Unbreakable – Chapter 5

Kuldesak

“Us, gua udah dapet kostan nih…” Gua bicara ke Daus yang (seperti biasa) duduk sambil memainkan ponselnya.

“Lah cepet amat bang dapetnya, daerah mana?” Daus bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari layar ponsel.

“Deket, Pamulang…” Gua menjawab singkat.

“Berapa menit bang dari sini?” Ia kembali bertanya

“Setengah jam-an lah…”

“Oooh…”

“Laah, lu ngapa ‘Ooh’ doang? jadi kagak mau ngekost ama gua?” Gua kembali bertanya.

“emang berapa duit bang?”

“600, ntar bagi dua…”

“Jangan bagi dua lah bang, bagi tiga aja…”

“Lah, bagi tiga sama siapa lagi, lagian tempatnya kecil, sempit kalo bertiga…” Gua menjelaskan.

“Kita tetep nge-kost berdua tapi jatah bayar gua kayak dibagi 3, gua bayar 200 rebu, nah elu yang 400..” Daus berdalih, sementara wajahnya masih menatap ponsel, sembari jari-jemarinya menekan-nekan layarnya.

“Lah, kocak…” Gua menjawab sekena-nya kemudian meninggalkannya pergi.

Daus memang pribadi yang kocak dan sedikit unik. Pernah suatu ketika, sehabis kita ngobrol masalah kasus jual-beli organ yang tengah marak di televisi. Sebuah ginjal manusia bisa dihargai hingga ratusan juta rupiah, mendengar kabar tersebut Daus manggut-manggut dan terlihat seperti tengah berfikir keras. Menyadari hal tersebut, Ilham lalu buka suara: “Ngapain lu bengong?” Daus lalu menjawab; “Gua lagi mikir bang…”

“Mikir apaan?” Gua bertanya.

Daus nggak langsung menjawab, kami pun kembali larut dalam obrolan dengan topik yang berbeda. Beberapa saat kemudian Daus tiba-tiba, angkat bicara: “Kira-kira organ manusia yang nggak kepake apaan ya bang?”

“Eh buseh… lu mau jual organ?” Kali ini Ilham yang bertanya.
“Ya, kalo ada organ yang nggak begitu penting, mau…” Daus menjawab singkat. “Lumayan kan buat modal usaha…” Ia menambahkan.

Selesai bicara, ia lalu meraih ponselnya, membuka browser dan mulai mengetikkan sesuatu di kolom pencarian Google. Ilham lalu menggeser duduknya, mencoba ‘mengintip’ apa yang tengah ia cari di google.

‘Organ manusia yang tidak terlalu penting’
Kira-kira begitu keywords yang Daus ketikkan di kolom pencarian google, berharap ada organ manusia yang diciptakan Tuhan sia-sia hingga bisa dijual.

Ilham, lalu melepas topi-nya dan menghantamkannya ke tubuh Daus. “Lu goblog jangan keterlaluan ngapa, us…”

“Ya kali aja ada bang..” Daus menjawab, sesaat kemudian meringis melihat hasil pencarian google menampilkan beberapa Organ Second (Alat musik) dan situs jual beli online yang menampilkan hasil yang sama.

Bang Boi kemudian berdiri, sambil memasukkan bungkus rokok dan ponselnya kedalam saku celana cargo-nya, ia bicara: “Ya kalo ada organ yang nggak terlalu penting buat lu, berarti tuh organ mungkin nggak gitu penting juga buat orang us, jadi nggak bakal laku”

“Oiya…” Daus mengamini ucapan Bang Boi sembari mendangak ke atas, memandang ke arah Bang Boi.

“Lu kalo mo jual organ, usus buntu lu aja tuh…” Bang Boi, kembali bicara sambil berjalan pergi. Gua, Ilham dan Daus lalu berdiri dan bergegas menyusulnya. Menghampiri suara adzan Maghrib yang samar-samar terdengar dari basement gedung parkiran.


Gua tersenyum sendiri saat mengingat kejadian lucu di masa lalu, Daus.

Entah kenapa, saat otak gua memutar kejadian di masa lalu yang boleh terbilang kocak. Terbesit bayangan wajah Marcella disana, gambaran singkat dan samar tentang sosoknya yang tengah berjalan dihadapan gua, memalingkan wajah dan menebar senyumnya yang memanjakan mata. Bayangan tersebut kemudian perlahan memudar, hilang berganti deretan marmer besar berkilat tempat gua berjalan saat ini.

“Apa kabar ya dia?” gua menggumam dalam hati.

Lalu perasaan bersalah menghujam, menusuk hati, saat tersadar saat ini gua tengah ‘dekat’ dengan wanita lain bernama Fani. Dikala waktu belum merayap terlalu lama, tahun pun belum berganti, gua malah sudah (mencoba) menambatkan hati ke wanita lain. “Ah, bisa aja disana Marcella pun melakukan hal yang sama, menjalin cinta dengan koko-koko yang se-’kantor’ dengannya” sisi lain hati gua berusaha melakukan pembelaan. Atau, mungkin, memang benar apa yang pernah dikatakan Bang Boi kepada gua: ‘Ini merupakan jawaban dari doa-doa gua dan Marcella’. Tapi, kalau Tuhan sayang sama gua, Tuhan sayang sama Marcella, kenapa nggak satuin aja kita?

Seminggu berselang, Gua akhirnya menjalin kesepakatan dengan Daus; Gua bayar 400, Daus bayar 200 ribu, dengan syarat: Daus harus bawa motor tiap hari, sementara gua yang gonceng.

“Oke!” ujarnya kala itu, kemudian menjulurkan tangan, mengajak bersalaman.

Nggak menunggu lama, sehari setelah deal dengan Daus masalah kompromi pembayaran uang kost. Gua mulai pindahan, karena barang gua nggak terlalu banyak (hanya pakaian dan beberapa alat mandi), jadinya kita (Gua dan Daus) pinjem mobil Bang Boi buat pindahan.

“Pinjem mobil, bakal pindahan bang…” Gua bicara ke Bang Boi sesaat setelah bersalaman dengan Daus. Nggak mikir lama, Bang Boi merogoh saku belakang celananya dan menyerahkan kunci mobil kegua.

“Lu bisa bawa mobil us?” gua meraih kunci dari tangan Bang Boi, sementara wajah gua memandang ke arah Daus, yang kemudian menjawab: “Bisa… Bisa nyebur jurang…”

“Lo nggak bisa?” Bang Boi bertanya ke gua, yang langsung gua respon dengan gelengan kepala.

“Buset, minjem mobil sekalian supirnya…” Bang Boi kembali meraih kunci mobilnya dari genggaman gua, kemudian bangkit berdiri. “Hayok…”

“Udah kelar, rip?” Suara Fani terdengar dispeaker ponsel gua.

“Baru aja kelar…” Gua menjawab sambil duduk bersandar di pintu kostan.

“Yah, gue padahal mau kesana, bantuin…”

“Telat… udah kelar…”

“Gua beliin makan yah?” Fani bertanya.

“Lo mau kemari?” Gua menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan.

“Iyess… lo mau apa?”

“Gue sebenernya, nggak gitu laper, cuma aus banget, pengen minum Es…” Gua menjawab, mendengar percakapan gua, yang mana memang gua lakukan melalui loud speaker, Daus lalu berteriak dari sudut ruangan, masih sambil menata rak bajunya yang sempat ia bongkar; “Nasi padang doooong…”

“Eh, ada Daus yah…?” Fani bertanya, begitu mendengar suara Daus.

“Iyaaaaa, padang ya Fan…” Daus menjawab, sekaligus request makanan.

“Tunggu ya…”

Setengah jam berselang, Fani tiba dengan menenteng sebuah plastik merah besar. Ia mengetuk pintu yang sudah terbuka: “Asalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…” Daus menjawab salam, kemudian bangkit dari lantai tempat kami rebahan, kelelahan.

Fani menyodorkan platik merah besar tersebut ke Daus, yang langsung disambarnya dengan cekatan. “Padang kan, fan?” Ia bertanya sambil membuka ikatan plastik tersebut.

“Iya…” Jawab Fani singkat.

Daus lalu mengeluarkan dua bungkusan nasi padang berwarna coklat, menyerahkan salah satunya ke gua. Tak hanya itu, Daus kembali mengeluarkan beberapa buah es teh manis yang dibungkus plastik dan diikat, sekali lagi, ia menyerahkan salah satunya ke gua.
“Lah, nasinya cuma dua.. lu nggak makan, fan?” Daus bertanya, sambil masih memandang ke arah plastik merah yang kini terlihat kosong.

“Nggak, gue udah makan tadi…” ujar Fani.

Daus lalu berdiri, sambil menenteng jatah nasi dan es teh miliknya, ia melangkah pergi menuju keluar. “Gua makan di sebelah aja ah, nggak enak ganggu orang pacaran…” ucapnya. Ya kami memang sudah berkenalan dan ngobrol banyak dengan tetangga sebelah beberapa hari yang lalu, yang ternyata tempat kerjanya nggak begitu jauh dengan tempat kami bekerja, Mas Anto namanya.

Gua meraih bungkusan es teh manis milik gua, membukanya dan celingak-celinguk mencari gelas. Yang ternyata memang gua dan Daus nggak kepikiran untuk membawanya.

“Nggak ada gelas?” Fani bertanya, begitu melihat gua celingak-celinguk.

“Kayaknya nggak ada…” Gua menjawab, sambil tetap mencari gelas di tumpukan kardus dan plastik yang berada di sudut-sudut ruangan.

“Yaudah sini gue pegangin, lo makan aja dulu…” Fani lalu meraih bungkusan es teh manis yang sudah terlanjur dibuka.

“Rip… kapan katanya mau ngajarin ngaji?” Fani bertanya saat gua mulai makan.

“Ya lo maunya kapan?”

“Ya lo bisanya kapan?” Ia balik bertanya.

“Gue kapan aja bisa…”

“Qurannya ada?”

“Ada… tapi ntar kita beli Juz Amma dulu, sebelum belajar Quran…”

“Juz Ama apaan tuh?” Fani bertanya, tampangnya bingung.

“Buseeee….. Juz Amma tuh…” Baru gua mau mulai menjelaskan, Fani lalu mengangkat jarinya, mendekatkannya ke bibir; “Udah, makan aja dulu, jelasinnya ntar aja…”

Gua lalu tersenyum, kemudian melanjutkan makan.

Selesai makan, gua lalu menjelaskan panjang lebar mengenai langkah-langkah belajar membaca Al-Quran yang umumnya dijalani bocah-bocah kebanyakan. Belajar Iqro – Juz Amma – Al-Quran.


Esoknya, gua dan Fani sudah berada di salah satu Toko Buku di Mall dibilangan BSD untuk berburu Juz Amma.

“By The Way, kalo menurut penjelasan lu kan Juz Amma itu adalah part terakhir dalam Al-Quran, trus kenapa kita pelajarin duluan…?” Fani bertanya sembari melihat-lihat deretan Juz Amma di salah satu rak buku islami.

“Ya Karena di ‘part’ tersebut, isinya surat-surat pendek yang lebih mudah dihafal dan dipejari…” Gua menjawab sepengetahuan gua.

“Trus kenapa namanya Jus Amma?”

“Disebut juz amma karena surat pertama di juz itu namanya surat An-naba, dan ayat pertamanya berbunyi ‘amma yatasaa alun’”

“Oooh.. gitu… Berarti semua isinya sama aja dong” Kemudian ia kembali memilih Juz Amma dengan cover yang paling menarik menurutnya.

Selepas mendapatkan Juz Amma dari toko buku, Fani berjalan dihadapan gua, tangan kirinya menyusuri railing kaca, sementara tangan satunya menenteng plastik berisi kitab yang baru saja kami beli. Sesekali ia berjalan mundur bicara ke gua sambil sesekali tertawa. Matanya berbinar, terlihat begitu ceria, seakan berusaha menularkan kesenangannya ke gua. Sepertinya dia tau akan pahitnya cinta yang pernah gua alami.

Ia lalu berdiri diam, menunggu gua melangkan mendekat ke arahnya, meraih lengan gua dan bersandar disana. “Rip…”

“Apa?”

“Lo masih kepikiran Marcella ya?” ia bertanya, pelan.

Nggak menjawab, gua memandangnya. Ia tersenyum; “Kalo lo jawab ‘iya’ pun, gue nggak apa-apa kok..”

Gua lalu mengangguk.

“Lo tau lagunya Ahmad Dhani yang kuldesak nggak?” Ia tiba-tiba bertanya, out of topic.

Gua kembali mengangguk.

“Nah, anggep aja, lagu itu Dhani bikin khusus buat lo…”

“….” Gua terdiam, masih belum mengerti apa maksud bicaranya.

“liriknya kan kayak menggambarkan bahwa manusia sangat tak berdaya di hadapan Tuhan, trus mohon Tuhan supaya ngasih petunjuk jalan yang lurus…”

“Trus..?”

“Ya gue nganggep lo itu petunjuk dari Tuhan akan doa-doa gue…”

“Lah lo berdoa juga?”

“Ya iyalah, biar gue jarang solat, gue juga doa, tapi pake bahasa indonesia…”

“Apa doa lo?” gua bertanya, ke Fani yang masih gelendotan di lengan gua.

“Minta ‘petunjuk’ biar nggak tersesat…”

Fani lalu mengeluarkan ponsel dan headset dari tas kecil miliknya. Ia membuka player musik dan memasangkan salah satu headset di telinga gua, sementara yang satu lagi, ia pasang ditelinganya. Intro lagu ciptaan Ahmad Dhani tersebut muali menggema ditelinga.

“I Look around and fly to find space to lay my head upon…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *