua.

“Minum apa, Teh ya…” Sofia menawarkan minuman ke gua dan Marcella

“Apa aja kak, bebas..” Gua menjawab singkat, sambil mencoba melepas cubitan Marcella yang semakin lama semakin kencang.

Sofia lalu kembali masuk kedalam, beberapa saat kemudian Bang Boi muncul. Kali ini ia tampak lebih segar, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia duduk disofa dihadapan kami.

“Mandi cepet banget bang…”

“Iye, mandi koboi…” Jawabnya

“So.. How come..?” ia bertanya kepada gua, mungkin maksud dari pertanyaannya adalah ‘bagaimana mungkin sekarang kalian bisa bersama?’

Belum sempat gua menjawab, Sofia kembali keruang tamu dengan membawa baki berisi dua cangkir berisi teh hangat yang kemudian ia letakkan di meja.

“Solat dulu…” Perintah Sofia ke Bang Boi sambil meraih handuk yang masih melingkar dipundak Bang Boi. Yang diperintah lalu berdiri dan kembali masuk kedalam.

“Lo udah solat rip?” Tanya Bang Boi sebelum masuk kedalam.

“Udah tadi di stasiun…” Gua menjawab singkat.

“Oooh.. Cella? Udah mulai solat belom?” Ia lalu bertanya ke Marcella, sebuah pertanyaan ‘pancingan’. 

Marcella hanya tersenyum. Nggak lama setelah Bang Boi lalu keluar, ‘solat di mushola’ ujarnya sebelum pergi. Ia, Bang Boi memang hobi solat di Mushola, walaupun nggak berjamaah dan nggak tepat waktu. Marcella lalu berbisik ke Sofia. Sofia lalu mengangguk sambil tersenyum, mereka berdua kemudian masuk kedalam. Gua menganggapnya lumrah, ya mungkin saja urusan wanita, ‘minta pembalut’ misalnya, hal yang biasa para wanita lakukan pada umumnya. 

Terlihat dari posisi gua duduk saat ini, Marcella dengan wajah basah masuk kedalam kamar bersama Sofia. Samar terdengar suara Sofia dari dalam kamar; ‘Arah kiblatnya kesana ya, cell..’

Gua tertegun. Kaget!

Beberapa saat kemudian, Marcella keluar dari kamar. Spontan, gua lalu bertanya: “Abis ngapain?” 

“Solat..” Ujarnya

“What?!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *