Unbreakable – Chapter 5

Unbreakable

Beberapa saat kemudian, Marcella keluar dari kamar. Spontan, gua lalu bertanya: “Abis ngapain?” 

“Solat..” Ujarnya

“What?!” Gua berujar kaget, kemudian berdiri. Sementara, Marcella justru melakukan hal sebaliknya, ia kembali ke tempat dimana ia meninggalkan tas kecilnya, mengambil karet kecil serupa gelang yang kemudian ia gunakan untuk mengikat rambutnya.

Seakan tak mempedulikan rasa terkejut gua, Marcella dengan santainya duduk kemudian menatap gua sambil tersenyum; “Kenapa?”

Sementara gua, masih dengan ekspresi terkejut, hanya mampu memandangi wajahnya yang masih basah terkena basuhan air wudhu.

“Sejak kapan?” gua akhirnya buka suara setelah kita terdiam cukup lama.

Marcella hanya tersenyum, nggak langsung menjawab pertanyaan gua.

“Cell…”

“Ya…”

“Sejak kapan?” Gua lalu mengulang pertanyaan yang sama.

Ia lalu mulai bercerita tentang pengalamannya waktu di Bandung, hingga akhirnya ia memeluk Islam. 

“Berarti, kemaren pas gue ketempat lo malem-malem, lo udah…” Belum selesai bertanya, Marcella dengan cepat menganggukkan kepalanya.

“What, the…”


Nggak lama berselang Bang Boi kembali dari Mushola. Dengan masih mengenakan sarung ia berjalan masuk kedalam rumah, kali ini sambil menggendong Jani, anaknya. Yang ternyata, sejak tadi tengah bermain dirumah tetangganya.

“Sana salim dulu sama Om, Tante…” Ujar Bang Boi, sambil menurunkan Jani dari gendongannya.

Si bocah cilik nan lucu tersebut kemudian berlari ke arah gua dan Marcella, kemudian meraih tangan kami secara bergantian dan meletakkannya kedahinya. Melihat hal tersebut, Bang Boi lalu menghampiri Jani; “Hayo, kalo salim yang bener… siapa yang ngajarin salim, di jidat.. dicium tangannya…”

Mendengar ucapan ayahnya, dengan sigap ia kembali meraih tangan gua dan Marcella, lalu secara bergantian menciumnya. Selepas itu, Jani lalu kembali berlari masuk kedalam, sambil berteriak memanggil ibunya.

“Wah, kayaknya lagi ngobrol serius nih ya…” ujar Bang Boi, lalu langsung ngeloyor pergi menyusul Jani.

“Kenapa nggak cerita ke gue?” Gua bertanya ke Marcella, melanjutkan obrolan yang tadi sempat terinterupsi.

“Ya niatnya nanti mau cerita…” Jawabnya sambil cengengesan.

“Well, paling nggak kita udah ‘dihalaman’ yang sama…” gua merespon, kemudian bersiap memeluknya.

Namun…

“Ayo..ayo.. kita makan dulu…” suara Bang Boi tiba-tiba menyeruak, membuyarkan rencana gua untuk memeluk Marcella.

“Kemesraannya ditahan dulu…” Ia menambahkan lalu menarik lengan gua. Bang Boi mengajak gua ke ruang makan.

“Makan dulu yuk, cell.. ntar mati lho kalo nggak makan…” Ujar Bang Boi.


Selepas makan, Gua dan Bang Boi duduk diteras rumahnya yang nyaman. Ia bersandar di tembok sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara; “Benerkan, kalo jodoh nggak kemana?”

“Iya sih, tapi kan bukannya lo dulu ngebet banget nyuru gue ‘nyari yang lain’?” 

“Nggak…” Ia menjawab cepat.

“Lah…”

“Gua nyaranin elu untuk ngikutin bokap nyokap, kalo nyatanya sekarang bokap nyokap lu udah luluh hatinya dan cewek lo udah ‘sekantor’ sama elu, ya go on”

“…”

“Udah buruan nikah, ntar kalo kelamaan keburu cewek lu berubah pikiran…” Tambahnya

“Ya nggak seburu-buru itu juga sih bang…”

Nggak disangka obrolan kami berdua didengar oleh Marcella yang juga tengah ngobrol diruang tamu bersama dengan Sofia. 

“Nunggu apa lagi?” Tanya bang Boi.

Belum sempat gua menjawab, lalu sebuah suara menyambar tepat dari belakang kami; “Ya nunggu dilamar lah, Marcella-nya…” Ucap Sofia yang tengah bersandar pada kusen pintu, sementara Marcella berdiri disebelahnya. Mendengar ucapan Sofia barusan, Marcella terlihat tersipu malu, perlahan kedua pipinya-pun merona.

“Sabar, nabung aja dulu…” Sofia lalu menambahkan, mencoba memberi saran.

Ucapan Sofia, lalu disanggah oleh Bang Boi, yang memberi saran bersebrangan dengan sang Istri. Bang Boi lebih menyarankan agar menikah lebih cepat, lebih baik. Sementara, Sofia memberi usul agar kami berdua bersabar, mempersiapkan semua lebih matang, dari sisi moril dan matriil.

Mereka berdua lalu terlibat perdebatan.

Marcella lalu beringsut dan duduk disebelah gua. Kami berdua saling menatap lalu tersenyum. “Kita nanti kayak gitu nggak ya rip?” Tanya Marcella, merujuk ke perdebatan pasangan suami istri; Bang Boi dan Sofia.

“Bisa jadi…” Gua menjawab asal.

Sementara mata kami berdua masih memperhatikan perdebatan antara Sofia dan Bang Boi. Perdebatannya cukup seru, bahkan salah satu dari mereka sampai membawa teori-teori para filsuf terkenal hingga Hadist-hadist Shahih. Namun, yang gua tau, dari tatapan masing-masing, terlihat jelas bahwa perdebatan ini bukanlah perdebatan yang serius. Ini kayaknya cara mereka berdua untuk mengutarakan cinta; iya dengan berdebat.

“Lo yakin nggak mau mampir dulu kerumah gue?” Gua bertanya ke Marcella yang duduk diboncengan motor gua.

“Besok aja kali ya, sekarang mah kucel banget gue…” Ujarnya.

Kala itu, selepas dari rumah Bang Boi, gua dan Marcella diatas motor, menembus kemacetan Jakarta, mengantarnya pulang.

Titik-titik air lalu menerpa kaca helm yang gua kenakan. Semakin lama, hujan semakin lebat; “Neduh dulu kali rif…” Ujar Marcella dari boncengan.

Sambil memicingkan mata, mencoba melihat melalui kaca helm yang mulai berembun, gua menepikan sepeda motor ke sebuah pangkalan ojek yang memiliki atap berupa asbes dengan tiang-tiang baja ringan. Pangkalan ojek yang sepertinya juga difungsikan sebagai pos salah satu ormas kesukuan terkenal di Jakarta (terlihat dari spanduk yang terpasang disana) sudah dipenuhi para pemotor yang lebih dulu berteduh.

Marcella terlihat celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.

“Nyari apaan?” Gua bertanya.

“Ini kan… dibelakang kan sekolah kita rif, iya kan?” Marcella bertanya.

Mendengar pertanyaannya, gua ikutan celingak-celinguk, dan mengamini ucapannya; “Iya…” 

“Trus ini kan tempat kita pertama ketemuan, ya kan?”

“Emang iya?”

“Yeee, lo mah..” Marcella merajuk

Gua memandang sekeliling, hingga akhirnya menyadari, jika pangkalan ojek tempat kami berteduh sekarang, merupakan tempat yang sama saat gua dan Marcella pertama kali berkenalan. Dulu, tempat ini hanya beratapkan terpal biru usang dengan bambu-bambu sebagai tiangnya.

“Iya bener…” Gua lalu membenarkan.

Marcella lalu menyandarkan kepalanya ke bahu gua.

Ditemani suara air hujan, dikelilingi orang-orang ‘asing’ yang berteduh, ditempat yang sama saat kami pertama kali bertemu dulu, Marcella berbisik ke gua; “Sometimes I can’t see myself when I’m with you. I can only just see you”

“No.. please…”

Gua merespon kata-katanya barusan. Sebuah statement yang seperti nggak peduli dengan dirinya sendiri dan lebih mementingkan orang lain, dalam hal ini; gua.

“There are always Us…” Gua lalu meralat kata-katanya

Marcella, sosok paling tangguh yang pernah gua temui seumur hidup. Setelah semua yang dia alami, elegi hidupnya, air mata yang habis terbuang, walaupun sendiri, ia tetap berdiri. Jikalau ada secuil kebahagiaan yang mampu membuatnya bahagia, selayaknya ia pantas mendapatkannya. Dan Jika, rasa bahagianya adalah gua. So let it be…

Gua lalu membalas bisikannya; “Jadi istri gue ya…”

“Seriuosly? disini?” Ia bertanya

Lalu gua respon dengan sebuah anggukan yakin.

“Mau nggak?”

“Ya mau laaaaah…”


Beberapa bulan kemudian.

“Rif, Undang Fani yah…” Marcella bicara ke gua, sementara kedua tangannya masih sibuk memasukkan kartu undangan kedalam kemasan plastik.

“Yaudah, undang aja… tapi gue ogah nganterin undangannya…” Gua menjawab

“Nggak usah pake undangan, gue udah telpon dia kemarin…” Marcella memberi keterangan.

“Trus apa katanya?” Gua bertanya penasaran.

“Kalo nggak ada acara sih dia mau dateng, katanya…” Ucap Marcella

Obrolan kami berdua lalu terinterupsi oleh kehadiran bokap yang keluar kamar dengan mengenakan beskap modern berwarna hijau tua.

“Cell, ini kayaknya kekecilan yah?” Tanya Bokap ke Marcella, sambil mencoba menarik ujung beskap bagian tangan-nya.

Marcella lalu memandang bokap sebentar sambil memicingkan mata; “Hmmmm… nggak kok, udah pas itu pah…” Ujar Marcella, yang sudah mulai memanggil Bokap gua dengan sebutan Papah. Sementara, nyokap gua dipanggilnya dengan sebutan ‘Mamah’.

Bokap yang sudah luluh hatinya, saat ini malah terlihat sayang banget kepada Marcella. Apa-apa, Marcella. 

Pernah suatu waktu, Bokap baru saja kembali dari acara yang diselenggarakan oleh pihak kelurahan di Puncak, Bogor. Sesampainya dirumah, ia membawa beberapa oleh-oleh yang sempat ia beli di sana, Makaroni Panggang, Roti Unyil dan Bolu lapis. Bolu lapis-nya ia buka dan disajikan dimeja makan, sementara sisanya ia simpan didalam kulkas; “Buat Marcella” ujarnya.

Pernah juga, kala itu, Gua, Bokap dan Nyokap tengah jalan-jalan disebuah Mall, untuk membeli perlengkapan ‘lamaran’. Bokap dan Nyokap, lalu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mereka berdua menunjuk ke sebuah etalase yang menampilkan sebuah gaun pada manekin. Samar terdengar dari posisi gua berdiri, obrolan mereka yang kira-kira isinya; “Kayaknya cocok ya buat Marcella” Ujar Bokap yang lalu dijawab dengan anggukan kepala Nyokap.

Dan yang paling Top, adalah saat kita (Gua dan Marcella) lagi kebingung untuk mencari siapa Wali Nikah yang tepat untuk Marcella. Akhirnya, setelah diskusi dengan pihak KUA setempat, Wali Nikah Marcella bisa diwakilkan oleh penghulu. Namun, begitu sampai dirumah dan kami bercerita tentang hal ini ke Bokap-nyokap, mereka terdiam, kemudian saling pandang. Bokap lalu angkat bicara; “Bapak aja yang ngewaliin Marcella”

“Lah, emang bisa?” Gua bertanya

“Ya penghulu aja bisa… lah abis gimana? Bapaknya mau dibangunin dai kubur?” Ujar bokap berkelakar.

“Lah trus saya gimana?” Gua kembali bertanya.

“Ah, kamu mah laki nggak pake Wali, gapapa..” Jawab Nyokap enteng.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *