Unbreakable – Chapter 5

Cinta Gila

Gua memandangi Fani yang tengah menikmati pecel ayam dihadapannya dengan lahap. Jauh berbeda dengan wanita kebanyakan, yang kalau makan lambat dan suka pilih-pilih. Fani sedikit berbeda, makannya cepat dan buanyak.

“Kenapa?” ia bertanya ke gua saat sadar bahwa gua tengah memandanginya.

“Tadi nggak makan siang?” gua bertanya, penasaran dan tentu saja bercanda.

“Makan…” ia menjawab singkat, sementara jarinya berkeliling mencari permukaan ayam goreng yang masih sedikit panas. Porsi nasi miliknya sudah dilahap habis bersama dengan tempe dan tahu goreng yang tadi ia pesan. Sedangkan ayam gorengnya dihabiskan belakangan; ‘save the best for the last’ jika meminjam perumpamaan orang Amerika. Gua lalu berpaling ke piring dihadapan gua, nyaris masih utuh.

“Lo nggak doyan?” Fani bertanya begitu melihat isi piring milik gua.

“Doyan..”
“Kenapa nggak dimakan?”

“Ini lagi dimakan?”

“Masih utuh gitu…”

“Ya kan makannya pelan-pelan, panas…” Gua beralasan.

Nggak lama berselang, Fani telah menyelesaikan porsi miliknya. Ia beringsut ke arah gua, kemudian berbisik; “Gue mo nambah tapi takut nggak abis. Lo mau nambah juga nggak?, ntar bagi dua”.

“What…, nggak ah.. ini aja gue blom abis…”

“Yaah…”

Fani lalu berdiri; “Bang, nasinya nambah setengah yah, sama tahu-tempe…”
kemudian ia duduk, berpaling ke gua sambil pasang tampang tanpa dosa.

Beberapa menit berselang, gua baru saja menyelesaikan suapan terakhir, saat ponsel Fani berdering. Ia (yang tentu saja sudah selesai menghabiskan porsi keduanya) menjawab panggilan tersebut dan melangkah keluar dari tenda pecel ayam. Nggak sampai semenit, ia kembali dan duduk persis disebelah kanan gua, posisi yang berbeda dengan posisi saat ia makan tadi.

“Lo mau ngeliat kostannya sekarang nggak?” Ia bertanya, masih menggenggam ponsel miliknya.

“Malem-malem gini?” gua bertanya untuk memastikan.

“Iya.., nih barusan orangnya nelpon…”

“Siapa?”

“Yang punya kost-an dooooong…”

“Oooh, jauh nggak?”

“Nggak kalo naek motor mah, kalo jalan ya lumayan…”

“Yaudah…”

“Yaudah ayo…” Fani berdiri sambil menarik lengan kaos gua.

“Ya ntar dulu lah, baru banget kelar makan…”

Fani kemudian kembali duduk, kemudian pasang tampang kecewa yang dibuat-buat. Ekspresinya tersebut, mungkin dimaksudkan untuk menimbulkan kesan kesal. Namun, hasilnya malah membuat gua terpesona. “Gokil, manyun-aja aja cakep nih cewek!” gua membatin dalam hati.

Beberapa saat berikutnya, gua dan Fani sudah berada didepan sebuah kost-kostan yang terdiri dari dua bangunan saling berhadap-hadapan. Masing-masing bangunan tersebut memiliki 4 pintu kayu berwarna cokelat dengan sebuah jendela besar berbahan alumunium disisinya. Fani turun dari motor lalu membuka gerbang kecil agar gua bisa masuk kedalam pekarangan komplek kost-kostan mini tersebut. Ya, untuk bisa masuk kedalam kost-kostan tersebut, kami harus melalui gerbang kecil yang sepertinya merupakan akses satu-satunya menuju tempat tersebut.

Seorang wanita paruh baya lalu muncul dari dalam salah satu kamar kost-an yang pintunya terbuka. Sambil menenteng sebuah sapu, wanita itu memanggil Fani; “Sini neng…”

Gua dan Fani kemudian berjalan menuju ke kamar dimana wanita itu berdiri, kamar yang berada di bangunan sebelah kiri dan tepat berada di ujung. Fani lalu menyalami wanita itu, kemudian memperkenalkannya ke gua; namanya Bu Saidah.

“Ini udah ibu bersihin…” Bu Saidah bicara, sambil masuk kedalam dan melambaikan tangannya, memberikan tanda agar gua dan Fani mengikutinya.

Ruangan tersebut, terdiri dari tiga ‘sekat’ masing-masing ‘sekat’-nya kira-kira berukuran 2×3 meter, dengan posisi kamar mandi berada di ‘sekat’ terakhir. Sekat-nya secara kasat mata memang seperti berbahan batu bata atau beton, namun ternyata hanya dua buah gipsum yang dilapis cat, hingga menyerupai tembok bata pada umumnya.

“Sebulan berapa bu?” Gua bertanya, sambil tetap memandangi setiap sudutnya.

“700..” ia menjawab singkat, kemudian menambahkan; “Tapi nggak sama listrik, listriknya bayar sendiri…”

“Oooh…”

“Murahkan?” Fani bicara sambil menggenggam tangan gua.

“Aernya, aer sumur, mesinnya ada didepan…” Bu Saidah menambahkan.

Sementara gua masih gugup gegara genggaman tangan Fani yang tiba-tiba.

“Eee…..”

“Gratis, tenang aja, aer mah gratis…” Bu Saidah bicara, seakan menebak apa yang ada dipikiran gua.

“Nggak bisa kurang bu idah…” Fani lalu mencoba menawar.

“Bisa, dikit…” Bu Saidah menjawab sambil menangkat ujung kelingkingnya.

“Gope, dah bu…” Fani angkat bicara.

“Kagak dapet neng, kalo mau 650…”

“Yah, masa kurang gocap doang bu…600 deh bu..”

Bu Saidah kemudian terdiam sejenak sambil memejamkan mata, entah berfikir sambil menghitung-hitung atau ketiduran. “Yaudah dah, tapi jangan bilang-bilang sebelah ya..”

“Yeay…” Fani bersorak, sontak ia melepaskan genggamannya dan bergegas menyalami bu Saidah. “Deal ya bu…”

“Lo maen deal-deal aja, yang mo nge-kost gue apa elo?” Gua berbisik ditelinga Fani.

“Lah, emang lo belom sreg?” Ia balas berbisik

“Ya gue sih oke, tapi…” Belum selesai gua bicara Fani menjentikan jarinya sambil bicara; “Nah yaudah… mana duit lo?”

“Lah ya sekarang mah nggak bawa cash…”

“Bayarnya besok boleh bu idah…” Fani seakan mewakili gua, bertanya ke Bu Saidah.

“Iya boleh, emang mau langsung nempatin malem ini? barang-barangnya mana?” Bu Saidah bertanya.

“Belom tau kapan bu, ini saya DP dulu boleh?” Gua bicara sambil mencari-cari dompet yang gua letakan didalam tas.

“Udah nggak usah, besok aja sekalian nempatin…”


Jam menunjukkan pukul 10 malam, saat kami berdua duduk diatas trotoar tepi jalan, somewhere di area sekitar Pamulang dan BSD. Kendaraan masih ramai lalu lalang, pun hari sudah larut. Fani duduk menggenggam gelas plastik kopi miliknya, sambil sesekali memainkan sedotan diatasnya, matanya memandang kosong ke arah ramainya jalanan. Dan, mungkin ini untuk pertama kalinya, gua melihat sosok Fani tanpa keceriaan dan semangatnya yang menggebu-gebu.

Gua melambaikan telapak tangan tepat diwajahnya. Ia berkedip, buyar lamunannya, kemudian tersenyum dan menatap ke arah gua.

“Ngelamunin apa?” Gua bertanya.

“Ngelamunin elo…” Ia menjawab cepat, tanpa berfikir.

“Ngapain ngelamunin gue…”

“Kayaknya gue suka sama elo deh…” Fani bicara.

Deg.

“What…” Gua merubah posisi duduk, yang sebelumnya kami saling bersisian, kali ini gua duduk menghadap ke arahnya.

“Iya kayaknya gue suka sama elo… tapi ini masih kayaknya lho ya, jangan ke ge-er an dulu” Fani mencoba menjelaskan.

Sementara gua hanya terdiam.

“Seandainya gue beneran suka sama elo, lo mau sama gue rif..” Fani bertanya.

Sisi Otak kecil gua bersorak sambil menjerit: “Ya maulaaaaaah…”, namun the otherside of my mind says; “No! this is too early, remember Marcella…”

“Mau…” Gua menjawab singkat, sambil mengangkat kedua bahu gua. Tubuh gua seakan menolak untuk setuju dengan otak gua yang terlanjur setuju salah satu sisi otak kecil gua yang tadi bersorak.

“Tapi, ntar kalo kita pacaran trus abis itu putus, kita bisa tetep temenan kan?” gua bertanya.

“Aneh dah lo…”

“…”

“Emang lo pikir, pacaran kayak beli mobil, sebelum beli udah mikirin harga jual kembalinya bagus apa nggak…”

“Lah trus gimana?”

“Umur kita kan sekarang udah segini, Ya kalo mau pacaran tujuannya buat nikah dooong, jangan mikir kalo putus gimana…”

“Ya kan, in case, kita nggak cocok…”

“Lo pikir didunia ini ada pasangan yang cocok? nggak ada…rip..”

“…”

“Yang ada cuma, pasangan yang saling mengalah… nggak mementingkan egonya sendiri…”

“…” Gua terdiam, teringat akan kata-kata Marcella dulu.

Gua dan Marcella duduk disebuah kafe yang khas menyajikan beragam kopi disalah satu mall dibilangan Jakarta Selatan. Dari sini, dimana hanya sebuah pagar dengan ornamen kayu yang memisahkan teras milik kafe tempat kami berada dengan common area dimana banyak orang melintas. Terlihat dengan jelas orang yang saling lalu lalang, keluar masuk pintu lobby utama, beberapa terlihat masih dengan setelan kerja, berjalan santai dengan beberapa koleganya, ada juga segerombolan muda-mudi berpenampilan stylish yang cekikikan seakan tak ada orang lain yang memperhatikan mereka. Sesekali terdengar suara ‘bep.. bep’ dari metal detector yang sengaja dipasang disetiap akses masuk kedalam mall.

Kemudian Marcella berkata;
“Gua mau ikut agama lo, asal bokap lo nerima gua sebagai Cina…”

“Woi… kenapa sekarang jadi lo yang ngelamun…” Fani kali ini ganti membuyarkan lamunan gua.

Gua tersenyum ke arahnya; “Bener kata-kata lo, dalam sebuah hubungan emang harus ada yang mau ngalah…”

“Nah kan…”

“Pacar gue dulu…”

“Marcella?” Fani memotong bicara gua, ia menyebut nama Marcella.

“Lah, kok lo tau?” Gua bertanya penasaran.

“Tau lah, pacar lo dari jaman kuliah kan? gue pernah diceritain si Exka sama Anang, dan kalo nggak salah lo juga pernah cerita dulu ke gue…”

“Iya, gue sayang banget sama dia, tapi dia cina dan nasrani, bokap gua nggak mau…”

“Trus..trus…”

“Padahal Marcella udah mau ikut agama gue, tapi bokap tetep nggak setuju…”

“karena dia Cina?”

“Iya…”

“Dan akhirnya kalian putus…”

“Dia pergi… ya orang bisa aja pindah agama, tapi ganti suku kan nggak mungkin…”

“Ntar kira-kira, bokap lo bakal nerima gue nggak rif?”

“Nggak kali…” Gua menjawab sambil bercanda.

“Yee… tapi kan gue islam dan jawa…”

“Ya mungkin diterima…”

“Walaupun gue jarang solat dan nggak bisa ngaji?”

“What, kenapa lo nggak bisa ngaji?”

“Dulu waktu kecil pernah belajar, baca apa tuh namanya yang kecil…”

“Iqro…” Gua menebak.

“Iya, bener iqro.. tapi abis itu udah, gue males…”

“Berarti cuma pernah belajar Iqro doang?”

“…” Fani menganggukan kepalanya

“Baca Yasiin, pernah doooong?…”

“…” ia menggelengkan kepalanya.

“Buset…” kali ini yang gua menggelengkan kepala. Kali pertama dalam hidup, gua bertemu dengan seorang yang mengaku islam tapi nggak pernah dan nggak bisa baca Al-Quran.

“Kalo belajar sekarang belom telat kan, rif?” Fani angkat bicara.

“Iya belum…”

“Lo mau ngajarin gue?”

“…” Gua mengangguk, setuju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *